Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

MENDENGAR SECARA PERSONAL SINGLE TERBARU PUJA MANDELA: BATULICIN, OLEH RAFII SYIHAB

Ilustrasi: Piwi


Saya tiba di Batulicin tiga pekan lalu, pada suatu sore minggu yang teriknya minta ampun untuk dilalui dengan motor matik dari suatu tempat jauh dari kota ini. Saya lupa kapan pertama kali ke Batulicin dalam sejarah hidup yang saya miliki, tetapi yang paling membekas adalah ketika tahun lalu, 2025, saya naik motor berdua dengan Musa Bastara untuk mengejar sesuatu yang teramat muskil untuk seorang lelaki seperti saya: cinta. Mula-mula kami bermalam di sebuah penginapan murah nan angker di pesisir laut Pagatan. Lalu malam selanjutnya menginap di rumah seorang jurnalis, Zal, di kota Batulicin. Malam itu hati saya cukup gundah, seingat saya, dan karena hal itu Zal mengajak kami untuk menikmati kota di sebuah hotel sambil minum santai kendati malam telah menuju dini hari.

Sampai sana, dengan berbagai faktor baik dari luar atau dari dalam diri saya pribadi, Batulicin adalah kota yang tak begitu nyaman untuk ditinggali: panas, gerah, tak banyak tempat nongkrong, dan terasa barbar untuk satu dan lain hal. Tetapi kemudian sampailah saya di kota ini, dengan keputusan yang cukup nekat: pindah. Sebuah pilihan hidup yang mengingkari pendapat saya sebelumnya.

Di sepanjang jalan dari kampung menuju Batulicin itu, Puja Mandela belum merilis single terbarunya yang bertajuk nama kota ini. Dan karenanya, dari apa yang dapat saya ingat, saya mendengarkan berulang-ulang lagu folk—genre yang saya kira sangat cocok untuk kota ini untuk beberapa alasan yang kita sama-sama tahu.

Entahlah. Barangkali saya keliru. Mungkin saja referensi musik saya yang cetek menutup kemungkinan-kemungkinan lain untuk menemukan genre yang tepat untuk kota ini. Dan sebab itu, biarlah perkara tersebut menjadi hak saya sebagai pendengar.

Minggu-minggu awal ketika saya tiba di Batulicin, pendapat awal saya banyak sekali berubah. Saya tinggal di pasar minggu, di lantai dua sebuah ruko, di bawah saya adalah tempat nongkrong kalcer anak muda. Kopinya enak, juga burgernya. Beberapa langkah dari sana ada sebuah warung tempat saya biasa duduk santai dengan orang-orang pasar. Pemiliknya adalah seorang ibu-ibu, orang-orang pasar biasanya menyebutnya Mama. Saya pun begitu. Saya sering bikin kopi pahit di sana, dikasih gratis begitu saja. Saya juga punya kenalan seorang perantauan dari Pare-pare dengan segudang pengalaman merantaunya; ada pula sepasang muda-mudi, suami istri, yang bekerja sebagai pengamen ketika malam hari. Di samping warung Mama ada warung Nenek, saya tidak tahu namanya, tapi sering dikasih makan gratis entah sebab alasan apa. Orang-orang inilah yang mengubah perspektif saya terhadap Batulicin.

Bahwa kota ini, di luar pandangan stigma buruk orang lain atasnya, adalah sama seperti kota pada umumnya. Ia bertumbuh menjadi kota yang padat dan ramai seiring waktu, dipenuhi orang-orang yang bekerja, jatuh cinta, kehilangan. Sebuah kota yang sejarahnya tidak hanya disusun oleh tambang, pelabuhan, atau jalan raya. Ia menyimpan cerita-cerita kecil yang nyaris tak pernah dicatat.

Sampul single Batulicin – Puja Mandela

Barangkali karena itulah saya merasa dekat ketika mendengar Batulicin, single terbaru Puja Mandela. Lagu itu tidak berupaya mengenalkan kota hari ini kepada orang lain, ia memberi pendengar ingatan personal atas sebuah kota dari sudut pandang orang yang bertahun-tahun hidup di dalamnya.

Melalui lirik yang mengalir seperti sebuah kisah kecil di tongkrongan, Puja Mandela menyusun Batulicin dari potongan-potongan ingatan: suara gitar meraung dari sebuah masa ketika festival-festival musik masih aktif, angin laut, uang dua ribu rupiah untuk menyewa playstation, juga ingatan yang sangat personal mengenai relasi keluarga dan cinta yang pernah ia lalui di sebuah petang pada dermaga di kota ini.

Juga, tentu saja, para perantau. Saya mungkin satu di antara orang-orang yang Puja Mandela sebut sebagai Pengangkut Mimpi.

Puja Mandela tidak jatuh pada sebuah lirik yang penuh alegori macam sajak, dan tidak pula terseret pada arus kebanggaan-daerah yang mengakibatkan liriknya menjadi romantisme kota yang dipenuhi bumbu agar jadi sesuatu yang sempurna. Tidak. Liriknya sederhana, dibangun dari detail-detail kecil mengenai apa adanya kota ini dari sudut pandang dirinya sendiri.

Aransemennya juga setia pada kesederhanaan. Gitar akustik dan harmonika menjadi ruang yang tepat untuk menampung kesederhanaan liriknya. Vokal Puja Mandela yang khas itu juga membikin lagu ini benar-benar terasa sebuah ode sederhana untuk masa lalu. Di sisi lain, jelas saja, dengan genre yang ia bawa, bukan tak mungkin mengingatkan kita—atau saya pribadi—pada Joan Baez dan Bob Dylan, serta musisi-musisi folk di bawahnya. Dalam lanskap musik Indonesia, mendengar Puja Mandela akan sangat mungkin mengingatkan kita pada Iwan Fals dan, yang paling mutakhir, tentu saja, Ikhsan Skuter.

“Tergantung refrensi musiknya, sih,” kata Puja Mandela sewaktu-waktu ketika saya bilang hal serupa padanya, “bagi pendengar Iwan Fals, tentu mengingatkan padanya, begitu juga pada Ikhsan Skuter atau musisi-musisi folk lain.”

Saya yakin begitulah adanya. Bahwa kemudian lagu ini akan mengingatkan pendengar pada Iwan Fals, misalnya, tentu bukan sesuatu yang mengherankan juga. Puja Mandela memang mengidolai musisi yang puluhan tahun menjadi wajah penting musik folk Indonesia tersebut. Pengaruh tersebut terasa pada pilihan aransemen yang sederhana, warna vokal yang cenderung apa adanya, hingga keyakinan pada lirik yang bergantung pada cerita.

Saya kira memang begitulah tradisi musik folk bekerja. Sejak Joan Baez dan Bob Dylan, musik folk tidak dibangun di atas kemewahan musikal semata, melainkan lebih pada kemampuan mengabadikan pengalaman sehari-hari—atau isi pikiran yang menghantui musisinya: jalanan, keluarga, kampung halaman, buruh, perang, cinta, hingga orang-orang yang nyaris tak pernah masuk dalam tradisi musik populer.

Dalam garis itulah saya mendengar Batulicin. Di satu sisi, Puja Mandela memberi alasan untuk melihat kota ini jadi sesuatu yang tidak terjebak dalam stigma umum masyarakat, dan di sisi lain ia mengajak saya mengingat masa lalu dalam kacamata yang lebih personal: yang disusun dari hal-hal kecil di kampung halaman yang jauh. Kapan hari, barangkali saya akan mencari cara lain untuk mewujudkan penggal lain dari lirik lagu Batulicin dari Puja Mandela tersebut, bukan hanya pada soal perantauan, tapi pada:

Di Batulicin

Kita bertemu.

Silakan dengar Batulicin di berbagai platform streaming digital, atau menonton video musiknya yang juga sudah bisa disaksikan melalui channel Puja Mandela Official. Biar kita bisa mengobrol dan... ya... mari bertemu di Batulicin, kawan.

________________________________________


Tentang Penulis: RAFII SYIHAB, berasal dari Kalimantan Selatan. Berprofesi sebagai tenaga honorer di pondok pesantren, juga sebagai penyadap karet. Menulis cerpen dan esai, beberapa karyanya dimuat di beberapa media terpisah, salah satunya esai tentang kopi Pengaron yang diterbitkan oleh Perpusnas Press dalam antologi esai Inkubator Literasi Pustaka Nasional berjudul Jalan Tengah Kopi Pengaron pada 2022 silam.

Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com




 

0 Komentar