![]() |
| Ilustrasi: Piwi/Arkalitera |
Aku berbicara pada belati itu. Ia terdiam.
Bisu, seperti biasa. Tubuhnya yang putih berkilau memantulkan wajahku yang
kusut, mata cekung, dan umur yang kian kerontang.
Tetiba, perlahan ia bergerak mendekat. Mengusap
jemariku dengan dingin yang bergelanyut, lalu berhenti tepat di atas urat nadi.
“Ayo,” bisikku. “Kita sudahi.”
Malam sepertiga sepi, dan jam dinding seperti
enggan berdetak. Di meja, secangkir kopi mendingin. Di lantai, naskah-naskah
gagal berserakan. Surat penolakan dari penerbit menggunung di sudut kamar.
Sebagian sudah kugunakan untuk menyalakan kompor.
Aku memejamkan mata.
Tiga. Aku sudah lelah hidup sebagai orang yang
selalu nyaris berhasil.
Dua. Lelah menjadi penulis yang naskahnya
ditolak, cintanya terkoyak, dan mimpinya dijadikan bahan candaan keluarga.
Satu. Tepat ketika ujung belati menyentuh
kulitku, aku teringat sebuah buku yang bergelantungan di ranting pohon belakang
perpustakaan kota. Buku yang belum selesai kutulis. Buku yang dulu pertama kali
mempertemukanku dengan Putri.
Belati itu menekan sedikit lebih dalam. Namun
yang menyembur dari nadiku bukan darah. Melainkan halaman-halaman kertas.
Lembar demi lembar beterbangan ke udara,
memenuhi kamar sempitku. Beberapa menempel di dinding. Beberapa jatuh ke
lantai. Satu lembar hinggap di bibir cangkir kopi.
Aku terperanjat. Belati mundur selangkah, lalu
duduk di kursi kayu seolah kelelahan.
“Arsy,” katanya sambil menatapku tajam,
“mengapa tubuhmu menyimpan buku-buku yang telah kau berikan kepada perempuan
itu?”
Aku menatapnya ngeri. Belati mengangkat
cangkir kopiku dan menyesapnya pelan.
“Dan mengapa,” lanjutnya, “setiap kali kau
ingin mati, yang keluar justru kenangan?”
***
Aku bertemu Putri tujuh tahun lalu, di
perpustakaan kota yang sudah renta.
Bangunannya
tua, dindingnya retak, atapnya bocor jika hujan. Rak-raknya miring, tersebab lama
memikul sunyi. Tak banyak orang bertandang ke sana, selain mahasiswa yang
mencari Wi-Fi gratis dan lelaki-lelaki pensiunan yang tidur sambil membuka
koran.
Putri duduk di sudut ruangan, di bawah jendela
pecah yang selalu kemasukan angin dan debu. Rambutnya jatuh di bahu. Di
pangkuannya terbuka sebuah buku tanpa judul.
Aku mengenali buku itu seketika. Itu naskahku.
Naskah yang belum pernah kukirim ke penerbit. Bahkan belum pernah kutunjukkan
kepada siapa pun.
“Dari mana kau dapat buku itu?” tanyaku. Ia
mengangkat wajah dan tersenyum kecil.
“Dari pohon belakang gedung ini.” Aku tertawa
gugup.
“Tak ada pohon yang berbuah buku.” Ia
menatapku tenang.
“Tak ada? Lalu mengapa kepalamu begitu rindang
oleh halaman?”
Sejak hari itu, aku jatuh cinta. Bukan hanya
pada wajahnya, tetapi pada caranya melihat dunia: seolah segala hal diam-diam
memiliki makna rahasia.
***
Kami mulai sering bertemu. Aku membawakan
naskah. Ia membacanya perlahan. Kadang sambil menyeruput teh murah dari kantin
perpustakaan. Kadang sambil menatap hujan yang jatuh di jendela pecah.
Setelah selesai membaca, ia menulis catatan
kecil di pinggir halaman: Tokohmu terlalu takut hidup. Ending ini berbohong. Kalimat
ini indah, tapi tidak jujur. Tulislah yang membuatmu gemetar.
Tak ada editor sekejam itu. Tak ada pembaca
sejujur itu. Dan tak ada yang lebih membuatku ingin hidup selain menunggu
komentar-komentarnya.
Berkat Putri, aku menulis lebih giat. Aku
bekerja serabutan siang hari, seperti menjadi kasir, penjaga toko, kadang
mengantar galon, lalu menulis semalam suntuk. Kutolak rasa malu. Kukirim naskah
ke mana-mana.
Ditolak. Kukirim lagi. Ditolak lagi. Kukirim
lagi. Masih ditolak. Setiap kali aku putus asa, Putri hanya berkata, “Mungkin
yang ditolak bukan tulisanmu, tapi ketakutanmu.”
Aku tak pernah benar-benar mengerti
kalimatnya. Namun setiap mendengar suaranya, aku ingin mencoba sekali lagi.
***
Suatu sore, aku datang ke perpustakaan membawa
kabar gembira. Salah satu cerpenku dimuat di koran nasional. Namaku tercetak
rapi. Honor pertamaku cukup untuk makan tiga hari dan membeli dua buku bekas.
Aku berlari ke sudut biasa, ingin menunjukkan semuanya kepada Putri.
Ia tidak ada. Aku menunggu sampai sore. Sampai
lampu perpustakaan dinyalakan. Sampai penjaga mulai menyapu lantai. Putri tak
datang.
Penjaga perpustakaan berkata ia tak pernah
melihat perempuan bernama Putri. Bahkan petugas peminjaman buku menatapku aneh
saat kutunjukkan foto kami. Foto yang mendadak hanya berisi diriku sendiri.
Putri lenyap. Lesap. Aku mencarinya
berbulan-bulan. Ke taman. Ke toko buku bekas. Ke halte. Ke jalan-jalan yang
pernah kami lewati. Tak ada. Yang ada hanya buku-buku pemberianku yang pulang
sendiri ke kamar kosku. Muncul di meja. Di bawah bantal. Di rak. Kadang di
depan pintu saat subuh. Seperti ada yang diam-diam mengembalikan seluruh masa
laluku.
***
Sejak itu aku berhenti menulis. Tanpa Putri,
kalimat-kalimat terasa yatim. Aku bekerja sekadarnya. Tidur sekadarnya. Hidup
sekadarnya. Tahun demi tahun luruh.
Sesekali aku mencoba menulis, tetapi setiap
kata terasa lumpuh. Aku iri pada orang-orang yang hidup biasa saja, yang
bahagia cukup dengan cicilan lunas, smartphone menyala, dan akhir pekan
di pusat belanja. Sedangkan aku, bahkan untuk bertahan hidup, satu mukjizat.
Malam ini, setelah surat penolakan ke-37 tahun
ini datang, aku menyerah. Maka kupanggil belati warisan ayahku. Mengajaknya
berbincang.
***
“Jadi perempuan itu meninggalkanmu, lalu kau
hendak mati?” tanya belati.
“Aku kehilangan arah.”
“Bodoh,” katanya singkat.
Aku marah, tetapi tak sanggup membantah. Belati
melempar satu halaman ke pangkuanku. Tulisan tangan Putri.
Arsy,
jika suatu hari kau merasa sendirian, bacalah kembali alasanmu menulis.
Tanganku gemetar. Kubuka lembar lain.
Aku tidak datang untuk berumah. Aku hadir
untuk membelokkan jalanmu. Lembar berikutnya.
Sebelum bertemu aku, kau hanya ingin dicintai. Setelah bertemu aku, semoga kau
ingin berkarya.
Dadaku sesak. Lembar berikutnya lagi.
Jangan jadikan seseorang rumah, jika kau belum
selesai membangun dirimu sendiri.
Air mataku jatuh. Lembar terakhir hinggap
tepat di telapak tanganku.
Jika kau mencari aku, carilah di buku yang
akhirnya kau selesaikan.
Aku menunduk lama. Air mataku menetes di atas
tulisan itu.
***
Belati berdiri.
“Nah,” katanya. “Sekarang kau punya dua
pilihan.” Ia menunjuk urat nadiku. “Atau satu goresan, selesai.”
Lalu ia menunjuk tumpukan halaman di lantai. “Atau
satu kalimat pertama, dan hidupmu mulai lagi.”
Malam di luar jendela hening menunggu. Aku
memandang meja kerja yang lama kutinggalkan. Mesin tik tua. Naskah kosong.
Kursi reyot. Aku sadar, selama ini ternyata aku salah. Awalnya kukira Putri
adalah tujuan. Padahal ia persimpangan. Ia datang bukan untuk menetap,
melainkan untuk memalingkan langkahku dari jurang.
Aku mengambil belati itu. Ia tersenyum tipis,
mengira aku memilih mati. Namun aku menancapkannya ke meja, tepat di samping
kertas kosong. Belati menjerit kecil.
“Kurang ajar!”
Aku duduk.
Menarik napas panjang. Tanganku gemetar
seperti pertama kali belajar menulis. Lalu kutorehkan kalimat pertama setelah
bertahun-tahun:
Perempuan itu pernah menghilang, tetapi
meninggalkan jalan pulang di antara halaman waktu, dan kenangan.
Jam dinding kembali berdetak. Kopi yang dingin
terasa hangat ketika kuteguk. Di luar, angin menggoyang pepohonan. Dari
ranting-rantingnya, terdengar desir halaman dibuka seseorang.
Aku tersenyum. Barangkali Putri sedang membaca. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tak lagi ingin mati. Aku ingin menyelesaikan sebuah tulisan.
Tentang Penulis: SALIM MA'RUF, Berdomisili di Tanah Laut, Kalimantan Selatan. Menulis Puisi, terkadang cerpen dan esai. Puisinya tersebar di berbagai antologi bersama. Kini menekuni dunia jurnaslistik sebagai jurnalis media online yang bertugas di Bumi Tuntung Pandang.
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar