Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

SEDERHANA TAPI MENGENA: ULASAN SENARAI PUISI DAN NASKAH MONOLOG ANGIN TAK BERKABAR DI ANGKARA BUMI, OLEH JH. TANUJAYA

 

Ilustrasi: Piwi/Arkalitera

Ketika pertama kali memiliki buku Angin Tak Berkabar di Angkara Bumi karya Hadani Had, saya bertanya-tanya tentang judul buku tersebut. Mengapa judul tersebut dipilih? Bayangan pertama yang terlintas adalah tentang angin menjadi manifestasi dari kemarahan bumi, dan tak akan memberi tahu saat keganasan angin itu menghukum manusia. Saya membayangkan puisi yang lahir dengan judul tersebut akan bernuansa gelap, ganjil dan berisi sudut pandang kehancuran di dalamnya.


Terlebih lagi, saat membaca beberapa halaman pertama banyak puisi yang berisi kenangan Hadani akan sungai dan kehidupan di dalamnya.


Hal yang kemudian menarik perhatian saya, ternyata buku tersebut terdiri dari dua entitas: puisi dan monolog. Dan, judul yang diambil pun juga berasal dari kedua entitas itu. Saya kemudian membaca puisi ini:


Angin Tak Pernah Berkabar Tentang Siapa Yang Kemudian

           

            Angin tak pernah berkabar

            Kepada siapapun termasuk kau

            Yang kemudian menjelma menjadi hantu

            Dan mengaku diri tuhan

            Menggenggam nyawa-nyawa setiap nyawa

            Dan bergumam lirih pada waktu

            Tentang siapa yang kemudian

            Tentang api yang membakar

            Tentang rindu yang tak bertepi

 

            Angin hanya berbisik, di sela-sela telinga

            Menggerutu dengan tangan penuh luka

            Memegang busur panah pada cerita

            Yang menari pada ujung-ujung senja

            Menggelayut pada rinai-rinai hujan

            Kemudian menceritakan diri

            Tentang waktu yang terus berjalan

            Tentang hidup yang singkat

            Tentang mimpi yang harus diraih

 

            Api membakar semangat

            Rindu menusuk kalbu

            Sahabat menemani

            Maut mengintai

 

            Angin tetap berhembus

            Tak peduli tentang siapa yang datang

            Tak peduli siapa yang pergi

            Yang penting adalah hidup ini

            Aku akan selalu menunggumu

            Di pelatar rumah seperti dahulu

            Dan kemudian

 

Puisi ini menggambarkan bahwa kematian bisa datang kapan saja tanpa memberi tahu terlebih dahulu. Selain itu, Menggenggam nyawa-nyawa setiap nyawa menonjolkan realitas yang samar bahwa “nyawa” di sana tidak lagi sebuah individu tetapi seolah kumpulan jiwa-jiwa manusia dengan segala beban kehidupan. Bergumam lirih pada waktu menunjukkan kecemasan pada sesuatu (jiwa) yang bisa hilang kapan saja. Nuansa yang terasa sangat temaram dan penuh kerinduan.


Aku akan selalu menunggumu/di pelatar rumah seperti dahulu/dan kemudian justru merefleksikan keseluruhan bagian puisi dari buku ini. Sebab, penulisnya menuangkan banyak sekali kenangan, kerinduan, ucapan syukur (Aku selalu menunggumu), sesuatu yang hilang dan kekhawatiran (Di pelatar rumah seperti dahulu), dan pesan-pesan untuk masa depan  (dan kemudian) pada bagian puisi. Sementara bagian monolog mendefinisikan keresahan Hadani tentang korupsi, kerusakan alam, distorsi budaya, penjajahan, dan negara yang kehilangan cinta (adaptasi dari Gumam Asa “Negara Hilang Cinta” karya Ali Syamsudin Arsi).


Rachmat Joko Pradopo (1939-2023), guru besar Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada pernah menulis bahwa sebagai sebuah genre sastra, puisi itu lebih sulit dimengerti, disebabkan karena puisi merupakan ekspresi pemadatan. Hal tersebut dapat membuat puisi memiliki interpretasi bercabang antara pembaca, pendengar, dan penulis puisi itu sendiri. Tidak selalu begitu, tapi kompleksitas puisi terlebih dengan licentia poetica terkadang menghadirkan ruang tertentu, apalagi jika si penulis menyiratkan makna dari puisinya tersebut.


            Puisi Chairil Anwar berjudul Aku dapat kita jadikan contoh.

 

Kalau sampai waktuku

‘Ku mau tak seorang kan merayu

Tidak juga kau

Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

Dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerjang

Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari

Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak perduli

Aku mau hidup seribu tahun lagi

 

Ada beberapa interpretasi yang dapat muncul dari puisi tersebut: perlawanan luka batin, individu yang tersingkir, manusia melawan kefanaan (mau hidup seribu tahun lagi), semangat melawan penjajah (biar peluru menembus kulitku), dll.


Menariknya, saya menemukan paradoks yang penting pada buku karya Hadani Had. Alih-alih menemukan interpretasi yang beragam, saya justru melihat penyair mengambil ruang sederhana. Ia tak mencoba menyembunyikan makna. Dari keseluruhan puisi yang ada pada buku tersebut, saya tidak menemukan misteri, ruang kosong atau kegelapan seperti yang saya khawatirkan ketika membaca judul dari buku ini.


            /Dan di sudut kelas si murid kembali menulis

            Dia tahu hidup ini penuh warna dan kisah lucu

            Prestasi diraih, tekanan dihadapi

            Tapi di hatinya, dia puas menjalani/


Bait tersebut ada dalam puisi berjudul Murid Sang Pengamat Dunia. Tidak ada misteri berlebihan di puisi itu. Batas dan ruangnya jelas, tak tersembunyi dan mudah dipahami.


Coba kita lihat lagi penggalan bait berikutnya dari puisi berjudul Indonesia Emas: Katanya.


            /Katanya, Indonesia emas, gemah ripah loh jinawi

            Tapi jalanan berlubang kayak arena lompat tali

            Katanya tanah surga, tongkat kayu jadi tanaman

            Tapi listrik mati tiba-tiba, kita kembali ke zaman lilin dan obor/


Bait tersebut jelas berisi protes pada jalanan berlubang, listrik mati, meski Indonesia disebut gemah ripah loh jinawi. Kemarahan pada kondisi Indonesia rupanya cukup membekas pada diri penulis, dan sekali lagi ia menuliskannya dengan jelas dan gamblang, tanpa sedikit pun berusaha memasukkannya pada bahasa-bahasa puitik. Terlihat pada penggalan bait puisi berjudul: Padiku Kini Nasibmu.


            /Mereka kemudian berujar dalam hati

            Tanpa berani lantang bersuara

            Andai tikus-tikus berdasi

            Terkena perangkap tikus

            Listrik, menyengat dan mati

            Kering dada mereka

            Karena perangkap berarus listrik/


Para pembaca nantinya tentu akan langsung tahu siapa yang dimaksud dengan tikus-tikus berdasi. Seandainya juga ada yang tidak mengerti dengan istilah tersebut, penulisnya memperjelas makna puisi pada bait berikutnya.


            /mungkin saja manusia merasa lapar

            Padahal petani kekurangan pupuk

            Untuk menambah subur padi

            Namun pupuknya mahal

            Semahal harga diri koruptor

            Dan padi hanya kekurangan pupuk

            Dan mengering

            Karena diserang tikus

            Tikus

            Tikus

            Tikus

            Dan

            Kaya/


Tikus dan kaya memperjelas bahwa petani kekurangan pupuk dan mengering karena diserang oleh para koruptor, bukan lagi hama tikus seperti masalah yang selama ini sering dihadapi para petani.


Dalam hal ini kemudian saya meyakini, Hadani penyair sangat pandai untuk menahan diri, tidak menggunakan metafora dan repetisi berlebihan, tidak memaksakan diksi-diksi tertentu untuk masuk. Sederhana tapi mengena.


Kesederhanaan itulah yang membuat puisi-puisi Hadani dalam buku ini terasa dekat, dan bahkan di beberapa puisi terasa sekali bahwa sang penulis adalah objek dari puisi itu sendiri. Hadani tak menciptakan jurang bahasa yang tak bisa dilompati. Ia justru membangun jembatan di jurang itu agar para pembaca dapat masuk ke dalam keresahannya.


Para penulis puisi sering kali berfokus pada daya puitik dan melupakan denyut dari puisi itu sendiri: cinta, kritik sosial, budaya, pendidikan, relasi dengan Tuhan, hubungan sesama manusia, dll.


Terlihat secara sadar Hadani menghindari daya puitik yang berlebihan, meski tetap memiliki bahasa dan diksi puitis, ia seolah bicara secara langsung seperti percakapan sehari-hari. Tidak hanya pada baris puisi, hal itu juga nampak jelas pada judul-judul puisi yang dipilihnya.


            1. Buah Hati Penjaga Langkah

  2. Aku Mencintaimu Seperti Lelaki Yang Tak Lagi Ingin Menang: Untukmu Merahmudaku
  3. Doaku Untuk Istriku
  4. Nasihat Kepada Anakku Ketika Banjir Melanda
  5. Selamat Menua
  6. Sahabat Yang Tidak Pergi


Ada beberapa puisi yang judulnya memiliki makna tersirat:


            1. Bergema

            2. Bergema II

            3. Bergema III

            4. Hari Pertama Sungguh Menggoda


Sekali lagi, Hadani begitu piawai. Jika membaca empat puisi tersebut tanpa membaca puisi setelahnya berjudul Mungkin Ini Yang Paling Ujung saya mungkin tidak akan menangkap apa yang dimaksudkan penulisnya. Namun, rangkaian puisi dari Bergema hingga Mungkin Ini Yang Paling Ujung melukiskan dengan nyata apa yang sebenarnya tertulis di sana.


MUNGKIN INI YANG PALING UJUNG

            Sanggar Ar-rumi telah lebih dua dasawarsa  

Bergelayutan segala warna berindang alam

            Berdetaklah pada rasa bergejolak

            Mengolah rasa menjadi mimpi

            Menampi mimpi jadi nyata

            Merangkai nyata jadi kata

     

            Sanggar Ar-Rumi kutitipkan buih pada sungai

            Bukan menjadi kenang yang hilang

            Tetapi menjadi rindu yang selalu menjadi

            Harap hanya satu

            Kalian bertumbuh bertunas bernas

            Berkeadilan pada tumbuh

           

            Sanggar Ar-Rumi perkara rasa

            Tak perlu tanyakan

            Enigma pada lereng bukit

            Resah pada duri

            Kemarau pun

            Aku tetap medamba

 

            Yang terakhir

            Aku tetap seperti dahulu

            Sayang dan merindu

            Pada setiap hitam dan putih

            Yang selalu ramai

           

            Jakarta, 21 November 2025


Kerinduan Hadani pada Sanggar Ar-Rumi sungguh besar. Sanggar Ar-Rumi sendiri diketahui adalah Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) di Institut Agama Islam Darussalam Martapura –wadah pertama Hadani akrab dengan dunia seni.


Puisi Mungkin Ini Yang Paling Ujung memiliki keterkaitan dengan puisi Hari Pertama Sungguh Menggoda. Riak-riak imaji berseliweran/Iringi setiap warna pada tubuh aktor menjadi penghubung kedua puisi itu, menggambarkan kenangan Hadani pada hari pertama kebersamaannya dengan Sanggar Ar-Rumi.


Bergema I-III semakin mempertegas kerinduan itu ditambah kekhawatiran Hadani apakah Sanggar Ar-Rumi akan terus bergema atau tenggelam diam.


Pada puisi Bergema, nampak perihal seorang penampil.


            /Gerak-gerak kaki mengentak di lantai dansa

            Elegi rindu dalam sebuah sepatu/


Bergema II mempertegas kerinduan itu.


            /Rencana telah dirajut dari tulang ke tulang

            disepakati angin, disaksikan tanah

            namun dunia menertawakan langkah kita

            yang menghentak lantai seperti ambruknya istana kaca/


Bait tersebut menyiratkan sebuah pesan agar di masa yang akan datang setelah rencana dirajut sedemikian rupa (dari tulang ke tulang), dunia bisa jadi menertawakan. Berikutnya penulis bertanya apakah Sanggar Ar-Rumi akan bergema? (disampaikan pada bait akhir).


            /Apakah kita masih sanggup mengguncang langit

            Atau tenggelam diam: tak pernah bergema lagi/


Pada Bergema III, Hadani menuliskan pesan untuk kerinduannya.


            /Rawatlah cahaya terakhir itu

            sebelum malam memutuskan

            mematikan semua yang masih hidup/


Pesan itu semakin dipertegas pada puisi Aktorku yang urutannya setelah puisi Mungkin Ini Yang Paling Ujung.


AKTORKU

 

Aku tak meminta banyak

Kepada tubuh yang rusuh bermonolog

Tetapi harapan

Organisme berlatar merah menyala

Rengkuh segala ribut

Keluarkan segala imaji

Untuk pertunjukanmu


Saya sangat menyukai gaya dan struktur penulisan yang dimainkan Hadani ini. Jika tidak langsung dan tegas, puisinya menunjukkan ketegasan pesan dan makna pada keterkaitan antara satu puisi dengan yang lainnya. Sebab dengan membaca utuh puisi dari Bergema hingga Aktorku, pembaca yang tidak mengetahui apa dan bagaimana Sanggar Ar-Rumi akan paham bahwa keenam puisi itu adalah sebuah pesan kerinduan dan amanat untuk terus menjaga marwah Sanggar Ar-Rumi tempat Hadani menumbuhkan bibit seni dan sastra dalam dirinya.


Kecenderungan Hadani yang tak bertele-tele pada kata juga terasa sekali pada bagian monolog dalam buku ini. Jalan yang dipilih Hadani tetap sebagai penyampai keresahan, daripada menciptakan lorong-lorong makna. Monolognya berjalan menyerupai pidato batin: berisi permenungan, harapan, dan cita-cita yang terus diperjuangkan.


Monolognya berjudul Angkara Bumi mengisahkan roh seorang prajurit dari masa lampau bernama Kusumua yang bangkit dari kubur, akan tetapi terperangkap antara dunia manusia dan alam yang telah hancur.


Coba kita perhatikan kutipan naskah monolog ini:


/Kusuma berjalan perlahan, tangannya meraba tanah yang kering dan retak, wajahnya penuh dengan rasa kehilangan/ bagian yang sangat terasa nyata sebab tokoh dalam monolog meraba tanah yang kering dan retak, lalu merasakan kehilangan.


Kita dapat merasakan permenungan batin Hadani di sana, keresahan pada alam yang telah rusak, kehilangan pada alam yang hijau dan asri. Untuk sesaat saya merasa naskah ini cukup bernuansa gelap, karena judul dan efek LAMPU PADAM pada bagian akhir naskah. Tapi, tetap saja nada yang terungkap serupa dengan nada pada puisi, pesan yang ingin disampaikan terasa lugas dan langsung. 

 

Kemudian, naskah monolog Negara Hilang Cinta yang diletakkan sebagai penutup buku ini memberi pesan kepada pembaca:


            /Kita hanya tinggal gumam.

            Di udara sesak ini/

            /Tapi dengarkan

            derap kaki ini masih berdetak

            Di mana pun kalian duduk, ia akan mengejar/


Dalam situasi alam yang semakin kacau, korupsi merajalela, kecurangan di mana-mana dan ketidakpastian hukum, isu sosial yang terus tumbuh, Hadani ingin menyampaikan bahwa angkara bumi tak akan berdiam diri dan akan memberikan hukuman ketika waktunya tiba. Kejelian Hadani meletakkan naskah ini sebagai pesan menunjukkan kematangan berpikir dan strategi yang cerdas. Buat pembaca, itu meninggalkan jejak rasa seperti gula merah klepon yang perlahan-lahan pecah di lidah.


Sebetulnya saya berharap Hadani memilih memisahkan antara puisi dan monolog, tidak menjadikannya dalam satu buku yang sama. Pertama, karena jarang sekali –di Kalimantan Selatan, buku berisi naskah monolog, yang pada gilirannya dapat menjadi sumber referensi bagi para penulis naskah monolog. Kedua, saya menyadari satu hal bahwa Hadani sangat memperhitungkan susunan puisinya dari halaman pertama –meski linimasanya jadi sangat acak. Ini terlihat dari halaman-halaman awal yang berisi kerinduan pada masa lalu, puisi-puisi di halaman tengah bercerita tentang perjalanan kehidupan pribadi dan perjalanan sastranya. Sementara puisi-puisi pada halaman akhir berisi perjalanan religius.


Tapi, tentu saja menggabungkan puisi dan monolog dalam buku ini sungguh langkah yang juga cerdas. Perpaduan puisi dan monolog dalam buku ini tidak hanya terjadi pada judul. Semua semakin terasa masuk akal. Puisi menciptakan ruang keresahan, sementara monolog lahir sebagai ruang aksi. Keduanya saling bergandengan dalam kegelisahan yang sama.


Angin Tak Pernah Berkabar di Angkara Bumi, bukanlah buku yang menciptakan ruang gelap dalam misteri dan teka-teki. Angin dalam judul buku ini seolah memiliki dwimakna. Bahwa ada dua macam angin, yaitu angin yang berkabar dan yang tak pernah berkabar. Angin yang berkabar adalah puisi dan monolog di dalam buku ini yang menyentuh langsung pembacanya tanpa memaksakan keindahan puitik dan permainan kata yang berputar-putar. Sedangkan angin yang kedua adalah hukuman pada perilaku manusia, ia tak pernah berkabar tapi ketika datang kemarahannya (angkara) tak dapat dibendung.


Akhirnya, saya benar-benar angkat topi untuk buku ini. Bagian terbaiknya adalah puisi sosial yang tetap personal, dan spiritualitas ekologis yang tidak menggurui. Sekali lagi, semuanya sederhana tapi mengena. Pesan dan makna hadir dengan sangat tegas, lugas, namun cerdas.


Untuk mendengar suara-suara itu adalah mendengar waktu itu sendiri, waktu yang lewat tetapi senantiasa datang kembali, berubah menjadi kristal-kristal suku kata –Octavio Paz, The Other Voice (2010).

____________________________________________

Tentang penulis: JH. Tanujaya, esai dan opininya pernah dimuat di Banjarmasin Post dan Mirifica.net. Puisi, pantun, fiksi mini dan cerpennya termuat dalam belasan antologi. Telah menerbitkan tiga kumpulan puisi tunggal, Gadis di Rembang Petang (2017), Doa Seorang Koruptor (2019), dan Konserto Sudut Pandang (2025).

____________________________________________

Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com


1 Komentar