![]() |
| Ilustrasi: Wabul Sawi Festival |
Kabar membanggakan datang dari komunitas sastra Arkalitera. Dua anggotanya, Rafii Syihab dan Musa Bastara, terpilih sebagai peserta dalam program Promising Writers: MTN Lab x Wabul Sawi Festival 2026 yang akan berlangsung pada 23–26 Mei 2026 di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Program ini mempertemukan sepuluh penulis muda dari berbagai daerah di Indonesia untuk mengikuti rangkaian masterclass dan residensi kepenulisan yang dirancang sebagai ruang pengembangan karya sekaligus penguatan kapasitas kreatif.
Sebelumnya, panitia membuka panggilan terbuka bagi penulis dari seluruh Indonesia pada 1–25 April 2026. Dari total 192 karya cerita pendek yang masuk, proses kurasi dilakukan oleh Kanti W. Janis dan Sandi Firly, sebelum akhirnya menetapkan sepuluh nama terpilih.
Selain Rafii Syihab (Banjar, Kalimantan Selatan) dan Musa Bastara (Banjar), peserta lain yang lolos adalah Endry Sulistyo (Samarinda), Windy Joana (Barru, Sulawesi Selatan), Serli Ariska (Seruyan, Kalimantan Tengah), Arif Kurniawan (Bengkulu), Adjie Valeria Christiasih (Kutai Kartanegara), Rizky Riawan Nursatria (Pati, Jawa Tengah), Tiara Karina (Banjarmasin), dan Ginanjar Teguh Iman (Magelang).
Bagi Arkalitera, terpilihnya Rafii dan Musa menjadi kabar yang patut dicatat. Keduanya sebelumnya juga terlibat dalam penerbitan buku kumpulan cerpen bersama Kiat-kiat Menyelesaikan Masalah Asmara yang diterbitkan Arkalitera pada 2025.
Program Promising Writers sendiri merupakan bagian dari MTN Lab, inisiatif Manajemen Talenta Nasional (MTN) Seni Budaya yang dikelola Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia bersama Wabul Sawi Festival. Lewat format residensi, lokakarya, dan pendampingan intensif, program ini memberi ruang bagi penulis muda untuk mengembangkan karya dengan pendampingan mentor dan fasilitator.
Dalam pelaksanaannya nanti, para peserta akan didampingi oleh mentor Kurnia Effendi, Dadang Ari Murtono, dan Mutia Sukma, dengan dukungan fasilitator Wien Muldian, HE Benyamine, dan Bumi B. Ibra. Pendampingan tidak hanya berlangsung selama kegiatan di Banjarbaru, tetapi juga berlanjut setelah program selesai, dengan target akhir berupa pembukuan karya para peserta.
Bagi komunitas sastra lokal, lolosnya dua anggota Arkalitera ke program nasional ini menjadi penanda bahwa kerja-kerja literasi dari daerah terus menemukan ruang dan resonansinya di tingkat yang lebih luas. Sebuah kabar baik, sekaligus pengingat bahwa sastra selalu bertumbuh dari keberanian untuk menulis dan mengirimkan karya.

0 Komentar