Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

BELANG ABU-ABU, CERPEN DANISIRANG

 

Ilustrasi: Piwi/Arkalitera

Belang berjalan pelan sambil menjinjitkan satu kaki belakangnya yang sakit. Nafasnya terengah-engah dan pandangannya sedikit samar. Ia sama sekali tak menyangka bahwa terkena peluru senapan angin bisa sangat menyakitkan. Juga yang paling membuatnya bingung, mengapa seorang pria bertubuh gemuk tiba-tiba menjadikan Ia dan kawannya sebagai sasaran tembak. Belang terus berjalan hingga berhenti di sebuah meja kecil rusak dekat sebuah tempat sampah di pinggir jalan raya. Ia meringkuk di bawah meja itu, mencoba bertahan untuk tetap hidup.

Hei, Belang! Di rumahku ada anak baru loh, sangat cantik, bulunya lebat dan wajahnya imut!” teriak Oren ketika melihat Belang berjalan depan rumahnya. Ia terlihat begitu bersemangat untuk memamerkan pasangan barunya. 

Cihh, aku tak peduli dengan kucing ras seperti mereka!”

Ahhh, kau sama sekali tidak menyenangkan diajak bercanda!”

Hei, bukannya kau harus berhati-hati, Ren? Kau bisa saja dibuang hanya karena kau kucing kampung!” 

“Tidak, tidak, mereka tak mungkin membuangku!”

“Baguslah jika begitu, sampai jumpa!” kata Belang melompat dari atas pagar rumah Oren. Seorang anak yang sedang belajar di atas lantai 2 rumah mendengar percakapan mereka. “Dasar kucing, setiap kali bertemu selalu saja saling mengeong dengan keras!” gumamnya.

Di sebuah gang sempit─tepat beberapa meter dari rumah Oren─Belang bertemu dengan Abu. Ia terlihat kurus dan bulu-bulunya kusam seperti abu gosok. “Hei, Belang! Apa kau ada makanan buatku?” tanya Abu semangat. Ia terlihat lapar dan penuh harap. 

“Maaf, Bu! Aku pun tak punya makanan, karena itu aku berjalan-jalan di sekitar sini mencari makan,” sahut Belang. “Bagaimana kalau kita mencari makan di tempat sampah sudut sekolah sana?” tambahnya.

“Kau yakin? Kurasa di sana tidak aman!”

“Maksudmu?”

“Apa kau tidak tahu, sehari yang lalu di sana Hitam mati dengan luka senapan di kepalanya!”

“Apa? Yang benar kau, Bu?” tanya Belang bergerak cepat ke arah Abu. Seorang wanita kupu-kupu malam yang melintas dekat mereka cukup kaget dengan suara Belang. “Kucing jalanan selalu saja bertengkar!” gumamnya.

“Iya, benar!” 

“Pasti ini ulah manusia, mereka selalu saja menganggap kucing kampung seperti kita adalah hama. Bahkan mereka mengadopsi kucing dari negeri lain hanya karena menurut mereka kita kurang lucu!”

“Bukankah itu sudah sifat manusia? Jangankan kucing, mereka juga membeda-bedakan manusia lain dari warna kulit, rambut dan matanya,” 

“Kau benar, Bu!”

“BRAKKK!” tiba-tiba sebuah kayu mendarat keras di dekat mereka. Seorang pria kurus terlihat dari kejauhan, Ia merasa risih dengan suara kedua kucing itu. “Dasar hama, ribut sekali malam-malam!” teriaknya dari depan teras rumahnya. Kaget sekaligus ketakutan, Belang dan Abu berlari sekuat tenaga menjauh. Mereka melompat ke atas sebuah pagar dan berlari dari teras ke teras rumah penduduk. Tak lama, mereka sampai di sebuah sekolah dasar. Belang memasuki celah pagar menuju sudut sekolah itu: lokasi tempat sampah yang mereka bicarakan sebelumnya. Abu mengikuti Belang dari belakang dengan cemas.

“Lang, bukankah kita tak seharusnya ke sini?”

“Kenapa, kau takut?”

“Bukan begitu!” 

“Lihat saja, akan kubalas manusia yang membunuh Hitam!” kata Belang dengan marah. Sejak dahulu Ia memang sangat membenci manusia. Belang tak terima terhadap perlakuan buruk manusia kepada kucing kampung seperti mereka. Bahkan, Ia hidup di jalan karena dibuang pemiliknya yang ingin memelihara kucing lucu berkaki pendek dari negara yang katanya memiliki empat musim. Itulah sebabnya, Belang muak dan marah setiap kali melihat manusia memelihara kucing dari luar negeri. Baginya, itu seperti dikhianati rekan setanah air. Makanya, Belang merasa tak bisa tinggal diam jika Hitam─salah satu sahabatnya─dibunuh oleh manusia. 

Beberapa saat kemudian, mereka sampai di sudut sekolah. Terlihat di sana sebuah tempat sampah besar berbentuk persegi yang sisi-sisinya terbuat dari tembok bata. Belang berjalan mendekati tempat sampah itu. Dua ekor tikus seketika berhamburan pergi mengetahui kehadirannya. Persis ketika Belang berada di tengah-tengah tempat sampah, cahaya bulan perlahan menyinari. “Makanan, akhirnya!” teriak Abu menghambur ke sudut tempat sampah. Di sana mereka menemukan tulang belulang ikan. Belang sejenak lupa dengan tujuannya ke tempat sampah itu. Mereka pun makan dengan lahap seperti sedang makan wiskas mahal.

Di tengah suasana menyenangkan itu, mata Belang menangkap sesosok bayangan dari jendela rumah di seberang sekolah. Bayangan manusia itu terlihat mengamati mereka. Belang lantas menyadari keanehan bayangan manusia itu. Seperti seseorang yang memegang balok kayu yang diarahkan pada mereka. “Senapan!” teriak Belang seketika. Sayangnya Ia terlambat memberi peringatan. Sekejap mata kepala Abu terkena tembakan senapan angin. Ia meringis kesakitan dan melompat. Setelah itu tak bergerak lagi. 

Belang yang marah memanjat pagar sekolah dan melompat ke arah jendela rumah manusia yang memegang senapan. Ia berhasil mendarat tepat di wajah manusia tadi dan mencakarnya dengan keras. Pria berbadan gemuk yang memegang senapan kaget dengan kucing yang menyerangnya. Ia memukul kucing berwarna belang hitam itu hingga terjatuh ke selokan tepat di pinggir pagar sekolah. Tak puas, pria gemuk tadi melepaskan tembakan ke arah kucing itu. Ia mengenainya tepat di sekitar perutnya. “Sial, masih hidup!” ucapnya melihat kucing belang tadi berhasil kabur dengan masuk ke dalam selokan. 

Sehari setelahnya dua ekor kucing ditemukan warga mati dengan luka senapan. Kucing berwarna abu-abu kusam ditemukan di tempat sampah sekolah dengan luka tembak di bagian kepalanya. Sementara itu, seekor kucing lainnya yang berwarna putih dengan belang hitam ditemukan mati di bawah sebuah meja rusak dekat tempat sampah di pinggir jalan kota. Kucing itu mati dengan luka senapan di bagian perut yang menembus ke kaki belakangnya.

Kejadian ini menjadi pusat perhatian terutama oleh komunitas pecinta hewan. Mereka melakukan penyelidikan terhadap pelaku penembakan kucing-kucing liar itu. Sebulan kemudian, pria gemuk yang menembak Belang berhasil ditangkap. Komunitas pecinta hewan berhasil mengetahui bahwa satu-satunya orang yang memiliki senapan angin di lingkungan tersebut adalah pria gemuk itu. Mereka juga curiga dengan luka bekas cakaran kucing di wajah pria itu karena Ia tak memelihara kucing ataupun hewan lainnya. Setelah diperiksa polisi, akhirnya pria gemuk itu mengaku sebagai pelakunya. Dia pun ditangkap dengan tuduhan kekerasan terhadap hewan. 

“Kenapa kau membunuh kucing-kucing liar itu?”

“Mereka hanya hama, tidak ada yang menginginkan mereka. Aku hanya membantu mereka cepat mati, daripada kelaparan di jalan!”

“Mereka juga mahluk hidup, kau tidak punya hak memutuskan!” 

“Aku hanya kasihan pada mereka, orang-orang hanya ingin memelihara kucing berbulu lebat, berkaki pendek atau berwajah lucu. Apa salahnya membantu mereka mati lebih cepat?”

“Meksipun begitu, kau tidak punya hak memutuskan mereka layak hidup atau tidak!” teriak seorang perempun pecinta hewan di tengah sidang. Hakim dan jaksa mengangguk setuju dengannya. 

Masyarakat yang mengikuti perkembangan kasus pembunuhan terhadap kucing-kucing kampung liar dengan senapan angin terbelah menjadi dua: pro dan kontra. Sebagian masyarakat menganggap tindakan membunuh kucing-kucing itu kejam dan dapat mengganggu ekosistem karena membuat populasi tikus menjadi tidak terkendali. Adapun sebagian lainnya mengatakan bahwa tindakan komunitas pecinta hewan terlalu berlebihan hanya untuk beberapa ekor kucing kampung liar yang mati. Mereka menganggap membunuh satu dua ekor kucing tidak akan berpengaruh banyak pada ekosistem, lagipula kucing-kucing itu cukup meresahkan karena sering mencuri makanan dan tetap berpeluang menyebarkan penyakit seperti rabies. Namun, terlepas dari alasan-alasan tersebut, apakah manusia memang berhak memutuskan hidup atau matinya mahluk lain dengan senjata di tangannya?


_____________________________________

Tentang Penulis: Danisirang adalah nama pena Ali Wardani, yang lahir di Panyurak pada 3 Oktober 1996. Ia bekerja sebagai Editor Jurnal Al-Mashrafiyah UIN Alauddin Makassar. Pada 2024, ia meraih Juara III Lomba Menulis Cerpen Festival Literasi Massenrempulu yang diselenggarakan oleh Dinas Kepustakaan dan Kearsipan Kabupaten Enrekang. Ia aktif menulis karya sastra, terutama cerpen.

---
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com



0 Komentar