Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

PUISI-PUISI MARIANNE MOORE

Ilustrasi: Piwi/Arkalitera


Diterjemahkan oleh Karst Mawardi

PUISI

Aku pun, membencinya: ada hal-hal penting yang melebihi segala gesekan biola ini.
Membacanya, betapapun, dengan sepenuh jijik terhadapnya, seseorang menemukan yang ada di
dalamnya pada akhirnya, sebuah tempat bagi yang sejati.
Sepasang tangan yang dapat mencengkeram, sepasang mata
yang dapat mendelik, rambut yang dapat berdiri
jika diperlukan, hal-hal ini penting bukan karena suatu

penafsiran yang terdengar agung dapat ditempatkan di atasnya tetapi karena ini
berguna; ketika hal-hal ini menjadi begitu kurang orisinal seolah untuk menjadi sulit dimengerti,
soal yang sama mungkin dikatakan kepada kita semua—bahwa kita
tidak mengagumi apa yang
tak dapat kita pahami. Kelelawar,
bertahan secara terbalik atau dalam perburuan akan sesuatu untuk

dimakan, gajah-gajah mendorong, seekor kuda liar berguling, seekor serigala yang tak kenal lelah di bawah sebatang pohon, kritikus yang tak tergoyahkan mengelip-ngelipkan kulitnya seakan seekor kuda yang merasakan seekor kutu, penggemar bisbol, ahli statistik—kasus demi kasus dapat dikutip adakah yang menginginkannya; tidak sah pula melakukan diskriminasi terhadap “dokumen-dokumen bisnis dan buku-buku sekolah”; semua fenomena ini penting. Seseorang mesti membuat satu distingsi kiranya: ketika diseret menuju ketenaran oleh kalangan setengah penyair, hasilnya bukan puisi, tidak juga sampai golongan autokrat di antara kita dapat menjadi “penafsir literal alam khayal”—lebih tinggi tinimbang kekurangajaran dan keremehtemehan serta dapat dipresentasikan untuk pemeriksaan, kebun-kebun khayalan dengan kodok-kodok sungguhan di dalamnya, dapatkah kita mencapai- nya. Sementara itu, semisal kau menuntut pada satu sisi, bertentangan dengan pendapat mereka— material mentah puisi dalam seluruh kementahannya dan yang mana, pada lain sisi, yang sejati maka kau memang tertarik pada puisi.

TIKUS-TIKUS PENGHUNI DERMAGA


Ada manusia yang nampaknya menganggap tempat itu sama mahirnya
dengan kita—yang nampaknya merasa bahwa itu merupakan sebuah tempat yang bagus
untuk pulang. Pada sebentang sungai; betapa lebar—berkerlapan bagai laut yang dicincang
oleh sejumlah perkapalan terbaik di

dunia; kapal berlayar-kotak bertiang-empat, kapal samudera, kapal perang, serupa dua-
pertiga bagian dari gunung es yang terendam; kapal tunda—perkasa memindahkan benda,
mencelup dan mendorong, lonceng berdentang tatkala itu tiba; kapal pesiar uap, melintang
bagai sebilah panah yang baru diolah pada

aliran sungai; kapal feri—pimpinan ditugaskan, seorang bagi setiap kompartemen, menjadi sebaris buah catur yang sedia buat berlaga. Tatkala angin berembus dari timur, itu bau dari apel; dari jerami, aroma itu membubung dan mereda secara tiba-tiba seraya bergantinya arah angin; dari untaian bawang; dari dedaunan gunung bagi para penjaja bunga. Tatkala berembus dari barat, itu adalah elixir. Terkadang ada seekor parkit tiba dari Brazil, mencengkeram dan mencakar; atau seekor kera—ekor dan kaki dalam kesiagaan untuk sebuah orkestra pembuka. Sepasang telapak tangan dan ekor; betapa gembira! Ada lautan, menggasak sekat kedap air dengan tenaga kudanya; dan sejumlah besar kemudi serta baling-baling; isyarat-isyarat, melengking, mengusut, mengomando, bermacam adanya; kucing-kucing dermaga dan anjing-anjing tongkang—adalah mudah untuk melebih-lebihkan nilai dari hal-hal semacam itu. Seseorang tidak tinggal di tempat semacam itu sebab motif kelayakan tapi karena bagi seseorang yang sudah terbiasa dengannya, perkapalan adalah hal paling serasi di seluruh dunia.

BURUNG DICERDASKAN


Dengan mata penguin lebar yang tak ternoda, tiga
anak ajuk-ajuk besar belajar terbang di bawah
pokok pussy-willow,
berdiri dalam barisan,
sayap saling sentuh, lemah dan khidmat,
hingga mereka mengerti
mereka tak bisa lebih besar lagi
indung membawakan
sesuatu yang bakal memberi
sebagian dari mereka makan.
Ke cicit bernada-tinggi yang timbul berselang
dari pegas andong yang pecah, ditirukan
tiga anak ajuk-ajuk kembar, selaput-
lembut mata-burung membentuk
bintik-bintik bayang indung yang datang; dan waktu
dari paruh salah
satunya, kumbang yang
masih hidup itu dimuntah-
kan, indung memungut dan memasukkan-
nya lagi ke dalam.
Berdiri di bawah naungan sampai mereka selesai
memakai mantel berfilamen tebal, dengan
permukaan-pussy-willow
pasi, mereka rentangkan ekor
dan sayap, memamerkan satu per satu,
garis
putih sederhana membujur di
ekor dan melintang
di bawah sayap, dan
akordion itu
mengatup kembali. Nada merdu apa
dengan suara seruling cepat tak
terduga yang lompat dari leher
burung dewasa
cerdik itu, kembali ke dirinya dari
udara
jauh diterangi-matahari
tak-bertenaga sebelum
keturunannya pulang ke peraduan? Betapa
keras bunyi burung itu kedengaran.
Seekor kucing belang mengamati mereka,
merayap perlahan ke arah trio
necis di atas batang pohon.
Tak biasa baginya
bertiga menyamping—gelisah
masalah baru.
Satu tungkai terjuntai yang melepas
cengkeramnya, naik
dan mendapat ranting tempatnya
berniat buat mendarat. Indung
turun menyambar, memberanikan diri dengan apa yang membuat
bulu kuduk tegak, dan dengan harap yang terbayar—
oleh jerih payah—sebab tiada yang mengisi
mulut-mulut mencicit yang
belum disuap, lanjutkan gelut maut,
dan separuh membunuh
dengan paruh sangkur dan
sepasang sayap bengis,
kucing cendekia yang
merayap hati-hati itu.

NAUTILUS KERTAS


Demi para penguasa yang harapannya
ditentukan tentara bayaran?
Para penulis yang terperangkap
ketenaran momen minum teh dan
kenyamanan komuter? Bukan demi hal-hal ini
nautilus kertas
membangun cangkang kaca tipisnya.

Memberikan suvenir
harapannya yang gampang remuk, satu sisi luar
yang putih kalis dan permukaan
bagian dalam yang halus
berkilau bagai lautan, sosok pembuatnya
yang waspada menjaganya
siang dan malam; dirinya nyaris tidak

makan sampai telur-telur itu menetas. Terpendam dalam delapan-lipatan pada delapan lengannya, sebab sampai taraf tertentu ia persis devil- fish, kargo dalam buaian-ram’s-horn kacanya tersembunyi tetapi tidak hancur. Seakan Hercules, tergigit seekor kepiting yang setia pada hydra, terhalang untuk mengambil alih, telur-telur yang diawasi secara intensif keluar dari cangkang melepaskannya sewaktu mereka lepas— meninggalkan sarang-tawon mereka retak-retak dari putih di atas putih, dan lipatan Ionic chiton yang dipasang-rapat bagai garis-garis pada surai kuda Parthenon, bulat yang mana lengan-lengan telah melukai diri mereka sendiri seakan-akan mereka mengerti cinta ialah satu-satunya benteng cukup kokoh buat diyakini.

KERBAU


Hitam dalam heraldik bermakna
kebijaksanaan; dan kaum negro, kemalangan. Barangkali
bijih besi—
hitam, sepasang tanduk yang melengkung rapat pada bison
punya signifikasi?
Rumbai-ekor coklat-jelaga pada
sejenis ekor

singa; apa yang akan diungkapkannya?
Dan Ajax-nya John Steuart Curry mencabut
rumput—tanpa cincin
pada hidungnya—dua ekor burung bertengger di punggung?

. . . . . . Lembu modern tidak tampak seperti potret lembu dari Augsburg. Ya, Aurochs besar liar yang sudah punah ialah binatang buas yang harus dilukis, dengan belang dan tanduk memanjang enam kaki—diturunkan jadi kucing Siam seukuran brown Swiss atau sepotongan zebu, dengan gelambir putih berbulu lembut dan punuk ala warm-blood; jadi Hereford berkulit merah atau jadi Holstein bertotol hitam putih. Namun beberapa orang mungkin mengatakan kerbau berambut-jarang telah memenuhi gagasan manusia terbaik tidak seperti gajah, dengan kedua jauhar dan jauhari pada rambut yang dikenakannya— bukan lembu Vermont berhidung-putih yang dipakaikan kuk bersama pasangannya untuk menghela getah maple, mengerahkan tenaga pada kaki mereka di dalam salju; bukan Over-Drove Ox aneh yang digambar oleh Rowlandson, tetapi kerbau India, berkaki- albino, berdiri di sebuah danau lumpur dengan tugas sehari-hari yang mesti dikerjakan. Bukan kafir menurut Kristen kulit putih, jalan dilempangkan oleh Sang Buddha, melayaninya demikian baik sebagai kerbau—sebab amat gagah seolah-olah di- kekang—membebaskan leher yang meregang, dan ekor ular yang setengah-membelit pinggang; bukan pula kehendak yang begitu riang membantu Orang Bijak duduk dengan kaki pada sisi yang sama, untuk berlutut di kuil suci; bukan pula gading taring yang serupa sepasang tanduk itu yang mana saat seekor harimau terbatuk, secara garang jadi melorot dan mengubah bulu itu menjadi sampah tak berbahaya. Kerbau India, digiring para anak gembala lelaki bertelanjang-kaki ke sebuah pondok jerami di mana mereka mengandangkannya, tak perlu takut dibandingkan dengan bison, dengan kembarannya, tentu saja dengan anak-turun dari lembu mana pun.

IKAN


mengarungi
giok hitam.
Dari cangkang kerang sewarna gagak-biru, salah seekor
terus menyesuaikan timbunan abu;
membuka dan menutup dirinya bagai

selembar
kipas yang cedera.
Teritip yang melapisi sisi
gelombang, tak bisa sembunyi
di sana demi pancaran sinar matahari yang

terendam, terbelah bagai kaca pintal, menggeser diri dengan kecepatan sorot lampu menuju celah karang— keluar-masuk, menyinari lautan dari tubuh berwarna pirus. Air mendorong pasak besi di sepanjang tubir besi pada karang terjal; di mana bintang-bintang, butiran beras merah jambu, ubur- ubur berlumur tinta, kepiting seiras lili hijau, dan cendawan dasar laut, saling meluncuri satu sama lain. Segenap tanda kekejaman external hadir di bangunan yang menantang ini— segenap fitur fisik dari mala- petaka—kurangnya cornice, alur dinamit, luka bakar, dan guratan kapak, perkara ini terus bertahan di atasnya; sisi jurang telah mati. Petunjuk yang berulang telah membuktikan bahwa ia dapat hidup dari apa yang tak kuasa membangkitkan kembali masa mudanya. Laut pun beranjak tua di dalamnya.

Tentang Penulis

Marianne Moore (15 November 1887—5 Februari 1972) adalah salah satu penyair terkemuka dalam sastra Amerika. Puisi Marianne Moore dicirikan dengan ketepatan linguistik, deskripsi yang tajam dan mendalam, serta observasi yang cekatan mengenai orang-orang, tempat-tempat, hewan-hewan, dan seni. Moore sering menggunakan hewan sebagai imaji sentral untuk menekankan tema-tema kemandirian, kejujuran, dan integrasi antara seni dan alam...

Sumber Puisi-puisi Marianne Moore

  • Puisi (Poetry) dari buku Poems, terbitan The Egoist Press, London (1921).
  • Tikus-tikus Penghuni Dermaga (Dock Rats) dari buku Poems, terbitan The Egoist Press, London (1921).
  • Burung Dicerdaskan (Bird-Witted) dari buku Collected Poems.
  • Nautilus Kertas (The Paper Nautilus) dari https://poets.org/poem/paper-nautilus.
  • Kerbau (The Buffalo) dari buku Collected Poems.
  • Ikan (The Fish) dari https://poets.org/poem/fish-1.

Tentang Penerjemah

Karst Mawardi, lahir di Banjarmasin pada 28 Juni 1999. Ia bekerja pada sebuah sekolah dasar di kota kelahirannya.

⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘

Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar