Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

JELANGKUNG DAN HANTU-HANTU LAIN KESUSASTRAAN, OLEH JH. TANUJAYA

 

Ilustrasi: Piwi/Arkalitera

Pertama, izinkan saya mengucapkan rasa duka sedalam-dalamnya atas kepergian Prof Nik Rakib Nik Hassan, salah satu kurator Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV. Semoga amal ibadahnya mendapat tempat terbaik di sisi-Nya. Aamiin.

Ketika pengumuman peserta yang lolos kurasi PPN XIV rilis di media sosial, jagad maya disuguhkan dua perspektif primer. Kelompok pertama adalah mereka yang lolos kurasi, bersyukur, memposting ulang flyer pengumuman, dan berharap bisa menginjakkan kaki ke Aceh. Sedangkan kelompok kedua ada pada ruang kritik tentang PPN XIV yang bahkan belum terlaksana.

Ada lagi kelompok sekunder. Mereka menyampaikan kritik minor dan disamarkan tentang proses kurasi festival sastra, kurasi lomba, juri lomba dan kurator yang tidak secara eksplisit mengkritisi PPN XIV. Tapi, tampaknya siapapun yang bergelut dalam dunia sastra dapat menebak dan mengarahkan pemikiran bahwa festival sastra sedang dikritisi. PPN sedang jadi objek yang disorot, entah dengan puisi, kalimat singkat di postingan Facebook, story Whatsapp, atau dalam diskusi tatap muka.

Pada tanggal 1 Juni 2026, sahabat saya Muhammad Daffa yang lolos kurasi PPN XIV memposting flyer PPN XIV yang telah diedit. Frasa ‘Panggilan Terbuka’ diubah jadi ‘Panggilan Jelangkung’. Flyer satire itu ternyata berseliweran di media sosial terutama facebook dan mengarahkan saya pada catatan sastrawan Doddi Ahmad Fauzi di laman Facebook-nya berjudul ‘Pertemuan Jelangkung’. Meski tak lama berselang, flyer itu ditarik oleh Kang Doddi diikuti permintaan maaf pada penyelenggara PPN XIV.  

Sejujurnya, sebagai penulis yang tak lolos kurasi, saya menunggu satu hal sebelum membuat tulisan ini: Perspektif dari penulis yang puisinya lolos kurasi. Setelah penantian yang cukup menyiksa, akhirnya Muhammad Subhan—founder Sekolah Menulis Elipsis—menuliskannya dari perspektif yang saya inginkan tersebut.

Inti dari tulisan Muhammad Subhan menyoroti empat hal. Pertama, jika tidak ada festival, di mana karya-karya akan berdiri hari ini? Kedua, sastra hidup dalam pertemuan yang berulang. Ketiga, jika tidak ada kurasi sastra akan jatuh pada anarki kreativitas. Keempat, jika tidak ingin berhadir dalam pertemuan sastra tak usah mengirimkan naskah, dan jika ingin diongkosi dan dihonor, tingkatkanlah kualitas diri.

Saya menunggu ada pengirim yang lolos kurasi PPN XIV lain menuliskan catatan serupa: tulisan panjang, esai, atau apapun nanti kita akan menyebutnya—terutama para penulis dari daerah saya, Kalimantan Selatan. Sebab menurut keyakinan saya, sastra yang baik adalah sastra yang berdialog dan ramai, sekalipun para penulis dan penikmat sastra berjalan dalam ruang yang sunyi. Karena itu akan sangat baik jika kritik lahir dalam sebuah ulasan dan permenungan, seperti yang dilakukan Doddi Ahmad Fauzi dan Muhammad Subhan, bukan sekadar ngedumel di ruang singkat status media sosial.

Dengan alasan itu, saya angkat topi pada keduanya, Doddi Ahmad Fauzi dan Muhammad Subhan. Karena mereka menuliskan apa; mengapa; kapan; bagaimana; dan di mana pada kritik yang keduanya tulis. Hal ini akan menjadi warisan penting untuk generasi mendatang, terutama para penulis muda dan pemula.

Jika menilik lebih jauh, kritik Kang Doddi dan ulasan Bang Subhan berada pada dua sisi berseberangan. Bang Subhan menulis rasa hormatnya pada kritik Kang Doddi, tapi menganggapnya subjektif, tendensius dan terburu-buru menyematkan istilah ‘Pertemuan Jelangkung’. Sementara, kritik Kang Doddi dalam catatannya itu adalah tolak ukur dari penyelenggaraan festival sastra, bahwa masih banyak yang harus dibenahi dan diperbaiki.

Sedangkan saya melihat bahwa perkembangan sastra mengalami keterbatasan ruang, wadah dan informasi. Kalau tidak dibenahi, di masa depan kritik-kritik serupa pada penyelenggaraan festival sastra akan terus ada dan tidak berkesudahan.

Terlepas dari segala polemik yang ada, saya setuju dengan Subhan bahwa harus ada panggung untuk karya sastra. Terlebih saat surat kabar harian sudah membatasi kolom untuk penulis menayangkan karyanya. Media online juga memiliki keterbatasan ruang. Lomba-lomba menulis dan antologi bersama juga terbatas pada hadiah, jumlah halaman, dan oplah buku. Itu juga yang menjadi alasan banyak penulis mengirimkan karyanya ke festival sastra, lomba dan/atau antologi bersama.

Kang Doddi mengomentari tentang pendapat ‘yang penting lolos dulu, berangkat urusan nanti’.

Di Sanggar Kindai Seni Kreatif, jauh sebelum pengumuman dan kritik terhadap PPN mengalir deras, bersama dengan Ali Syamsyudin Arsi dan Budi ‘Dayak’ Kurniawan, saya mengungkapkan hal yang sedikit berbeda dengan pendapat itu. Bagi saya bukan hanya yang penting lolos dulu, tapi yang penting kirim dulu naskahnya. Sebagai sarana mengukur batas dan aktualisasi diri, dan selanjutnya evaluasi serta peningkatan kompetensi.

Tapi tentu saja saya ingin mengucapkan terima kasih kepada Kang Doddi, karena enggan bersaing dengan penulis baru dan ingin memberi karpet merah bagi para pemula untuk berkibar. Meskipun, menurut saya, dengan segala kerendahan hati, justru persaingan itu yang kami perlukan. Tidak semua penyair memiliki kemudahan mendapat ruang karena diberi warisan dari generasi terdahulu. Ada yang benar-benar harus memulai dari bawah dan tidak semuanya juga langsung diterima dan mendapat tempat.

Festival sastra dapat memberikan ruang yang lebih banyak, meski juga dengan segala keterbatasannya. Bulan lalu, ada Residensi Wabul Sawi di Kalimantan Selatan. Saya adalah salah satu pengirim yang, lagi-lagi, tak lolos kurasi. Tidak masalah. Saya ingat momen ketika saya dan Rafii Syihab—yang terpilih sebagai satu dari sekian promising writers pada festival itu—cukup terkejut ketika mendapati beberapa nama terkenal ikut memposting ulang flyer sebagai syarat mengikuti festival. Kami memang tidak tahu apakah akhirnya mereka benar-benar mengirimkan karya cerpennya atau tidak. Yang jelas mereka melakukan salah satu syaratnya. Sesuatu yang tidak membuat nama-nama besar itu ujug-ujug mengecil kendati tidak terpilih sebagai peserta, atau membuat kami merasa tak adil sebab mereka yang telah melalang-buana dalam dunia sastra turut serta di festival yang sama.

Tak sama sekali.

Kali lain saya juga pernah bersaing dengan Isbedy Stiawan ZS, Mashdar Zainal dan Faris al-Faisal di Lomba Cipta Cerpen HUT ke-490 Kota Indramayu Tahun 2017 dan sama-sama lolos kurasi. Berikutnya di Sayembara Hari Puisi 2019, saya bersaing dengan Acep Zam-zam Noor. Ia melaju lebih jauh, masuk 50 besar kalau saya tidak salah.

Begitulah ruang sastra yang dibuka sebanyak-banyaknya. Jika terjadi 4L … lo lagi … lo lagi seperti kata Kang Doddi, maka sebaiknya 4L itu diartikan jadi lama-lama lolos lah. Frasa itu akan memberi motivasi. Ya, para penulis muda, pemula dan baru butuh itu. Sekadar bisa satu buku dengan Maman S Mahayana, Sutardji Calzoum Bachri, atau lolos di ajang yang sama seperti PPN Aceh dengan nama Isbedy Setiawan ZS dan Gol A Gong adalah sebuah motivasi besar untuk terus berkarya dan menulis. Jujur saja saya yang tak lolos kurasi PPN merindukannya.

Persaingan dalam sastra dan dunia sastra tidak menciptakan kemunduran. Meski tak boleh juga kita menutup mata. Selalu harus ada evaluasi dan pembenahan, misalnya hal-hal fundamental seperti ini:

Dalam proses pemberitahuan informasi PPN XIV panitia membuat akun tiktok dan Instagram baru. Padahal pertemuan ini sudah kali keempat belas. Seharusnya ada kesinambungan, sehingga wadah yang telah ada itu hingga terus memiliki keterkaitan dan koherensi dari waktu ke waktu. Bukan memulai lagi dari nol. Bayangkan, sudah tahun ke-14 tapi tidak ada keberlanjutan dari sisi sistem. Hal inilah yang akan memunculkan kritik tak berujung terhadap pelaksanaan sebuah festival sastra.

Gaung media sosial yang terus koheren itu pada gilirannya akan terus menambah jumlah para penulis dan penikmat sastra. Bagaimana bisa akun baru dapat menjangkau banyak penulis dalam waktu singkat? Mungkin bisa jika harus meminta bantuan figur publik seperti Raditya Dika, Asma Nadia atau Fiersa Besari, para penulis yang memiliki fanbase yang kuat.

Algoritma dengan penyertaan hashtag atau para penulis wajib follow akun baru dan memposting ulang flyer lalu menandai akun penyelenggaran tidak selalu efektif. Kita dapat melihatnya dari masa batas waktu pengiriman naskah PPN XIV yang diperpanjang hingga 18 Mei 2026. Menurut panitia alasan penambahan waktu karena banyaknya permintaan dari peserta. Ini wajar, karena pada tenggat waktu 15 Mei akan banyak penulis yang mengirimkan tulisan di dekat batas akhir (sudah jadi kebiasaan dan hal lumrah). Di saat itu pula hashtag, penandaan (tag), dan posting ulang akan memenuhi ruang maya. Akan terjadi, para penulis yang sebelumnya tidak tahu informasi baru melihat gaung ini pada keesokan harinya setelah tenggat waktu. Sudah biasa kita melihat komentar seperti ini ‘telat lihat infonya, gak bisa ikut’, ‘boleh kali ada perpanjangan waktu’, ‘maaf, saya mengirim di dekat waktu akhir dan ada masalah jaringan, email tidak bisa terkirim’.

Festival sastra sebagai panggung sudah hadir, tapi gerbang tidak dibuka seluas-luasnya. Bukan karena keinginan panitia, tapi semata-mata adalah tidak adanya keberlanjutan.

Meskipun tentu saja saya mengapresiasi setinggi-tingginya panitia PPN XIV. Pelaksanaan acara berlangsung dari 22-29 Juni 2026. Berarti sejak 21 Juni atau bahkan sebelum tanggal itu, panitia sudah disibukkan dengan kedatangan peserta dari 14 negara, dan kesibukkan itu berlanjut setelah tanggal 29 Juni. Bisa jadi 30 Juni semua sudah beres, atau justru memasuki bulan Juli panitia masih disibukkan ini dan itu.

Semua akomodasi peserta PPN selama di Aceh ditanggung panitia. Jadi tanpa honor dan diongkosi toh masih diberi konsumsi dan diantar sana-sini. Nikmat mana yang kau dustakan?

PPN dan festival sastra apapun bisa memuaskan, bisa pula tidak. Ruang kritik akan selalu terbuka dalam konteks, substansi dan substansi retorika yang tepat. Seperti kata Kang Doddi dalam catatannya, setelah festival sastra akan apa dan mau ke mana, atau istilah yang biasa dipakai kawan-kawan setelah pulang dari festival sastra dan kegiatan di tingkat nasional: berbagi oleh-oleh.

Oleh-oleh tersebut dapat berisi pengetahuan baru, manajerial pelaksanaan event, teknik menulis, dan produk karya sastra. Hindari pergi, pulang dan tak berbagi. Perhelatan besar seperti festival sastra juga harus memberikan dampak pada masyarakat sekitar, minimal jadi banyak yang membaca dan melek literasi.

Saya meyakini festival sastra bukan sekadar arisan silaturahmi. Festival sastra adalah ruang bertumbuh dan berkarya, dari hulu ke hilir. Saya pribadi merindukan pertemuan antara tiga kelompok: Angkatan 70an hingga 2000an, angkatan penulis aplikasi online (KBM, Fizzo, Wattpad, dll), dan angkatan penulis event (lomba dan antologi bersama). Selain untuk saling mengenal, juga untuk pertukaran wawasan kesusastraan, melestarikan bersama sastra dan budaya Indonesia.

Terakhir untuk PPN, jika disebut pertemuan jelangkung, panitia PPN tak akan memberi makan dan mengantar jelangkung ke mana-mana. Saya yakin juga tidak akan ada diskusi dan perbincangan dengan para jelangkung. Siapa juga yang berani sembarangan bicara dengan jelangkung? Bisa-bisa jelangkung menulis angka keramat.

Sementara jika menyebut PPN sebagai panggung berkarya, gerbang utama belum dibuka dengan baik sebagai sebuah pesta rakyat, di mana semua dapat hadir dan memberi dampak.

Saya akan mengakhiri tulisan ini dengan meminjam penyebutan ‘jelangkung’ oleh Kang Doddi dan ‘hantu’ di cerita silat Wiro Sableng karya Bastian Tito. Mereka yang datang ke PPN XIV memang bukan jelangkung, tapi jangan sampai menjadi manusia-manusia biasa. Sastra selalu bergerak dan dinamis oleh siapa saja yang berani menjadi ‘hantu’: membelokkan kemapanan, memperbaiki kebiasaan, dan melahirkan jalan yang baru. Persoalannya kemudian, bagaimana cara memahami, berteman dan berkumpul dengan hantu-hantu? Sedangkan hanya Wiro Sableng yang mampu beradu kesaktian dengan Hantu Muka Dua dan Hantu Selaksa Angin.

Semoga Wiro segera mewariskan Kitab Wasiat Dewa ….


____________________________________________

Tentang penulis: JH. Tanujaya, esai dan opininya pernah dimuat di Banjarmasin Post dan Mirifica.net. Puisi, pantun, fiksi mini dan cerpennya termuat dalam belasan antologi. Telah menerbitkan tiga kumpulan puisi tunggal, Gadis di Rembang Petang (2017), Doa Seorang Koruptor (2019), dan Konserto Sudut Pandang (2025).

____________________________________________

Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar