“Bahwa kebahagiaan Perempuan yang paling tinggi, sejak berabad-abad yang lalu bahkan juga sampai saat ini adalah hidup selaras Bersama laki-laki.”
— R.A. Kartini
Kutipan tersebut dapat dimaknai bahwa Perempuan ataupun laki-laki memiliki kemampuan dan peran yang sejajar dalam hal kapasitas intelek, kreativitas, dan berkarya. Di era sekarang membangun kemitraan antar laki-laki dan Perempuan didasarkan pada kolaborasi bukan kompetisi. Kolaborasi ini mendukung rasa aman bagi Perempuan untuk mendapatkan akses yang setara, baik untuk memimpin atau berkarya. Dalam hal ini yang menjadi fokus yaitu kompetensi dan kapasitas individu, bukan pada gender semata.
Pembangunan peradaban baik laki-laki dan Perempuan memiliki
ketangguhan yang sama untuk
menciptakan karya berprestasi. Namun, Sejarah Panjang sering kali meletakkan
keduanya dalam peran gender yang kaku atau dengan kata lain dianggap sebagai
“saingan”. Peran Perempuan hanya terbatas pada dapur, sumur, dan Kasur.
Sedangkan dalam kepemimpinan selalu laki-laki, Perempuan dipandang tidak mampu
untuk peran kepemimpinan. Jika dulu ruang Perempuan dibatasi tembok rumah, kini
Perempuan dan laki-laki berdiri sejajar
di ruang-ruang digital,
meja-meja diskusi, hingga panggung kepemimpinan nasional.
Nilai-nilai
lama yang seperti ini sudah tidak lagi sesuai dan seharusnya sudah ditinggalkan. Menghargai ekspresi setiap individu
tanpa memandang gender
adalah suatu keharusan untuk
membangun karya berprestasi.
Belajar dari perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam memperjuangkan hak-hak Perempuan Indonesia melalui tulisan-tulisannya didukung oleh sosok laki-laki bernama J.H Abendanon, seorang yang berkebangsaan belanda yang menjadi figur yang mengumpulkan dan menerbitkan surat-surat Raden Ajeng Kartini menjadi sebuah buku yang berjudul “Habis Gelap Terbitlah Terang” (1911) diterjemahkan dalam Bahasa Indonesia pada tahun 1938.
Hal ini membuktikan bahwa sinergi laki-laki dan perempuan memberikan dampak yang perjuangan emansipasi bukan hanya tugas satu gender, melainkan Kerjasama lintas peran untuk mencapai tujuan yang sama. Raden Ajeng Kartini sebagai sumber gagasan yang menyuarakan keresahan tentang tradisi dan minimnya akses Pendidikan bagi Perempuan melalui surat-suratnya. Sedangkan Abendanon sebagai fasilitator dan pendukung untuk mengumpulkan dan menyunting surat-surat Kartini agar pemikiran tersebut tetap hidup dan mempublikasikannya.
Kolaborasi
ini membuktikan bahwa Ketika laki-laki mendukung hak-hak Perempuan, hambatan
budaya, dan sistem
yang ada dapat didobrak dengan lebih efektif. Tanpa keterbukaan pikiran
Abendanon, gagasan Kartini mungkin hanya akan menjadi catatan harian yang lapuk
dimakan usia. Sebaliknya tanpa ketajaman pemikiran Kartini, Abendanon tidak
akan memiliki instrument untuk menggerakkan perubahan kebijakan Pendidikan di
Hindia Belanda. Inilah esensi dari “berkarya bersama”.
Semangat
sinergi inilah yang kini ditemukan dalam struktur kepemimpinan oranisasi siswa
intra sekolah (OSIS) sosok ketua dan wakil ketua OSIS yang terdiri dari
laki-laki dan Perempuan bukanlah sekadar formalitas pemenuhan gender, lebih
dari itu ini adalah miniatur masyarakat masa depan yang ideal. sebagaai
laki-laki tidak terlepas dari peran Perempuan. Hal tersebut saya rasakan Ketika mengemban tugas
sebagai ketua OSIS, Dimana
peran Perempuan sangat dibutuhkan dan berpengaruh dalam menyukseskan program
kerja, Baik dari segi pemikiran ataupun Tindakan. Mengingat Sebagian besar
anggota diisi oleh Perempuan sehingga
pada beberapa program
kerja yang kami laksanakan
tidak terlepas dari sosok Perempuan melalui kolaborasi yang harmonis antar
anggota tanpa membedakan gender. Laki-laki dan Perempuan memiliki cara yang
unik dalam memandang masalah. Gabungan ketegasan, empati, logika, dan intuisi
dari keduanya dapat menciptakan kebijakan yang inklusif dan menyentuh seluruh
siswa.
Kolaborasi ini membuktikan bahwa peran laki-laki dan Perempuan dapat sejajar dan bukan dianggap sebagai “saingan”, melainkan senergi yang kuat untuk menghasilkan sebuah karya. Oleh karena itu, hubungan antara laki-laki dan Perempuan sangatlah penting, mulai dari sisi intelektual seperti bertukar pendapat saat penyusunan program kerja, maupun koordinasi di lapangan. Sehingga mendapatkan hasil yang optimal. Melalui peran sebagai ketua dan wakil ketua OSIS yang berbeda gender memiliki persfektif yang berbeda dalam mengambil Keputusan sehingga kebijakan yang diambil dapat merangkul seluruh aspirasi siswa. Kepemimpinan ini bukan hanya menunjukkan siapa yang lebih dominan melainkan bagaimana kerja sama, saling mendukung, untuk mencapai tujuan oraganisasi sekolah. Hal ini mencerminkan semangat emansipasi yang diperjuangkan Kartini, kapasitas memimpin tidak ditentukan oleh gender melainkan kompetensi dan kerja sama tim.
Tentang Penulis
Adnan Arinal Haq
adalah siswa SMKN 1 Binuang. Ia mewakili Kalsel pada ajang Festival Anak Shaleh Indonesia (FASI) ke-12 Tingkat Nasional (2024). Tujuannya menulis puisi untuk merawat batinnya, mulai tertarik dengan puisi saat mengikuti Festival Wabul Sawi Banjarbaru (2025).
SAKA
SAKA adalah rubrik yang memuat tulisan pelajar, baik cerpen, puisi, atau esai, yang dipilih dan disajikan dengan catatan kuratorial oleh redaksi Arkalitera. Nama Saka diambil dari sebutan lain bagi sungai terkecil di galangan sawah dalam budaya Banjar—alirannya sempit dan kerap luput dilihat, tetapi menjadi jalur air yang menghidupi.
Kirim Naskah
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke:

0 Komentar