Musim Dingin
Di bawah langit yang muram
Dataran pasir beku membentang.
Mengerut dan garing, dua helai daun
Terembus menjauh.
*
Jatuh melambat, berputar dengan cepat—
Horison itu, menghilang dalam salju.
Pada satu kerangka kurus
Seekor gagak dengan sepasang sayap yang luruh
Mengintai.
*
Di antara rumput-rumput rapuh,
Membeku dalam silau rembulan,
Batu-batu nisan jadi
Lebih putih malam ini.
*
Malam memesona memudar
Di atas bukit-bukit mengombak, kosong dan putih.
Pada langit pucat itu, rembulan
Sudah lupa buat menghilang.
*
Dari kedalaman yang jernih, bertatahkan bintang-bintang,
Suatu gaung dari salju yang berkilauan.
Sekilas lagu dan genta, di atas horison tertutupi es,
Meninggalkan satu kekosongan yang marak.
*
Bentangan salju mematikan,
Langit kelabu yang rendah—
Dari lebatnya, kini dan nanti,
Taring-taring tipis menderas.
*
Kuda goyang,
Rumah bata setengah jadi—
Keheningan menggema
Kehilangan tawa.
Musim Panas
Melawan camar-camar yang bermain dalam badai
Ombak-ombak hitam memburu
Taring-taring putih
Yang sia-sia.
*
Tengah malam;
Di atas hamparan pasir tanpa kehidupan,
Bulan itu dan aku
Sendirian.
*
Malam yang polos dan pucat
Di atas pepohonan tumbang yang hangus.
Menantang ruang kosong dan kabut yang melayang
Satu kerangka kering tegak.
*
Di atas bentang alam menggelombang, abu-abu silau,
Satu kilasan terakhir dari hari pun pudar;
Di pantai itu ombak lelah yang sama
Pecah.
*
Tiada waktu di sini.
Sejak bebatang pohon raksasa lumut putih-uban
Terjurai dari udara hijau kelam.
Dan embun dingin menitik.
*
Di samping bunga-bunga matahari
Seekor kucing mengendus rumput—
Buntutnya melengkung di udara.
*
Kebisuan yang ganjil—
Pintu abu-abu pada rumah-perahumu sendiri
Menyimak riak air,
Malam ini.
Gypsy Taylor
“G - y - p, oh, G - y - y - p!”
Dalam kegelapan kelu di mana panggilanku lenyap
Tawa tanpa suaramu
Mengerlip.
Bagi Elizabeth
Di depan pintu itu daun-daun mati berjatuhan;
Pada jendelamu sarang laba-laba itu hitam.
Hari ini, berlama-lama aku tinggal.
Bunyi tapak kaki?
Berlalu seorang pejalan.
Miriam
Swara mendesah di antara pepohonan;
Pancaran tiba-tiba dari lebatnya hujan—
Tak kudengar apa pun, hari ini.
Di atas rerumputan basah
Kertas, kusut, mengepak.
Bulan Musim Panas
Itu hujan, menggila bagai kawanan kuda
Pada marak halilintar, hilang sudah.
Menentang langit yang terbasuh jernih
Titik-titik hujan pada reranting
Memantulkan bulan.
Saudariku
Melintasi padang rumput
Angin semilir itu semerbak;
Pada sebatang pohon seekor burung
Mengacaukan mahkota-mahkota bunga
Di atas nisan-nisan ini, terus dan riang.
Suatu sore yang merdu, bertahun-tahun lalu;
Saudariku
Dengan kuncir dua berkibar
Mengejar seekor capung
Dan tertawa tanpa alasan.
Bayang kentara itu tegaklah kini—
Tatkala kujanjikan
Kabar-kabar dan hadiah-hadiah
Bibirnya yang tegang gemetaran sia-sia—
Di hadapanku, nisan itu, tenang dan riang.
Kicau seekor burung antara pepohonan—
Itu pun tlah mati pula.
Ekstasi
Malam itu tenang,
Maka, kau,
Terengah diam-diam, rehat atas rumputan,
Dengan dua mata lesu setengah terpejam.
Kau senyum
Pas semilir dingin berembus—
Mengelus helai masai rambutmu.
Jun Fujita
Lahir di sebuah desa dekat Hiroshima dan berimigrasi ke Kanada sewaktu remaja. Pada 1915 berada di Chicago dan bekerja untuk harian Evening Post hingga 1929. Sebagai satu-satunya fotografer Amerika Jepang di Amerika Serikat ketika itu, ia memotret berbagai peristiwa penting. Ia juga menulis puisi, terutama haiku dan tanka. Buku puisi pertamanya berjudul Tanka: Poems in Exile (1923). Wafat pada 12 Juli 1963 di usia 74 tahun.
Karst Mawardi
lahir di Banjarmasin pada 1999. Ia bekerja pada sebuah sekolah dasar di kota kelahirannya.
Kirim Naskah
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke:
penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar