![]() |
| Ilustrasi: Piwi/Arkalitera |
TUHAN DALAM SELOKI
Tuhan dalam seloki, di tangan kami yang sudah lama lupa arah pulang, digilir dari bibir ke bibir, dari yang percaya satu, ke yang meyakini tiga, ke yang tak tahu harus memanggil siapa saat hidup terasa terlalu ramai untuk ditanggung sendiri.
Arak menuai di tenggorokan, tapi keyakinan tak pernah benar-benar matang. Di meja penuh tawa yang pecah-pecah, kami bertanya hal-hal yang tak pernah dijawab kitab.
Seloki berputar, dan setiap kali menyentuh bibir baru, Tuhan berubah rasa, kadang pahit, kadang getir, kadang manis pada mereka yang masih percaya ada yang menjaga dari jauh.
Sampai pagi menetes dari jendela, dan kami sadar mungkin Tuhan tak pernah mabuk, karena dia sendirilah arak itu.
---
UMAT HARI KETUJUH
Hari Minggu jatuh seperti debu cahaya di ambang pagi.
Lonceng berbunyi, namun ranjang-ranjang lebih fasih memanggil nama.
Kemalasan menjahit doa menjadi alasan, iman dilipat rapi di sudut kesadaran.
Di rumah-rumah ibadah, keheningan duduk bersila, Tuhan berdiam di sela bangku yang tak penuh, menunggu tanpa wajah marah.
Roti dipecah. Sunyi pun retak.
Anggur diangkat. Waktu mengalir merah.
Tubuh menjadi kata. Darah menjadi ingatan.
“Di mana Tuhan?”
Tuhan sudah pulang lebih dulu.
---
KETIKA TUHAN KEHILANGAN NAMA
Sujud tanpa yakin, misa tanpa iman, mantra tanpa makna, dupa tanpa tujuan.
Kitab-kitab menuding jariku, ritual-ritual menghakimiku, menyebut banyak nama-Mu, namun tak satu pun terasa nyata.
Aku tak mencari keselamatan.
Surga, nirwana, moksha, semua terdengar seperti alamat palsu di rongga telingaku.
Aku menghafal terlalu banyak cara untuk memanggil Tuhan.
Tapi Tuhanku, Engkau paling suka dipanggil apa?
Dalam mantra dan kidra, dalam lonceng kuil, dalam genta pura, aku tersesat di antara kitab, karma, dan takdir.
Aku beribadah seperti mayat yang masih bernapas.
Aku takut kehilangan-Mu karena terlalu sibuk mencari bentuk.
Semuanya menjanjikan pulang, tapi jalannya penuh larangan dan ancaman tersesat.
Jika Engkau memang Maha Mengerti, bukankah kebingungan ini juga doa?
---
BER-TUHAN
Bertuhanlah, saat dunia mengajarimu membenci.
Bertuhanlah, saat luka sesungguhnya lebih setia daripada manusia.
Bertuhanlah, ketika hatimu lelah menghitung maaf yang tak pernah cukup.
Bertuhanlah, seperti kitab tua itu berkata: tujuh puluh kali tujuh.
Bukan angka, tapi ikhlaskah kamu dengan maklum yang tanpa batas?
Bertuhanlah, saat memaafkan terasa seperti kalah.
Bertuhanlah, meski doamu sering ragu sampai ke langit atau tidak.
Bertuhanlah, di antara jatuh dan bangkit.
Bertuhanlah, di antara marah dan pasrah.
Bertuhanlah, maka kamu akan bertahan.
---
BUKU PETUNJUK PENGGUNAAN TUHAN
Aku membeli iman dalam kotak besar berlabel: “keselamatan seumur hidup.”
Di dalamnya ada: kitab aturan, ancaman garansi hangus, dan nomor layanan pelanggan yang tak pernah aktif.
Aku membaca manualnya dengan takut.
Isinya: jangan pencet ini, jangan tanya itu, jangan utak-atik ayat.
Teknisi bersorban dan jubah datang menjelaskan cara menyembah yang benar, dengan bahasa yang hanya mereka pahami.
Sementara aku masih bingung di depan layar gelap, bertanya:
“Apakah Tuhan rusak?”
Atau aku yang salah pakai?
Ah, benda ini bahkan tak pernah disertai remote.
Manual itu menulis:
Jangan ragu. Jangan protes. Jangan modifikasi iman.
Lalu jika suatu hari imanku mati, siapa yang bertanggung jawab?
Apakah aku bisa membawanya ke pusat layanan langit,
atau aku hanya disuruh membuangnya dengan label:
“Murtad, gagal, cacat produksi?”
Tak ada jawab.
Manual itu menutup halaman terakhir dengan ancaman.
Pertaubatan, bukan toleransi beriman.
__________________________________________
Tentang Penulis: Windy Joana adalah penulis asal Makassar yang menaruh minat pada novel, puisi dan prosa reflektif. Karyanya banyak mengangkat tema cinta, kehilangan, spiritualitas, dan eksplorasi perasaan manusia. Saat ini aktif menulis karya cetak dan berbagi tulisan melalui media sosialnya. Instagram : @winjo_h
__________________________________________
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar