Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

SEMESTA DIALOG: MEMBACA HADANI HAD DALAM KUMPULAN PUISI “ANGIN TAK BERKABAR DI ANGKARA BUMI”, OLEH MUHAMMAD DAFFA

 

Ilustrasi: Piwi/Arkalitera

    Puisi sebagaimana halnya karya sastra lain bakal mengacu pada suatu topik bahasan atau tema tertentu. Baik itu tema yang sifatnya perjalanan, keakuan, pencarian jati diri, dan lain hal. Tema dalam sebuah puisi  berangkat dari ruang realitas yang sepenuhnya dialami oleh si penyair, sekecil apa pun dampak dari realitas pengalaman tersebut. Hadani Had, lewat kumpulan puisi terbarunya berjudul “Angin Tak Berkabar Di Angkara Bumi”  mengajak kita sebagai pembaca untuk maandak awak dalam ruang realitas yang diolahnya dengan berbagai cara. Hadani tidak sekadar membawa kita pada pengalaman-pengalaman yang sifatnya tekstual, tapi juga mengajak kita pada suatu perenungan yang sifatnya universal. Hal ini bisa kita lihat bersama pada puisi “Secangkir Teh Berpuisi di Rumahku”. Puisi yang sekilas tampak biasa dengan bahasa sederhana. Teks ini menyuguhkan pada kita bagaimana seharusnya pengalaman sederhana dapat diolah kembali dalam bentuk puisi, terlepas nantinya apakah puisi tersebut akan membawa efek sastrawi atau justru sebaliknya.

“Secangkir Teh Berpuisi di  Rumahku”

Seduhan teh di pagi beku

Kau sajikan lembut di atas meja

Sedang aku masih tertegun menatap bayang

Di cermin pagi: berimaji tentang langkah

Termangu sepi menatap diri yang letih

Dengan semua jenis warna-warni hari

Yang selalu terpandang pada setiap lembar

Mulai kusut, lusuh dan mengering

 

Namun dalam setiap senyummu tersungging

Di bibir manismu

Membersamai setiap sendok gula

Pada teh yang kau seduh

Aku tak lagi bergumam

Aku tak bergeming

Saat kecupan manis di pipiku

 

Merah mudaku

Imajiku terbangun

Karena setiap senyummu

Adalah: indah

 

Sungai Mahakam, 19 Juni 2025

 

     Secangkir teh dalam puisi Hadani bukan sekadar peristiwa yang disusun tiba-tiba, melainkan upaya untuk membuka ruang dialog dengan publik pembaca. Bentuknya yang sederhana menegaskan pada kita, bahwa bahasa puisi tak mesti disampaikan dengan perumpamaan tingkat tinggi. Hadani mengolah pengalaman minum teh sebagai sesuatu yang lain. Hadani membawa kita pada suatu ruang yang nyata, yang siapa saja pasti mengalami peristiwa itu. Secangkir teh Hadani tidak saja membawa suasana dan vibes tertentu pada suatu peristiwa, tapi juga mencipta pengalaman pembacaan yang berbeda-beda di tiap pembaca. Misalnya pada baris berikut:

“Membersamai setiap sendok gula

Pada teh yang kau seduh,

Aku tak lagi bergumam

Aku tak bergeming

Saat kecupan manis di pipiku

 

Merah mudaku

Imajiku terbangun

Karena setiap senyummu

Adalah: indah”

 

Pengalaman tekstual pembaca digiring pada suatu keterpesonaan yang jauh. Hadani, di satu sisi berupaya mencatat kembali suatu hal yang telah dialaminya bersama entah siapa, mengajak kita para pembaca, buat sama-sama merasakan “teh yang kau seduh” itu tanpa perlu bertanya apakah kadar gulanya kebanyakan atau justru sengaja dikurangi karena toh sudah diawali dengan “setiap senyummu adalah indah”. Ini bukan sekadar pengalaman cinta-cintaan biasa. Hadani memang cenderung mengarahkan bahasa puisinya sebagai perlambang cinta, tapi ia ingin lebih dari itu. Ini bukan sekadar cinta biasa, melainkan “kecupan manis” yang menghidupkan “imaji merah muda” sebagai peristiwa utama. Artinya, Hadani menjadikan perlambang bahasa cinta sebagai upaya untuk memperkuat lapisan makna pada teks puisi tersebut, sehingga cinta  versi Hadani bukan sekadar kalimat manis belaka, melainkan repetisi atas suatu kejadian dan momen berharga yang sayang buat dilewatkan begitu saja.

Momen puitis yang dialami Hadani, terlebih dalam kumpulan ini, tidak saja berbicara tentang personal, tapi juga meliputi keresahan-keresahan terhadap alam yang mengalami disorientasi. Hadani membuat sejumlah puisi bertema keresahan sosialnya sebagai manusia terhadap alam dengan bahasa perumpamaan cenderung simbolik, berbeda halnya dengan puisi secangkir teh yang lebih diafan, puisi-puisi Hadani berikut lebih kompleks penyampaiannya, baik secara pilihan kata atau sudut pandang aku-liriknya,

 

SASTRA SUNGAI DIKENANG KAHAYAN

 

Tersebutlah Sungai Kahayan membentang ke hulu 

Membelah Kalimantan menjadi kenang lampau

Berwarna ombak ketika kapal melaju

Menyusuri riak-riak air menghulu

Membiru dalam jemari anak Manyan

Menyelinap dalam gelap derai hujan

Akankah terus mengalir sampai ke hilir

Ataukah menjadi paru-paru kata 

Dihirup menjadi suara terembus sebagai sastra

 

Maka setiap huruf yang masuk di aliran sungai

Terus meracau pada kedalaman hutan

Kemudian meramu ujaran mantra balian

Dalam derap langkah mamang

Apakah akan menghilang pada putaran ulak sungai

Ataukah terus membahana pada ilung-ilung

 

Perhatikan aku akan selalu bersama sastra menyatu dengan alir sungai dalam denyut nadi dan menjadi sastra pada kepingan-kepingan bermajas, bermakna, berjamaah

dan terus bersastra: di Kahayan

 Tambak Karya, 22 September 2025

 

“Kahayan” pada puisi Hadani, yang merujuk pada satu lokasi tertentu, telah mengalami makna yang lain. Kahayan bukan lagi tempat dalam arti harfiah. Melainkan tempat yang diciptakan kembali oleh Hadani lewat bahasa puitisnya, sehingga “Kahayan” mewujud sebagai satu momen puitis. Momen puitis tidak hanya bermula dari peristiwa-peristiwa besar, tapi bisa juga dari peristiwa sederhana sebagaimana yang dialami Hadani Had. Momen kunjungan ke Kahayan, yang bagi sebagian orang terlihat sebagai kunjungan biasa, menjadi suatu pengalaman lain dalam bayangan visual seorang Hadani Had. Pengalaman individu yang dialami Hadani mungkin juga dialami oleh semua orang, berkunjung ke satu tempat tertentu, mengalami keterpesonaan, dll. Tapi tidak semua orang yang berkunjung ke Kahayan bisa menangkap momen-momen puitis itu.

“Maka setiap huruf yang masuk di aliran sungai

Terus meracau pada kedalaman hutan

Kemudian meramu ujaran mantra balian

Dalam derap langkah mamang

Apakah akan menghilang pada putaran ulak sungai

Ataukah terus membahana pada ilung-ilung

 

“Huruf yang masuk di aliran sungai, meracau pada kedalaman hutan” adalah momen puitis yang diolah ulang oleh Hadani sehingga menjadi latar permenungan bersifat universal. Hadani menjadi penyaksi ketilka “sungai” dan “hutan” itu ia kunjungi. Hadani menyaksikan apa-apa yang mungkin luput untuk dicatatkan orang. Maka jadilah frasa itu, frasa yang membangun kesatuan dunia dalam teks puisinya. Dunia yang mungkin semua orang alami, tapi hanya sebagian orang yang bisa menuliskanya dalam bentuk puisi. Hadani membangun pengalaman-pengalaman individualnya sebagai  momen puitis tak biasa.

“Kahayan” pada puisi Hadani bisa saja menjadi Kahayan yang berbeda dalam versi orang lain, dan itu hal yang sah dalam sebuah penciptaan karya sastra. Momen puitis yang dialami Hadani pada puisi “Kahayan” mungkin hanya satu dari puisi-puisi pengalaman lainnya yang akan kita temukan sepanjang buku kumpulan puisi “Angin Tak Berkabar” ini.

 Suara keakuan Hadani  bukan lagi semata-mata menyoal “tempat” sebagai instrumen pariwisata, tapi juga statement perlawanan dalam bahasa puisi. Hadani membicarakan sejumlah tempat, peristiwa, dan suasana intens terkait alam yang dicerabut dari fitrahnya. Dapat juga dikatakan bahwa licentia poetica Hadani bukan lagi bergerak dari tatanan bahasa yang berbunga-bunga, tapi juga bahasa yang melawan dengan caranya sendiri. sebagaimana pada puisi berikut:


DARI JENAKA SUNGAI

 

“Benarkah sungai berkomedi

Bersandiwara dalam alirnya

Usang dalam kenang

Tersebab hulunya kini coklat

Menghulu pada luka sendiri

Berjingkrak di atas sound system pembangunan:

Riak dipaksa menari

Denyut dipaksa bertepuk

Retak diperdengarkan sebagai lagu

 

Sungai sudah lucu

Tak perlu bermain jenaka

Sebab orang-orang lebih dulu tertawa

Menanti ilung

Sementara ikan-ikan lari lalu terkubur

Ular piton dikuliti sampai maknanya robek

Dagingnya dirampas Dikunyah sebagai tontonan.

 

 Dan

 Lucu”

 

Hadani cukup piawai memainkan ruang-ruang dialog dalam teks puisinya, meski dialog tersebut tidak ditulis secara harfiah. Hadani memainkan ambiguitas “Berjingkrak di atas sound system pembangunan”   dengan “Sungai sudah lucu, tak perlu bermain jenaka, sebab orang-orang lebih dulu tertawa”, dua hal yang tampak tidak saling berkaitan ternyata memiliki efek simbolik dengan pemaknaan jauh lebih kompleks. “sound system” pada puisi Hadani bukan lagi merujuk pada sound system dalam segi harfiahnya, melainkan suara perlawanan dari bahasa puisi. Hadani memilih diksi
“sound System” sebagai caranya menyuarakan perlawanan dalam puisi, meski perlawanannya itu harus terbentur pada “sungai sudah lucu”. Sungai bukan lagi objek yang mengarah kepada alam, melainkan sosok dengan pembawaan yang jenaka. Hadani menciptakan kembali makna sungai dalam versi berbeda, bukan semata objek pasif yang dikekang simbol simbol nini datu jukung banyu.

“Benarkah sungai berkomedi

Bersandiwara dalam alirnya

Usang dalam kenang

Tersebab hulunya kini coklat

Menghulu pada luka sendiri”

(petikan puisi “Dari Jenaka Sungai”)

 

Sungai yang luka dalam puisi Hadani termanifestasi sebagai objek yang tetap bersuara, meski “berkomedi” adalah jalan lain untuk terus bertahan di tengah berbagai ketakjelasan situasi. Sungai “berkomedi” memang terkesan pertanyaan yang ditujukan puisi kepada kita, pembaca. Pertanyaan itu dibiarkan menggantung dan kembali jadi suatu dialog batin antara puisi dan penyainya, “bersandiwara dalam alirnya, usang dalam kenang, tersebab hulu kini coklat”, dll jadi semacam bentuk warning kepada ruang realitas, bahwa alam yang mengalami disorientasi mesti disuarakan dengan cara lain, yang berbeda dari pandangan umum. Alam pada puisi-puisi Hadani mungkin terkesan sebagai objek yang marah, tapi ia tidak diam, ia terus membangun dialog-dialog dengan caranya sendiri, entah itu membawa statement atau pernyataan-pernyataan yang sifatnya mendorong pembaca untuk berpikir, merenungkan ulang dunia beserta kompleksitas yang terjadi di hadapan mata.

Hujan dan tanah

Tak henti berdialog

Merapalkan mantra-mantra

Pada titik-titik luka tanpa jeda

Lalu

Bertumbuh

(petikan puisi “dialog hujan dan tanah”)

 

Di titik yang lain, puisi-puisi Hadani juga sedikit banyak menyinggung soal kesan personalnya terhadap fenomena sosial, sebagaimana terdapat pada puisi berikut:


LIDAH

 

Lidah itu ular

Yang kau pelihara di mulut sendiri.

Ia mematuk pelan, Tak membunuh tubuh, Hanya nama.

 

Korban berjalan,

Tapi sudah mati Di ingatan orang.

 

Tak ada makam. Tak ada doa.

Hanya sunyi

Yang dulu bernama hormat.

 

Dan ular itu

Tidur tenang Di balik senyummu.

 

Puisi “Lidah” tampak jauh lebih tenang ketimbang puisi-puisi Hadani lainnya di buku “Angin Tak Berkabar” ini. “lidah itu ular, yang kau pelihara di mulut sendiri”, frasa ini terkesan simbolik meski di satu sisi juga bisa terbaca sebagai pengolahan kembali dari pepatah lama, “mulutmu harimaumu”. Hadani bisa saja menulis “mulutmu, harimaumu” sebagai pembentuk ruang-ruang puitik dalam karyanya, tapi ia memilih cara lain, mencoba meng upgrade pepatah lama tersebut jadi suatu pemaknaan baru.

“Tak ada makam, tak ada doa,

Hanya sunyi

Yang dulu bernama hormat”

 

“sunyi” dalam puisi-puisi Hadani, jika boleh disebut demikian, adalah “sunyi” yang melawan, sebagaimana terjadi pada banyak puisi di buku ini. Hadani dan puisinya terbentuk dari lingkungan yang sama aktifnya, melawan dengan cara mereka masing-masing, meski tidak semua upaya melawan itu dominan menghasilkan puisi-puisi yang berteriak. Sebagaimana puisi “Lidah”, Hadani membuat bahasa-bahasa simbolik yang mengarah pada perlawanan terhadap situasi tertentu, meski perlawanan itu disampaikan lewat bahasa simbolik, “tak ada makam, tak ada doa, hanya sunyi, yang dulu bernama hormat”. Puisi ini membuat dialog baru antara teks, pembaca, dan penyairnya. Dialog ini mungkin membuat kita tertampar, merasa disudutkan, atau justru menggugat ulang fitrah sebagai manusia. “Lidah” nya Hadani tidak sekadar menyuguhi kita performa bahasa akrobatik, tapi juga cara seseorang bertahan dengan medium bahasa. Bahasa sebagai satu dari sekian cara untuk terus bersuara pada keadaan, entah diri, lingkungan, atau ruang-ruang lain yang sifatnya lebih universal. Puisi “Lidah” tidak sekadar menciptakan ruang dialog dengan kita, pembaca, tapi juga menawarkan sudut pandang lain sebagai manusia, sudahkah kita membaca dan memahami diri sepenuhnya?

 

Banjarbaru, Mei 2026


__________________________________________

Tentang Penulis: Muhammad Daffa, kelahiran Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 1999. Bergiat sebagai tenaga pengajar ekstrakurikuler bahasa dan sastra. Puisi-puisinya dimuat Kompas, Koran Tempo, Harian Rakyat Sultra, Majalah Mata Puisi, dan Sastramedia. Buku tunggalnya berjudul “Mayat-Mayat Yang Bercerita Tentang Kematianmu”(Kumpulan Cerpen, 2025). Dapat ditemui di akun instagramnya: @sebermulahujan.

__________________________________________

Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com










0 Komentar