Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

SEPERTI AKAR JINGAH, CERPEN MAHFUZH AMIN

 

Ilustrasi: Piwi/Arkalitera


“Wahai Jingah, jika memang benar engkau yang menyembunyikan kakakku, tolong kembalikan dia. Saat ini aku sangat membutuhkannya.”

Sejak Kak Faisal pergi dan tak ada kabar lagi, pohon jingah di belakang rumah kami berubah menjadi angker. Warga kampung yang menganggap penunggu jingah murka akibat perbuatan kakakku, sering menaruh sesajen agar kemarahannya tidak melebar ke warga lain. Mereka juga melarang anak mereka bermain di tanah belakang rumah kami--yang tak jauh dari pohon jingah. Padahal sebelumnya, belakang rumah kami selalu ramai dengan suara anak-anak.

“Lakasi bulikan! Pamali di tanah hari sanja!1” Teriakan Uma2-ku yang menjadi tanda waktu bermainku dan Kak Faisal berakhir, selalu menjadi ingatan pertamaku setiap kali duduk di bangku belakang rumah. Bangku bertongkat kayu galam dengan posisi menghadap pohon jingah, adalah tempat yang pas untuk menikmati alam sambil menonton anak-anak bermain.

Tak jarang, Uma juga berteriak memanggil saat kami bermain ke pinggir sungai di sekitar pohon jingah. “Jangan bermain di sana! Kaina disariki urang, pas kajingahan.”3

Untuk satu ini, Kak Faisal selalu tak acuh. Ia justru makin masyuk bermain di bawah pohon jingah. Tak jarang, ia nekat memanjat pohon jingah dan melompat ke sungai. Namun ketika pulang, badannya mulai memerah dan ia tak berhenti menggaruk-garuk sekujur tubuh.

Apa4 dan Uma langsung membawa Kak Faisal ke pohon Binjai di belakang kantor desa. Di sana, ia disuruh bajoget batilanjang5 sambil mengelilingi pohon Binjai. “Karena Jingah dan Binjai bermusuhan, jadi begitu lah cara kita manambai6 kajingahan,” jelas Apa. Aku selalu tersenyum mengingat kejadian itu.

  “Uy, Pengantin, jangan melamun sendirian di belakang rumah.”

Aku agak terkejut mendengar suara Acil7 Iyah. Kulihat Acil sedang mengangkat sebuah kawah seorang diri. Aku bergegas membantu.

“Ikhlaskan kakakmu, Fatimah! Agar ia tenang dan ikut bahagia dengan pernikahanmu,” kata Acil Iyah setelah kami meletakkan kawah ke tanah, seakan ia tahu apa yang sedang kupikirkan.

Aku menanggapi Acil Iyah dengan diam. Memang, banyak orang yang beranggapan Kak Faisal sudah meninggal karena tak kembali lagi sejak kepergiannya tiga tahun yang lalu. Bahkan, Apa juga beranggapan seperti itu. Namun, firasatku masih mengatakan bahwa ia masih hidup.


* * *

“Itah uluh bakumpai jadi jiharus manjaga tana adat warisan uluh bakas batuh, karna tana itah beken sekedar lumpur dengan dabu. Jituh te daha dengan nyawa uluh bakas batuh ji manyatu. Dada boleh injual.dada boleh yi unjuk dengan uluh beken.” 8

Seperti akar jingah yang kuat mencengkeram tanah, seperti itulah harapan Apa kepada kami untuk menjaga tanah warisan leluhur. Apa selalu mengajarkan kami pentingnya menghormati adat. Namun, tiga tahun yang lalu, kecerobohanku justru membuat kami menghancurkan harapannya.

Ini bermula saat Apa masuk rumah sakit. Apa terpaksa menjadi pasien umum karena BPJS-nya tak aktif. Kami berhenti membayar iuran sejak Uma meninggal lima tahun lalu. Kak Faisal, yang masih kerja serabutan, terpaksa mencari pinjaman untuk membayar biaya rumah sakit. Kendati, hingga menjelang Apa diperbolehkan pulang, uang kami masih belum cukup.

Saat itu aku masih kelas dua Madrasah Aliyah, dan tidak tahu bagaimana cara membantu Kak Faisal. Lalu, aku teringat dengan pesan Pambakal9 saat membesuk apa. “Jika kalian perlu tambahan dana untuk membayar biaya rumah sakit, kalian bisa temui Amang10 Idi.”

Saat itu aku tak tahu bahwa Amang Idi bukanlah pilihan Kak Faisal untuk meminjam uang. Yang kutahu, Amang Idi adalah orang kaya di kampungku dan Kak Faisal pernah bekerja dengannya sebagai buruh angkat sawit. Kesimpulanku, Amang Idi adalah orang yang baik. Aku pun mendatanginya tanpa sepengetahuan Kak Faisal.

Kak Faisal terkejut ketika aku menyerahkan uang sepuluh juta padanya. Aku merasa senang, karena bisa membantu. Namun, perasaanku seketika berubah ketika Kak Faisal hanya diam setelah mendengarkan ceritaku mendapatkan uang itu.

“Apa yang kamu serahkan ketika meminjam uang ini?”

Entah mengapa aku merasa takut mendengar nada bicara Kak Faisal. “Ulun11 menyerahkan sertifikat yang ada di lemari Apa?” jawabku pelan.

Kulihat Kak Faisal menggenggam tangannya dengan kencang, seperti menahan sesuatu yang ingin meledak.

“Kita kembalikan uang ini!” kata Kak Faisal dengan suara berat.

Entah mengapa aku merasa tidak terima jika uang itu harus dikembalikan. “Kita perlu uang ini untuk membayar biaya rumah sakit agar apa bisa segera pulang. Lagipula kata Amang Idi, sidin12 tidak memberikan tempo untuk melunasi. Kita bisa cicil semampunya.”

Kak Faisal menatapku tajam. Tatapan yang tak pernah kutemui sebelumnya. Aku sangat ketakutan. Untung perawat datang dan memberitahu kami bahwa pelunasan sudah bisa dilakukan. Kulihat Kak Faisal terdiam sejenak sebelum membawa uang itu. Tak selang berapa lama, apa pun diperbolehkan pulang.

“Ini adalah rahasia kita. Kalaupun nanti Apa tahu, jangan sampai Apa tahu yang sebenarnya. Kakak akan berusaha mengambil sertifikat itu kembali sesegara mungkin,” kata Kak Faisal padaku setelah kami kembali ke rumah sakit. Aku hanya mengangguk-angguk, antara setuju dan takut.

Hari demi hari kulewati dengan rasa khawatir akan kedatangan Amang Idi. Syukurnya, sampai Apa bisa beraktivitas normal dan aku kembali ke rutinitas sekolahku, kekhawatiranku itu tak terjadi. Namun, saat aku sudah hampir melupakannya, tiba-tiba Amang Idi datang ke rumah kami. Untung saat itu Apa masih di ladang.

“Aku ke sini bukan untuk menagih utangmu. Aku ke sini ingin mengajakmu kembali ke proyek Pak Robert,” kata Amang Idi.

Aku sengaja berada di kamar Apa yang berdampingan dengan ruang tamu agar bisa mencuri dengar pembicaraan mereka.

“Mohon maaf, Mang. Jawabanku masih sama seperti dulu. Proyek itu bertentangan dengan prinsip hidup kami,” jawab Kak Faisal.

Setelah Apa keluar rumah sakit, Kak Faisal menceritakan kepadaku mengapa ia berhenti bekerja dengan Amang Idi. Ia menolak membantu negosiasi dengan warga kampung untuk melepaskan tanah adat kepada Pak Robert, seorang pengusaha kelapa sawit. Setelah mendengar cerita itu, aku pun menyimpulkan bahwa Kak Faisal sudah menjelma akar jingah yang kuat dan teguh memegang tanah tempatnya berpijak.

“Pemikiran kolotmu itu harus dibuang, Sal. Kamu lihat kan, kampung-kampung lain sekarang sudah jauh lebih maju daripada kampung kita. Hidup warga jadi lebih baik karena dapat pekerjaan dan kompensasi atas pembebasan lahan. Itu semua berkat proyek Pak Robert,” ungkap Amang Idi.

“Aku yakin, para leluhur yang kamu takuti itu tidak akan marah jika untuk kemaslahatan kampung kita,” lanjut Amang Idi. Perkataannya itu membuatku merasa ingin menyumpal mulutnya.

Aku deg-degan menanti Kak Faisal menanggapi.

“Jika ini memang untuk kemaslahatan kampung kita, mengapa tidak Amang saja yang langsung membicarakannya dengan warga?” kata Kak Faisal. “Atau, sebenarnya Amang juga takut dengar amarah para leluhur?” 

Tidak terdengar lagi pembicaraan di ruang tamu. Perlahan aku mengintip ke luar. Kulihat Amang Idi telah meninggalkan rumah kami. Aku pun segera menghampiri Kak Faisal, ingin merayakan kemenangan, hingga kulihat wajah Kak Faisal yang penuh guratan kecemasan.

“Dia pasti tidak akan tinggal diam,” katanya sambil berlalu melewatiku menuju belakang rumah, ke arah pohon Jingah.

Benar saja. Selang beberapa hari, tersiar kabar mengejutkan bahwa kakakku telah menggadaikan tanah leluhur demi uang. Kabar itu seketika menjadi gunjingan di kampung kami. Banyak warga yang menganggap Kak Faisal telah menjadi bagian dari proyek pembebasan lahan untuk perusahaan sawit. Ini pastilah ulah Amang Idi.

Puncak permasalahan dari kecerobohanku pun terjadi. Apa yang mendengar gosip ini seketika murka kepada Kak Faisal. Tak sekadar memarahi, Apa juga memaki, bahkan memukulnya, tapi Kak Faisal cuma diam.

Pemandangan ini sungguh menggodam hatiku. Ini semua kesalahanku. Tidak seharusnya Kak Faisal menanggungnya. Aku ingin sekali menceritakan yang sebenarnya kepada Apa, tapi Kak Faisal memberi isyarat padaku untuk diam sesuai pesannya agar semua ini tetap rahasia.

“Apa gunanya aku mengajarimu menjaga kehormatan leluhur kita, kalau tanahnya saja kamu gadaikan,” sembur Apa dengan emosi meluap-luap. “Jika alasannya untuk membayar biaya pengobatanku, harusnya kamu biarkan saja aku mati!”

Apa mulai batuk-batuk. Tubuhnya lemah. Aku sigap menahan tubuh Apa ketika akan terjatuh, begitu pun kak Faisal, tetapi Apa justru menepis tangannya.

“Tak usah membantuku! Kamu bukanlah anakku! Lebih baik kamu pergi dari rumah ini!”

Deg! Kamu bukanlah anakku? Aku tersentak sebadan-badan.

Kulihat Kak Faisal berjalan gontai menuju belakang rumah. Bergegas aku mengejarnya.

“Biarkan dia pergi! Dia tidak pantas tinggal di rumah ini!”

Aku mendengar teriakan Apa yang parau itu. Namun, aku tidak peduli. “Maafkan ulun, Apa! Ulun tidak ingin Kak Faisal pergi!” Aku meraih tangan Kak Faisal dan menahannya untuk melangkah lebih jauh.

“Kita akan baik-baik saja, Fatimah! Meski pun aku pergi, aku tetap akan menjagamu dan Apa. Aku akan memastikan pohon jingah kita akan tetap berdiri kokoh hingga adat sendiri yang merobohkannya.”

Entah mengapa genggaman tanganku melemah. Kak Faisal melanjutkan langkahnya ke arah pohon jingah. Aku hanya bisa menangis meratapi kepergian Kak Faisal. Perlahan wujud Kak Faisal menghilang terhalang pohon jingah.

Kepergiannya membuat kampung gempar. Lalu tersiar kabar, jika dia terkena tulah penunggu jingah karena telah menggadaikan tanah pusaka tanpa restu leluhur.


* * *

“Faisal memang bukan anak kandungku. Begitu pula kamu.”

Kepalaku seperti disambar gledek.

“Aku merahasiakan ini demi kehormatan Uma-mu. Kuharap, kamu pun melakukan hal yang sama.”

Apa tidak menceritakan lebih detail tentang masa lalu Uma. Kata Apa, cukup ia yang menyimpan masa lalu itu dan biarkan hilang jika ia mati. Apa juga tidak mau menceritakan tentang ayah kandungku.

Ketika aku hendak menikah, mau tidak mau hal ini harus aku ceritakan ke calon suamiku karena Apa tidak bisa menjadi wali nikah. Kami juga sepakat pelaksanaan akad nikah dilakukan di KUA demi menjaga kerahasiaan ini. Orang-orang yang akan dibawa ke KUA hanya beberapa tetua kampung yang juga tahu tentang masa lalu Uma.

Hari Sabtu pagi, sehari sebelum pesta pernikahanku adalah hari pelaksanaan akad nikah. Kami berangkat dari rumah menggunakan mobil yang sudah disediakan oleh calon suamiku. Dalam perjalanan, aku hanya diam memandangi rumah-rumah yang kami lalui di sisi kiri. Andai kak Faisal ada di sini sebagai wali nikahku. Aku menahan air mataku agar tidak jatuh. Khawatir merusak riasan.

Kedatangan kami di KUA disambut calon suamiku beserta keluarganya. Adiknya sigap membantuku yang telah menggunakan gaun ketika aku hendak keluar dari mobil. Sebelum kami masuk ke kantor KUA, sebuah minibus tiba. Kudengar calon suamiku berujar seraya tersenyum, “Alhamdulillah, kakakku bisa datang.”

Seorang petugas berseragam biru muda keluar dari minibus bertulis Lembaga Pemasyarakatan, diiringi seorang lelaki yang begitu hangat di mataku. Lelaki itu memakai laung bahenda13 di kepala, seakan menunjukkan kepada semua orang bahwa ia masih seperti akar jingah yang kuat mempertahankan tanah adat warisan leluhurnya dalam kondisi apa pun, seperti yang telah diajarkan padanya sejak kecil. Seketika mataku berkaca-kaca.

“Temuilah dia! Dia lebih berhak menikahkanmu,” kata apa yang tersenyum padaku dengan mata yang juga berkaca. []

Catatan:

1 “Cepat pulang! Pamali berada di luar pada saat senja!”

2 Ibu

3 Nanti dimarahi orang (makhluk halus), lalu kajingahan (gatal yang disebabkan getah pohon jingah hingga membuat kulit memerah dan lebam)

4 Ayah

5 Joget tanpa busana

6 Mengobati (dengan cara tradisional)

7 Bibi

8 Kita orang Bakumpai harus menjaga dan menghormati tanah adat warisan para leluhur, karena tanah kita bukan sekadar lumpur dan debu. Ia adalah darah dan nyawa para leluhur yang menyatu. Pantang dijual. Pantang diserahkan ke orang lain

9 Kepala desa

10 Paman

11 Saya

12 Beliau

13 Kain kuning yang diikatkan di kepala. Menjadi simbol yang dipakai oleh masyarakat Bakumpai pada saat mempertahankan lahan mereka dari ekspansi perkebunan kelapa sawit


__________________________________________


Tentang Penulis: MAHFUZH AMIN, lahir di Ujung Murung (Hulu Sungai Utara), 01 Mei. Pernah menerbitkan novel Superstar Udin, Novelet Insiden April-Mei, dan kumcer Simalakama Cinta. Sekarang tinggal di Tanjung, Tabalong - Kalsel mengelola Toko Imam bersama keluarganya dan Majalah LANGSAT bersama para pegiat literasi Tabalong. Aktif di Sanggar Seni Langit Tabalong dan terdaftar sebagai anggota Komunitas Pembatas Buku Jakarta.


Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com


0 Komentar