![]() |
| Ilustrasi: Piwi/Arkalitera |
HE. Benyamine yang lebih akrab disapa Bang Ben sangat aktif dalam kegiatan kesenian di Kalimantan Selatan, terutama di Banjarbaru. Selain sebagai sivitas Akademika Bangku Panjang Mingguraya, ia juga mengelola kegiatan bulanan Poetry in Action; memperkenalkan puisi pada masyarakat umum dengan “Aku Telah Baca Puisi di Mingguraya”.
Buku HE. Benyamine yang telah terbit yakni Pohon Tanpa Hutan (Tahura Media, 2014), Image Banjarbaru: Esai-esai HE.
Benyamine (Scripta Cendikia, 2018), Seni
Pertunjukan (Tahura Media, 2019), Image
Paman Birin (Penakita Publisher, 2019) dan yang sedang kita bicarakan ini Hutan Segala Rindu (Tahura Media, 2020).
Buku Hutan Segala Rindu saya dapatkan sebagai buah tangan ketika mengikuti kegiatan Manajemen Talenta Nasional (MTN) Asah Bakat Lokus Banjarbaru pada hari Sabtu, 27 September 2025 di Balai Penjaminan Mutu Pendidikan Provinsi Kalimantan Selatan. Kegiatan tersebut merupakan salah satu rangkaian dari acara Festival Wabul Sawi kerjasama giat Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia dengan Akademi Bangku Panjang.
Buku kumpulan puisi Hutan Segala Rindu (HSR) dengan tebal (ix+74 halaman) ini memuat 70 puisi HE. Benyamine dengan desain sampul dan ilustrasi isi yang cukup menarik karya Mika August. Ada lima liminasi karya dalam buku kumpulan puisi HSR yakni ditulis sejak tahun 2015 (8 puisi), 2016 (3 puisi), 2017 (17 puisi), 2018 (10 puisi), 2019 (6 puisi) hingga tahun 2020 (3 puisi).
***
Membicarakan
rindu di buku kumpulan puisi ini cukup menarik. Meski tema besar yang diusung
Ben dalam buku HSR adalah perihal lingkungan yang jika dilihat dari judulnya diwakili
oleh kata ‘hutan’. Bahkan kata rindu hanya tersemat di beberapa judul puisi
yakni Deras Ternyata Rindu Mengalir, Wajah Rinduku, Merindu Mengiring Waktu, dan Menyimpan
Segala Rindu. Tetapi, kerinduan Ben di dalam buku ini saya rasa telah mewakili
kita sebagai pembaca karyanya, kerinduannya mewakili kita sebagai warga banua, sebagai warga negara ini dan sebagai
manusia yang tinggal sementara di dunia.
![]() |
| Buku Hutan Segala Rindu Karya HE. Benyamine |
Menyimpan Segala Rindu,
ini menjadi puisi pertama yang saya pilih untuk mewakili buku HSR. Puisi yang
terdiri dari tiga bait ini berisi tentang hutan yang menyimpan segala
kenangannya yang Ben selalu rindukan. Ia ungkapkan bagaimana proses alami nan
mengagumkan ketika hujan membasahi hutan melalui dedaunan serta aliran dan
rembesan air yang terbawa oleh aingin. Kerinduan itu ia tegaskan pada bait
kedua di baris pertama dan kedua: /kau
tau, hutan menyimpan segala rindu /saat anggrek-anggrek bermekaran lalu semerbak/.
Diungkapkan
menggunakan bahasa yang romantis dengan sudut pandang aku dan kau. Diksi
romantis yang dipilih ialah cinta dan di puisi ‘rindu’ yang lainnya ada
menggunakan kata senyummu. Berikut secara lengkap puisi Menyimpan Segala Rindu:
Menyimpan Segala Rindu
daun-daun
berayun sambut hujan, coklat melayang
sedang
angan terpaku, pada senyummu
melepaskan
segala rindu mengikuti aliran air
bahkan
merembes terbawa angin
kau
tahu, hutan menyimpan segala rindu
saat
anggrek-anggrek bermekaran lalu semerbak
pertempuran
berlangsung senyap
benturan
dalam terlewat, serasah daun-saun menutupi
ada
yang tumbuh juga yang tumbang
senyummu
terangkai dari sinar matamu, segala rindu
daun-daun
terhampar siap menjadi humus
berwarna
hitam, untuk semua
kesuburan
menjalar rindu segala padamu, menetap
aku
tahu tiada pilihan, tiada terbagi
pembebasan
kerinduan pada jiwamu sendiri
Banjarbaru,
22 Januari 2018
Berikutnya
adalah puisi berjudul Merindu Mengiring
Waktu, puisi yang ditulis di Banjarbaru pada 5 Maret 2015 ini berisi tentang
kerinduan Ben tentang keberkahan hujan yang tak lagi tentu masanya. Ketidakhadiran
hujan membawa kepedihan tersendiri, selain sungai yang mengering, kebakaran
hutan atau sengaja dibakar dan pembabatan hutan yang tidak ada batasan. Namun,
ketika hujan turun, bagian-bagian alam inipun tidak dapat menikmatinya
sesempurna saat alam tersebut masih terjaga. Berikut ini puisi lengkapnya:
Merindu Mengiring Waktu
Menatap
hujan, adakah selain cinta?
meluncur
bebas, menyebar tuju perjamuan
kau
menahan rindu, tak sesal airmata mengalir
bagai
merawat hutan keramat, selalu memberi
seberapa
kuat hatimu, kebakaran hutan mimpi buruk tak
mengenal
tidur
meski
kau tetap terjaga
mengeluh,
bukan rindu
karena
kau merawat mistis hatimu, terbakar hanyar debar
kadang
pertemuan tak selalu, bagai hujan tak tentu
aku
merekam senyummu, bagai hutan keramat
mencumbu
hujan.
Ketika
hujan, sungai-sungai membasuh beban
rawa-rawa
pesta melimpah
sawah-sawah
membilas racun
bukit
dan gunung berbagi nutrisi
laut
membersihkan pantai
kau
merawat mistis hatimu; begitulah hujan kasihmu
aku
merekam senyummu, duka tiada menenggelamkan
hatimu.
Aku
merekam senyummu
kau
merawat mistis hatimu
merindu
mengiring waktu
tiada
lain
hadirmu
berkah.
Banjarbaru,
12 Maret 2025
Puisi
terakhir yakni berjudul Wajah Rindu
di halaman 20-21. Dalam puisi ini kerinduan Ben perihal lingkungan yang sudah
rusak mulai dengan liar ia ungkapkan pada sebab dan akibat kerinduannya
tersebut. Sebab tersebut ia ungkapkan dengan pilihan kata ‘bagai kebiasaan
buang sampah’, ‘penindasan, ‘pemeras’, ‘produksi keseragaman’, ‘kerakusan’ dan
‘keserakahan’. Sedangkan akibatnya ia ungkapkan bahwa kesulitan air saat
terjadinya kemarau, kabut asap karena kebakaran lahan, anak-anak yang
kekurangan gizi, kaum pinggiran terpasung keterbatasan dan hutan gagal suksesi.
Berikut lengkapnya:
Wajah Rinduku
Menatap
langit, bawalah keterbatasan
ketika
bintang terlihat, gelap rembes dalam kerlip
rembulan
bawa rindu, lapang kisah bunga bermekaran
wajah
rinduku membingkai purnama, tulus dalam kerlap.
Malam
mengurai kepiluan terbendung
berita
sekadar pembungkus dagangan
keserakahan
setelahnya bagai kebiasan buang sampah
sembarangan
tak peduli, kesulitan air sekadar fakta
kemarau
kabut
asap Cuma rintihan kebakara lahan
anak-anak
kurang gizi cukup cibir kemalasan
keprihatinan
bertahan hidup samarkan pendindasan.
Wajah
riduku, cantik tak diam
langit
masih luas, pandanglah cakrawala sertakan
keterbatasan
kebebasan
memilih batasnya sendiri
terindah
saat roamanmu terus bergerak, rembulan
tuntaskan
gelap.
Pemeras
merampas berkah hujan, berwajah ingkar nikmat
kaum
pinggiran terpasung keterbatasan
hutan
gagal suksesi, para penindas menyebar api
rawa-rawa
ditelah produsi keseragaman
keanekaragamn
terkurung dalam ruang asap
yang
bertahan hilang tempat kembali.
Wajah
rinduku, tetap senyum
langit
tetap lapang, panorama dalam dirumu
purnama
membasuh keseimbangan langkahku
hujan
di jantungmu melapangkan pandangan
arti
kesepian teruntuk kerakusan juga keserakahan.
Banjarbaru,
9 Oktober 2015
Begitulah
cara Ben merindukan kondisi lingkungan hidupnya melalui ramuan kata-katanya,
dalam hal ini khususnya Kalimantan Selatan sebagai cakupan lokalitasnya.
Dia
merindukan bagaimana hujan merupakan berkah bagi semua makhluk di bumi, bukan
malah menjadi bencana karena ulah tangan-tangan manusia yang rakus dan serakah.
Ia merindukan kondisi hutan pulau ini yang dulu masih dielu-elukan sebagai paru-paru dunia. Kerinduannya hidup damai berdampingan dengan makhluk lainnya tanpa adanya kerusakan yang melahirkan kerusakan-kerusakan lainnya yang tak berujung.


0 Komentar