Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

MEMBAKAR KITAB PEDOMAN HIDUP BAHAGIA DAN OMONG KOSONG, PUISI-PUISI MUSA BASTARA



Dan Kesedihan Semakin Akrab*

 

hujan sebentar lagi turun

dan membakar habis kota ini

pada malam yang tertangkup

di tengah asap obat nyamuk

bergeser dari heningan-ke-heningan

gerimis seperti kembang api

dan aku tak sedang

menangis

 

jalan-jalan lengang

bayangku menghilang kian jauh

menanti bis terakhir di tepi jalan

pada jerit yang juga terakhir

 

aku masih di ruang penyap ini

berserakan

seperti vas bunga yang pecah

kepalaku, tubuhku, ingatanku mengingatkanku

padamu

aku memeluk tubuh sendiri

dengan sengaja

mengapa harus terus terpisah-pisah

 

hujan membelah dadaku. di sana

kau temukan cendana, lamtara, ikan turbah

tumbuh dari tiada

di punggung liang-liang gelap

sungguh, aku tahu, masalalu begini sadis

dan

kesedihan semakin akrab saja

 

*gubahan judul puisi "Dan Kematian Semakian Akrab" oleh Subagio Sastrowardoyo

 

 

Merancang Sarang

 

bukankah bagimu aku hanya

arang yang kaubakar

agar menjadi abu?

bukankah bagimu aku hanya

pagi yang tak dipandang

saat kau tidak membuka jendela

dan bangun kesiangan?

sembunyikan lagi aku

ke dalam tanah terbelah

yang tandus

ke balik pelupuk matamu

yang tungkus

 

 

Orang-orang di Luar Keramaian

 

kamar kosong

adalah teman bicara

yang asyik

jam berapa

sudah tidak penting

cukup atur

volume spotify

yang aku butuhkan

sedikit bunyi

hujan tidak akan

bertahan

sepanjang malam

kopi di cangkir

sudah jenuh

ada yang merasa

kehilangan

sedang hasrat hidup

masih penuh

betapa akrab

sunyi bercakap-cakap

 

 

Membakar Kitab Pedoman Hidup Bahagia dan Omong Kosong

 

adakah dunia yang terlalu tawar itu

serta pagi yang benar-benar sama

menjadi luka yang kelewat bahagia

bagimu?

 

dalam hidup yang ruwet itu

yang berulang jadi tak terasa gigir

tersenyum dan tidak tersenyum

gerimis diabaikan waktu

mengubah yang tersimpan di dalam

dan

di luar tubuh

jadi tak sungguh-sungguh utuh

dan masalalu

jadi kian berlalu

 

burung-burung ibis kelelahan

terbang pulang

mengisi ruang dalam

tubuhmu

tak gaduh dan tak resah

tak tahu apa yang akan datang

siapa yang bakal datang

 

bising yang tak lagi lekat

kehilangan rumah

bukankah kau selalu

kehilangan rumah untuk perkara-perkara

muram dan membosankan?

ikan-ikan hanya tahu berenang

manusia cuma tahu ada dan tiada

tak hendak bangkit juga tak mau ditelan

nasib baik telah pula

bikin aib

semakin raib

 

mari kita angkat bir tinggi-tinggi

dengan isi seadanya saja

sebab dunia yang terlalu tawar itu

terlampau singkat untuk kesedihan

dan

airmata yang belum ada

 

 

Mendengarkan Kembali Pertanyaan-pertanyaan

 

apakah kau merasa bahagia?

 

apakah kau merasa bahagia

saat malam aku berjalan

sendiri dan tertunduk?

 

apakah kau merasa bahagia

saat malam aku berjalan

sendiri dan tertunduk

tak menyisakan lagi

satu airmata?

 

apakah kau merasa bahagia

saat malam aku berjalan

sendiri dan tertunduk

tak menyisakan lagi

satu airmata

sambil mengenali

setiap pintu

ternyata cuma ada jendela?

 

apakah kau merasa bahagia

saat malam aku berjalan

sendiri dan tertunduk

tak menyisakan lagi

satu airmata

sambil mengenali

setiap pintu

ternyata cuma ada jendela

dan seorang lelaki kesepian

menjadi hutan dalam diriku?

 

apakah kau merasa bahagia

ketika aku

tidak bahagia?

 

 

Pada Kilasan Adegan

 

kau sebut tiga film favoritmu:

casablanca, casablanca, casablanca

 

kau gampang terharu, tapi bukan penyedih

aku ingat pernah mengajakmu menonton

before sunrise

dan kau menangis

aku merasa bersalah

kau bilang takut untuk berpisah

 

kita bertukar judul film dan lagu jadul

aku tahu kemudian, mohsen makhmalbaf

adalah sutradara kesukaanmu

aku punya ide. aku mau bikin film, katamu

adegan-adegan berloncatan

kita sama-sama terpejam

dan

membentangkan langit yang tidak sama

sebuah kereta api meluncur deras

 

jalan-jalan melingkar di sekeliling

di dalamnya kita terkubur

dengan rong masing-masing

tinggal genta yang masih sesekali berdentang

 

di loket bioskop, antrian sedikit

dan kita membeli tiket

pada pekan yang berbeda

menyaksikan kenangan kita

diputar ulang

duduk sendiri-sendiri

di tempat yang kita tidak tahu

kita pulang sebelum film benar-benar selesai

 

itu film paling sedih yang pernah ada

 

 

Epilog

 

aku telah sampai

di relung gelap

matamu itu

jalan telah berubah

 

mencintaimu adalah jalan yang tak pernah

menghitung jarak

 

aku tidak benar-benar yakin--aku cukup pengecut

untuk berpisah

dan

hari melepaskan

mendung yang sama sekali lain

dengan hujan



Musa Bastara, seorang jurnalis independen. Penikmat kafein, film, dan lagu. Pemimpi ulung. Tukang tidur kompetitif yang juga suka berleha-leha. Penulis juga aktif berkomunitas di Arkalitera, salah satu kebanggan terbesar dalam hidupnya.


 

0 Komentar