Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

METHIK HILANG PAKAIAN, CERPEN OLEH LIDIA MAULI

 


Aku memakai kebaya encim putih dan jarik Sidomukti yang kubeli pada suatu bazar di Yogyakarta. Pakaian yang normalnya akan membuatku merasa tidak praktis dan sukar berjalan cepat, seumpama tengah berada di jalan sempit di antara antrian seribu orang. Kini ia justru membalutkan semacam pelukan yang dari dalamnya mengembus angin teduh ke kepalaku. Seragam dengan apa yang dipakai Mbah Uti untuk pergi ke pasar pukul enam pagi ini, lengkap dengan rinjing yang beliau tolak untuk kubawakan. Alih-alih kemudian menggendongkan rinjing lain berukuran sama ke punggungku. Pakaian tepat untuk hari yang berat. Sebab tak ada yang tahu hal macam apa yang menanti ketika keluarga besarku tahu perawan tuanya telah kembali ke desa.

“Kamu nggak ikut sekalian, Tang?” tanyaku pada perempuan berbalut daster merah jambu yang tengah membelakangi, di tangannya menari-nari sebuah gagang sapu.

Gerakannya berhenti, lantas menghadapku dan tersenyum. “Ndak, Mbak. Jaga-jaga kalau yang rewang datang.”

Secara bersamaan, aku bisa mendengar seseorang mengatakan hal yang sama dari dalam senthong tempat penyimpanan beras dan macam-macam bahan makanan. Mbah Uti keluar, berpesan pada Lintang supaya seusai menyapu dilanjutkan menggoreng tahu dan kentang untuk sambal goreng. Lintang mengiyakan, lalu kami pun berangkat.

Bulan separuh masih dengan jelas menampakkan dirinya di seberang matahari bulan Juli. Lima belas menit perjalanan, sinarnya sudah menerobos genteng-genteng los pasar. Menguapkan aroma tanah dan permukaan lembab pada sudut-sudut yang masih berembun. Kami serupa dua kura-kura ninja di tengah manusia berpakaian modern yang ramai mengerubungi meja-meja dagang. Mencari kale, wortel, atau kangkung untuk dimakan. Tiap dagangan dari pedagang yang berbeda beralaskan meja kayu dan dipisah tiang penyangga atap. Mungkin sudah tiga puluh menit kami dahulu-mendahului mengambil sayur, hingga sedikit demi sedikit rinjing penuh dengan bahan persiapan selamatan methik nanti sore.

Sementara menunggu pedagang membungkuskan kembang boreh.  Mbah Uti menyapa nyaris tiap orang yang dijumpainya. Hal ini sudah kuantisipasi, bahwa Mbah Uti bisa dipastikan akan berlama-lama di pasar dibanding dengan waktu yang sejatinya kami butuhkan. Dahulu ketika masih kecil, aku akan merengek apabila Mbah Uti terlalu lama membuatku berdiri membawa belanjaan karena beliau asyik mengobrol dengan orang-orang. Aku ingin segera pulang dan bermain dengan Mas, juga Lintang. Namun, saat ini keadaannya justru berbalik, akulah yang sengaja memperpanjang obrolan supaya beliau tidak terburu-buru. Aku ingin sedikit lebih lama menikmati suasana yang telah lama kurindukan. Tersenyum sambil mengingat-ingat nama orang yang sedikit banyak terlupakan sejak aku lama tinggal di Yogyakarta. Otakku semacam telah terotomatisasi mengingat siapa yang berkesan saja.

Dari orang yang mengenalku, akan terlontar pertanyaan yang sudah kuantisipasi jawabannya jauh-jauh hari, seperti: sekarang tinggal di mana, kok sudah lama ndak kelihatan? (di Yogyakarta). Sekolah apa kerja? (Kerja). Sudah punya calon apa belum? (Sudah). Kapan diajak ke rumah? Lintang saja sudah mau menikah lagi, masa kamu kalah? (Hahaha, Bude bisa saja. Nanti kalau sudah siap saya ajak ke Blitar).

Siap yang kumaksud adalah siap materi, dan materi yang kumaksud adalah orangnya. Aku putus dengan pacarku sebulan lalu, tetapi yang ini tidak kujelaskan biar pembicaraan tetap datar dan tenang. Kalau saja ritme jantungku bisa kuatur demikian.

Bude yang tak kuingat namanya bergumam panjang. “Jangan kelamaan. Keburu layu bungamu, nanti lebahnya berubah pikiran. Ndak jadi menclok!

Aku hanya meringis. Tak berniat menanggapi. Biarlah bungaku layu, lebah jantan tetap akan mati berlabuh pada ratunya. Bunga-bunga hanyalah tempat singgah semata. Jika benar adanya bahwa aku sebuah bunga, peran lebah sejatinya tak lebih dari peran mak comblang atau penghulu di kantor urusan agama. Jika begitu kondisinya, kupikir penghulu manapun tetap akan menclok bila aku masih mampu menawarkan nektar. Dunia manusia lebih peduli pada status hubungan antara putik dan benang sari. Begitulah kemudian diaturnya arus angin buatan berupa nikah massal untuk membantu lebah-lebah melangsungkan perkawinan, sekalipun tak banyak nektar sebagai imbalan. Pikiran ini kutelan lagi bersama anggukan.

Seusai membayar, Mbah Uti menepuk lenganku dan berkata, “Ayo! Sudah makin terik, kasihan Lintang bekerja sendiri.”

Mbah Uti adalah orang paling tua dari garis keturunan keluarga ibuku. Kini berusia di akhir 60-an tahun, tetapi tubuh beliau masih gesit dan bugar. Sang suami–Mbah Kakung, yang jarak usianya jauh lebih tua sudah lebih dulu dipanggil Tuhan ketika aku masih kelas 4 SD. Kepergian Mbah Kakung meninggalkan tiga anak perempuan dan satu bungsu laki-laki, juga warisan beberapa petak sawah tak jauh dari rumah. Hingga kini Mbah Uti masih turut mengurus sawah, dengan bantuan tenaga dari tetangga yang seringkali menawarkan jadi buruh tani. Sementara, anak-anak beliau sibuk menggarap ladang dan sawah masing-masing, memilih untuk memberikan bantuan berupa benih dan menjualkan hasil panen.

Rumah Mbah Uti terletak di tengah-tengah persawahan di desa kecil dekat perbatasan Blitar-Malang. Terpisah dua dusun dari jalan raya, membuat lapisan aspal depan rumah beliau mulus oleh sebab tak banyak dilalui kendaraan. Sepanjang perjalanan ke rumah, kami diiringi suara kali kecil, gemerisik daun padi, dan deritan pelepah kelapa ditiup angin timur bulan Juli.

Saat masa panen seperti sekarang, dari pohon manggis samping rumah beliau selalu terjulur panjang rumput rafia berhias kantong plastik warna-warni bekas pakai, juga lonceng kaleng susu yang diisi kerikil. Sambung-menyambung melintang di atas tanaman padi, tertali pada bilah bambu yang ditancapkan pada sudut-sudut sawah. Setiap hari Mbah Uti akan duduk di balai, sesekali menarik tali tersebut ketika burung-burung kecil menghinggapi tangkai padi, atau ketika sedang bosan dan kesepian. Istilahnya tenguk-tenguk tunggu manuk. Tak jarang beliau kedapatan tertidur di sana sambil memangku Bonar si kucing rumah. Hal itu sudah menjadi semacam kebiasaan beliau sejak lama.

Sekilas aku terbayang Lintang dan diriku di masa kecil, berkolaborasi memoleskan bedak bayi dan lipstik ibunya ke wajah Mbah Uti yang tengah tidur. Lalu, beliau akan terbangun dan menyadari kenakalan kami.

Heyoh, ke sini kalian! Kurang ajar, kepala orang tua dibuat mainan.” Begitu hardik beliau sambil mengejar dan mengacungkan bilah pelepah kelapa kering. Bila tertangkap, kami akan dihukum untuk menghabiskan satu piring penuh makan siang. Lantas, kami biasanya tertidur oleh sebab kekenyangan.

Hukuman. Bila kupikir kembali sekarang, tak pantas kuanggap begitu sementara aku mengetahui banyak anak kurang beruntung yang mungkin akan mengharap hukuman yang demikian. Terkadang anak kurang beruntung itu aku tatkala kehabisan uang di kosan.

Saat kami sampai, dari atap dapur sudah berkepul asap. Bau gurih dari bumbu sambal goreng menguar ke seluruh penjuru rumah. Perutku memekik pelan, teringat bahwa ia belum kujejali apa-apa lagi selain dua buah pisang dan makanan ringan kemarin siang. Serta-merta tubuhku melemas, lantas kududukkan tubuhku pada dipan bambu tanpa melepas dahulu gendongan, mengundang tatapan sekian pasang mata dan laungan beberapa “loh" sepersekian sekon berikutnya. Aku meringis.

Selekas-lekasnya Ibu menghampiri dan memelukku erat. "Kapan sampai? Kok ndak mengabari orang rumah? Sendirian, toh?”

“Dua pagi tadi," jawabku setengah tertawa. Sebelah tangan Ibu cekatan melepas simpul jarik, memindahkan rinjing dari gendonganku ke dipan, lalu memelukku lagi. "Rencananya minggu depan, tapi ternyata kerjaanku bisa rampung lebih cepat. Jadi, langsung saja berangkat malam. Mau mengabari juga pasti sudah tidur semua.”

Mbah Uti membawa tompo berisi beras dari senthong untuk dicuci. “Batinku siapa kok todhog-todhog tengah malam. Memanggil-manggil ‘Mbah Uti, Mbah Uti ....’ Kupikir hantu. Sampai Lintang ngorok kubangunkan agar menemani membuka pintu.”

Lintang yang tengah memasukkan parutan kelapa dan cabe besar ke wajan untuk disangrai, ikut menimpali dari samping tungku. “Iya. Sampai kupikir ada gempa karena badanku terguncang-guncang."

Aku mengekeh, melepas pelukan Ibu.

“Bude sama bulik sehat?” tanyaku sembari bergantian mencium tangan Bude Wiji dan Bulik Melasti. Satu tangan masih berbalut parutan kelapa, satu lagi bekas mengulek bumbu kuning. Aku memeluk mereka. Jawaban pertanyaanku mewujud dua ciuman di pipi kanan-kiri.

Membaui dapur rumah beraroma asap kayu bakar dan rempah, sejenak membuatku nyaris menyuarakan niat berlama-lama liburan di desa. Sebelum lontaran sebuah pertanyaan menumbangkannya lagi ke dalam angan.

"Gimana, Na? Jodohnya sudah ketemu belum?” Asalnya dari Bude Wiji yang sibuk mengunyah cikalan. Pipi tembamnya kembang kempis.

Ibuku memprotes, "Kok kelapanya kamu makan terus to, Mbakyu? Santannya ndak cukup nanti.”

“Masih banyak ini loh, Nduk,” balasnya sambil melanjutkan memarut kelapa dan terus mengunyah. Atensinya kembali padaku. Bude Wiji mengedikkan dagu. Aku meringis.

“Kalau sudah ada ya diajak ke rumah …. Dikenalkan bapak ibu. Biar Mbah Utimu juga bisa lihat kamu menikah …,” katanya. “Tinggal kamu saja loh, Na. Mas Tio sama Mbak Ratih sudah punya anak dua, Mas Wildan sudah satu."

“Masmu malah sudah tiga anaknya.” Kali ini Bulik Melasti turut meramaikan.

Bude Wiji semakin bersemangat. “Si Lintang juga akhir tahun sudah mau menikah lagi. Untung cerainya masih muda dia, masih kinyis-kinyis. Jadi, cepat dapat suami baru. Kalau yang cerai sewaktu modelannya sudah kayak aku ya, wasalam."

Bulik Melasti melanjutkan, “Itu loh, Na. Anaknya Pak Banjir. Bulan lalu tiba-tiba datang melamar. Siapa namanya, Tang?"

Yang ditanya memalingkan muka, mengambil lengser di belakangnya. "Edo.”

Hawa dapur jadi makin panas dan pengap bagiku. Lintang menyerok serundeng penuh tekanan ke wajan, menghasilkan suara tajam gesekan logam. Aku mendesis.

Sekonyong-konyong kurasakan uap hangat mengembus di pipi, bertepatan dengan bau harum kuah daun salam menyeruak ke dalam hidung. Ibu tersenyum. Air ludahku seketika membanjiri lidah. Kuterima piring dari tangannya dan berterima kasih.

“Sana, makan di ruang depan. Habis itu bantu Ibu menggoreng apam,” pesan Ibu seraya membuka panci berisi fermentasi adonan tepung, gula, santan, dan tape singkong. “Santannya sudah jadi apa belum, Mbakyu? Kalau belum sego gurihnya dimasak sehabis ini saja, ya.”

Bude Wiji kembali bersungut. Aku menyingkir ke balai bawah naungan pohon manggis untuk menikmati sarapan–nasi putih dengan ayam bumbu kari. Manusia bila makan harus tenang supaya jadi daging, begitu kata Mbah Uti dahulu. Aku mengagak-agak apakah beliau mengingat itu.

Sekian menit kemudian, Lintang menyusulku dengan sepiring sarapan di tangan. Terkadang aku iri pada wajahnya yang selalu tampak menyungging senyum. Ia duduk memangku piring.

“Di dalam Bude Wiji sedang ribut karena kita makan di sini,” katanya sambil tertawa kecil. “Ndak ilok anak perempuan makan di luar rumah, katanya.”

Tentu saja, omelannya masih terdengar jelas dari sini. Aku menoleh. “Lalu, kenapa kamu malah ikut-ikutan?”

Lintang mengangkat bahu. “Ndak tahu."

Ia tertawa melihat kepalaku menggeleng refleks. Berikutnya, gemerisik dan kolentang yang mengisi hening. Kami membenamkan perhatian pada ayam kari dan hamparan padi yang menguning. Asap mengepul dari belakang kami, tersebar ditiup semilir angin memenjuru ke sawah. Berada di tingkat ketiga dari sungai, beberapa petani sudah mulai memanen padi mereka. Lintang bilang bahwa itu sawah Mak Tri, dan yang sedang mengarit di sana adalah anak-anaknya. Mereka selamatan kemarin.

Ia bertanya, "Mau tambah lauk tah, Mbak? Berkat dari Mak Tri masih banyak di bufet."

"Nggak, Tang. Ini saja cukup,” jawabku. "Kok masih banyak? Nggak langsung dihabiskan di sawah?”

Dahi Lintang berkerut. Maniknya menjurus ke arah sawah Mak Tri, sementara mulutnya tak istirahat mengunyah. Ia menggeleng. “Selamatan di rumah, Mbak. Orang-orang sudah ndak kayak dulu methiknya.”

Bahuku merosot. Tersadar sudah lama sekali sejak terakhir kali aku menyaksikan ritual ini.

Ingatan yang pertama kali terpancing ketika mendengar tentang ritual ubeng-ubeng adalah masa Lintang dan aku masih TK. Pada saat itu kami masih belum diizinkan membantu di dapur. Sebagai ganti, para perempuan dewasa akan meminta kami menjaga dan mengajak Rizal yang masih dua tahun bermain supaya ibunya—Bulik Ayu—bisa tenang memasak. Meskipun seringkali kami malah asyik bermain sendiri. Ibu akan memanggilku karena Rizal berulang kali kembali ke dapur.

Ketika sore menjelang, Mbah Uti akan meminta Mas Tio untuk menjemput Mbah Dharmo, sesepuh yang biasa membantu petani desa kami melakukan ritual methik. Baru-baru ini kutahu beliau telah meninggal. Lintang membagikannya di media sosial.

Mbah Dharmo datang menggunakan kemeja hijau belel berlengan pendek dan celana kain, dengan songkok yang telah pudar hitamnya terpapar sinar matahari. Bagiku kecil, keberadaan beliau selalu diselimuti bau harum dan hawa mistis yang dingin. Mbah Uti bilang bahwa sedari muda Mbak Dharmo memang pendiam. Membuka mulut kala tersenyum dan bicara hanya untuk menanggapi pertanyaan orang.

Ubeng-ubeng diawali dengan berdoa yang dilakukan oleh Mbah Dharmo sambil menyimpul beberapa helai padi pada tiap sudut bagian yang mau dipanen. Kemudian, sambil membawa upet berisi kemenyan yang dibakar, beliau akan berjalan memutari sawah ke arah kanan. Aku dan Lintang yang masih setinggi pinggang Mbah Dharmo mengikuti beliau dari belakang. Menyatukan telapak tangan di depan dada, sesekali cekikikan atau merapal mantra entah apa. Aku selalu terkekeh bila teringat.

Keesokkannya ketika matahari belum sepenuhnya terbit, Mbah Dharmo akan membakar upet lagi di bagian kanan sawah, meletakkan cok bakal, dan berdoa. Cok bakal ini berupa takir ini yang berisi kembang setaman, injet, kemiri, irisan kelapa, beras, telur mentah, kaca, sisir, kendi kecil, serta bawang merah dan cabai yang ditusuk menggunakan lidi.

Sekitar sewindu kemudian, pada proses yang sama percakapan terpanjangku dengan Mbah Dharmo terjadi. Aku protes soal mengapa orang-orang terus melakukan Methik. Jika mau bersyukur tinggal berdoa saja ketika sembahyang, tidak perlu repot masak banyak-banyak. Aku kesal sepulang sekolah masih diperintah, apalagi bila dibanding-bandingkan dengan Lintang.

“Kalau kamu mendapat kebaikan dari orang, kamu berterima kasih ke Gusti Allah saja atau ke orang yang mengasih juga?” tanya Mbah Dharmo.

Aku berjongkok di pojok pematang sawah, memperhatikan beliau menggulung daun pada padi pengantin yang baru dipetik. Sejenak keretek kemenyan pada upet yang terbakar mengisi hening.

“Sama orang yang mengasih juga,” jawabku.

“Nah, methik itu ya sama saja. Kita bisa bertani itu ya bukan hanya karena mbahmu tandur, lalu jadi padi. Ya ndak gitu. Ada yang namanya sedulur singkep. Methik itu selain untuk mewujudkan rasa syukur pada Gusti Allah, juga untuk berterima kasih pada siapa saja yang membantu mengantarkan rezeki ke mbahmu, dalam bentuk panen padi.” Beliau mengulurkan seikat padi pengantin padaku, kemudian merapal syair sambil menyiramkan air dari dalam kendi ke padi yang baru dipenggal. Lantas, kami berjalan ke tempat orang-orang akan berkumpul di pinggir sawah.

“Entah itu pada ekosistemnya, budayanya, tetangga. Pada yang mbahu rekso juga. Rasa syukur itu lebih jos kalau yang bikin kamu bersyukur tahu dan ikut merasakan,” lanjut beliau. “Kalau ndak ada laki-laki atau perempuan yang mau ngurus selamatan dan rewang memasak, ya rasa syukurnya mungkin ndak sampai. Mungkin besok-besok malah ndak ada yang meneruskan. Bisa-bisa budaya bersyukur kita dalam bertani jadi semata-mata karena cari untung.

“Orang yang cuma cari untung itu biasanya lapar terus, haus terus, sampai-sampai lupa bersyukur. Kamu tahu akhirnya bagaimana?”

Aku bergeming, tak berniat menjawab.

“Buntung!” Mbah Dharmo mengumbar senyum. “Wis ndak usah diambil hati kalau ada yang membanding-bandingkan. Manusia memang begitu. Yang penting kamu berusaha, kamu tahu di sana berniat membantu, gitu saja sudah jos-jis.”

Sementara para lelaki satu persatu membawa nasi tumpeng dan macam-macam hidangan bagian dari uborampe—sambal gebel, sayur keluih, urap, ingkung, dan rujak manis—ke pinggiran sawah. Para perempuan akan menggelar panjang daun pisang, menata nasi dan lauk pauk secara merata di seluruh sisi. Kemudian, Mbah Dharmo akan duduk memimpin doa bersama, di ujung barisan melingkar menghadap gelaran daun pisang. Doa sebelum kembul bejana akan disuarakan sedikit lantang. Dimulai dengan rasa syukur kepada Tuhan, lalu Nabi Muhammad, dilanjutkan terima kasih ke Dewi Sri dan Ki Sedana, Seh Sahluke, juga yang mbahu rekso. Doa untuk para leluhur yang sudah mewariskan pengetahuan bertani, dan terakhir doa keselamatan bagi keluarga yang akan melangsungkan panen juga masyarakat sekitar.

Baru ketika yang memimpin doa sudah mempersilahkan, kami akan bersama-sama menyentuh makanan. Aku ingat Mbah Dharmo selalu pamit tatkala kami mulai makan, Mbah Uti yang sudah paham kebiasaan tersebut biasanya sudah menyiapkan rantang untuk beliau bawa pulang.

Kembul bejana di pinggir sawah setelah ritual methik sudah semacam tradisi tahunan. Jumlah lembar daun pisang akan kian banyak dan terus memanjang seiring bertambahnya anggota keluarga Mbah Uti. Dapur semakin ramai, begitupula pekerjaan yang dikerjakan semakin sedikit. Seluruh anak, cucu, dan petani-petani sekitar akan duduk berkumpul di atas rumput-rumput setengah berembun, bersama-sama menuntaskan hidangan di bawah sinar hangat matahari pagi. Sejatinya, hanya pada saat seperti itulah perempuan diperbolehkan makan di luar rumah.

“Semenjak Mbah Dharmo meninggal, anak-anaknya yang merantau ke Jepang ndak mau pulang, jadi ndak ada yang meneruskan. Jadi, Pak Yadin yang menggantikan memimpin methik. Akan tetapi, beliau ndak mau ubeng-ubeng. Jadi, sekarang doanya ya di dalam rumah kayak gini saja.” Lintang menyogok mulut tumpu dengan kayu bakar, lalu meniupnya perlahan. “Sudah ndak jaman, katanya. Padahal bersyukurnya lebih terasa kalau ada ubeng-ubengan, kan?”

Aku mendengkus geli. Anak ini ….

Kami sedang memasak air untuk mengisi termos. Di dapur hanya ada kami berdua sebab semua orang tua ikut berdoa di ruang depan. Kebayaku sudah berganti kaos lengan pendek dan kulot sejak tadi siang. Sebadan-badan lembab sebab keringat. Aku kagum pada perempuan jaman dulu seperti Mbah Uti yang dapat beraktivitas dengan kebaya dan jarik panjang tanpa terganggu.

Bersamaan dengan Mbah Uti memanggilku, suara amin yang berat dan panjang dari ruang depan menandai akhir dari transmisi doa. Aku bergegas keluar dapur ke arah sumber suara. Menunggu lauk demi lauk selesai dibagikan, aku mengamati ruas jari dan ujung kukuku yang menguning. Mungkin benar ucapan Mbah Dharmo, ritual methik yang sudah kehilangan pakaiannya ini, akan hilang jiwanya bila perempuan tidak rewang memasak dan menghabiskan waktunya di dapur. Jiwa yang kumaksud adalah inti ritual methik sebagai wujud rasa syukur, dan wujud yang kumaksud adalah berbungkus-bungkus berkat yang kini telah di tangan orang-orang.

Perempuan-perempuan ini yang menentukan kapan api akan padam, begitu pula bagaimana doa harus disajikan. Sejenak hatiku terbakar memikirkan masa di mana yang sepuh sudah tidak bisa lagi melangsungkan tradisi selamatan. Sementara pemudanya banyak memilih untuk pergi cari makan ke kota, apa yang tersisa lima atau sepuluh tahun lagi di sini?

Sore itu, sepercik rasa puas hanya mampu menggelitik hatiku, berlanjut miris berkepanjangan yang sulit dijelaskan. Aku harus apa?

 

 

__________________________________________

Tentang Penulis: Lidia Mauli merupakan mojang kelahiran Blitar, Mei 2004. Saat ini sibuk menjalani tugas sebagai mahasiswa Sastra Inggris di salah satu universitas di Surabaya. Selain sebagai bentuk selebrasi kebebasan berpikir, melalui tulisan ini dia berharap mampu menerjemahkan memori kolektif yang menghubungkan peran perempuan dan ritual agraris di tanah kelahiran dalam pergeserannya di tengah arus modernisasi.

---

Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com 





0 Komentar