![]() |
| Ilustrasi: Piwi/Arkalitera |
“Sastra menambah realitas, ia tidak sekadar
menggambarkannya
Sastra memperkaya kompetensi yang dibutuhkan dan
disediakan oleh kehidupan sehari-hari”
C. S. Lewis
Dunia masa kini sangat fokus
pada integrasi Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI) yang
berbasis digital, dan pengembangan soft skills demi menjawab tantangan revolusi
industri di abad-21. Walau bagaimanapun dunia begitu majunya tetap kehadiran
pendidik tak dapat bisa dipisahkan dari sebuah pendidikan yang menuntut
generasi di masa kini dan nanti lebih kolaboratif dan menuntut pemikiran
kritis. Sebab dunia pendidikan lebih terbuka dan terlampau bebas diakses di
masa sekarang ini.
Sastra yang merupakan
penyampaian gagasan, emosi, imajinasi, dan tealitas kehidupan manusia melalui
kuasa tulisan dan bacaan terus relevan untuk tetap diterapkan dalam dunia
pendidikan yang tak hanya berguna untuk hiburan melainkan juga edukasi.
Sehingga untuk mengetahui
bagaimana metode pendidikan maupun pengajaran itu bekerja pada sebuah teks
kreatif yang dalam sastra utamanya puisi, maka kita membutuhkan sebuah analisis
terperinci melalui kajian pedagogi (pedagogik).
Pedagogi
merupakan sebuah istilah yang kerap kali digunakan dalam dunia pendidikan,
diserap dari kata bahasa latin 'pedagogi’ yaitu cara pengajar atau
kegiatan belajar mengajar, sedangkan pedagogis dari kata latin ‘pedagogos’
yang artinya ilmu mengajar, keduanya saling berkaitan erat sehingga susah untuk
dipisahkan. sedangkan menurut KBBI maupun PEUBI mengartikan pedagogi sebagai
ilmu pendidikan atau ilmu pengajaran. Sehingga sangat penting pedagogi dapat
dikuasai oleh para pendidik dalam lingkungan intern maupun formal.
Dilangsir
dari sejarahnya, pedagogi lahir dari peran ‘guru’ atau pendidik sejak Yunani
Kuno dengan Socrates pada abad ke-5 SM sebagai landasan hingga sekarang yang
dianggap sebagai pendidikan modern. Peran pendidik telah berkembang sejak zaman
tersebut ketika budak akan menemani anak-anak sekolah sementara tuan mereka
bekerja. Sehingga profesi pendidik tumbuh dari sana yang menjadikannya sebuah
pedagogi.
Menurut
Suwarno, pedagogi pendidikan menekankan praktek pedagogis (pengajaran) dalam
hal ini terkait erat dalam pendekatan pendidikan dan bimbingan anak. Sementara
itu menurut Suwarno pula rasa pedagogi merupakan suatu teori yang menyeluruh,
objektif, dan tegas dalam rangka mengembangkan konsep sifat manusia, subtansi
anak, dan sifat tujuan pendidikan itu sendiri.
Tujuan
utama dari sebuah metode analisis pedagogi menurut Kurniasih ialah memanusiakan
manusia, dan menjadikan seseorang menjadi dewasa untuk kebahagiaannya dalam
menjalani kehidupan di masa yang akan datang dan menjadikan seseorang menjalani
hidup dengan bahagia. Dengan kata lain bahwa pedagogi sebagai hakikat
pendidikan sendiri sebagai pengubah dalam kehidupan dan diharapkan mampu
mengembangkan potensi diri.
Kemudian bagaimana pedagogis
pada seorang pendidik dapat bekerja maksimal, salah satunya mengajarkan dan
menitipkan pesan baik melalui puisi. Bertujuan untuk pengajaran, penganalisis,
serta mengapresiasi puisi terhadap peserta didik hingga mampu memahami makna
mendalam, mengasah kepekaan estetika, membangun karakter, serta penerapan dalam
keseharian hingga menjadi manusia yang bermoral dalam lingkungannya.
Ibramsyah Amandit berjuluk Sang Penyair Janggut Naga dari Tamban,
Kabupaten Barito Kuala, Provinsi Kalimantan Selatan. Merupakan seorang penyair
beraliran sufistik kelahiran Desa Tabihi Kanan, Kelurahan Karang Jawa,
Kecamatan Padang Batung, Kandangan, Kabupaten Hulu Sungai Selatan pada 9
Agustus 1943. Menempuh pendidikan (1949-1950) di Sekolah Rakyat Desa Tabihi
Kiri dan di Karang Jawa (1 tahun), lalu ke Sekolah Rakyat (SR) 6 tahun di
Tamban (1957), dilanjutkan ke Sekolah Menengah Islam Pertama (SMIP) di Banjarmasin
(1961), Madrasah Menengah Tinggi-Yogyakarta (1965) dan FKIS, Jurusan Ilmu
Administrasi, IKIP Negeri Yogyakarta, sampai tingkat sarjana muda (1971).
Mengaku menulis puisi sejak 1970 dengan bergabung dan lesehan mendengarkan
pembacaan puisi oleh penulis Insani dan para penyair Persada Studi Klub (PSK)
pimpinan “Presiden Malioboro” Umbu Landu Paranggi.
Hingga Ibramsyah Amandit kembali ke Kalimantan Selatan di tahun 1972,
terus menulis dan membacakan puisi di acara Untaian Mutiara Sekitar Ilmu dan
Seni RRI Banjarmasin, asuhan Hijaz Yamani. Karyanya banyak terhimpun di
berbagai media cetak (antologi puisi dan koran) di Indonesia. Karya kumpulan
puisi tunggalnya antara lain: Badai Gurun dalam Darah (2009), Tikar
Pandan (2013), Emperan Tuhan (2017), Iqra bi Ibra (2020) dan 505
Kasturi Takrir Hikmah (2025).
Atas dedikasinya, ia pernah mendapat beberapa penghargaan
dari pemerintah, antara lain; Penghargaan Seniman Sastra dari Bupati Barito
Kuala (2006), Penghargaan Pemerhati Bidang Sastra dari Bupati Barito
Kuala (2009), Penghargaan Seniman Sastra dari Gubernur Kalimantan
Selatan (2009), Penghargaan Pembina dan Mengembangkan Seni Budaya di
Barito Kuala dari Bupati Barito Kuala (2011), Penghargaan dari Walikota
Banjarbaru (2013), Anugerah Astaprana atas jasa dan dedikasinya dalam
pelestarian dan pengembangan kebudayaan Banjar dari Darjah Kebesaran Kesultanan
Banjar (2013), Anugerah Seni dan Budaya Kalimantan Selatan bidang Sastra
(Tradisi & Kontemporer) oleh Gubernur Kalimantan Selatan (2023), dan Apresiasi
50 Tahun Berkarya dari Pengembangan dan Pembinaan Bahasa dari Pemerintah
Republik Indonesia Melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan
Teknologi (Kemendikbudristek) (2025).
Dalam salah satu puisi Ibramsyah Amandit
berjudul “Guru” yang terbit pada bukunya Tikar Pandan (2013), sekaligus sebelumnya
puisi ini juga termaktub dalam antologi bersama Kalimantan dalam Puisi
Indonesia (2011), dapat dianalisis bagaimana proses teori pedagogi
diterapkan oleh penyair;
GURU
Ajarilah muridmu, kerja
ajari kasih sayang
suruh mengeja namanya
bin serta binti orang tuanya
di hadapanmu berulang-ulang
agar ia sanggup mempertaruhkannya
Ajari tambak ikan piaraan
kandang unggas
sawah dan ladang
agar tahu lelah perih hidup bertani
tunjukkan langit kosong;
sebelum ia berencana pengembalaan umat
atau melepas beban berat keluarga
Tapi
jangan ajari rupa-rupa lezat panganan
menu
biasa hidup enak “bersantan”
pola-pola
dandanan
pabrik
gincu
jenis
pewarna kuku
atau
unjuk penampilan
nanti
ia mahir akrobatik kepalsuan
Maka terimalah jatah dosamu, hai guru;
kelak bila lahir seorang oportunis dari
kelasmu!
yang buta realita rakyat lapar,
yang dirundung derita, tangis dan sengsara.
Ajarkan
pula puisi-puisi belati
bukan
sajak puja-puji…
supaya
berani ia menusuk penjahat negeri
Tamban, 27 Januari 2011
Puisi “Guru” dibuka dengan bait
pertama Ajarilah muridmu, kerja/ ajari kasih sayang/ suruh mengeja namanya/
bin serta binti orang tuanya/ di hadapanmu berulang-ulang/ agar ia sanggup
mempertaruhkannya// pada bait ini penyair langsung menyodorkan sebuah
anjuran, ajaran pada seorang pendidik pada muridnya tentang mempertahankan
harga diri dan kehormatan martabat keluarga khususnya orang tuanya. Pendidikan
moral dengan lantang mesti diajarkan pada anak-anak penerus sebelum ia memulai
perbuatan lain selama hidupnya, agar murid juga tahu batasan diri kelak akan
mempertahankan kehormatannya dan orang tuanya sebagai imbas maupun risiko
segala perbuatannya, terlepas dari baik dan buruk tingkah laku. Sebab martabat
manusia merupakan nilai bawaan luhur yang melekat pada diri setiap individu karena
merupakan kita manusia.
Pada bait ke dua Ajari tambak ikan piaraan/ kandang
unggas/ sawah dan ladang/ agar tahu lelah perih hidup bertani/ tunjukkan langit
kosong;/ sebelum ia berencana pengembalaan umat/ atau melepas beban berat
keluarga, upaya penyuruhan semakin lengkap di bait ini, penyair terhadap
guru agar mengajari muridnya berikhtiar dahulu, berletih-letih segalanya dengan
setiap keringat sebelum berkehendak maupun memenuhi keinginannya tercapai.
Repetisi pedagogi antara bait pertama dan bait kedua yang selaras terasa. Namun
ada yang menarik di sini yaitu larik tunjukkan langit kosong; sebuah
metafor terhadap lahan untuk digarap oleh manusia sebagai praktik ikhtiar untuk
menuai hasilnya.
Tapi jangan ajari rupa-rupa lezat panganan/
menu biasa hidup enak “bersantan”/ pola-pola dandanan/ pabrik gincu/ jenis
pewarna kuku/ atau unjuk penampilan/ nanti ia mahir akrobatik kepalsuan, di
bait ketiga ini penyair menganjurkan larangan pada guru terhadap muridnya agar
jangan terlalu banyak mengajarkan kenyamanan, berbagai warna kehidupan yang
menyilaukan baik segi materi dalam kelezatan dunia karena akan berdampak
negatif yang menjadikan pola manusianya yang kurang baik. Akibat kenyamanan
yang berlebihan dan tak merasakan usaha kerja keras sehingga dikhawatirkan
hanya akan tampil sebagai “tong kosong nyaring bunyinya” atau kebohongan
dan penipuan semata keahliannya.
Selanjutnya bait kelima Maka terimalah jatah dosamu,
hai guru;/ kelak bila lahir seorang oportunis dari kelasmu!/ yang buta realita
rakyat lapar,/ yang dirundung derita, tangis dan sengsara. Sangat menarik
penerapan pedagogi yang diingatkan penyair pada guru yang mengajar muridnya
bahwa setiap guru akan menerima dosa dari setiap murid yang pernah diajarinya
dalam kondisi tertentu jika guru tersebut dengan sengaja mengajarkan atau
memberikan contoh sekaligus apabila menyebarkan kesesatan, maksiat atau hal buruk
kepada muridnya. Seperti halnya lahir seorang oportunis yang merupakan
orang yang selalu mencari kesempatan dan mengambil keuntungan untuk pribadi
sendiri di setiap siatuasi atau kesempatan yang ada, tanpa berpegang pada
prinsip tertentu atau memedulikan etika kemanusiaan, tamak, korupsi, maupun hal
buruk merugikan orang lain.
Bait tersebut sebagaimana sabda Rasulullah SAW mengenai
dosa jariyah kepada manusia; “Barang siapa yang memberi petunjuk kepada
kebaikan, maka baginya pahala seperti pahala orang yang mengikutinya, tanpa
mengurangi sedikit pun pahala-pahala mereka. Dan barang siapa yang menyeru
kepada kesesatan, maka ia menanggung dosa seperti dosa orang-orang yang
mengikutinya, tanpa mengurangi sedikit pun dosa-dosa mereka.” (HR. Muslim).
Sehingga pedagogi pengimbasan dan kritik terhadap guru menjadi ultimatum kuat
pada bait kelima ini.
Di bait terakhir pedagogi penutup dianjurkan penyair
ialah Ajarkan pula puisi-puisi belati/ bukan sajak puja-puji…/ supaya berani
ia menusuk penjahat negeri, diharapkan seorang pendidik dalam menerapkan
pedagogis di kelasnya agar megajarkan keberanian dalam kejujuran setiap
perbuatan, sekiranya tak sekadar pujian semata melainkan berani mengkritik
bahkan menghukum dalam setiap pembuat kesalahan. Dengan begini kelak mampu
melahirkan generasi yang pemberani terhadap negeri ini.
Puisi “Guru” sebagai sarana pedagogi untuk menyampaikan
nilai moral, perjuangan menerapkan ilmu, sampai pada mengapresiasi pendidikan
diajarkan melalui guru kepada murid. Di mana teks puisi berfungsi sebagai
pengingat akan pentingnya mengajar dan belajar, menumbuhkan karakter yang
bermartabat dan berintegritas, moral yang harus ditegakkan dengan baik demi
membangun masa depan anak bangsa.
Simpulan analisis terhadap puisi “Guru” karya Ibramsyah
Amandit sangat terang menjadikan pedagogi lewat puisi berhasil mengasah emosi,
imajinasi, empati, dan kemampuan berpikir kritis baik guru maupun murid melalui
karya sastra. Dapat diambil hasil pedagogi yang berelandaskan pada pengembangan
karakter holistik, peningkatan literasi kritis, stimulus proses kreatif
pendidikan telah berhasil pula terdapat pada puisi Ibramsyah Amandit.
Sebagai puisi yang didaktik bersifat
diafan sehingga puisi tersebut mudah dipahami semua kalangan karena hanya
memiliki lapis arti pertama saja, tak berbelit dengan akrobatik diksi dan
kegelapan tabir makna, sehingga pembaca hanya difokuskan pada satu sudut
pandang tafsiran tentang pengajaran (pendidikan) baik terhadap murid
(generasi). Ini menjadi kelebihan sekaligus kekurangan pada puisi Ibramsyah
Amandit kali ini.
Demikianlah yang dipercayai
oleh C. S. Lewis di awal, bahwa sastra sebenarnya menambah realitas sebagai
kenyataan berdasarkan keadaan, bukan sekadar menggambarkan saja tetapi
memberikan dampak timbal balik antara yang diajarkan dan hasil dari
pengajarannya, sehingga sastra memperkaya kompetensi sebagai kemampuan dasar
manusia yang mencakup pengetahuan, keterampilan dan sikap perilaku secara
efektif dan profesional dalam keseharian di kehidupan manusia, dan melalui
analisis pedagogi pada sastra salah satunya pembuktian itu.
Nampaknya sejauh telaah terhadap puisi-puisi Ibramsyah
Amandit yang di luar dari corak religius-sufistik, puisi “Guru” salah satu
terbaik yang pernah ditulis oleh Sang Penyair Janggut Naga. Puisi “Guru” ini
juga telah mendapat apresiasi dari Korrie Layun Rampan sebagai puisi pengajaran
yang berhasil.
Di hening pelosok rawa Tamban, Ibramsyah
Amandit mengajarkan moral kepada kita, meski ia telah berulang kali diserang
strok namun tetap berkhidmat dalam ajaran tasawuf dan bersastra menulis puisi
dengan sesekali hadir ke permukaan layar facebooknya demi mengikuti
dunia maya dan nyata, sambil menunggu jemputan kerinduannya akan zikrulmaut.
Layun
Rampan, Korrie. (2011). Kalimantan dalam Puisi Indonesia. Jakarta:
Pustaka Spirit.
Rachmawati, D. W., dkk. (2021). Teori
dan Konsep Pedagogik. Insana.
Amandit,
Ibramsyah. (2013). Tikar Pandan. Banjarmasin: UPT Taman Budaya
Kalimantan Selatan.
__________________________________________
Tentang Penulis: REZQIE M. A. ATMANEGARA lahir dan menetap di Hulu Sungai Tengah. Penghargaan Hadiah Seni (Sastra) dari Walikota Banjarbaru-Kalimantan Selatan (2015), Penghargaan Apresiasi Maestro Pelestari dan Pengembang Bahasa Banjar dari Asosiasi Sastra Lisan (ATL) (2024), dan Anugerah Kebudayaan dari Gubernur Kalimantan Selatan (2025).
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar