![]() |
| Ilustrasi: Piwi/Arkalitera |
Ontologi Sendok
Aluminium, besi, perak, plastik: inikah hakikat? Barangkali ujung dari persendokan ini adalah tangan, yakni mimesis atas cara kerjanya mengangkut makanan. Ini faktor primer. Perkara bahan tiada lain faktor sekunder. Awal mula sendok adalah gagasan tentang transport, melulu soal estafet. Sendok disebut sendok jika dan hanya jika ada materi di suatu wadah yang perlu dipindah, kemudian wadah lain menyambut. Tindakan tak pernah tunggal sebab terus berlanjut dari membagi, mengangkut, hingga merasa. Tangan manusia mencipta perpanjangannya ke materi nonorganik, sebagai pesawat sederhana, mediator kecil antara dirinya dengan dunia.
Anatomi Sendok
Satu batang besi dengan bentuk pentungan di salah satu ujung, dipipihkan. Setelah rata, ditekan lebih lanjut sehingga jadilah cekung. Cukup tebal, dengan pinggiran yang membulat tak bersudut, tumpul, tak bakal menggores mulut. Gagang bisa polos bisa pula bermotif daun dan bunga. Gagang adalah badan tak berlengan. Cekungan adalah kepala. Semakin pendek badan semakin serupa dengan centong. Semakin panjang badan semakin mirip dengan sekop. Panjang-pendeknya badan tak selalu berbanding lurus dengan besar-kecilnya kepala. Cermati saja centong nasi dengan sendok garam. Keduanya pendek menurut gen masing-masing. Tak perlu pula membandingkan sendok garam dengan sendok teh sebab sama-sama langsing dan berkepala kecil. Setiap sendok unik dengan warisan genetiknya masing-masing. Sendok tak mutlak laki-laki dan tak pula mutlak perempuan. Tak perlu kaukawinkan sendok dengan garpu sebab keduanya spesies yang berlainan.
Simetri Sendok
Bayangkan sebuah sendok sebagai guntingan kertas. Tentu, itu cuma punya satu simetri lipat. Dan tak berlaku di realitas jika sendok milikmu punya lebih banyak motif di sisi kiri gagang. Itu menjadikannya berat sebelah. Kau merasa perlu mencari cara lain untuk mencapai keseimbangan. Maka kaujepit sendok itu di antara jempol dan telunjukmu, lalu mengangkatnya perlahan. Kaulihat geraknya yang naik turun bak lengan timbangan. Simetri tak terpenuhi jika gagang terlalu pendek atau kelewat panjang. Luas cekungan pun kedalamannya musti sepadan dengan keras-lunak bahan makanan, dengan padat-cair wujud hidangan. Tentu, ini sebatas postulat. Tapi ini membuatmu berpikir tentang postulat keseimbangan yang lain: dari perspektif katup ke dasar botol kaca, dari kegiatan mengocok telur lalu mengoles mentega, atau pembedaan metode antara salad dengan tumis. Simetri sebelumnya sudah tak berlaku di sini. Lebih bimbang lagi setelah kauperhatikan: teman-temanmu memakai sendok yang sama untuk tugas yang berbeda. Sendok jadi tak identik dengan tuang dan takar. Tetapi kau bisa menamai milikmu agar tidak tertukar.
Klasifikasi Sendok
Lebih tipis tinimbang sendok besi ialah sendok aluminium, dengan tebal setara dua lembar uang kertas. Tak cocok membelah daging kurban yang alot sebab gampang bengkok. Tipis, cenderung tajam, terlebih saat kontak dengan makanan asam. Lebih cekung di kepala dan lebih silindris di gagang ialah sendok sambal, lazimnya dari melamin. Disandingkan wadah bulat mungil dengan tutup kubah bercelah, sungguh serasi secara desain. Lebih melengkung di tulang punggung dengan cekungan cenderung bola, persis proporsi gadis oleh Picasso, inilah dia sendok sup. Angkat dengan tegak kalau mau mangkukmu penuh. Tiriskan di cawan kosong, jangan taruh di kaldu mendidih atau gagang plastiknya luluh. Lebih oval penaka telur dengan pucuknya yang ditarik mulur ialah centong nasi. Ia bulat sederhana yang mahir menakar ukuran porsi. Beberapa lebih ramping dengan kepala penuh bintil. Lebih karib dengan lauk-pauk ialah sendok saji. Siap sedia menjadi kurir bagi telur balado plus tumis tahu ke piring makanmu. Manis saat eksis di meja prasmanan, necis pula pas mejeng di lazy susan. Lebih ganjil sebab lebih serupa sarangan dandang ialah sendok saring. Kepalanya dirancang buat menampung padatan, bukan air. Lubangnya dapat berupa pola lingkaran kecil yang memusat, dapat pula berwujud jalinan kawat. Lebih familiar seperti lazimnya sendok ialah sendok makan. Tentu telah kaukenal tanpa perlu kuceritakan.
Onomatope Sendok
Blub pas tercelup dalam watafel dan kress saat membelah apel. Tuk tuk saat menumbuk meja dan tang tang pas membentur baja. Klontang pas dilempar ke dalam baskom dan krek krek saat mengikis kerak abon. Praang saat menabrak kaca jendela dan prrfff pas membelah puding busa. Sruk sruk pas menggoreng kornet dan drr-drr-TIK saat tertarik magnet. Trrrkkk-trrkkk saat menentang baling-baling kipas dan bleb pas mendarat tepat di bantal kapas. Kreekk pas menggilas cabai rawit dan cuurrr saat menyiram kuah ke pangsit. Tang-tang krak saat melesat ke mesin penggiling dan blubuk blubuk pas direbus bersama daging. Sshhh ah pas suapan menukik ke sariawan dan mmm nyam saat bumbu kentara dalam masakan.
Imaji Sendok
|
00.00.00 00.03.58 00.04.68 00.06.27 00.11.80 00.13.57 00.15.08 00.17.50 00.18.06 00.19.34 00.22.72 00.24.37 00.30.11 |
00.31.02 00.34.82 00.36.27 00.37.26 00.39.83 00.42.79 00.49.86 00.52.95 00.58.33 00.59.46 01.01.63 01.03.73 01.10.68 |
|
01.14.06 01.19.99 01.23.54 01.26.82 01.31.55 01.35.81 01.37.78 01.40.38 01.42.04 01.46.76 01.48.40 |
01.51.87 01.58.06 01.58.73 02.00.05 02.03.03 02.07.13 02.10.77 02.14.18 02.32.02 |
Geometri Sendok
Euclidean
Sendok serupa figur-figur Suprematis yang Malevich lukis dengan sebuah kepala dan leher memanjang. Kepala dapat dibentuk dari empat segitiga siku-siku kongruen yang disusun berimpit membentuk belah ketupat, kemudian setiap sisi miringnya serentak dicembungkan sehingga membentuk sebuah oval. Kepala dapat pula dimulai dari satu lingkaran simetris dengan sumbu vertikal, lalu keliling di bagian kiri-kanan digiring mendekat ke titik pusat. Leher dimulai dengan sapuan kuas berujung rata yang memoles warna sebagai persegi, kemudian turun dan menjadikannya persegi panjang. Busana dapat dibuat dari serbet atau tisu makan yang dilipat trapesium, dapat pula dari rangkaian segitiga multiwarna. Berikan ruang di tengah lipatan sehingga leher dapat terbalut dan kepala tersangga tegak sebagai potret. Sendok bisa menjadi dasar bagi sosok apa pun: gadis, petani, atau atlet.
Non-Euclidean
Saat sekerat daging eksis pada sendok yang kauangkat, gravitasi bertambah berat. Daging adalah pusat, hasratmu tertarik ke arahnya. Meski kau tahu kelengkungan telah lebih dulu ada pada sendok sebelum datangnya daging, terdapat pengaruh. Gagang yang kausangga turun sekira 6° dari posisi semula. Kecuraman positif, kelengkungan makin mendalam. Begitu daging kaukunyah, sendok kembali kosong. Penampang nampak lebih rata. Pandangmu tak lagi tertampung di satu pusat. Begitulah hasratmu meluber ke luar sendok, menjadi garis singgung yang menyisir kelengkungan lain sedalam palung. Namun, apatah yang tersembunyi di sana: sekerat daging, sekadar tulang? Curam-landainya suatu medan (tak selalu) tergantung seberapa berat massa yang ditanggung ruang.
Kartesius
Kuadran I untuk mengantar nasi ke mulut sendiri, menjangkau gula dan bubuk kopi, menyingkirkan semut dari cangkir teh, menyortir hanya beri yang baik. Kuadran II untuk melipat omelet, meratakan garam di atas daging, menyortir hanya beri yang buruk. Bolak-balik antara Kuadran I dan II untuk mengolesi mentega di atas seloyang bingka, mengocok telur dan tepung, meratakan selai di atas roti. Kuadran III untuk menusuk kentang yang sedang dikukus, mengikis lapisan sisik dari kulit, memisah daging dari duri ikan. Kuadran IV untuk mendulang bayi, menuang gula dan bubuk kopi, meniriskan sendok yang baru dicuci. Bolak-balik antara Kuadran III dan IV untuk mengikis kerak di wajan, mengaduk dodol dalam kuali, mengubur anak kucing yang mati.
Topologi
Sendok kue kecil dapat disulap menjadi ampul dengan satu tekukan pada gagang dan dua tekukan pada kepala merapat ke sisi gagang, kemudian ditarik mengerucut di salah satu ujung. Sendok sup dapat berubah menjadi payung bila pangkal gagang digeser ke pusat cembungan, lalu cembungan itu dipipihkan sehingga lebih lebar. Sendok saring dapat menjelma sepokok bonsai dengan gagang sebagai batang dan jalinan kawat diurai lalu dipilin sebagai cabang dan daun-daunan. Sendok bebek lebih kubistis dapat dibongkar ke dalam jaring-jaring kemudian dirakit menjadi halte bus, atau perahu, atau sarkofagus. Sendok teh dapat bersulih setangkai tulip bila gagang dibuat silindris dan kepala dikepal menuju inti, lantas ditarik mekar dari tiga arah. Sendok semen sanggup bertukar peran dengan lampu belajar jika ujung segitiga jadi poros proses menggulung, lalu gagang beringsut ke sudut kerucut itu. Sepasang centong nasi dapat senilai dengan sepasang sayap yang menerbangkan sebatang sumpit, dan sepadan kacamata kuda yang mendindingi pandangmu dari godaan benda-benda.
Tentang Penulis
Karst Mawardi
Sebuah variabel yang tak pernah bisa menjadi konstanta.
Kirim Naskah
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke:
penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar