![]() |
| Ilustrasi: Piwi/Arkalitera |
Pengarang mati setelah karya tercipta. Nubuat Barthes yang sudah populer itu, mungkin akan terasa tepat jika merujuk pada kegelisahan sahabat saya Rafii Syihab dalam esainya yang tayang di asyikasyik.com berjudul: Apakah Panitia Aruh Sastra Menganggap Menulis Cerita Pendek Serupa Kerja Pabrik?
Ketika membaca esai itu, saya merindukan diskusi dengan Rafii Syihab. Sering kali ia akan berkata, “Betul-bujur.” Tapi, kali ini dalam jarak kami yang semakin jauh –karena kepindahannya ke tenggara, biarlah diskusi mengambil ruang baru. Di dunia maya. Siapa tahu, kelak diskusi ini akan seperti Chairil Anwar dan Idrus atau Saut Situmorang dan Goenawan Muhamad. Barangkali kerinduan saya akan terjawab saat nanti dalam ruang diskusi kami, saya akan membaca ‘betul-bujur’ atau frase lainnya seperti: ‘kada kaitu’, ‘sastra hari ini’, ‘nah, banyak penulis sering kali ….’
Ah, sungguh saya merindukan semua itu,
Dalam esainya, Rafii Syihab menulis kalau dengan bantuan kecerdasan buatan (AI) tinggal mengetik prompt, produksi sastra tak hanya akan sepintas-lalu, tapi melaju lebih kilat dari industri kesusastraan. Ia bahkan mencontohkan peristiwa saat menjadi juri di sebuah lomba dan menyoal pertanggungjawaban lainnya dari juri sayembara cerpen pada Aruh Sastra Kalimantan Selatan (ASKS) di Barito Kuala. Pada konteks tersebut saya setuju. Wajar jika para pegiat sastra seharusnya khawatir dengan keberadaan AI.
Namun, kemudian yang jauh lebih penting adalah tidak membiarkan begitu saja apa yang sedang terjadi antara AI dan proses kreatif menulis. Dalam arti tertentu, kita harus sadar betul untuk sebaiknya melakukan sesuatu. Misalnya saja dengan membuka ruang dialog dengan para penulis—tua dan muda—yang mungkin sudah terkontaminasi AI. Apalagi saat persoalan waktu mulai coba mengadu domba antara keautentikan karya dengan proses menulis itu sendiri.
Asumsinya, dalam waktu yang singkat dan dikejar dateline lalu deadline, penulis cenderung akan meminta bantuan mesin, entah sebagai asisten dalam ruang batasan tertentu atau langsung mengetikan prompt misalnya, buatkan saya puisi dua puluh lima baris bernuansa lokalitas Kalimantan Selatan.
Sebetulnya saya juga miris dengan keadaan tersebut. Bulan April lalu, dalam sebuah grup Whatsapp, banyak penulis menggunakan AI sebagai alat bantu untuk brainstorming ide, menemukan gagasan, menyusun ritme tulisan, pemeriksaan ejaan, dan lain-lain. Sepuluh tahun silam, semua itu dilakukan oleh kerja kreatif dunia kesusastraan. Bahkan, dulu saya dan beberapa kawan masih saling bertukar tulisan sebagai pembaca pertama sebelum tulisan-tulisan itu kami kirimkan ke media massa atau sebuah perlombaan. Peran itu saya yakini sudah banyak digantikan oleh AI. Naskah di copy-paste ke prompt dan tinggal beri perintah ‘periksa ejaan’ atau ‘beri ulasan’.
Dialog bersama tentang hal ini akan membuka khazanah baru. Penggunaan AI untuk memudahkan pekerjaan, tapi tidak sebagai jalan pintas. Sebab, menurut saya tidaklah sepenuhnya benar jika mesin-mesin itu (seperti kata Rafii Syihab dalam esainya) mampu menciptakan kuantitas, kerapihan teks, dan kecepatan, kemudian penulis hanya kebagian masalah rasa. Seorang kawan saya pernah mengetikkan prompt membuat outline novel. Ternyata hasil yang muncul malah mirip outline dari novel yang ia tulis sebelumnya. Kawan yang lain, ketika bertanya dan minta dibuatkan ide cerpen, justru yang muncul adalah ide dengan nada mirip seperti hasil prompt sebelumnya.
Jika ada yang menyebut kalau mesin akan semakin cerdas dengan data mining yang semakin banyak, saya masih meyakini jika kecerdasan buatan itu masih memerlukan waktu. Mesin itu butuh waktu belajar, kita pun begitu. Kita harus belajar mengendalikan mesin, karena jika enggan melakukannya, bisa jadi di masa depan kita akan hidup seperti di film-film sci-fi saat kecerdasan buatan mengambil alih.
Artinya sekarang ini penulis belum sepenuhnya disisakan tentang rasa saja. AI dengan keterbatasan riset serta data bisa jadi melakukan kesalahan. Dulu ada ungkapan: ketahuan banar menconteknya, sampai ngaran kawan aja di salin.
Begitu juga dengan AI. Ia masih sering menyalin data plek-ketiplek. Sehingga, kuantitas, kerapihan teks serta kecepatan masih bermasalah. Di sanalah, penulis punya peluang untuk menang. Riset, pengumpulan data, penyusunan kerangka tulisan, cek dan ricek data, sinkronisasi dengan kerangka tulisan, revisi dan editing adalah proses yang membuat kita akan lebih unggul dari mesin.
Rafii juga menyebut perihal menyelam-lamas dalam kubangan proses kreatif. Seperti Dadang Ari Murtono menulis dalam kurun waktu dua minggu, tapi data dan runutan kisah sudah utuh. Artinya kita bisa. Persoalannya kemudian adalah mau tidaknya kita melakukannya.
Mungkin kita mau, tapi apa mampu?
Begitu juga sebaliknya, siapa tahu ada yang mampu, tapi tak mau?
Pertanyaan mendasarnya adalah perihal waktu yang tak cukup untuk seorang penulis melakukan semua proses kreatif itu yang dalam kondisi dewasa ini mustahil tanpa bantuan AI. Pandangan ini tepat jika dikaitkan pada waktu pembuatan lomba manuskrip cerpen Aruh Sastra di HSU yang dibahas Rafii Syihab dalam esainya.
Asumsinya berarti dalam waktu 46 hari, setiap empat hari harus jadi satu cerpen baru, dengan berusaha agar tidak ada repetisi ide, dialog, dan teks dari satu cerpen ke cerpen lainnya.
Saya meyakini kondisi ini, jika ditanggapi dengan serius akan melahirkan karya sekaligus pengarang yang tidak mati. Dalam arti bahwa memang para penulis –termasuk penulis pemula, mencoba untuk menulis cerpen sejumlah 10-12 yang diminta panitia Arus Sastra di HSU.
Dari kemungkinan terjadinya repetisi dan kesamaan bahkan di antara sesama penulis, apa yang dilakukan panitia Aruh Sastra di HSU tahun ini memiliki peluang untuk mendorong kita—dalam ekosistem kesusastraan—untuk menembus batas, mengalahkan AI.
Polemik yang muncul dari lomba manuskrip cerpen dengan jumlah cerpen dan kata dalam waktu yang sedemikian itu, pada gilirannya akan memberi stimulus, sekaligus mengingatkan kita agar proses kreatif kepenulisan tidak dilakukan karena ingin mengikuti perlombaan atau mengirim ke media saja.
Mari melakukan segala proses itu dari hari ke hari. Menciptakan ide, gagasan, mengumpulkan data primer dan sekunder, mencatat daftar nama tokoh bernuansa lokalitas, membaca tulisan dan karya lainnya, atau apa saja yang biasa kita lakukan sebagai bagian dari sebuah proses kreatif kepenulisan. Ketika kita memulainya setiap hari, maka kita akan memiliki bank data yang berlimpah.
Itulah perbedaan kita dengan AI selanjutnya. AI sekarang dengan mudah menarik data yang berseliweran di internet dalam sekejap. Sedangkan kebanyakan dari kita cenderung harus mencari lagi setiap ingin menulis. Sebab, kita tidak punya tabungan data.
Dalam film Shaft (2019) ketika Samuel L. Jackson berperan sebagai detektif di film tersebut. Ia punya bank data di kantor pribadinya. Ketika memecahkan semua kasus, saat semua orang sudah menggunakan komputer dan menggunakan mesin pencarian, ia punya mekanismenya sendiri. Samuel L. Jackson mengurutkan nama setiap informannya dalam urutan abjad dan map yang sistematis.
Mungkin tidak juga harus sepenuhnya kita seperti dalam film Shaft. Tapi, berapa banyak dari kita yang baru membaca tentang pertempuran besar Amuntai, kisah Negara Dipa, Candi Agung, itik alabio, asal-usul nama Amuntai, dan hal-hal lain terkait Kalimantan Selatan saat flyer Aruh Sastra tahun ini mulai disebarkan.
Berapa banyak dari kita yang sudah membaca atau mengumpulkan data-data itu dalam keseharian sebagai seorang penulis, tanpa menunggu sebuah perlombaan digelar?
Berikutnya pasti ada yang bertanya, jika begitu tidak akan muncul penulis muda, hanya mereka yang sudah menasbihkan diri sebagai penulis saja yang akan bersinar.
Saya percaya penulis yang baik dan berhasil adalah mereka yang memiliki kedekatan dengan tulisannya. Proses kreatif yang dilakukan dari hari ke hari akan membuat setiap penulis dekat dengan karya, tanpa harus menunggu waktu tertentu. Mereka yang baru belajar menulis, justru saya yakini memiliki kedekatan itu.
Penulis muda kebanyakan berusia pelajar atau mahasiswa. Perbedaan para penulis muda ini dengan yang sudah matang adalah banyaknya sumber data, tapi mereka belum mampu mengolahnya. Sementara penulis sudah matang cenderung jauh dari data itu, meski memiliki kapasisas untuk mengolah data-data tersebut.
Saya yang sudah kepala tiga ini misalnya, akan kesulitan menulis tentang sekolah, program MBG, ekskul basket, dance, Paskibra, atau kisah kepala sekolah yang selalu datang paling awal dan pulang paling akhir. Saya harus riset. Sedangkan teman-teman penulis muda dari kalangan pelajar dan mahasiswa tidak terlalu jauh dari momen-momen itu. Memori dan relasi dengan dunia sekolah belum terlalu jauh.
Atau, hanya mereka yang pekerjaannya menulis saja yang akan punya waktu lebih luang untuk mengumpulkan data dan melakukan proses kreatif lainnya?
Aveus Har, pemenang Sayembara Novel Basabasi 2019 menulis novelnya sambil berjualan mie ayam. Sahabat lama saya Hanny Dewanti—penulis novel Hijrah Sakinah, terus menulis sembari mengasuh anaknya yang berkebutuhan khusus, Gol A Gong terus menulis dalam liburan dan safarinya keliling Indonesia.
Setelah pelaksanaan Aruh Sastra dengan konsep manuskrip cerpen gila-gilaan ini, akan lahir generasi yang mau menulis tidak hanya pada saat lomba saja. Premis, sinopsis, outline dapat dibuat terus menerus. Tidak perlu harus menasbihkan diri fulltime dalam dunia sastra, anggap saja seperti menulis buku harian.
Generasi baru (bukan soal umur) ini akan punya stok riset minimal di catatan telepon genggamnya.
Karena saat bergelut dalam dunia menulis ya kita harus terus melakukan proses kreatif kepenulisan, tidak sekadar saat mendekati lomba saja.
Karya tercipta dan pengarang tak akan mati. Ia terus hidup karena menghidupi dunia menulis dengan apa yang bisa dilakukan di tengah segala kesibukan selain perihal menulis itu.
Begitulah kita akan menjawab nubuat Barthes. Dalam kritik sastra Endiq Anang berjudul Membedah Kaki Kelima Nirwan, ia menyebut justru pada habitus, kapital (budaya, sosial, simbolik), dan field (lingkungan sosial di mana seseorang tumbuh) ala Bourdieu, ketiganya tidak akan mati dan akan terus bergulir membentuk kesadaran penulis yang dimuntahkan dalam karya. Terutama perihal habitus, yang dalam kajian Bourdieu akan melahirkan praktik dan persepsi.
Proses kreatif yang terus dihidupi adalah bagian dari habitus yang disebut Bourdieu.
Lagipula, dalam manuskrip cerpen pantia sudah menetapkan tema: sosial budaya Kalimantan Selatan. Tema ini memiliki landscape yang luas. Seharusnya itu memudahkan penulis. Andai tema hanya disebut sosial atau budaya saja, penulis akan kesulitan untuk menemukan sesuatu yang dekat.
Ketika menjadi sosial budaya, kita dapat menemukan banyak hal.
Misal, saya berencana akan menulis tentang pernikahan beda budaya antara ayah saya yang Dayak Ma’anyan dan ibu yang seorang Cina Banjar. Atau misalnya tentang mitos tak boleh keluar saat magrib, pintu rumah depan dan belakang tak boleh satu garis lurus, menangkap bidawang di sekitar Jembatan Dewi, Bioskop Ria dan Gereja Batu. Semua ide tersebut adalah data yang saya kumpulkan dari kisah yang diceritakan kedua orang tua.
Itu kan hanya ide belum jadi sebuah tulisan?
Tulisan dan menulis memang membutuhkan waktu. Maka menulislah. Kalau nanti ada yang baru mengetahui Lomba Manuskrip Cerpen Aruh Sastra tahun ini lima hari sebelum tenggat waktu, masih sempat menulis dua cerpen dalam satu hari. Syaratnya jika tidak punya cukup data jangan melakukannya. Sudah pasti kepala pian bakukus. Mulailah berbenah dengan melakukan proses kreatif sejak sekarang hari lepas hari.
Terakhir, saya teringat Aliansyah Jumbawuya pernah menulis cerpen berjudul Teladan, tentang Tusadak, seorang jurnalis yang resign dari pekerjaannya dan beralih menjadi penulis lepas. Dalam cerpen itu, tokoh Tusadak begitu mudah mengirimkan tulisan ke media massa. Basic sebagai jurnalis membantunya untuk membuat cerpen dan artikel, hingga diminta menulis biografi para tokoh.
Kisah itu mungkin hanya ada dalam cerpen, tapi kita bisa melihat pola Tusadak sebagai seorang jurnalis memudahkannya sebagai penulis lepas.
Jurnalis dituntut memiliki wawasan yang luas, sering kali dikejar waktu demi aktualitas, tetapi tetap harus mempertahankan akurasi dan nilai-nilai berita yang lain. Almarhum Yusran Pare, mantan Pemred Banjarmasin Post pernah berkata agar sebagai jurnalis harus memiliki sumber data yang melimpah dan daya ingat yang kuat. “Jika susah mengingat, maka catat,” pesannya saat saya belajar sebagai calon reporter di penghujung 2012.
Karenanya, saya meyakini panitia Aruh Sastra menghendaki jalan kesusastraan kali ini. Kita dituntut untuk berpola sebagai seorang jurnalis –sekurang-kurangnya dalam mengumpulkan data, agar kita dapat bertarung bahkan menang dari kecerdasan buatan.
Jadi, jika menulis dan ingin menasbihkan diri sebagai penulis, janganlah jadi buruh pabrik. Berkaryalah seperti jurnalis.
________________________________________
Tentang Penulis: JH. Tanujaya, tulisannya pernah dimuat di Banjarmasin Post, mirifica.net, sesawi.net, katoliknews.com, arkalitera.id. Puisi, pantun, fiksi mini dan cerpennya termuat dalam belasan antologi. Telah menerbitkan tiga kumpulan puisi tunggal, Gadis di Rembang Petang (2017), Doa Seorang Koruptor (2019), dan Konserto Sudut Pandang (2025).
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

1 Komentar
Lanjut kann ,...
BalasHapus