![]() |
| Ilustrasi: Piwi/Arkalitera |
KERETA DAN TRAGEDI
Kereta itu berhenti
untuk mengantarkan seorang ibu
menuju rute keabadian,
sedang anaknya
masih terpaku
di fananya bumi.
Ribuan doa
dilemparkan ke langit
tapi tangisan
telah lebih dalam
dari bentangan laut.
Kereta itu berhenti
untuk mengantarkan seorang ibu
menuju rute keabadian,
sedang suaminya
masih termangu
di jurang kesedihan.
2026
---
KESEDIHAN YANG BERSEMAYAM
Di tubuh pagi,
ia lipat kesedihan
dengan teliti.
Ia masukkan
kesedihan itu
ke saku baju.
Dan ia berhasil
menipu jutaan wajah
namun gagal menipu
kedalaman hatinya.
2026
---
DI RUMAH DUKA
Di rumah duka,
hujan jatuh.
Sangat deras.
Sangat deras.
Luka
menghunjam lantai
yang sepi
tak berpenghuni.
Sejak itu, patah hati
mekar serupa mawar.
Kenangan berkelindan
di antara air mata.
2025
---
BADUT
Pagi tadi,
pria paruh baya
menjelma sesosok badut.
Ia tampak gembira
meski di punggungnya
badai menyembunyikan diri
serupa sebuah puisi.
Dan sore ini,
seorang anak kecil
menjelma badut yang lain.
Ia sekuat tenaga
mengumpulkan beberapa koin
demi bisa ditukarkan
dengan sesuap nasi
yang sudah hampir basi.
2025
---
FANA MELELEH
Di antara
subuh yang rapuh
dan sunyi yang keruh,
kefanaan meleleh
seperti seekor lilin kecil
yang dibakar takdir.
2025
__________________________________________
TENTANG PENULIS: Anugrah Gio Pratama berdomisili di Sampit, Kalimantan Tengah. Sedang belajar menjadi guru yang baik.
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar