![]() |
| Ilustrasi: Piwi/Arkalitera |
Puisi sebagaimana halnya karya
sastra lain bakal mengacu pada suatu topik bahasan atau tema tertentu. Baik itu
tema yang sifatnya perjalanan, keakuan, pencarian jati diri, dan lain hal. Tema
dalam sebuah puisi berangkat dari ruang
realitas yang sepenuhnya dialami oleh si penyair, sekecil apa pun dampak dari
realitas pengalaman tersebut. Hadani Had, lewat kumpulan puisi terbarunya berjudul
“Angin Tak Berkabar Di Angkara Bumi” mengajak kita sebagai pembaca untuk maandak
awak dalam ruang realitas yang diolahnya dengan berbagai cara. Hadani tidak
sekadar membawa kita pada pengalaman-pengalaman yang sifatnya tekstual, tapi
juga mengajak kita pada suatu perenungan yang sifatnya universal. Hal ini bisa
kita lihat bersama pada puisi “Secangkir Teh Berpuisi di Rumahku”. Puisi yang
sekilas tampak biasa dengan bahasa sederhana. Teks ini menyuguhkan pada kita
bagaimana seharusnya pengalaman sederhana dapat diolah kembali dalam bentuk
puisi, terlepas nantinya apakah puisi tersebut akan membawa efek sastrawi atau justru
sebaliknya.
“Secangkir Teh Berpuisi di Rumahku”
Seduhan teh di pagi beku
Kau sajikan lembut di atas meja
Sedang aku masih tertegun menatap bayang
Di cermin pagi: berimaji tentang langkah
Termangu sepi menatap diri yang letih
Dengan semua jenis warna-warni hari
Yang selalu terpandang pada setiap lembar
Mulai kusut, lusuh dan mengering
Namun dalam setiap senyummu tersungging
Di bibir manismu
Membersamai setiap sendok gula
Pada teh yang kau seduh
Aku tak lagi bergumam
Aku tak bergeming
Saat kecupan manis di pipiku
Merah mudaku
Imajiku terbangun
Karena setiap senyummu
Adalah: indah
Sungai Mahakam, 19 Juni 2025
Secangkir teh dalam puisi Hadani bukan sekadar
peristiwa yang disusun tiba-tiba, melainkan upaya untuk membuka ruang dialog
dengan publik pembaca. Bentuknya yang sederhana menegaskan pada kita, bahwa
bahasa puisi tak mesti disampaikan dengan perumpamaan tingkat tinggi. Hadani
mengolah pengalaman minum teh sebagai sesuatu yang lain. Hadani membawa kita
pada suatu ruang yang nyata, yang siapa saja pasti mengalami peristiwa itu.
Secangkir teh Hadani tidak saja membawa suasana dan vibes tertentu pada suatu
peristiwa, tapi juga mencipta pengalaman pembacaan yang berbeda-beda di tiap
pembaca. Misalnya pada baris berikut:
“Membersamai setiap sendok gula
Pada teh yang kau seduh,
Aku tak lagi bergumam
Aku tak bergeming
Saat kecupan manis di pipiku
Merah mudaku
Imajiku terbangun
Karena setiap senyummu
Adalah: indah”
Pengalaman
tekstual pembaca digiring pada suatu keterpesonaan yang jauh. Hadani, di satu
sisi berupaya mencatat kembali suatu hal yang telah dialaminya bersama entah
siapa, mengajak kita para pembaca, buat sama-sama merasakan “teh yang kau
seduh” itu tanpa perlu bertanya apakah kadar gulanya kebanyakan atau justru
sengaja dikurangi karena toh sudah diawali dengan “setiap senyummu adalah
indah”. Ini bukan sekadar pengalaman cinta-cintaan biasa. Hadani memang
cenderung mengarahkan bahasa puisinya sebagai perlambang cinta, tapi ia ingin
lebih dari itu. Ini bukan sekadar cinta biasa, melainkan “kecupan manis” yang
menghidupkan “imaji merah muda” sebagai peristiwa utama. Artinya, Hadani
menjadikan perlambang bahasa cinta sebagai upaya untuk memperkuat lapisan makna
pada teks puisi tersebut, sehingga cinta
versi Hadani bukan sekadar kalimat manis belaka, melainkan repetisi atas
suatu kejadian dan momen berharga yang sayang buat dilewatkan begitu saja.
Momen puitis
yang dialami Hadani, terlebih dalam kumpulan ini, tidak saja berbicara tentang
personal, tapi juga meliputi keresahan-keresahan terhadap alam yang mengalami
disorientasi. Hadani membuat sejumlah puisi bertema keresahan sosialnya sebagai
manusia terhadap alam dengan bahasa perumpamaan cenderung simbolik, berbeda
halnya dengan puisi secangkir teh yang lebih diafan, puisi-puisi Hadani berikut
lebih kompleks penyampaiannya, baik secara pilihan kata atau sudut pandang
aku-liriknya,
SASTRA
SUNGAI DIKENANG KAHAYAN
Tersebutlah Sungai Kahayan membentang ke hulu
Membelah Kalimantan menjadi kenang lampau
Berwarna ombak ketika kapal melaju
Menyusuri riak-riak air menghulu
Membiru dalam jemari anak Manyan
Menyelinap dalam gelap derai hujan
Akankah terus mengalir sampai ke hilir
Ataukah menjadi paru-paru kata
Dihirup menjadi suara terembus sebagai sastra
Maka setiap huruf yang masuk di aliran sungai
Terus meracau pada kedalaman hutan
Kemudian meramu ujaran mantra balian
Dalam derap langkah mamang
Apakah akan menghilang pada putaran ulak
sungai
Ataukah terus membahana pada ilung-ilung
Perhatikan aku akan selalu bersama
sastra menyatu dengan alir sungai dalam denyut nadi dan menjadi sastra pada
kepingan-kepingan bermajas, bermakna, berjamaah
dan terus bersastra: di Kahayan
Tambak Karya, 22 September 2025
“Kahayan” pada puisi Hadani, yang
merujuk pada satu lokasi tertentu, telah mengalami makna yang lain. Kahayan
bukan lagi tempat dalam arti harfiah. Melainkan tempat yang diciptakan kembali
oleh Hadani lewat bahasa puitisnya, sehingga “Kahayan” mewujud sebagai satu
momen puitis. Momen puitis tidak hanya bermula dari peristiwa-peristiwa besar,
tapi bisa juga dari peristiwa sederhana sebagaimana yang dialami Hadani Had.
Momen kunjungan ke Kahayan, yang bagi sebagian orang terlihat sebagai kunjungan
biasa, menjadi suatu pengalaman lain dalam bayangan visual seorang Hadani Had.
Pengalaman individu yang dialami Hadani mungkin juga dialami oleh semua orang,
berkunjung ke satu tempat tertentu, mengalami keterpesonaan, dll. Tapi tidak
semua orang yang berkunjung ke Kahayan bisa menangkap momen-momen puitis itu.
“Maka setiap huruf yang masuk di aliran sungai
Terus meracau pada kedalaman hutan
Kemudian meramu ujaran mantra balian
Dalam derap langkah mamang
Apakah akan menghilang pada putaran ulak
sungai
Ataukah terus membahana pada ilung-ilung “
“Huruf yang masuk di aliran sungai,
meracau pada kedalaman hutan” adalah momen puitis yang diolah ulang oleh Hadani
sehingga menjadi latar permenungan bersifat universal. Hadani menjadi penyaksi
ketilka “sungai” dan “hutan” itu ia kunjungi. Hadani menyaksikan apa-apa yang
mungkin luput untuk dicatatkan orang. Maka jadilah frasa itu, frasa yang
membangun kesatuan dunia dalam teks puisinya. Dunia yang mungkin semua orang
alami, tapi hanya sebagian orang yang bisa menuliskanya dalam bentuk puisi.
Hadani membangun pengalaman-pengalaman individualnya sebagai momen puitis tak biasa.
“Kahayan” pada puisi Hadani bisa saja
menjadi Kahayan yang berbeda dalam versi orang lain, dan itu hal yang sah dalam
sebuah penciptaan karya sastra. Momen puitis yang dialami Hadani pada puisi
“Kahayan” mungkin hanya satu dari puisi-puisi pengalaman lainnya yang akan kita
temukan sepanjang buku kumpulan puisi “Angin Tak Berkabar” ini.
Suara keakuan Hadani bukan lagi semata-mata menyoal “tempat”
sebagai instrumen pariwisata, tapi juga statement perlawanan dalam bahasa
puisi. Hadani membicarakan sejumlah tempat, peristiwa, dan suasana intens
terkait alam yang dicerabut dari fitrahnya. Dapat juga dikatakan bahwa licentia
poetica Hadani bukan lagi bergerak dari tatanan bahasa yang berbunga-bunga,
tapi juga bahasa yang melawan dengan caranya sendiri. sebagaimana pada puisi
berikut:
“Benarkah sungai berkomedi
Bersandiwara dalam alirnya
Usang dalam kenang
Tersebab hulunya kini coklat
Menghulu pada luka sendiri
Berjingkrak di atas sound system pembangunan:
Riak dipaksa menari
Denyut dipaksa bertepuk
Retak diperdengarkan sebagai lagu
Sungai sudah lucu
Tak perlu bermain jenaka
Sebab orang-orang lebih dulu tertawa
Menanti ilung
Sementara ikan-ikan lari lalu terkubur
Ular piton dikuliti sampai maknanya robek
Dagingnya dirampas Dikunyah sebagai tontonan.
Dan
Lucu”
Hadani cukup
piawai memainkan ruang-ruang dialog dalam teks puisinya, meski dialog tersebut
tidak ditulis secara harfiah. Hadani memainkan ambiguitas “Berjingkrak di atas
sound system pembangunan” dengan
“Sungai sudah lucu, tak perlu bermain jenaka, sebab orang-orang lebih dulu
tertawa”, dua hal yang tampak tidak saling berkaitan ternyata memiliki efek
simbolik dengan pemaknaan jauh lebih kompleks. “sound system” pada puisi Hadani
bukan lagi merujuk pada sound system dalam segi harfiahnya, melainkan suara
perlawanan dari bahasa puisi. Hadani memilih diksi
“sound System” sebagai caranya menyuarakan perlawanan dalam puisi, meski
perlawanannya itu harus terbentur pada “sungai sudah lucu”. Sungai bukan lagi
objek yang mengarah kepada alam, melainkan sosok dengan pembawaan yang jenaka.
Hadani menciptakan kembali makna sungai dalam versi berbeda, bukan semata objek
pasif yang dikekang simbol simbol nini datu jukung banyu.
“Benarkah sungai berkomedi
Bersandiwara dalam alirnya
Usang dalam kenang
Tersebab hulunya kini coklat
Menghulu pada luka sendiri”
(petikan puisi “Dari Jenaka Sungai”)
Sungai yang luka dalam puisi Hadani
termanifestasi sebagai objek yang tetap bersuara, meski “berkomedi” adalah
jalan lain untuk terus bertahan di tengah berbagai ketakjelasan situasi. Sungai
“berkomedi” memang terkesan pertanyaan yang ditujukan puisi kepada kita,
pembaca. Pertanyaan itu dibiarkan menggantung dan kembali jadi suatu dialog
batin antara puisi dan penyainya, “bersandiwara dalam alirnya, usang dalam
kenang, tersebab hulu kini coklat”, dll jadi semacam bentuk warning kepada
ruang realitas, bahwa alam yang mengalami disorientasi mesti disuarakan dengan
cara lain, yang berbeda dari pandangan umum. Alam pada puisi-puisi Hadani
mungkin terkesan sebagai objek yang marah, tapi ia tidak diam, ia terus
membangun dialog-dialog dengan caranya sendiri, entah itu membawa statement
atau pernyataan-pernyataan yang sifatnya mendorong pembaca untuk berpikir,
merenungkan ulang dunia beserta kompleksitas yang terjadi di hadapan mata.
Hujan dan tanah
Tak henti berdialog
Merapalkan mantra-mantra
Pada titik-titik luka tanpa jeda
Lalu
Bertumbuh
(petikan puisi “dialog hujan dan tanah”)
Di titik yang lain, puisi-puisi Hadani juga sedikit
banyak menyinggung soal kesan personalnya terhadap fenomena sosial, sebagaimana
terdapat pada puisi berikut:
Lidah itu ular
Yang kau pelihara di mulut
sendiri.
Ia
mematuk pelan, Tak membunuh tubuh, Hanya nama.
Korban berjalan,
Tapi sudah mati Di ingatan
orang.
Tak ada makam. Tak ada
doa.
Hanya sunyi
Yang dulu bernama hormat.
Dan ular itu
Tidur tenang Di balik
senyummu.
Puisi “Lidah” tampak jauh lebih
tenang ketimbang puisi-puisi Hadani lainnya di buku “Angin Tak Berkabar” ini. “lidah
itu ular, yang kau pelihara di mulut sendiri”, frasa ini terkesan simbolik
meski di satu sisi juga bisa terbaca sebagai pengolahan kembali dari pepatah
lama, “mulutmu harimaumu”. Hadani bisa saja menulis “mulutmu, harimaumu”
sebagai pembentuk ruang-ruang puitik dalam karyanya, tapi ia memilih cara lain,
mencoba meng upgrade pepatah lama tersebut jadi suatu pemaknaan baru.
“Tak ada makam, tak ada doa,
Hanya sunyi
Yang dulu bernama hormat”
“sunyi” dalam puisi-puisi Hadani,
jika boleh disebut demikian, adalah “sunyi” yang melawan, sebagaimana terjadi
pada banyak puisi di buku ini. Hadani dan puisinya terbentuk dari lingkungan
yang sama aktifnya, melawan dengan cara mereka masing-masing, meski tidak semua
upaya melawan itu dominan menghasilkan puisi-puisi yang berteriak. Sebagaimana
puisi “Lidah”, Hadani membuat bahasa-bahasa simbolik yang mengarah pada
perlawanan terhadap situasi tertentu, meski perlawanan itu disampaikan lewat
bahasa simbolik, “tak ada makam, tak ada doa, hanya sunyi, yang dulu bernama
hormat”. Puisi ini membuat dialog baru antara teks, pembaca, dan penyairnya.
Dialog ini mungkin membuat kita tertampar, merasa disudutkan, atau justru
menggugat ulang fitrah sebagai manusia. “Lidah” nya Hadani tidak sekadar
menyuguhi kita performa bahasa akrobatik, tapi juga cara seseorang bertahan
dengan medium bahasa. Bahasa sebagai satu dari sekian cara untuk terus bersuara
pada keadaan, entah diri, lingkungan, atau ruang-ruang lain yang sifatnya lebih
universal. Puisi “Lidah” tidak sekadar menciptakan ruang dialog dengan kita,
pembaca, tapi juga menawarkan sudut pandang lain sebagai manusia, sudahkah kita
membaca dan memahami diri sepenuhnya?
Banjarbaru, Mei 2026
__________________________________________
Tentang Penulis: Muhammad Daffa, kelahiran Banjarbaru, Kalimantan Selatan, 1999. Bergiat sebagai tenaga pengajar ekstrakurikuler bahasa dan sastra. Puisi-puisinya dimuat Kompas, Koran Tempo, Harian Rakyat Sultra, Majalah Mata Puisi, dan Sastramedia. Buku tunggalnya berjudul “Mayat-Mayat Yang Bercerita Tentang Kematianmu”(Kumpulan Cerpen, 2025). Dapat ditemui di akun instagramnya: @sebermulahujan.
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar