![]() |
| Ilustrasi: Piwi/Arkalitera |
Lelaki itu—wajahnya tak begitu tampan, gigi depannya berlubang, dan ah, kalau bicara suaranya terdengar berat—baru saja pulang dari pengungkapan kejahatan perkebunan sawit di tanah kelahirannya. Ia duduk di sebuah kursi kayu yang dipernis hingga mengkilap. Hampir dua tahun lelaki itu tinggal di sebuah rumah berwarna putih yang di beberapa sudut catnya sudah mulai terkelupas, sementara di sudut yang lain penuh dengan coretan anak-anak. Rumah itu hanya berjarak satu barisan semut hitam dari jalan raya. Dari dalam dapat didengar bagaimana suara kuda besi tiada henti; seolah-olah kehidupan ngeri ini berakhir esok.
Sekali dua, lelaki itu melempar pandangnya ke beberapa foto-foto di dinding. Ia merenung sembari menerka-nerka bagaimana kejahatan bayangan itu menimpanya. Hatinya terluka. Betapa tidak? Beberapa minggu yang lalu rumah itu dipenuhi suara anak-anak—lelaki itu memiliki dua anak; seorang perempuan dan seorang lagi laki-laki. Dan, ya, suara anak-anak itu masih ramai. Begitu ramai dan hidup di kepala si lelaki. Kerap kali, Ia tersandar. Kepalanya mendongak ke langit-langit. Pandangnya kosong; seakan-akan Ia akan habis sebagai seorang lelaki yang menyedihkan.
“Kau tahu,” katanya, kemudian mengurungkan niatnya bercerita.
Kemudian Ia melanjutkan, “Tidak, kalian takkan mengerti kata-kataku. Aku akan keluar sebentar membeli makanan. Jangan merusak meja kerjaku atau di buku-buku itu!”
Lelaki itu membuka pintu kemudian mengeluarkan kuda besinya lalu menghilang. Tetangganya, seorang perempuan paru baya yang baik hati senantiasa memerhatikan lelaki itu dari jendela untuk memastikan apakah si lelaki baik-baik saja. Sudah lama mereka tak berbincang atau bertegur sapa. Tetangganya itu selalu menanyakan kepada tetangga di sebelahnya yang memiliki sebuah toko: “Apakah Ia datang membeli rokok?” Si pemilik toko hanya menggeleng.
“Aku pulang,” kata lelaki itu sembari membuka pintu.
Kemudian Ia melanjutkan, “Mari kita makan sekarang!”
Rumah kayu berwarna putih itu memiliki dua lantai. Di lantai kedua, rumah itu memiliki dua balkon. Balkon pertama menghadap ke jalanan, sedangkan balkon kedua menghadap ke hutan, di mana di sebelah hutan itu sebuah sungai kecil mengalir dan bermuara ke laut lepas. Lelaki itu menyukai balkon kedua. Di sanalah, bersama sebuah buku dan pena, Ia menulis puisi atau menghabiskan beberapa botol arak sembari memaki hari-hari dan dirinya sendiri. Dan, kadang-kadang, Ia dengan ringan tangan menghantam dinding balkon itu. Kecamuk perasaannya begitu kuat sampai-sampai Ia ingin menghabisi dirinya sendiri.
Namun, saat mencapai puncak emosinya itulah, temannya yang dua tahun lalu Ia selamatkan dari jalanan, datang dan menunjukkan kasih sayangnya kepada si lelaki.
Sejujurnya, lelaki itu tak menyukai temannya itu. Ia hanya suka memberi apa yang dapat diberikannya, seperti makanan. Tidak lebih. Akan tetapi, bukankah hal-hal baik akan selalu menumbuhkan kasih dan sayang daripada hal-hal yang kriminil akan menumbuhkan pembalasan?
“Aku,” si lelaki berkata kepada temannya itu sembari meletakan botol arak di meja.
Kemudian Ia melanjutkan, “Tak memiliki kesalahan yang teramat sehingga harus menerima hukuman semacam ini. Oh, betapa aku tak kuasa menahan kecamuk di kepalaku. Kau, kau? Tidakkah kau tak memiliki cara menyelamatkanku. Anak-anak itu, bagaimana dan di mana mereka tidur? Siapa yang akan menceritakan Gorky kecil kepada mereka? Siapa yang akan membacakan puisi-puisi pengasingan Neruda saat mereka mengantuk? Oh, aku akan mencari sianida untuk menghabisi tubuh lelaki yang malang ini! Tak bisa tidak.”
Temannya itu hanya mendengarkan sembari sekali dua menatap mata si lelaki. Ia tak berkata barang sepatah pun. Namun Ia merasakan apa yang dirasakan si lelaki itu.
“Kau ingat bagaimana mereka menganggap dirimu sebagai bagian dari kami. Mereka akan menuntutku apabila melupakan kebutuhanmu. Sungguh, di mana dan bagaimana anak-anak itu menjalani hari-hari mereka tanpa aku, papanya? Sungguh, tak ada yang lebih kubenci dari apa pun itu, kecuali pengkhianatan.”
Pada suatu waktu. Itu malam yang dingin. Angin laut yang menembus pantai yang paling cokelat pasirnya, membawa mimpi anak-anak pesisir yang miskin dan udik menghantam dinding rumah kayu itu; masuk melalui ventilasi udara dan membangunkan teman si lelaki itu. Ia kemudian menuruni anak tangga dan perlahan berjalan ke ruangan tamu yang dipenuhi buku milik si lelaki. Sekali dua, teman si lelaki itu mendengar suara anak-anak bermain di koridor penghubung ruang tamu dengan dapur. Akan tetapi, tak ada seorang pun di sana. Ia kemudian berlalu pergi ke ruang tamu itu lagi. Duduk di kursi yang dipernis hingga mengkilap itu. Tak lama kemudian, suara anak-anak itu terdengar lagi.
Tak lama kemudian, terdengar suara seseorang menuruni anak tangga. Tak lain tak bukan. Itu si lelaki. Temannya itu menghampiri; seolah-olah ingin mengatakan bahwa Ia juga mengalami apa yang dialami lelaki itu.
Namun si lelaki yang setengah mabuk menendang temannya itu hingga terpental.
Kemudian Ia berkata, “Aku yang menanggungnya sendiri. Ini hidupku. Kau tak perlu ikut campur dan hiduplah dengan caramu sendiri. Dan ingat! Jangan merusak buku-bukuku.”
Namun temannya yang bebal itu tetap saja menghampiri si lelaki hingga lelaki itu menendangnya kembali. Dan, Ia menghampiri lagi.
“Kau!” Maki si lelaki sembari mengangkat temannya itu.
Kemudian Ia berkata, “Cukup aku yang menanggung pengkhianatan ini. Kau hanya seekor kucing jalanan yang malang. Jangan ikut campur! Tapi, maafkan aku. Maafkan aku!”
Si lelaki itu tampak sedih. Ia kemudian naik ke lantai dua. Membuka pintu balkon kedua. Ia meletakkan seekor kucing berbulu abu-abu bercorak putih itu di kursi yang lain. Ia masuk ke dalam mengambil sebotol anggur putih dan dua buah sloki. Satu sloki untuknya dan sloki yang lain untuk kucing itu. Kucing itu melompat saat merasakan anggur putih itu. Akan tetapi, si lelaki menangkapnya kemudian, tangan kirinya meraih botol anggur itu lalu memecahkannya. Tanpa banyak bicara, Ia menusukkan pecahan botol itu ke leher kucing berbulu abu-abu dengan corak putih itu. Dan, kemudian Ia menancapkan pecahan botol itu ke lehernya sendiri.
Rumah itu menjadi dingin. Angin berhembus kencang. Bau pengkhianatan jadi hidup di seantero sudut. Dan, tak suara anak-anak yang terdengar. Hanya coretan dinding dari lantai dua, dinding anak tangga, hingga koridor lantai satu dan berakhir ke kamar mandi menjadi saksi bisu. Begitu bisu.
Tentang Penulis
Muhammad Yasir
adalah penyair dan cerpenis yang menyelesaikan studi Sastra Indonesia di Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta. Saat ini, Muhammad Yasir tinggal di Kabupaten Seruyan, Kalimantan Tengah. Menulis, baginya, merupakan cara menempa keberanian seorang manusia.
Kirim Naskah
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke:
penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar