Pelajaran Memupus Rindu
Di bukit cinta yang lembut
hanya ada bisu
yang memakan waktu perjalanan kita
sedang rindu
dimulai dari langkah-langkah kaki
dan iring-iringan doa
yang gagal kita ucapkan di pelaminan
2026
Panggilan Dari Petuah
Dering telepon itu merayap
di pekarangan rumah
mungkin ada sebuah jawaban
yang terkubur di seberang waktu
Kata-kata bagai elegi
yang memeluk dan merasuk
tiap-tiap insan
Tak usang ia menerang
titimangsa hidupnya
dan usul kelak matinya untuk abadi
2026
Pesan Bapak
Nak, barangkali hidup adalah kumparan marah dari lenggok kanan-kiri doa
Nak, batin sekarang cuma kata pada bait pertama, selebihnya kita yang dihimpun masalah dan bersalah
Dengarlah nak, risau lembaran buku yang ditinggalkan pemiliknya, bahkan dijual dengan harga murah
Sepertinya sama seperti kita, yang berdoa dalam-dalam untuk memohon pertolongan
Genggam tangan ibumu, nak
rasakan garis keras tangannya
ciumi tiap keloknya
”sudah susah masih ditelan? apalagi artinya?”
Ingat, ketika pagi datang
mimpi menutup dalam-dalam
Ingat, mimpi menengadah ngeri pada hari itu yang sepagi hari mengais nasi
Bapak pergi dulu bekerja membelikanmu mainan dan cemilan, lupakan buku lupakan aksara. Kita manusia memang tak kenyang makan puisi.
2026
Ingin Aku Menanam Damai
Ingin kutanam kedamaian
meski tanah ini penuh perseteruan
ingin kutabur benih ketenangan
walau lahan ini sarat kegaduhan
ingat kusemai pohon kejujuran
kendati bumi dilapisi kemunafikan
Tuhan
ajari aku untuk bersabar
menunggu hasilnya
memang tak mudah
tapi aku pasrah
pada kering tubuhku
yang melahirkan tumbang
di hamparan pasir antah-berantah
2026
Perjalanan Mencari Kebenaran
/1
Jika kutahu bahwa pengelanaan masih saja belum menemukan juntrungannya. Kepada hari pun sudah kutikam kepala dan pikiranku sendiri.
Barangkali, aku adalah jiwa yang terbelenggu — dalam ketidakpastian — aku pun berserakan.
Barangkali aku hanya ingin merenung dengan mereka yang berkalung derita di setiap pendakian kebenaran. Layaknya memuncaki kebahagiaan; kan kulintasi arah yang gamblang
Atau barangkali kebenaran hidup serupa surga? Ah! tetap saja kuselami bunyi firman di tubuhku. Namun, tak kujumpai apa-apa di sana selain kegelapan; apa kau menangkap tubuhku?
/2
Barangkali dosa juga menggunung padaku
dan tak mampu kuhitung
namaku
kebenaranku
bagiku kian masih sebatas mencari warna; abu-abu dan ragu
sepertinya aku tak disukai Tuhan.
2026
Rifqi Septian Dewantara
pegiat sastra asal Balikpapan, Kalimantan Timur. Karya-karyanya tersebar di berbagai media massa seperti Media Indonesia, BeritaSatu, Suara Merdeka, Kaltim Post, dll. Buku kumpulan puisinya Aku Tidak Datang dari Masa Depan (Langgam Pustaka, 2025). Kini bergiat dan berkarya di Kota Balikpapan. Bisa disapa melalui Instagram @rifqiseptiandewantara
Kirim Naskah
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke:
penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar