Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

SUARA DARI TENGGARA, SEBUAH ANGIN SEGAR DUNIA KEPENULISAN DARI PESISIR

 

Ilustrasi: Piwi/Arkalitera


Di tengah geliat penerbitan buku yang masih didominasi puisi dan cerpen, hadirnya Suara dari Tenggara membawa warna yang berbeda. Antologi yang menghimpun 47 penulis dari Tanah Bumbu dan berbagai daerah di Kalimantan Selatan ini memilih esai sebagai bentuk ungkapnya—sesuatu yang masih jarang ditemui dalam lanskap kepenulisan Kalimantan Selatan, terlebih dengan fokus pada isu-isu literasi.

Buku ini memuat 50 esai dan opini bertema Tentang Pikiran, Manusia, dan Catatan Zaman. Di dalamnya, para penulis membicarakan beragam persoalan, mulai dari membaca, menulis, pendidikan, budaya, jurnalisme, teknologi, hingga dinamika sosial yang berkembang di tengah masyarakat. Esai-esai tersebut lahir dari pengalaman, kegelisahan, dan pembacaan masing-masing penulis terhadap kehidupan di sekitarnya.

Yang menarik, para penulisnya tidak datang dari satu lingkungan yang sama. Ada jurnalis, guru, dosen, pelajar, pedagang, musisi, hingga ibu rumah tangga. Keragaman itu menghadirkan sudut pandang yang berlapis, sekaligus memperlihatkan bahwa ruang menulis tidak hanya dimiliki oleh kalangan akademik atau pegiat literasi, melainkan terbuka bagi siapa saja yang memiliki gagasan.

Ketua Komunitas Rumah Pena, Andrianto Mokodompit, mengatakan Suara dari Tenggara merupakan karya perdana komunitasnya. Melalui antologi ini, Rumah Pena ingin menghadirkan ruang bagi beragam gagasan yang lahir dari Tanah Bumbu dan Kalimantan Selatan, sekaligus merekam dinamika literasi yang berkembang di daerah.

"Di dalam buku ini tergambar jelas kondisi, dinamika, dan problematika literasi, khususnya di Tanah Bumbu," ujarnya.

Sementara itu, editor buku, Puja Mandela, menilai keberagaman latar belakang penulis menjadi salah satu kekuatan utama antologi tersebut. Menurutnya, literasi tidak semestinya menjadi milik kalangan tertentu. Kehadiran pedagang, musisi, hingga ibu rumah tangga sebagai penulis menunjukkan bahwa setiap orang memiliki pengalaman dan gagasan yang layak dibagikan.

"Kami ingin literasi tidak hanya menjadi milik komunitas tertentu, tetapi milik semua orang. Terbukti, pedagang dan ibu rumah tangga pun ikut menulis, dan yang paling penting, tulisannya layak dibaca," katanya.

Peluncuran Suara dari Tenggara akan berlangsung pada Sabtu, 8 Agustus 2026, di Warung Joglo Merah Putih, Bandara Bersujud. Rangkaian acara diawali dengan lapak baca yang melibatkan Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Tanah Bumbu, Di Balik Halaman, Cakrawala, dan Rumah Baca Cahaya Ilmu, serta penampilan musik akustik.

Kegiatan akan berlanjut pada Minggu, 9 Agustus 2026, melalui bedah buku bersama dosen Pascasarjana Universitas Lambung Mangkurat, Sainul Hermawan. Dari sana, percakapan yang dimulai di dalam buku diharapkan berlanjut di luar halaman-halamannya.

0 Komentar