Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

PUISI-PUISI MARGARET ATWOOD

 


Frida Kahlo, San Miguel, Rabu Abu

Kau telah pudar sejak lama
tapi di sini, di lorong kenang
kau ada di mana-mana:
tas katun bergambar, kotak timah yang dilubangi,
kaos merah darah, salib-salib manik;
kepangmu yang melingkar, tatapmu yang lurus,
tubuhmu seperti rusa atau martir.

Ini menjadi gurauan
jika akhirmu cukup aneh
dan membara, dan penuh luka.
Tali gantungan membawa keberuntungan;
para santo digantung terbalik
atau mempersembahkan dada mereka di atas piring
dan kami memakainya, kami memanggil mereka,
menyelipkannya antara daging kami dan bahaya.

Kembang api, dua jalan dari sini.
Ada sesuatu yang pernah atau masih terbakar, entah di mana.
Selubung sutra yang robek, surat yang menguning:
Aku sekarat di sini.
Cinta tertusuk pada lidi,
hati dalam nyala.
Kami menghirupmu, asap tipis,
duka dalam bentuk abu.

Kemarin anak-anak memecahkan
telur-telur kosong di kepala orang lain,
membaptis mereka dengan gemerlap.
Potongan cangkang berserakan di taman
seperti sayap kupu-kupu yang remuk,
seperti pasir, seperti konfeti:
biru langit, senja, darah —
warna-warnamu.


Garam

Dulu semuanya baik-baik saja, ya?
Ya. Baik-baik saja.
Kau tahu kalau itu baik?
Waktu itu? Di hidupmu yang dulu?

Tidak.
Sebab aku sibuk cemas,
atau mungkin lapar,
atau tertidur
melewati separuh dari jam-jam itu.

Sesekali ada buah pir. Ada buah prem.
Ada secangkir sesuatu.
Ada gorden putih yang bergelombang.
Atau sepasang tangan.

Juga cahaya lampu yang lembut
di dalam tenda tua,
jatuh ke tubuh,
ke kulit yang saling merawat,
menyala sesaat,
lalu hilang.

Fatamorgana,
katamu.
Seolah tak pernah ada apa pun.
Padahal, di belakang bahumu,
waktumu masih terbentang
seperti tikar piknik
di bawah matahari,
masih bercahaya,
meski malam sudah datang.

Jangan menoleh,
kata mereka.
Kau akan menjadi garam.

Mengapa?
Mengapa tidak boleh menoleh?
Bukankah semuanya masih berkilau?
Bukankah di sana
masih begitu indah?


Potret Diriku

Ini diambil beberapa waktu yang lalu.

Mula-mula ia tampak seperti cetakan yang buram: garis-garis yang mengabur dan bintik-bintik kelabu menyatu dengan kertas;

lalu, ketika kau memandanginya, kau akan melihat sesuatu di sudut kiri, sesuatu yang menyerupai dahan: bagian dari sebatang pohon (cemara balsam atau spruce) yang muncul, dan di sebelah kanan, setinggi pertengahan, sesuatu yang semestinya sebuah lereng yang landai, sebuah rumah kecil berbingkai kayu.

Di latarnya ada sebuah danau, dan di baliknya, bukit-bukit yang rendah.

(Foto ini diambil sehari setelah aku tenggelam.

Aku berada di dalam danau itu, di tengah gambar, tepat di bawah permukaan.

Sulit mengatakan di mana tepatnya, atau mengatakan seberapa besar atau seberapa kecil diriku: air mengubah cahaya menjadi penyimpangan.

tetapi jika kau memandang cukup lama,
pada akhirnya
kau akan melihatku.)


Kau Bermula

Kau memulainya begini: ini tanganmu, ini matamu, itu seekor ikan, biru dan pipih di atas kertas, hampir berbentuk mata. Ini mulutmu, ini huruf O atau bulan, mana pun yang kau suka. Ini kuning.

Di luar jendela hujan turun, hijau karena musim panas, dan setelahnya pepohonan, lalu dunia, yang bulat dan hanya memiliki warna-warna dari sembilan krayon ini.

Inilah dunia, lebih penuh dan lebih sulit dipelajari daripada yang kukatakan. Kau benar mengaburkannya seperti itu dengan merah, lalu jingga: dunia sedang terbakar.

Setelah kau mengenal kata-kata ini, kau akan tahu ada lebih banyak kata daripada yang sanggup kau pelajari. Kata tangan melayang di atas tanganmu seperti awan kecil di atas danau. Kata tangan menambatkan tanganmu ke meja ini. Tanganmu adalah batu hangat yang kugenggam di antara dua kata.

Inilah tanganmu. Inilah kedua tanganku. Inilah dunia, yang bulat, tidak pipih, dan memiliki lebih banyak warna daripada yang mampu kita lihat.

Semuanya bermula. Semuanya berakhir. Ke sinilah kelak kau akan kembali. Inilah tanganmu.


Kala Kau Genggam Tanganku

Kau menggenggam tanganku dan tiba-tiba aku berada di dalam sebuah film yang buruk, film yang terus berlangsung, dan entah mengapa aku terpikat.

Kita berdansa dalam gerak lambat di udara yang pengap oleh rayuan-rayuan yang telah usang. Kita bertemu di balik deretan palem dalam pot yang tak berujung. Kau memanjat melalui jendela yang keliru.

Orang-orang mulai pergi tetapi aku selalu tinggal sampai selesai. Aku sudah membayar tiketku. Aku ingin tahu apa yang akan terjadi.

Di bak-bak mandi yang entah dari mana aku harus melepaskanmu dari tubuhku, dalam rupa asap dan seluloid yang meleleh. Harus kuakui, aku akhirnya kecanduan. Bau popcorn dan beludru yang telah aus masih melekat berminggu-minggu.


Kau Cocok Denganku

kau pas di dalamku
seperti kait pada lubangnya

kail ikan
pada mata yang terbuka

Tentang Penyair

Margaret Atwood

lahir 18 November 1939 di Ottawa dan besar di Ontario utara, Quebec, serta Toronto. Ia lulus S1 dari Victoria College, University of Toronto, dan S2 dari Radcliffe College.


Ia merupakan penulis produktif asal Kanada dengan lebih dari 50 karya berupa novel, puisi, esai, dan novel grafis yang sudah diterbitkan di lebih dari 45 negara. Karya terkenalnya: The Handmaid’s Tale, sekuelnya The Testaments - pemenang Booker Prize 2019, The Blind Assassin - pemenang Booker Prize 2000, Alias Grace, Cat’s Eye, Trilogi MaddAddam, dan Hag-Seed


Tentang Penerjemah

Syahrul Chelsky, kelahiran 30 tahun silam ini pernah menulis dua judul buku, masing-masing satu buku puisi dan satu buku kumpulan cerita. Puisi-puisinya turut termuat dalam beberapa antologi puisi lokal dan nasional. Ia juga ikut tergabung dalam komunitas Arkalitera. Bisa ditemukan di beberapa jejaring sosial media dengan nama pengguna @syahrulchelsky

Kirim Naskah

Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke:

0 Komentar