Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

ROMANSA JEDAG-JEDUG: CATATAN TENTANG FILM, INGATAN, DAN EGO OLEH DIMAS EDJAUR

Ilustrasi: Piwi/Arkalitera

Pernah suatu waktu, setiap kali saya membuka laptop, sebuah catatan kecil “List Film Romance yang Harus Ditonton” hampir selalu menjadi pengingat pertama ketika jadwal menonton film tiba. Di dalamnya terdapat sejumlah judul yang secara konsisten kembali saya kunjungi: trilogi Before, Eternal Sunshine of the Spotless Mind, Past Lives, Blue Jay, hingga We Made a Beautiful Bouquet. Film-film tersebut saya tonton secara intens dalam kurun waktu yang relatif singkat, sering kali dalam rentang waktu kurang dari satu minggu. Ketertarikan ini bukan sekadar kebiasaan menonton, melainkan bagian dari proses memahami bagaimana sinema romansa bekerja dalam merepresentasikan ingatan, perpisahan, dan masa lalu.

Sejak lulus dari sekolah menengah kejuruan film, membuat film pendek bergenre romansa sebenarnya telah menjadi salah satu keinginan personal saya. Keinginan ini tidak lahir dari ruang yang sepenuhnya netral. Ia berakar pada pengalaman romansa yang saya alami semasa sekolah, sekaligus pada dorongan emosional yang lebih problematis: keinginan untuk menjadikan film sebagai medium yang secara tidak langsung dapat membuat seseorang di masa lalu merasa bersalah. Namun pada masa itu, terutama ketika awal masa perkuliahan di kampus film, keidealisan saya terhadap praktik pembuatan film justru menutup keinginan tersebut. Saya memiliki anggapan bahwa film yang “layak dibuat” harus selalu membicarakan persoalan yang berat, serius, dan memiliki dimensi sosial yang besar. Dalam kerangka berpikir seperti itu, film romansa tampak terlalu sederhana dan remeh untuk diwujudkan sebagai proyek kreatif. Akibatnya, keinginan untuk membuat film romansa terus tertunda, meskipun saya tetap secara rutin menonton film-film dengan tema serupa, terutama film yang berpusat pada pengalaman perpisahan dan relasi dengan masa lalu. Di balik kebiasaan menonton tersebut, sebenarnya tersimpan sebuah fantasi kreatif yang terus saya bayangkan: suatu saat saya akan membuat film pendek romansa yang dapat menjadi semacam pernyataan personal kepada seseorang di masa lalu. Bukan sekadar untuk mengenang hubungan yang pernah terjadi, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa cerita tersebut dapat saya narasikan ulang melalui medium film. Fantasi tersebut, jika dilihat dari jarak waktu sekarang, menunjukkan bahwa pada periode itu saya belum sepenuhnya selesai dengan pengalaman emosional tersebut, meskipun dalam kehidupan nyata saya telah menjalani hubungan yang baru.

Kesempatan untuk merealisasikan gagasan tersebut akhirnya muncul pada sebuah momen ketika saya berkumpul kembali bersama teman SMK. Saat itu, saya kembali berkomunikasi dengan orang yang secara tidak langsung menjadi inspirasi dari film yang ingin saya buat. Dalam percakapan tersebut, saya menyampaikan gagasan tentang sebuah film yang, secara jujur, saya nyatakan sebagai cara untuk membuatnya merasa bersalah atas masa lalu yang pernah kami alami bersama. Alih-alih menolak gagasan tersebut, ia justru bersedia mendengarkan cerita yang saya rancang. Bahkan dalam beberapa kesempatan, ia turut memberikan masukan dan menambahkan beberapa lapisan adegan dalam cerita yang sedang saya kembangkan. Situasi ini menciptakan dinamika yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Orang yang pada awalnya saya posisikan sebagai “sumber luka” dalam cerita justru ikut terlibat dalam membangun narasi tersebut. Seseorang yang berpotensi difiksikan sebagai penyebab konflik justru berperan sebagai kolaborator dalam proses kreatifnya. Hal ini membuat batas antara subjek dan objek dalam cerita menjadi semakin kabur. Saya tidak lagi sepenuhnya yakin apakah film tersebut masih merupakan bentuk ekspresi personal saya, atau justru telah berubah menjadi ruang negosiasi naratif antara dua orang yang memiliki ingatan berbeda tentang masa lalu yang sama.

Percakapan tersebut kemudian menjadi titik awal dari proses penulisan skenario yang pada akhirnya berkembang menjadi film Romansa Jedag-Jedug. Dalam cerita tersebut, saya menghadirkan karakter Malabran, seorang pembuat film yang ingin memproduksi film romansa pertamanya sebagai cara untuk mengabadikan momen perpisahan sekolahnya dengan mantan kekasihnya, Nirma. Namun ide tersebut ditolak oleh produsernya karena pertimbangan biaya dan ia diminta untuk mengunjungi tempat favorit saat ia dan Nirma berpacaran dahulu. Struktur cerita film ini mengikuti perjalanan Malabran yang mengunjungi kembali tempat-tempat yang pernah memiliki makna emosional dalam hubungan tersebut, hingga akhirnya ia bertemu dengan Nirma dan versi dirinya yang lain.

Pada tahap awal proses penulisan, saya merasakan kegembiraan yang cukup intens. Namun kegembiraan tersebut, jika dilihat kembali dari jarak reflektif, memiliki dimensi yang ambigu. Ia bukan kegembiraan kreatif karena menemukan ide cerita yang menarik, tetapi juga semacam kenikmatan emosional dalam mengolah kembali pengalaman personal menjadi narasi film. Dalam proses tersebut saya mulai menyadari bahwa praktik kreatif sering kali melibatkan bentuk eksploitasi tertentu terhadap pengalaman pribadi. Emosi yang pernah dialami dalam kehidupan nyata diolah kembali menjadi bahan baku cerita, dipindahkan ke dalam karakter, dan kemudian ditata ulang dalam struktur dramatik. Semakin kompleks ketika tidak mempertimbangkan posisi orang-orang yang secara tidak langsung terlibat dalam pengalaman tersebut. Dalam proses pembuatan Romansa Jedag-Jedug, terdapat dua lapisan relasi personal yang secara etis saling beririsan. Di satu sisi, film ini terinspirasi dari seseorang yang pernah menjadi bagian penting dalam kehidupan saya di masa lalu. Di sisi lain, pada saat proses penulisan film berlangsung, saya sudah mempunyai pasangan. 

Dalam situasi tersebut, saya pernah menjelaskan kepada pasangan saya bahwa film yang sedang saya buat hanyalah sebuah karya fiksi yang tidak sepenuhnya merepresentasikan realitas personal. Pernyataan tersebut pada dasarnya tidak sepenuhnya salah, sebagian elemen cerita memang telah mengalami adaptasi dan transformasi dramatik. Namun jika dilihat secara lebih jujur, penjelasan tersebut juga tidak sepenuhnya transparan. Film ini tetap lahir dari emosi personal yang belum sepenuhnya selesai, dan dalam proses kreatifnya saya tetap memelihara kedekatan emosional dengan pengalaman masa lalu yang menjadi sumber cerita.

Kesadaran mengenai kompleksitas tersebut justru semakin terasa ketika proses produksi film dimulai. Pada tahap ini, cerita yang sebelumnya hanya berada dalam bentuk skenario perlahan berubah menjadi pengalaman kolektif yang melibatkan banyak orang. Ide-ide yang lahir dari pengalaman personal saya mulai diterjemahkan ke dalam ruang kreatif, serta berbagai keputusan artistik yang seharusnya diambil secara konkret dan bersama. Dalam proses tersebut, saya mulai merasakan jarak yang aneh antara pengalaman personal yang menjadi sumber cerita dengan bentuk film yang sedang diproduksi. Di satu sisi, cerita dalam film terasa sangat dekat dengan pengalaman hidup saya sendiri. Namun di sisi lain, ketika cerita tersebut mulai diperankan oleh aktor dan disaksikan oleh kru produksi, ia berubah menjadi sesuatu yang lebih luas dari sekadar pengalaman personal. Film itu tidak lagi sepenuhnya milik saya; ia menjadi ruang interpretasi bagi banyak orang yang terlibat di dalamnya. Cerita yang pada awalnya lahir dari pengalaman yang sangat pribadi justru harus dibuka dan dibagikan kepada orang lain agar dapat menjadi sebuah karya sinematik. Dengan kata lain, proses produksi secara tidak langsung membuat pembuat film mempertontonkan fragmen-fragmen pengalaman emosionalnya kepada orang-orang yang mungkin sama sekali tidak memiliki keterkaitan langsung dengan pengalaman tersebut.

Situasi ini menciptakan bentuk refleksi yang tidak sepenuhnya saya sadari ketika masih berada pada tahap penulisan. Jika sebelumnya saya memandang film ini sebagai cara untuk menarasikan ulang hubungan dengan masa lalu, maka selama proses produksi saya mulai melihat bahwa film tersebut juga berfungsi sebagai cermin bagi ego kreatif saya sendiri. Setiap keputusan artistik, mulai dari cara adegan ditulis, bagaimana karakter berbicara, hingga bagaimana emosi ditampilkan oleh para aktor, perlahan memperlihatkan bagaimana saya membingkai pengalaman tersebut dari sudut pandang saya sendiri. Kesadaran tersebut menjadi semakin kuat ketika saya mulai melihat kembali posisi karakter Nirma dalam cerita. Dalam banyak adegan, saya menyadari bahwa karakter tersebut tidak sepenuhnya berdiri sebagai individu yang otonom dalam narasi. Ada pengalaman personal yang secara tidak sadar ikut membentuk cara saya membingkai Nirma. Melalui sudut pandang Malabran—yang pada dasarnya merupakan perpanjangan dari diri saya sendiri—Nirma berpotensi tampil sebagai sosok yang antagonistik.

Di titik inilah persoalan etika mulai terasa. Film memiliki kekuatan untuk membingkai realitas, dan pembingkaian itu tidak pernah sepenuhnya netral. Dengan memilih sudut pandang tertentu, menentukan adegan mana yang ditampilkan, serta emosi mana yang ditekankan, seorang pembuat film dapat secara halus mengarahkan penonton untuk memihak satu pihak dan memusuhi pihak lainnya. Saya kemudian menyadari bahwa representasi Nirma dalam film berisiko menjadi semacam proyeksi dari kekecewaan personal saya sendiri. Jika tidak disadari, proses kreatif tersebut dapat secara tidak langsung mengubah seseorang yang nyata menjadi “tokoh antagonis” dalam sebuah cerita—bukan karena kompleksitas dirinya sebagai manusia, melainkan karena luka yang belum selesai dari pembuat filmnya.

Hal itu secara tidak langsung mengingatkan saya pada pertanyaan yang lebih mendasar mengenai etika dalam praktik memfiksikan seseorang. Ketika seseorang di dunia nyata diadaptasi menjadi karakter dalam film, sejauh mana pembuat film memiliki otoritas untuk mendefinisikan ulang pengalaman tersebut? Apakah proses tersebut merupakan bentuk pengarsipan emosional, atau justru bentuk pengambilalihan narasi terhadap pengalaman yang sebenarnya melibatkan lebih dari satu perspektif? Pertanyaan-pertanyaan semacam ini tidak selalu muncul secara eksplisit selama proses produksi berlangsung. Namun mereka perlahan muncul dalam bentuk kesadaran reflektif setelah film tersebut selesai diproduksi.

Setelah proses produksi dan penyelesaian film Romansa Jedag-Jedug berakhir, saya merasakan sebuah keadaan emosional yang cukup paradoksal. Di satu sisi, terdapat perasaan “selesai” yang sulit dijelaskan secara sederhana. Proses panjang menulis, memproduksi, dan menyelesaikan film tersebut seolah-olah telah memindahkan sebagian beban emosional yang sebelumnya saya bawa terhadap masa lalu ke dalam bentuk naratif dan visual. Film tersebut menjadi semacam ruang di mana pengalaman personal itu akhirnya memperoleh bentuk yang konkret. Namun pada saat yang sama, penyelesaian film tersebut justru diikuti oleh kehilangan yang lain. Dalam proses kreatif yang berlangsung selama pembuatan film ini, hubungan yang sedang saya jalani dengan orang lain pada waktu itu akhirnya berakhir. Dalam retrospeksi, saya mulai memahami bahwa keputusan-keputusan kreatif yang saya ambil selama proses tersebut tidak sepenuhnya terlepas dari ego sebagai pembuat film. Keinginan untuk mempertahankan gagasan artistik dan untuk menyelesaikan film tersebut sering kali membuat saya menempatkan praktik kreatif di atas sensitivitas emosional terhadap hubungan yang sedang berlangsung.

Film yang pada awalnya saya bayangkan sebagai cara untuk “menyelesaikan” masa lalu justru menghadirkan konsekuensi yang tidak pernah saya bayangkan sebelumnya. Orang yang menjadi inspirasi cerita tersebut justru terlibat dalam proses kreatifnya, sementara hubungan yang sedang saya jalani pada saat itu perlahan runtuh selama film ini dibuat. Dalam pengertian tertentu, film yang saya bayangkan sebagai cara untuk menuntut masa lalu justru berakhir dengan mengorbankan masa kini.

Pengalaman ini membuat saya melihat praktik membuat film dari perspektif yang berbeda. Sinema tidak hanya menjadi medium untuk mengabadikan pengalaman, tetapi juga menjadi ruang di mana ego pembuatnya terus-menerus diuji dan dibunuh. Proses kreatif yang tampak sebagai upaya ekspresi diri sering kali justru memperlihatkan sejauh mana ego pembuat film berperan dalam membentuk cara ia memahami pengalaman hidupnya sendiri.

Dalam konteks tersebut, pengalaman membuat Romansa Jedag-Jedug membuat saya menyadari bahwa Romansa Jedag-Jedug mungkin bukanlah titik awal dari pengalaman memahami sinema sebagai medium yang secara perlahan “membunuh” ego pembuatnya. Kemungkinan besar proses tersebut telah berlangsung sejak karya-karya sebelumnya, ketika berbagai pengalaman personal mulai diterjemahkan ke dalam bentuk film. Namun pada fase-fase tersebut, proses tersebut terjadi tanpa kesadaran reflektif yang cukup jelas. Yang membuat Romansa Jedag-Jedug berbeda adalah munculnya kesadaran tersebut. Melalui pengalaman kreatif yang disertai dengan konsekuensi emosional yang nyata—termasuk berakhirnya hubungan yang sedang saya jalani—film ini menjadi semacam titik di mana praktik membuat film tidak lagi saya pahami semata-mata sebagai proses artistik, tetapi juga sebagai proses reflektif yang memperlihatkan bagaimana ego kreatif dapat bekerja dalam kehidupan personal pembuatnya. Dengan kata lain, film ini tidak memulai proses tersebut, tetapi membantu saya menyadarinya.

Kesadaran ini kemudian mengubah cara saya melihat praktik membuat film secara lebih luas. Jika sebelumnya saya memandang film sebagai medium untuk mengekspresikan pengalaman personal, maka setelah pengalaman ini saya mulai melihatnya sebagai medium yang secara perlahan membongkar konstruksi diri pembuatnya. Setiap film tidak hanya menghasilkan cerita baru, tetapi juga memperlihatkan bagaimana pembuatnya bernegosiasi dengan ingatan, emosi, dan ego yang membentuk cara ia memahami dunia.

Jika setiap film merupakan sebuah kematian kecil, maka perjalanan seorang pembuat film pada akhirnya adalah perjalanan yang terus-menerus belajar untuk “membunuh” dirinya sendiri melalui cerita yang ia buat.

______________________________________________

Tentang penulis: Dimas Edjaur tumbuh besar dalam keluarga yang konservatif dalam beragama, dengan latar yang mempertemukan logika dan seni dalam keseharian. Ia adalah seorang sutradara film dan penulis. Karya-karya tulisnya kerap berangkat dari pengalaman personal, relasi yang timpang, ingatan, serta pergulatan batin manusia di ruang-ruang intim dan urban. Melalui puisi dan film, ia mengeksplorasi tema kesepian, tubuh, iman, dan patah hati dengan pendekatan yang cenderung liar.

______________________________________________

Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar