Di atas panggung Balairung Sari Taman Budaya Kalimantan Selatan (TB Kalsel), Kamis (6/8/2026) malam itu, Nissa Rengganis berdiri tanpa persiapan panjang. Di belakangnya, Buzack memegang panting. Novyandi Saputra bersiap dengan sarantam. Dua pemusik lain, Anang dan Wahyu, mengambil posisi dengan tarbang dan suling.
Bersama-sama, mereka membentuk BuNiNo. Nama itu diambil dari tiga nama mereka: Buzack, Nissa, dan Novyandi.
Tapi, menariknya mereka belum pernah latihan bersama. “Kami sama sekali tidak latihan,” kata Nissa sebelum mulai membaca puisi.
Mereka tidak sedang mengejar pertunjukan besar. Nissa, penyair yang kini menjadi Staf Khusus Menteri Kebudayaan bidang Diplomasi Budaya dan Hubungan Internasional, bahkan menyebut penampilan itu dadakan.
Lalu musik dimulai. Panting membuka ketukan. Sarantam menyusul. Tarbang dan suling mengisi ruang kosong. Nissa membaca puisi Sebuah Bendera karya Hudan Nur, penyair asal Banjarbaru.
Suaranya mengikuti tempo. Ketika musik bergerak lebih cepat, cara Nissa membaca pun berubah. Baris-baris puisi yang semula berada di atas kertas menjadi bunyi, gerak, dan ritme. Tepuk tangan terdengar setelah mereka selesai.
“Wah, ternyata lumayan juga,” ujar Nissa sambil tersenyum. Tangannya kemudian terangkat untuk melakukan tos dengan para pemusik.
BuNiNo kemudian melanjutkan dengan puisi Nissa sendiri, Apa Kabar Palestina. “Masih terlalu pagi untuk mengabarkan duka,” demikian salah satu lariknya.
Nada musik berubah. Nissa kembali mengambil posisi di tengah bunyi panting dan sarantam. Penampilan kedua juga mendapat sambutan.
Novyandi justru menganggap apa yang mereka lakukan belum layak disebut pertunjukan penuh.
“Sebenarnya ini latihan saja. Penampilannya nanti,” katanya sambil tertawa.
Nissa punya pikiran lain. “Mungkin dari sini kita bisa melanjutkan kolaborasi untuk penampilan selanjutnya,” ujarnya.
Ia juga mengaku rindu tampil sebagai penyair.
Penampilan itu berlangsung di tengah MTN Lab Residensi & Workshop Sastra x Wabul Sawi Festival, 3–7 Agustus 2026. Selama lima hari, Balairung Sari Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan menjadi ruang belajar bagi 30 peserta yang datang dari berbagai daerah.
Sebagian besar peserta merupakan pelajar yang pernah berprestasi pada Festival Lomba Seni dan Sastra Siswa Nasional (FLS3N) 2026 bidang puisi. Ada yang datang dari Kotabaru dan Tabalong. Peserta lainnya berasal dari kalangan guru, mahasiswa, dan penulis pemula.
Mereka tidak hanya belajar menulis puisi. Ada yang belajar mengamati. Ada yang berlatih mengolah tubuh. Ada yang belajar membaca puisi di panggung. Pada akhir kegiatan, karya peserta akan dibawa ke bentuk dramatisasi.
Mikke Susanto, kurator dan dosen Institut Seni Indonesia Yogyakarta, membuka rangkaian materi pada 3 Agustus.
Ia mengajak peserta melihat puisi dari tempat yang sedikit berbeda. Bukan hanya sebagai tulisan yang memiliki makna. Lebih dari itu, karya yang maknanya bisa berubah ketika berpindah tangan.
“Karya seni itu multi tafsir. Termasuk puisi,” ujar Mikke.
Sebuah puisi memang ditulis oleh seseorang. Tetapi setelah dibaca orang lain, penulis tidak lagi menjadi satu-satunya pemilik tafsir.
“Dalam dunia seni, tafsir tidak dimiliki secara personal oleh seniman atau penulis,” katanya.
Penjelasan itu juga mempertemukan sastra dengan seni rupa. Keduanya memiliki wilayah estetika, tetapi masing-masing bekerja dengan medium berbeda.
Seni rupa berbicara melalui bentuk dan visual. Sastra menggunakan bahasa. Ketika keduanya bertemu, batasnya menjadi lebih longgar. Mikke ingin peserta melihat kemungkinan itu.
“Bukan untuk membuat puisi menjadi rumit. Justru sebaliknya. Agar mereka memahami bahwa satu karya bisa dibaca dari banyak arah,” ungkapnya.
Dari Kata ke Tubuh
Dua hari kemudian, giliran Muh Irwan Aprialdy mengambil alih latihan. Penyair Banjarmasin yang akrab disapa Encek itu tidak meminta peserta langsung membuka buku atau menulis bait baru. Mereka diminta bergerak.
Leher dilenturkan. Bahu digerakkan. Tangan dan kaki diolah. Sebagian latihan dilakukan di luar ruangan agar peserta lebih leluasa.
Ada pula latihan konsentrasi. Peserta diminta mengenali rasa marah, sedih, gembira, hingga sunyi. Bukan cuma menyebutkannya, tetapi mencoba menghadirkannya melalui tubuh.
Menurut Encek, pembaca puisi perlu memiliki tubuh yang siap sebelum berdiri di panggung.
“Latihan ini untuk membentuk kelenturan fisik, sehingga pembaca puisi dapat lebih bisa mengekspresikan puisi yang dibacakannya,” ujarnya.
Ia kemudian membedakan latihan tubuh dengan olah sukma. Tubuh membantu ekspresi. Sukma berkaitan dengan kepekaan terhadap emosi dan kata-kata.
“Sedangkan olah sukma melatih kepekaan, emosi serta jiwa kata-kata dari puisi sehingga bisa sampai kepada audiens,” kata Encek.
Bagi peserta, latihan itu membuat puisi terasa tidak sesederhana membaca teks. Ada napas yang diatur. Jeda. Juga tatapan. Ada pula gerakan yang tidak boleh berlebihan. Semua ikut menentukan bagaimana sebuah puisi diterima penonton.
Materi Encek datang setelah peserta menerima pembelajaran dari Mikke Susanto dan Sainul Hermawan. Berikutnya masih ada Sihar Ramses dari Jakarta yang hadir secara daring, Arif Rahman Heriansyah dari Banjarmasin, serta Nissa Rengganis.
Nama-nama itu membawa pengalaman yang berbeda. Ada akademisi, kurator, penyair, hingga praktisi panggung.
Peserta pun tidak hanya diminta menghasilkan puisi. Mereka diajak memikirkan dari mana puisi berasal dan bagaimana karya tersebut dapat dibawa lebih jauh.
Mencari Ruang Tumbuh
MTN Lab Residensi & Workshop Sastra x Wabul Sawi Festival tidak hanya mempertemukan peserta dengan narasumber. Program itu mempertemukan cara pandang.
Mikke berbicara tentang tafsir. Encek mengajak peserta menggunakan tubuh. Nissa menunjukkan bahwa puisi bisa bertemu musik dan bunyi-bunyi tradisional.
Semua berangkat dari hal yang sama: puisi. Tetapi cara membawanya berbeda.
Peserta pun tidak ditempatkan sebagai pendengar sepanjang lima hari. Mereka diminta mencoba. Menulis. Mengamati. Bergerak. Membaca. Kemudian memikirkan kembali apa yang sudah mereka buat.
Royyan, salah satu peserta, merasakan perubahan itu. “Sungguh membuka wawasan. Materi-materi yang disampaikan sangat berguna bagi kami,” katanya.
Kepala UPTD Taman Budaya Provinsi Kalimantan Selatan, Rizal Pahmi bilang, kegiatan tersebut memang diarahkan sebagai ruang bagi penulis muda.
“Harapannya, dari sini nanti akan menghasilkan talenta-talenta muda di bidang puisi dari Kalimantan Selatan,” ujar Rizal.
Ia juga berharap kerja sama dengan Wabul Sawi terus berlanjut. Bagi Taman Budaya, kegiatan semacam itu dapat menjadi bagian dari upaya membangun ekosistem sastra di Kalimantan Selatan.
Ekosistem itu tidak selesai dalam lima hari. Yang lebih penting adalah apa yang terjadi setelah peserta pulang. Apakah mereka kembali menulis? Apakah mereka kembali membaca? Apakah mereka berani membawa puisinya ke panggung?
Pertanyaan-pertanyaan itu belum punya jawaban di Balairung Sari. Yang terlihat baru prosesnya.

0 Komentar