Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

PUISI-PUISI ASEP FAUZI

Ilustrasi: Piwi/Arkalitera


Masih dengan Kopi yang Sama, Nak

: Untuk Para Penyaji Kopi


Masih dengan racikan yang sama, Nak

kopi sachetan beraroma mocca

menemani setiap hasrat ini

ditambah setengah sendok otak Jin Ifrit

namun aku tak ingin orang menuduhku menghirupnya

aku selalu cepat-cepat menggosokkan pasta gigi tuhan ke mulutku


Masih dengan kopi yang sama, Nak

ini minggu ke 1.200 dari usiaku

kuseduh dengan air jahanam

menjelma budak musuh bebuyutan


Kuingin menyeduh kopi buatan nenekmu 

dengan biji kopi yang dipetik dari syurga

disangrai dengan sedikit beras

ditumbuk lantas diayak

lalu diseduh

tapi kata para penyaji, “ini seumur hidup sekali. seumur hidup sekali ini. sekali seumur hidup ini.”

dan kumuntahkan kopi nenek di depannya

lalu bersembunyi dalam sunyi


Dan masih dengan kopi yang sama, Nak

aku tak tahu kapan kita akan bertemu!

rayulah Tuhan agar aku tahan menyesap kopi pahit racikannya!

karena aku terlalu lelah menunggumu, Nak, tanpa ibumu.



Kotabaru, 25 September 2016


---


Wajahku yang Hilang


Di angka ke kedua puluh dua

wajahku belum saja kutemukan

telah lama jatuh di sungai madu bercampur empedu

hanyut dalam kelegitan dan kegetirannya


aku berjalan dengan wajah lain

berkata pada setiap orang “ini wajahku!


dalam lelap aku sering terbangun oleh ayat-ayat Tuhan

dan terisak pedih teringat wajah asliku


terkadang aku merasa lelah mencari wajahku

dan pasrah menikmati napas tanpa wajah asliku

tapi tentu murka dan api-Nya telah menyongsong


aku akan tetap mencari wajahku yang hilang

Tuhan, bantu aku menemukannya.



Kotabaru, Rabu, 18 September 2013



---


Seorang Nenek Lewat di Depan Rumahku


Aku tengah duduk di beranda rumah

Rumah yang tepat berada di pinggir jalan setapak yang menanjak

Di seberangnya ada pohon mangga, rambutan, nangka dan kelapa.


Seorang nenek berhenti di depan rumahku 

Punggungnya membengkok dibentuk usia

Dibalut gamis cokelat dengan kerudung senada

Berjalan dengan bantuan payung di tangan keriputnya


Ia mengumpulkan tenaga dengan napas menyayat

Sesekali meludah membuang sesak

Dia berhenti berjalan setiap tujuh langkah


Duabelas langkah ia menanjak melewati rumahku

Dilewatinya kuburan 

Hatiku kecut

Aku teringat nenekku di kampung halaman


Kotabaru, 10 Oktober 2015



__________________________________________


Tentang Penulis: Asep Fauzi, penulis kelahiran Kotabaru, Kalimantan Selatan. Karyanya tersebar di sejumlah media: Koran Banjarmasin Post, Radar Surabaya, Radar Banjarmasin, Media Kalimantan, Majalah Serambi Ummah, Mata Banua, Langgam Pustaka, Readzone.com, Arkalitera dan dalam buku antologi bersama para penulis lainnya. Buku kumpulan cerpennya: Ziarah Debu (Zukzez Express: 2016) dan Merah Putih di Langit Bungkukan (Langgam Pustaka: 2017). Esainya berjudul “Manggantung Kalambu” terpilih dalam Inkubator Literasi Pustaka Nasional 2023 yang diterbitkan oleh Perpusnas Pres. Sempat menjadi dosen dan kepala sekolah di tanah kelahirannya, kini ia menetap di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan sejak tahun 2017. Saat ini masih sibuk sebagai kepala sekolah dan mengelola usaha kecilnya: Zona Pastel Banjarbaru. Asep Fauzi dapat disapa melalui akun instagramnya @iniasepfauzi.


Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com


0 Komentar