Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

E-BOOK GRATIS: SEBELUM SURAT-SURAT DARI JALAN WIHELMINA

Ilustrasi: Piwi/Arkalitera


“Jadi kepada siapa pun yang berani membukukan puisinya, kita pantas angkat topi.”

Kalimat itu ditulis M. Nahdiansyah Abdi dalam pengantar Puisi dan Legitimasi untuk mengawali pembicaraannya tentang Surat-surat dari Jalan Wilhelmina. Baginya, membukukan puisi bukan sekadar mengumpulkan karya, melainkan salah satu langkah paling penting dalam perjalanan seorang penyair.

Melalui buku ini, Muh. Irwan Aprialdy menghimpun puisi-puisi yang ditulis selama kurun waktu 2011–2026. Rentang lima belas tahun tersebut memperlihatkan perkembangan estetik sekaligus pergulatan seorang penyair dalam membaca dirinya, keluarganya, kotanya, hingga persoalan identitas dan kebangsaan.

Dalam pengantarnya, Nahdiansyah mencatat bahwa puisi yang menjadi judul buku ini menghadirkan sesuatu yang jarang ditemukan dalam puisi Indonesia mutakhir: benturan antara warisan genetik, sejarah, kebudayaan, dan identitas yang dipotret melalui relasi seorang anak dengan ibu, kota, dan bangsanya.

Selain menghimpun puisi-puisi pilihan, Surat-surat dari Jalan Wilhelmina juga memuat ilustrasi karya Muh. Irwan Aprialdy yang menjadi bagian dari pengalaman membaca buku ini.

Selama masa pre-order, kami juga menyediakan mini e-book puisi karya Muh. Irwan Aprialdy yang dapat diunduh secara gratis oleh siapa saja, baik yang telah memesan buku maupun yang baru ingin mengenal karya-karyanya.

Silakan download gratis e-booknya di sini.

Surat-surat dari Jalan Wilhelmina dapat dimiliki dengan harga pre-order Rp75.000. Setiap pembeli selama periode pre-order akan memperoleh tanda tangan penulis, gantungan kunci eksklusif, dan pembatas buku sebagai pelengkap edisi pemesanan awal.

Pesan sekarang melalui WhatsApp atau Shopee.

0 Komentar