![]() |
| Ilustrasi: Piwi/Arkalitera |
P
“Mengajak orang yang tidak dikenal bercakap-cakap mungkin cara terbaik untuk merayakan ulang tahun.” Ia mengucapkan itu ketika sedang melingkari angka 21 pada kalender dengan spidol berwarna merah. “Ya, patut dicoba,” katanya sambil mengangguk-angguk dan memukul-mukulkan spidol ke telapak tangan.
Ini pertama kalinya Talbi merayakan ulang tahun. Tidak ada satu pun teman-temannya pernah mengucapkan selamat kepadanya hingga usianya 25 kini, meskipun ia tidak pernah berharap—mungkin lebih tepatnya: tak peduli—ucapan seperti itu.
“Selamat ulang tahun, Tal. Kami menyimpan dan menghargai semua kenangan yang Anda bagikan di sini.” Facebook mengucapkannya semalam dan ketika membaca kalimat itu, tiba-tiba Talbi merasa terharu sebab, menurutnya, hanya facebook yang dengan serius memerhatikan hidupnya. Keharuan yang tiba-tiba itu membuatnya beranggapan bahwa situasi telah mengelabuinya, mengkhianati pikirannya sendiri.
Sore, pukul tiga lebih sedikit, Talbi keluar rumah dan berjalan menuju taman. Ada seorang laki-laki, kira-kira dua tahun lebih muda darinya, tengah duduk di bangku yang menghadap ke jalan raya. Talbi mendekatinya lalu berjongkok di tanah di sebelah laki-laki itu seperti seekor anjing peliharaan, dan bertanya seakan-akan mereka sudah saling kenal dan sudah membuat janji untuk bertemu.
“Jadi, bagaimana kau akan merayakan ulang tahunmu?”
Orang yang ditanya hanya menatap wajah Talbi dan yang ditatap alih-alih menjawab, ia menangkupkan kedua telapak tangan, menyentuhkan ujung jari-jari tangannya ke bibir, lalu memandangi jalan raya. Jalanan tidak terlalu ramai tidak juga lengang. Hanya sesekali kendaraan-kendaraan besar melintas.
“Mengajak pacarku jalan-jalan, nonton lalu makan.”
“Tidak ada cara paling baik selain itu?” tanya Talbi, tanpa merasa perlu mengalihkan pandangannya dari jalan raya. “Itu cara usang, orang-orang abad pertengahan di Cartagena, Kolombia, sudah melakukannya dan sialnya sampai hari ini semua orang masih melakukannya, termasuk kau.”
“Ya, aku akan tetap merayakannya, apa pun itu,” kata laki-laki itu setelah diam sejenak.
Talbi pernah membaca buku “25 Kiat Sukses Merayakan Ulang Tahun No. 4” yang ditulis oleh seorang bloger kurang terkenal. Di halaman 27 si penulis menyarankan: “Bila hari ini adalah hari ulang tahun Anda, tapi Anda belum menemukan ide buat merayakannya, untuk menghindari penyesalan kelak, maka segeralah lakukan salah satu atau dua dari 25 cara ini.”
Di halaman selanjutnya, setelah bertele-tele menjelaskan mengapa merayakan ulang tahun menjadi penting, si penulis mengatakan, merayakan ulang tahun adalah satu hal, dan kesuksesan atas perayaannya adalah hal lain dan karena itu ia menjadi penting. Anda boleh melakukan salah satunya dan akan lebih baik jika Anda melakukan semuanya.
Lalu di paragraf berikutnya ada sebuah daftar yang berisi kiat-kiat sukses merayakan ulang tahun. Berikut ini, dari 25 daftar kiat-kiat yang disusun, hanya ada tiga poin yang menarik minat Talbi.
- Pikirkan apa yang sudah Anda kerjakan selama setahun belakangan, atau jika Anda malas memikirkannya, cobalah untuk mengingatnya. Jika Anda berhasil mengingatnya, baik sebagai ingatan indah atau menyakitkan bagi masa lalu Anda, lakukanlah tindakan-tindakan yang sudah pernah Anda lakukan di masa lalu—barangkali ia berguna hari ini atau bahkan masa depan.
- Jika Anda seorang pemberang, maka Anda ada dalam masalah. Tapi jangan risau. Itulah sebabnya daftar ini disusun demi membantu Anda mengatasi masalah yang menimpa Anda, setidaknya masalah Anda teratasi di hari ulang tahun Anda.
- Kenakan pakaian terbaik dan keluarlah, cari hawa segar, temukan orang tak dikenal yang bisa Anda ajak bercakap-cakap dan bergurau. Jika orang itu terlalu bodoh sebagai teman bercakap-cakap, tepuk pipinya dengan sandal seolah-olah Anda sedang berusaha menyelamatkannya dari gigitan seekor nyamuk.
Dan Talbi sedang melakukan salah satunya, sesuai prosedur setertib seorang ahli ibadah.
“Jadi, kau tetap akan menggunakan cara yang dilakukan orang-orang abad pertengahan untuk merayakan ulang tahunmu?” tanya Talbi, dengan intonasi yang seolah-olah mengejutkan laki-laki di sampingnya, namun sayangnya laki-laki itu tidak terkejut.
Kali ini laki-laki itu tampak sedang berpikir keras dan Talbi menunggu jawaban—sampai mengantuk.
Talbi duduk berselonjor, kakinya mulai kesemutan karena terlalu lama berjongkok di situ. Laki-laki itu kelihatannya masih berpikir keras dan Talbi memutuskan untuk merebahkan tubuhnya di samping laki-laki itu, dan lengan kirinya ia jadikan sebagai bantal.
SELAGI menunggu laki-laki itu berpikir keras, dalam posisi berbaring, Talbi mengingat-ingat apa yang telah terjadi padanya selama satu bulan belakangan sambil memandangi sekawanan awan yang terbang merendah, seakan-akan hendak hinggap di pucuk-pucuk pohon, dan mencoba menghitung daun akasia yang berguguran.
Dua minggu sebelumnya Talbi mengalami kesulitan bernapas. Itu terjadi setiap malam. Ia akan bernapas sedikit lega beberapa saat hanya jika ia memiringkan tubuhnya ke kanan. Namun kelegaan itu berlaku buat lubang hidung kiri belaka dan ia akan melakukan hal yang sama jika kesulitan menimpa lubang hidung yang lain: Ia melakukannya berkali-kali sepanjang malam dan akibatnya ia tak dapat tidur pulas.
Tak puas dengan cara seperti itu Talbi mencari cara lain. Ia bangun dari tempat tidur, melepas baju, lalu berjalan ke kamar mandi sambil menggosok-gosok hidungnya yang terasa mampat. Ia menyiramkan air ke dadanya, memencet lubang hidung kanan dengan jari telunjuk, mendongakkan kepala, memasukkan setetes air ke lubang hidung kiri, dan menahannya selama beberapa detik. Setelahnya Talbi merasa pusing seperti baru saja selamat dari nyaris tenggelam saat belajar berenang, namun ia bisa bernapas sedikit lebih lega karenanya.
Dulu waktu kecil ia pernah mengalami kesulitan yang sama. Ibunya memberi tahu cara menangani masalah pada hidung dengan mengoleskan minyak tanah di sekujur tulang hidungnya. Jika masih belum bisa bernapas dengan lega ibunya akan menyodorkan balsem untuk dihirup aromanya atau mengoleskannya di wilayah yang kelak akan ditumbuhi bulu-bulu kumis.
Talbi bangun dari pembaringannya dan menatap wajah laki-laki yang masih berpikir keras. Ia tak mau membuyarkan konsentrasi laki-laki itu, dan ia baru ingat bahwa sejak pagi perutnya belum diisi apa-apa. Ia meninggalkan laki-laki itu dan memutuskan keluar dari taman, mencari warung yang tak terlalu jauh dengan taman.
Perut kosong selama sembilan jam mesti diganjar dengan harga yang setimpal, pikirnya saat menghabiskan makanan penutup. Dan inilah jenis-jenis makanan yang sanggup dimamah mulutnya tanpa membuat hatinya gundah agar esok hari mereka akan keluar dari saluran pencernaan dengan leluasa: dua mangkok bakso, sepiring nasi padang, dan sepuluh tusuk sate ayam plus nasi lontong. Ia bersendawa panjang sekali, orang-orang yang ada di warung itu menatapnya dengan jijik, namun Talbi tak peduli—atau malah tak mengerti maksud dari tatapan seperti itu.
“Jadi, sekali lagi, bagaimana kau akan merayakan ulang tahunmu,” tanya Talbi ketika tiba di samping laki-laki yang ternyata masih berpikir keras. Laki-laki itu menarik napas, menyandarkan tubuh ke penyangga punggung di bangku taman. Talbi membungkuk persis seperti sedang rukuk dalam salat seraya menatap wajah laki-laki itu untuk menunggu jawaban, setara dengan ketakziman seorang pemurah.
“Sudah kuputuskan. Aku tidak akan merayakannya,” kata laki-laki itu.
Talbi berdiri, masih menatap laki-laki itu dengan wajah tanpa ekspresi, melepaskan sandal kanannya dan di saat itulah tercipta sebuah suara di antara keduanya, persis seperti seseorang yang menepuk seekor nyamuk tapi lebih empuk.
“Aku tidak menduga, kau sedungu itu ternyata,” kata Talbi sambil berbalik dan berjalan meninggalkan laki-laki itu dan sandal kanannya di taman. Dari jarak yang agak jauh dengan laki-laki itu Talbi berteriak tanpa menoleh ke belakang: Cukup sudah urusanku dengan orang dungu sepertimu!
“Bajingaaan.. Bajingaaan… Bajingaaan!”
Tentu laki-laki itu kebingungan sambil memegang pipi kirinya. Mengapa ada seseorang yang berani melakukan tindakan emosional seperti itu kepadanya. “Siapa di antara kami yang dungu, sebetulnya?” Laki-laki itu menggumam.
Dua hari kemudian, Talbi datang ke taman itu, sekadar untuk menghibur diri dan ia ketemu dengan laki-laki itu lagi—di bangku yang sama dengan posisi persis seperti dua hari lalu. Ada dua alasan mengapa laki-laki itu datang ke taman: Ingin mengembalikan sandal Talbi yang ketinggalan di situ dan hendak menanyakan apa maksud dari tindakan Talbi dua hari lalu.
DUA HARI tidak keluar rumah, selepas pertemuan terakhir di taman itu, Talbi telah mengalami situasi seperti ini:
Tak ada obat paling ampuh untuk menyembuhkannya dari insomnia selain merancap, dan ia bukanlah peminum kopi pilih tanding. Begitulah yang ia yakini. Sampai tengah hari ia masih belum tidur juga dan beberapa jam lalu ia merancap setelah berbulan-bulan tidak ia lakukan. Biasanya setelah merancap matanya akan lebih mudah terpejam, namun kali ini tindakan yang, bagi kebanyakan orang, tak terpuji tersebut justru tidak berfungsi dengan baik untuknya. Puluhan batang rokok ia habiskan semalam suntuk. Malam bergerak begitu lambat, langit terang benderang, kendaraan di jalanan melaju, terus melaju sampai jauh. Dan, entah cerita pendek keberapa sudah ia baca dan semua yang ia baca hanya meninggalkan dengung panjang kesunyian tak tertahankan.
Yang bisa Talbi lakukan hanya bolak-balik dari kamar ke sofa di ruang tamu. Ia duduk di hadapan rak buku, namun tak ada satu pun judul dan nama penulis yang sanggup membuat ia ingin membacanya. Sebotol amer kosong bercokol di bawah meja di hadapannya. Seorang temannya membawa botol itu pada malam sebelum keberangkatannya ke desa tempat ia KKN. Talbi sempat hendak menenggak amer lagi, namun ia kehabisan uang. Malam itu, malam ketika teman-temannya berunding untuk membeli sebotol amer, ia cuma sanggup menggelontorkan uang sebesar tiga ribu perak dan berkata, “Seteguk juga tak apa.”
Senja telah tiba dan Talbi belum tidur juga. Ia menyalakan lampu, menutup jendela, berjongkok di teras rumah. Di sudut-sudut halaman rumah ada setumpuk sampah belum habis dilalap api. Ia berdiri, menggeliat dan menguap, menggosok-gosok selangkangan, lalu masuk ke dalam rumah untuk mencari korek api.
Di lantai di dekat lemari televisi ada sebuah kotak. Di dalamnya ada tembakau. Talbi duduk bersila di hadapan kotak itu sambil melinting tembakau yang sudah berbulan-bulan mendekam di situ sejak pertama kali ia beli. Ia pernah menginginkan mengisap ganja, tapi tak pernah kesampaian. Ia cuma sanggup membayangkan tembakau yang sedang ia linting adalah ganja.
Setelah menjilat-jilat ujung kertas tembakau seusai lintingannya sempurna, Talbi membakar ujungnya dengan api kompor. Ia masuk ke kamar, mencari korek api di dalam tas miliknya. Mungkin ia ada di sana, batinnya. Namun tak ada korek api di sana. Ia meraba-raba isi saku jaket dan celana jins panjang yang menggantung di daun pintu, namun kosong belaka. Ia melongok ke dalam kardus di dekat lemari dalam kamar. Kardus itu isinya hanya lembar-lembar kertas tugas dari dosen dan segulungan kabel terminal listrik dan di sanalah akhirnya ia menemukan korek api, berada tepat di tumpukan paling bawah.
Ketika tiba di hadapan setumpuk sampah yang belum habis dilalap api, Talbi mengisap rokoknya dalam-dalam, mengembuskannya ke udara dan meletakkannya di sudut kiri bibirnya. Ia ingat bahwa ada Sastrawan Indonesia yang punya kebiasaan membakar sampah di halaman depan rumah tiap pagi. Meski tak selalu rutin, ia juga punya kebiasaan yang sama. Atas ingatan seperti itu, ia sempat bertanya kepada dirinya sendiri, adakah beda antara hobi dan kegilaan.
Siang tadi hujan turun dan karena itulah Talbi belum berhasil menyalakan api. Entah berapa botol plastik yang sudah ia bakar, sampai ibu jari tangannya merah dan kepala korek itu menjadi semakin panas. Tanah, kayu, daun, kantung kresek, kertas nasi bungkus tak bisa ia andalkan sebagai bahan bakar. Semuanya basah. Hanya sampah-sampah berbahan plastik kering yang terbakar, itu pun ujungnya saja.
Ia ingat pesan ibunya: jika kau belum terampil menyalakan api, dalam keadaan apa pun, berarti kau belum layak membina rumah tangga. Meski Talbi tak mampu menemukan hubungan antara keterampilan menyalakan api dalam keadaan apa pun dengan kelayakan membina rumah tangga ia tetap meyakininya dan menjadikan nasihat itu sebagai pedoman.
Rokoknya sudah habis dan ia melemparkan puntungnya ke tumpukan sampah yang gagal ia bakar. Dan akhirnya, ia menyerah lantas meninggalkan tumpukan sampah itu seperti semula.
KETIKA laki-laki itu melihat Talbi, ia berdiri dan menghampirinya untuk bertanya: “Kalau kau, bagaimana kau akan merayakan ulang tahunmu?”
Talbi tersenyum mendengar pertanyaan itu, seakan-akan itulah yang ia harapkan atas tindakannya dua hari lalu.
“Aku terinspirasi dari sebuah buku. Yang kemarin kulakukan padamu adalah hasilnya,” jawab Talbi. Ia berjalan mendekati laki-laki itu lalu berbisik: “Sebetulnya, aku masih punya 24 cara yang lain. Jika berminat, aku bisa menunjukkannya padamu secara cuma-cuma.”
Tentang Penulis
Abdul Karim
lahir di Murung Raya, Kalimantan Tengah. Bergiat di komunitas Arkalitera di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Kirim Naskah
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke:
penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar