![]() |
| Ilustrasi: Piwi/Arkalitera |
ANATOMI GETAH
Pisau menyayat pagi yang terlalu putih,
kulit pohon berkeringat,
menderu ke dalam mangkok aluminium
Ada plastik, ada semen, ada nomor sepatu
yang tumbuh di atas bekas luka manurih gatah
Tepuk tangan dari kota,
membeli tetes yang paling pait
Unda–melihat tubuh pohon–yang
digergaji oleh waktu
Embun berceceran di lantai hutan,
bersama tumpahan susu perawan dari kambium yang pecah
Kami pergi pagi buta
melipat jarak dari Rantau Bakula
ke dalam mesin ketik yang kehilangan huruf hidupnya
Pacangan runtuh lagi saurangan,
pohon itu berbisik lewat seratnya
yang mati rasa
Setiap goresan adalah tanda tangan
untuk sepasang sepatu bot yang berjalan menuju mall
Getah berlari,
mengisi pori-pori aspal–
membeku jadi sejarah yang lengket di telapak kaki kami
Di luar jendela,
Kami menghitung berapa banyak hijau yang tersisa
setelah tubuhnya sendiri
berubah menjadi komoditas
dalam etalase bahasa yang gancangan.
Rantau Bakula, 24 Mei 2026
---
MATAHARI JUKUNG
Satu perahu, satu tanggui, seribu lapar
di bawah jukung, sungai martapura berkarat
jingga yang maka liar di mata.
Aku adalah dayung yang tak mau diam,
meski arus adalah tali yang mencekik.
Tanggui berputar, matahari kuning
menandai waktu yang kada menunggu.
Di antara tumpukan buah,
ada bau keringat dan harapan yang berpendar
kepada takdir yang selalu bahadang.
Aku melihat tubuh-tubuh yang
dipahat oleh air,
matahari terbit seperti pecahan kaca,
menembus gulu karing para pedayung yang tegak.
Sungai Martapura, 26 Mei 2026
---
SEBUAH CATATAN MAMPUS UNTUK GUBERNUR JENDERAL
Batu bara menumpuk seperti kamus
yang kehilangan huruf vokal.
Mesin-mesin uap di Pengaron mengunyah daging bumi,
mengubah hijau lambung hutan menjadi sekrup, roda gigi, dan–
angka-angka kematian kolonial.
Aku merobek peta topografi
dari atas meja buhannya.
Biar peluru kumpeni menembus dadaku
yang kandal oleh lumpur,
aku tetap meradang, menerjang dari balik rimbun rotan.
Pipa-pipa besi meminum
air Sungai Riam Kiwa sampai berwajah pucat.
Ada suara televisi rusak di dalam kepala serdadu
yang terbakar panik–saat parang-parang kami
menyala memotong lurus kabel telegraf.
Kalian datang mengemas peradaban
berupa meriam dan kuitansi pajak,
kami membalasnya dengan urat leher
dan sumpah waja sampai kaputing.
Luka dan bisa kubawa berlari,
berlari menghancurkan lorong-lorong tambang kalian
yang mulai sesak napas.
Sekali berarti, sudah itu bentengmu runtuh menjadi debu.
Oranje Nassau, mampus kau dikoyak ketakutan!
Pengaron, 24 Mei 2026.
---
KUSUT
Menerjemahkan keadaan hari ini bagaikan menghitung batu kerikil di sungai yang aku kunjungi sambil memancing di sore hari yang tenang, runyam, kuning, emas, berasap, mengepul di atas kepala kalimat yang majemuk dan tidak beraturan, rambut keriting, susah disisir dan bercabang dua antara fokus atau tidak menemukan nasib dan mencari takdir yang sedikit tebal, hampir tipis dan samar bayangan dirimu di antara bebatuan sungai yang runcing masalah hidup.
Bisakah kita ulang kejadian ini?
Hari-hari di mana kita bermimpi
untuk cepat hidup dan mati dalam hal yang sederhana.
Semarang, 8 Juli 2020.
---
TABU
Tahun 1984 adalah bukan tanggal
pembuatan buku George Orwell
Lalu, tanggal dan tahun berapa kejadian itu bermula?
Pada tahun 1946, seorang tentara jepang
memasuki daerah Lithuania.
Sudahkah negara itu benar-benar tercipta?
Pada tahun 1998, seorang cina dilucuti pakaiannya
oleh orang-orang tak dikenal. Memangnya–kita tak mengenal orang-orang kita sendiri?
Menukar nasib hanya ada di serial televisi, televisi adalah milik pemerintah, pemerintah adalah milik
para penukar nasib.
Kalau kau pernah melihat orang
yang tak mau menukar nasib, itu hanyalah
sekelompok jurnalis di pinggir jalan yang
memotret kebebasan, tukang ojek yang
belum beralih ke online, tukang becak yang belum mampu membeli taksi, atau mungkin seorang guru yang belum juga beranjak dari honorer karena kurang beruntung mencari daleman?
Semarang, 5 Agustus 2020.
---
ADAM DAN HAWA
Mengapa dada kita memiliki buah? Apakah kita ini pohon yang
rindang di antara belantara hutan?
Bukankah kita semua adalah penjelajah
seperti seekor burung yang tersesat
dari satu lubang
pohon ke lubang lainnya
Terjerembab di sebuah altar.
Bila sejenak saja bertahan
orang-orang akan memakan tubuh kita
sedikit demi sedikit
Jadi belulang
di tanah
berlubang.
Semarang, 1 Agustus 2022.
Tentang Penulis: Masmamang adalah seorang laki-laki yang bekerja sebagai pemburu berita di salah satu kantor media cetak wilayah Jawa Tengah. Lahir di Bogor, 20 Desember 1997. Karya-karyanya telah dibukukan pada beberapa jurnal dan antologi sastra di antaranya, Jurnal Sastra Santarang NTT Edisi Maret-April 2021, Antologi Puisi Semarang Literary Triennale #3 2019, Antologi Puisi Pustaka Pedia 2017, dll. Dapat dihubungi melalui Instagram @masmamanggg, email: rizkyriawann@gmail.com.
---
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar