![]() |
| Ilustrasi: Piwi/Arkalitera |
MATA PALING BIRU
tak ada bunga marigold di
tahun ini, tetapi mata paling biru
toni morrison tidak pada
pecola breedlove sendiri.
tak. seorang aku dan seorang kau
menatap perih angin laut di naung
pinus yang bukan musim gugur
sembilan belas empat satu. seorang
aku. bertemu seorang kau. dan
langit mula abu, dan mata lekas biru:
paling biru.
2025
SEKEPING ZAHIR, SEORANG KAU
selalu kubayangkan seorang kau
adalah zahir yang kompleks nan
magis. kucari setiap seorang kau
di dalam keranda tubuh kota yang
lengang-riuh didekap akhir musim.
kucuri setiap yang mungkin dari satu
sisi ke sebaliknya agar seorang kau
menjadi zahir saat aku tak
mengenal lagi borges dalam diriku.
zaheer zahir zahyir
seorang kau bukan sekeping
logam perak-emas yang hilang
dari kenyataan, bukan sebangsa
harimau yang kakek buyutmu
ceritakan pada juru kisah
sambil menyelipkan asrar nama
di bangku sunyi plaza garay:
zahir adalah sekuntum mawar
adalah ia mengoyak habis
purna selubung adalah ia
adalah seorang kau dan aku
yang tak mengenal
mana mimpi mana
diriku–
hanyalah aku.
2025
KRONIK KEWARASAN
masukkan rumah hijau casa verde
ke dalam tubuhku atau sebaliknya
jika seorang kau bisa menatap-bicara
dengan sang alienis simao bacamarte
di meja makan itaguai
benar, aku bukan pemuda dua puluh
lima tahun yang menunggu
matahari terbit sambil merentangkan
kaki menjelma bintang fajar di langit
kota ini. bukan seorang
yang membunuh kekasih
dan begundal selingkuhannya
hingga luluh-lantak ruang-ruang
mengira ujung dunia ada di sana.
tak.
o, alienista. sesungguhnya aku tak gila
di tengah wabah paradoksial yang
semestinya, tetapi tempatkan aku ke sayap
megah bangunan di mana seluruh
kota direnggut kewarasannya oleh
si tuan pengetahuan.
biar seorang kau tahu rasanya menjadi
dona evarista yang kehilangan suara
di sunyi peluk sendiri sebab sang alienis
berjibaku dengan aku yang merapal
muasal seorang kau dari sebutir telur
kecil ilahiah, yang melahirkan
sebilah pedang dari pemilik semesta
tunggal, menurunkan seorang daud,
menjadikan pangeran tamak,
membuat seorang kau yang
memabukkan aku seorang:
jauh setelah kronik itu
selesai di tangan machado
de assis, delapan belas
delapan dua.
2025
MERAH DARAH
seorang kau merasuk datang menikam liuk
terdalam karat tubuhku. maka memerahlah sudah.
memerah darah semua aku di hadapan bayang-bayang
tiup angin berjubah kabut seorang kau (yang datang
tidak dari lukisan serupa bangsawan pertapa juragan
besar anggadireja) si gadis jinak merpati dari
abdullah harahap yang tak mampu ia hadirkan
dalam lanskap horror delapan puluhan.
adalah seorang kau yang menjejak tanpa
tapak ke kematianku. mencintai seorang
kau, untukku
bahkan jika harus tiada di sebilah keris
nagapati itu, tidak pernah ada akhir yang
lain. mungkin jangan ada aku yang lain
sebab di bibir tanah yang menggenang
hidup dan mati, kucium gemetar tubuh sendiri:
darahku, menyatulah dengan raga seorang
kau yang mencintaiku atau tidak mencintaiku.
2025
JULIO
pada akhirnya aku hanyalah julio
yang menghamburkan tiga puluh
ribu peso kepada sopir taksi untuk
mengelilingi aspal basah kota-
kota yang pernah membaui
tapak kering roda motor
antara aku dan seorang kau
ini bukan santiago, benar, tak
pula di anton martin tempat
jasad perempuan yang
bukan seorang kau
terbaring di jalur metro.
bahkan seorang kau tak pergi
sebagaimana emilia mati
meninggalkan–atau katakanlah
seperti itu–julio seorang diri
(akhir seorang kau tak kubaca
sejak mula sebagaimana bonsai
di tangan zambra.)
dan meski seorang kau bukan
emilia tetapi aku tetaplah julio
yang menulis novel jelek
tiruan itu, cermin retak kenyataan
yang begitu buruk bahkan
untukku sendiri. mengapa
pada akhirnya seorang kau
tidak menjadi emilia
yang tewas seketika
di antara jadwal padat
lalu lintas kereta?
2025
BAJINGAN TENGIK
penulis amatir semata
menulis seorang kau
dari bahasa yang itu lagi
itu lagi, tetapi jambak jembutku
sebab seorang kau tak ingin puisi
ini merupa bajingan tengik
roberto bolano:
kepada lola paniagua
ia berkata tak pernah
bermimpi, atau hampir
seperti itu, saat si
perempuan membukakan
pintu kepergian kepada
penyair yang malang
seorang kau berpikir
ia romantis dan memusatkan
seluruh kelembutan di dalam
kata-kata.
tak sama sekali.
menyoal lisa dia menulis
terang mampus perkara
perselingkuhan badan
perempuan itu
dengan lelaki jangkung
ceking gondrong dan
dengan kontol yang
tak mau menunggu
setelah apa demi apa
aku tetap tak menulis
seorang kau dari
bolano menulis
perempuan yang
bukan seorang
kau.
aku berangkat dari
tubuhku meski
sesekali kenakalan
si bocah santiago
merenggut kewarasanku
2025
PIL KEDUA: MINGGU-MINGGU SETELAH SEORANG KAU MENJADI RITA
tak kumiliki parkinson
seperti si tua elena
yang ditinggal anaknya
bergantung diri
di lonceng gereja
tetapi terkutuklah
orang itu, claudia
piñeiro. batas
kota. motor butut.
angka-angka. tanggal
tertentu. jalan panjang
antar provinsi. rekan
bajingan. bulan sialan.
setelah seorang
kau tiada, seseorang
seperti DIA mengacaukan
tubuhku begitu bangsatnya
seperti elena, aku tahu
pula menyoal rita dan
seorang kau yang tak
mungkin mendekati
hujan berpetir atau
tali gantung di utas
leher.
namun seorang kau,
seperti rita, tentu saja
mati pula dengan
satu dan lain cara.
2026
________________________________________
Tentang Penulis: RAFII SYIHAB, berasal dari Kalimantan Selatan. Berprofesi sebagai tenaga honorer di pondok pesantren, juga sebagai penyadap karet. Menulis cerpen dan esai, beberapa karyanya dimuat di beberapa media terpisah, salah satunya esai tentang kopi Pengaron yang diterbitkan oleh Perpusnas Press dalam antologi esai Inkubator Literasi Pustaka Nasional berjudul Jalan Tengah Kopi Pengaron pada 2022 silam.
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar