Aku memakai kebaya encim
putih dan jarik Sidomukti yang kubeli pada suatu bazar di Yogyakarta. Pakaian
yang normalnya akan membuatku merasa tidak praktis dan sukar berjalan cepat,
seumpama tengah berada di jalan sempit di antara antrian seribu orang. Kini ia
justru membalutkan semacam pelukan yang dari dalamnya mengembus angin teduh ke
kepalaku. Seragam dengan apa yang dipakai Mbah Uti untuk pergi ke pasar
pukul enam pagi ini, lengkap dengan rinjing yang beliau tolak untuk
kubawakan. Alih-alih kemudian menggendongkan rinjing lain berukuran sama
ke punggungku. Pakaian tepat untuk hari yang berat. Sebab tak ada yang tahu hal
macam apa yang menanti ketika keluarga besarku tahu perawan tuanya telah
kembali ke desa.
“Kamu nggak ikut sekalian,
Tang?” tanyaku pada perempuan berbalut daster merah jambu yang tengah
membelakangi, di tangannya menari-nari sebuah gagang sapu.
Gerakannya berhenti,
lantas menghadapku dan tersenyum. “Ndak, Mbak. Jaga-jaga kalau yang
rewang datang.”
Secara bersamaan, aku bisa
mendengar seseorang mengatakan hal yang sama dari dalam senthong tempat
penyimpanan beras dan macam-macam bahan makanan. Mbah Uti keluar,
berpesan pada Lintang supaya seusai menyapu dilanjutkan menggoreng tahu dan
kentang untuk sambal goreng. Lintang mengiyakan, lalu kami pun berangkat.
Bulan separuh masih dengan
jelas menampakkan dirinya di seberang matahari bulan Juli. Lima belas menit
perjalanan, sinarnya sudah menerobos genteng-genteng los pasar. Menguapkan
aroma tanah dan permukaan lembab pada sudut-sudut yang masih berembun. Kami serupa
dua kura-kura ninja di tengah manusia berpakaian modern yang ramai mengerubungi
meja-meja dagang. Mencari kale, wortel, atau kangkung untuk dimakan. Tiap
dagangan dari pedagang yang berbeda beralaskan meja kayu dan dipisah tiang
penyangga atap. Mungkin sudah tiga puluh menit kami dahulu-mendahului mengambil
sayur, hingga sedikit demi sedikit rinjing penuh dengan bahan persiapan
selamatan methik nanti sore.
Sementara menunggu
pedagang membungkuskan kembang boreh. Mbah Uti menyapa nyaris tiap orang yang
dijumpainya. Hal ini sudah kuantisipasi, bahwa Mbah Uti bisa dipastikan
akan berlama-lama di pasar dibanding dengan waktu yang sejatinya kami butuhkan.
Dahulu ketika masih kecil, aku akan merengek apabila Mbah Uti terlalu
lama membuatku berdiri membawa belanjaan karena beliau asyik mengobrol dengan
orang-orang. Aku ingin segera pulang dan bermain dengan Mas, juga Lintang.
Namun, saat ini keadaannya justru berbalik, akulah yang sengaja memperpanjang
obrolan supaya beliau tidak terburu-buru. Aku ingin sedikit lebih lama
menikmati suasana yang telah lama kurindukan. Tersenyum sambil mengingat-ingat
nama orang yang sedikit banyak terlupakan sejak aku lama tinggal di Yogyakarta.
Otakku semacam telah terotomatisasi mengingat siapa yang berkesan saja.
Dari orang yang
mengenalku, akan terlontar pertanyaan yang sudah kuantisipasi jawabannya
jauh-jauh hari, seperti: sekarang tinggal di mana, kok sudah lama ndak kelihatan?
(di Yogyakarta). Sekolah apa kerja? (Kerja). Sudah punya calon apa belum?
(Sudah). Kapan diajak ke rumah? Lintang saja sudah mau menikah lagi, masa kamu
kalah? (Hahaha, Bude bisa saja. Nanti kalau sudah siap saya ajak ke Blitar).
Siap yang kumaksud adalah
siap materi, dan materi yang kumaksud adalah orangnya. Aku putus dengan pacarku
sebulan lalu, tetapi yang ini tidak kujelaskan biar pembicaraan tetap datar dan
tenang. Kalau saja ritme jantungku bisa kuatur demikian.
Bude yang tak kuingat
namanya bergumam panjang. “Jangan kelamaan. Keburu layu bungamu, nanti lebahnya
berubah pikiran. Ndak jadi menclok!”
Aku hanya meringis. Tak
berniat menanggapi. Biarlah bungaku layu, lebah jantan tetap akan mati berlabuh
pada ratunya. Bunga-bunga hanyalah tempat singgah semata. Jika benar adanya
bahwa aku sebuah bunga, peran lebah sejatinya tak lebih dari peran mak
comblang atau penghulu di kantor urusan agama. Jika begitu kondisinya,
kupikir penghulu manapun tetap akan menclok bila aku masih mampu
menawarkan nektar. Dunia manusia lebih peduli pada status hubungan antara putik
dan benang sari. Begitulah kemudian diaturnya arus angin buatan berupa nikah
massal untuk membantu lebah-lebah melangsungkan perkawinan, sekalipun tak
banyak nektar sebagai imbalan. Pikiran ini kutelan lagi bersama anggukan.
Seusai membayar, Mbah Uti
menepuk lenganku dan berkata, “Ayo! Sudah makin terik, kasihan Lintang
bekerja sendiri.”
Mbah Uti adalah
orang paling tua dari garis keturunan keluarga ibuku. Kini berusia di akhir
60-an tahun, tetapi tubuh beliau masih gesit dan bugar. Sang suami–Mbah Kakung,
yang jarak usianya jauh lebih tua sudah lebih dulu dipanggil Tuhan ketika aku
masih kelas 4 SD. Kepergian Mbah Kakung meninggalkan tiga anak perempuan dan
satu bungsu laki-laki, juga warisan beberapa petak sawah tak jauh dari rumah.
Hingga kini Mbah Uti masih turut mengurus sawah, dengan bantuan tenaga
dari tetangga yang seringkali menawarkan jadi buruh tani. Sementara, anak-anak
beliau sibuk menggarap ladang dan sawah masing-masing, memilih untuk memberikan
bantuan berupa benih dan menjualkan hasil panen.
Rumah Mbah Uti
terletak di tengah-tengah persawahan di desa kecil dekat perbatasan
Blitar-Malang. Terpisah dua dusun dari jalan raya, membuat lapisan aspal depan
rumah beliau mulus oleh sebab tak banyak dilalui kendaraan. Sepanjang
perjalanan ke rumah, kami diiringi suara kali kecil, gemerisik daun padi, dan
deritan pelepah kelapa ditiup angin timur bulan Juli.
Saat masa panen seperti
sekarang, dari pohon manggis samping rumah beliau selalu terjulur panjang
rumput rafia berhias kantong plastik warna-warni bekas pakai, juga lonceng
kaleng susu yang diisi kerikil. Sambung-menyambung melintang di atas tanaman
padi, tertali pada bilah bambu yang ditancapkan pada sudut-sudut sawah. Setiap
hari Mbah Uti akan duduk di balai, sesekali menarik tali tersebut ketika
burung-burung kecil menghinggapi tangkai padi, atau ketika sedang bosan dan
kesepian. Istilahnya tenguk-tenguk tunggu manuk. Tak jarang beliau
kedapatan tertidur di sana sambil memangku Bonar si kucing rumah. Hal itu sudah
menjadi semacam kebiasaan beliau sejak lama.
Sekilas aku terbayang
Lintang dan diriku di masa kecil, berkolaborasi memoleskan bedak bayi dan
lipstik ibunya ke wajah Mbah Uti yang tengah tidur. Lalu, beliau akan
terbangun dan menyadari kenakalan kami.
“Heyoh, ke sini
kalian! Kurang ajar, kepala orang tua dibuat mainan.” Begitu hardik beliau
sambil mengejar dan mengacungkan bilah pelepah kelapa kering. Bila tertangkap,
kami akan dihukum untuk menghabiskan satu piring penuh makan siang. Lantas,
kami biasanya tertidur oleh sebab kekenyangan.
Hukuman. Bila kupikir
kembali sekarang, tak pantas kuanggap begitu sementara aku mengetahui banyak
anak kurang beruntung yang mungkin akan mengharap hukuman yang demikian.
Terkadang anak kurang beruntung itu aku tatkala kehabisan uang di kosan.
Saat kami sampai, dari
atap dapur sudah berkepul asap. Bau gurih dari bumbu sambal goreng menguar ke
seluruh penjuru rumah. Perutku memekik pelan, teringat bahwa ia belum kujejali
apa-apa lagi selain dua buah pisang dan makanan ringan kemarin siang. Serta-merta
tubuhku melemas, lantas kududukkan tubuhku pada dipan bambu tanpa melepas
dahulu gendongan, mengundang tatapan sekian pasang mata dan laungan beberapa
“loh" sepersekian sekon berikutnya. Aku meringis.
Selekas-lekasnya Ibu
menghampiri dan memelukku erat. "Kapan sampai? Kok ndak mengabari
orang rumah? Sendirian, toh?”
“Dua pagi tadi,"
jawabku setengah tertawa. Sebelah tangan Ibu cekatan melepas simpul jarik,
memindahkan rinjing dari gendonganku ke dipan, lalu memelukku lagi.
"Rencananya minggu depan, tapi ternyata kerjaanku bisa rampung lebih
cepat. Jadi, langsung saja berangkat malam. Mau mengabari juga pasti sudah
tidur semua.”
Mbah Uti membawa tompo
berisi beras dari senthong untuk dicuci. “Batinku siapa kok todhog-todhog
tengah malam. Memanggil-manggil ‘Mbah Uti, Mbah Uti ....’
Kupikir hantu. Sampai Lintang ngorok kubangunkan agar menemani membuka pintu.”
Lintang yang tengah
memasukkan parutan kelapa dan cabe besar ke wajan untuk disangrai, ikut
menimpali dari samping tungku. “Iya. Sampai kupikir ada gempa karena
badanku terguncang-guncang."
Aku mengekeh, melepas
pelukan Ibu.
“Bude sama bulik sehat?”
tanyaku sembari bergantian mencium tangan Bude Wiji dan Bulik Melasti. Satu
tangan masih berbalut parutan kelapa, satu lagi bekas mengulek bumbu kuning.
Aku memeluk mereka. Jawaban pertanyaanku mewujud dua ciuman di pipi kanan-kiri.
Membaui dapur rumah
beraroma asap kayu bakar dan rempah, sejenak membuatku nyaris menyuarakan niat
berlama-lama liburan di desa. Sebelum lontaran sebuah pertanyaan
menumbangkannya lagi ke dalam angan.
"Gimana, Na? Jodohnya
sudah ketemu belum?” Asalnya dari Bude Wiji yang sibuk mengunyah cikalan. Pipi
tembamnya kembang kempis.
Ibuku memprotes, "Kok
kelapanya kamu makan terus to, Mbakyu? Santannya ndak cukup
nanti.”
“Masih banyak ini loh,
Nduk,” balasnya sambil melanjutkan memarut kelapa dan terus mengunyah.
Atensinya kembali padaku. Bude Wiji mengedikkan dagu. Aku meringis.
“Kalau sudah ada ya diajak
ke rumah …. Dikenalkan bapak ibu. Biar Mbah Utimu juga bisa lihat kamu
menikah …,” katanya. “Tinggal kamu saja loh, Na. Mas Tio sama Mbak Ratih sudah
punya anak dua, Mas Wildan sudah satu."
“Masmu malah sudah tiga
anaknya.” Kali ini Bulik Melasti turut meramaikan.
Bude Wiji semakin
bersemangat. “Si Lintang juga akhir tahun sudah mau menikah lagi. Untung
cerainya masih muda dia, masih kinyis-kinyis. Jadi, cepat dapat suami baru.
Kalau yang cerai sewaktu modelannya sudah kayak aku ya, wasalam."
Bulik Melasti melanjutkan,
“Itu loh, Na. Anaknya Pak Banjir. Bulan lalu tiba-tiba datang melamar. Siapa
namanya, Tang?"
Yang ditanya memalingkan
muka, mengambil lengser di belakangnya. "Edo.”
Hawa dapur jadi makin
panas dan pengap bagiku. Lintang menyerok serundeng penuh tekanan ke wajan,
menghasilkan suara tajam gesekan logam. Aku mendesis.
Sekonyong-konyong
kurasakan uap hangat mengembus di pipi, bertepatan dengan bau harum kuah daun
salam menyeruak ke dalam hidung. Ibu tersenyum. Air ludahku seketika membanjiri
lidah. Kuterima piring dari tangannya dan berterima kasih.
“Sana, makan di ruang
depan. Habis itu bantu Ibu menggoreng apam,” pesan Ibu seraya membuka panci
berisi fermentasi adonan tepung, gula, santan, dan tape singkong. “Santannya
sudah jadi apa belum, Mbakyu? Kalau belum sego gurihnya dimasak sehabis
ini saja, ya.”
Bude Wiji kembali
bersungut. Aku menyingkir ke balai bawah naungan pohon manggis untuk menikmati
sarapan–nasi putih dengan ayam bumbu kari. Manusia bila makan harus tenang
supaya jadi daging, begitu kata Mbah Uti dahulu. Aku mengagak-agak
apakah beliau mengingat itu.
Sekian menit kemudian,
Lintang menyusulku dengan sepiring sarapan di tangan. Terkadang aku iri pada
wajahnya yang selalu tampak menyungging senyum. Ia duduk memangku piring.
“Di dalam Bude Wiji sedang
ribut karena kita makan di sini,” katanya sambil tertawa kecil. “Ndak ilok anak
perempuan makan di luar rumah, katanya.”
Tentu saja, omelannya
masih terdengar jelas dari sini. Aku menoleh. “Lalu, kenapa kamu malah
ikut-ikutan?”
Lintang mengangkat bahu. “Ndak
tahu."
Ia tertawa melihat
kepalaku menggeleng refleks. Berikutnya, gemerisik dan kolentang yang mengisi
hening. Kami membenamkan perhatian pada ayam kari dan hamparan padi yang
menguning. Asap mengepul dari belakang kami, tersebar ditiup semilir angin
memenjuru ke sawah. Berada di tingkat ketiga dari sungai, beberapa petani sudah
mulai memanen padi mereka. Lintang bilang bahwa itu sawah Mak Tri, dan yang
sedang mengarit di sana adalah anak-anaknya. Mereka selamatan kemarin.
Ia bertanya, "Mau
tambah lauk tah, Mbak? Berkat dari Mak Tri masih banyak di bufet."
"Nggak, Tang. Ini
saja cukup,” jawabku. "Kok masih banyak? Nggak langsung dihabiskan di
sawah?”
Dahi Lintang berkerut.
Maniknya menjurus ke arah sawah Mak Tri, sementara mulutnya tak istirahat
mengunyah. Ia menggeleng. “Selamatan di rumah, Mbak. Orang-orang sudah ndak kayak
dulu methiknya.”
Bahuku merosot. Tersadar
sudah lama sekali sejak terakhir kali aku menyaksikan ritual ini.
Ingatan yang pertama kali
terpancing ketika mendengar tentang ritual ubeng-ubeng adalah masa
Lintang dan aku masih TK. Pada saat itu kami masih belum diizinkan membantu di
dapur. Sebagai ganti, para perempuan dewasa akan meminta kami menjaga dan
mengajak Rizal yang masih dua tahun bermain supaya ibunya—Bulik Ayu—bisa tenang
memasak. Meskipun seringkali kami malah asyik bermain sendiri. Ibu akan
memanggilku karena Rizal berulang kali kembali ke dapur.
Ketika sore menjelang,
Mbah Uti akan meminta Mas Tio untuk menjemput Mbah Dharmo, sesepuh yang
biasa membantu petani desa kami melakukan ritual methik. Baru-baru ini
kutahu beliau telah meninggal. Lintang membagikannya di media sosial.
Mbah Dharmo datang
menggunakan kemeja hijau belel berlengan pendek dan celana kain, dengan songkok
yang telah pudar hitamnya terpapar sinar matahari. Bagiku kecil, keberadaan
beliau selalu diselimuti bau harum dan hawa mistis yang dingin. Mbah Uti bilang
bahwa sedari muda Mbak Dharmo memang pendiam. Membuka mulut kala tersenyum dan
bicara hanya untuk menanggapi pertanyaan orang.
Ubeng-ubeng diawali dengan berdoa yang
dilakukan oleh Mbah Dharmo sambil menyimpul beberapa helai padi pada tiap sudut
bagian yang mau dipanen. Kemudian, sambil membawa upet berisi kemenyan yang
dibakar, beliau akan berjalan memutari sawah ke arah kanan. Aku dan Lintang
yang masih setinggi pinggang Mbah Dharmo mengikuti beliau dari belakang.
Menyatukan telapak tangan di depan dada, sesekali cekikikan atau merapal mantra
entah apa. Aku selalu terkekeh bila teringat.
Keesokkannya ketika
matahari belum sepenuhnya terbit, Mbah Dharmo akan membakar upet lagi di bagian
kanan sawah, meletakkan cok bakal, dan berdoa. Cok bakal ini berupa takir ini
yang berisi kembang setaman, injet, kemiri, irisan kelapa, beras, telur mentah,
kaca, sisir, kendi kecil, serta bawang merah dan cabai yang ditusuk menggunakan
lidi.
Sekitar sewindu kemudian,
pada proses yang sama percakapan terpanjangku dengan Mbah Dharmo terjadi. Aku
protes soal mengapa orang-orang terus melakukan Methik. Jika mau
bersyukur tinggal berdoa saja ketika sembahyang, tidak perlu repot masak
banyak-banyak. Aku kesal sepulang sekolah masih diperintah, apalagi bila
dibanding-bandingkan dengan Lintang.
“Kalau kamu mendapat
kebaikan dari orang, kamu berterima kasih ke Gusti Allah saja atau ke orang
yang mengasih juga?” tanya Mbah Dharmo.
Aku berjongkok di pojok
pematang sawah, memperhatikan beliau menggulung daun pada padi pengantin yang
baru dipetik. Sejenak keretek kemenyan pada upet yang terbakar mengisi hening.
“Sama orang yang mengasih
juga,” jawabku.
“Nah, methik itu ya
sama saja. Kita bisa bertani itu ya bukan hanya karena mbahmu tandur, lalu jadi
padi. Ya ndak gitu. Ada yang namanya sedulur singkep. Methik itu
selain untuk mewujudkan rasa syukur pada Gusti Allah, juga untuk berterima
kasih pada siapa saja yang membantu mengantarkan rezeki ke mbahmu, dalam bentuk
panen padi.” Beliau mengulurkan seikat padi pengantin padaku, kemudian merapal
syair sambil menyiramkan air dari dalam kendi ke padi yang baru dipenggal.
Lantas, kami berjalan ke tempat orang-orang akan berkumpul di pinggir sawah.
“Entah itu pada
ekosistemnya, budayanya, tetangga. Pada yang mbahu rekso juga.
Rasa syukur itu lebih jos kalau yang bikin kamu bersyukur tahu dan ikut
merasakan,” lanjut beliau. “Kalau ndak ada laki-laki atau perempuan yang
mau ngurus selamatan dan rewang memasak, ya rasa syukurnya mungkin ndak sampai.
Mungkin besok-besok malah ndak ada yang meneruskan. Bisa-bisa budaya
bersyukur kita dalam bertani jadi semata-mata karena cari untung.
“Orang yang cuma cari
untung itu biasanya lapar terus, haus terus, sampai-sampai lupa bersyukur. Kamu
tahu akhirnya bagaimana?”
Aku bergeming, tak berniat
menjawab.
“Buntung!” Mbah Dharmo
mengumbar senyum. “Wis ndak usah diambil hati kalau ada yang
membanding-bandingkan. Manusia memang begitu. Yang penting kamu berusaha, kamu
tahu di sana berniat membantu, gitu saja sudah jos-jis.”
Sementara para lelaki satu
persatu membawa nasi tumpeng dan macam-macam hidangan bagian dari
uborampe—sambal gebel, sayur keluih, urap, ingkung, dan rujak manis—ke
pinggiran sawah. Para perempuan akan menggelar panjang daun pisang, menata nasi
dan lauk pauk secara merata di seluruh sisi. Kemudian, Mbah Dharmo akan duduk
memimpin doa bersama, di ujung barisan melingkar menghadap gelaran daun pisang.
Doa sebelum kembul bejana akan disuarakan sedikit lantang. Dimulai dengan rasa
syukur kepada Tuhan, lalu Nabi Muhammad, dilanjutkan terima kasih ke Dewi Sri
dan Ki Sedana, Seh Sahluke, juga yang mbahu rekso. Doa untuk para
leluhur yang sudah mewariskan pengetahuan bertani, dan terakhir doa keselamatan
bagi keluarga yang akan melangsungkan panen juga masyarakat sekitar.
Baru ketika yang memimpin
doa sudah mempersilahkan, kami akan bersama-sama menyentuh makanan. Aku ingat
Mbah Dharmo selalu pamit tatkala kami mulai makan, Mbah Uti yang sudah
paham kebiasaan tersebut biasanya sudah menyiapkan rantang untuk beliau bawa
pulang.
Kembul bejana di pinggir
sawah setelah ritual methik sudah semacam tradisi tahunan. Jumlah lembar
daun pisang akan kian banyak dan terus memanjang seiring bertambahnya anggota
keluarga Mbah Uti. Dapur semakin ramai, begitupula pekerjaan yang dikerjakan
semakin sedikit. Seluruh anak, cucu, dan petani-petani sekitar akan duduk
berkumpul di atas rumput-rumput setengah berembun, bersama-sama menuntaskan
hidangan di bawah sinar hangat matahari pagi. Sejatinya, hanya pada saat
seperti itulah perempuan diperbolehkan makan di luar rumah.
“Semenjak Mbah Dharmo
meninggal, anak-anaknya yang merantau ke Jepang ndak mau pulang, jadi
ndak ada yang meneruskan. Jadi, Pak Yadin yang menggantikan memimpin methik.
Akan tetapi, beliau ndak mau ubeng-ubeng. Jadi, sekarang doanya
ya di dalam rumah kayak gini saja.” Lintang menyogok mulut tumpu dengan kayu
bakar, lalu meniupnya perlahan. “Sudah ndak jaman, katanya. Padahal
bersyukurnya lebih terasa kalau ada ubeng-ubengan, kan?”
Aku mendengkus geli. Anak
ini ….
Kami sedang memasak air
untuk mengisi termos. Di dapur hanya ada kami berdua sebab semua orang tua ikut
berdoa di ruang depan. Kebayaku sudah berganti kaos lengan pendek dan kulot
sejak tadi siang. Sebadan-badan lembab sebab keringat. Aku kagum pada perempuan
jaman dulu seperti Mbah Uti yang dapat beraktivitas dengan kebaya dan
jarik panjang tanpa terganggu.
Bersamaan dengan Mbah Uti
memanggilku, suara amin yang berat dan panjang dari ruang depan menandai
akhir dari transmisi doa. Aku bergegas keluar dapur ke arah sumber suara.
Menunggu lauk demi lauk selesai dibagikan, aku mengamati ruas jari dan ujung
kukuku yang menguning. Mungkin benar ucapan Mbah Dharmo, ritual methik yang
sudah kehilangan pakaiannya ini, akan hilang jiwanya bila perempuan tidak
rewang memasak dan menghabiskan waktunya di dapur. Jiwa yang kumaksud adalah
inti ritual methik sebagai wujud rasa syukur, dan wujud yang kumaksud
adalah berbungkus-bungkus berkat yang kini telah di tangan orang-orang.
Perempuan-perempuan ini
yang menentukan kapan api akan padam, begitu pula bagaimana doa harus
disajikan. Sejenak hatiku terbakar memikirkan masa di mana yang sepuh
sudah tidak bisa lagi melangsungkan tradisi selamatan. Sementara pemudanya
banyak memilih untuk pergi cari makan ke kota, apa yang tersisa lima atau
sepuluh tahun lagi di sini?
Sore itu, sepercik rasa
puas hanya mampu menggelitik hatiku, berlanjut miris berkepanjangan yang sulit
dijelaskan. Aku harus apa?
Tentang Penulis: Lidia Mauli merupakan mojang kelahiran Blitar, Mei 2004. Saat ini sibuk menjalani tugas sebagai mahasiswa Sastra Inggris di salah satu universitas di Surabaya. Selain sebagai bentuk selebrasi kebebasan berpikir, melalui tulisan ini dia berharap mampu menerjemahkan memori kolektif yang menghubungkan peran perempuan dan ritual agraris di tanah kelahiran dalam pergeserannya di tengah arus modernisasi.
---
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar