Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

KABAR LITERASI: KARALI HADIRKAN “PETI TETTONG”, HOROR LOKAL TENTANG PERMAINAN PEMANGGIL ARWAH



Dunia sastra lokal kembali kedatangan karya baru yang mengangkat permainan ritual penuh misteri. Novel Peti Tettong karya Karali siap terbit dan menghadirkan kisah teror tentang permainan pemanggil arwah yang perlahan berubah menjadi malapetaka.

Novel ini mengangkat premis tentang sekelompok siswa SMA yang memutuskan memainkan permainan-permainan terlarang sambil melakukan siaran langsung melalui TikTok di gudang sekolah yang dikenal angker karena pernah menjadi lokasi kematian seorang murid. Selain demi hiburan dan uji nyali, mereka juga ingin mendapatkan uang dari gift para penonton siaran langsung.

Permainan yang mereka mainkan mulai dari Jelangkung, Charlie Charlie, Papan Ouija, hingga permainan kuno bernama Peti Tettong. Namun ritual yang awalnya dianggap sekadar hiburan berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih menyeramkan.

Dalam blurb novel ini, Peti Tettong digambarkan sebagai permainan kuno yang dipercaya mampu memanggil arwah untuk merasuki tubuh si pemegang peti. Pada masa lampau, ritual tersebut dilakukan sebagai pengingat spiritual menjelang bulan Mapella, dengan tujuan mengetahui gambaran surga dan neraka langsung dari para arwah yang dipanggil. Permainan ini hanya boleh dilakukan oleh para leluhur tertentu yang memahami aturan-aturannya secara mendalam.

Namun seiring waktu, tradisi itu mulai dilupakan. Para tetua meninggal satu per satu tanpa meninggalkan pewaris, sementara buku-buku aturan permainan ikut menghilang. Hingga akhirnya, Peti Tettong dimainkan oleh para remaja hanya untuk hiburan dan rasa penasaran semata. Aturan-aturannya melenceng, tetapi ritual itu tetap berhasil dilakukan. Sayangnya, arwah yang datang bukan penghuni surga maupun neraka, melainkan roh-roh gentayangan yang ditolak di akhirat.

Novel ini lahir dari event Writing Marathon yang diadakan salah satu penerbit indie, dengan tantangan menulis selama 30 hari berdasarkan tema tertentu. Salah satu tema yang dipilih Karali adalah “Permainan Terlarang”.

Karali mengaku terinspirasi dari novel horor Petak Umpet Minako yang memiliki pola cerita berlangsung hanya dalam satu malam. Selain itu, ia juga menyukai film-film teror berlatar satu malam dengan banyak tokoh. Inspirasi besar lainnya datang dari DreadOut garapan Kimo Stamboel.

Selain dari karya horor, ide premis livestream horor dalam novel ini juga lahir dari kebiasaan masyarakat saat ini dalam mengonsumsi konten digital. Karali mengaku sering melihat ibunya menonton siaran langsung TikTok yang memperlihatkan orang-orang memasuki rumah kosong atau lokasi angker demi hiburan.

“Karena melihat Mama saya yang biasanya suka menonton live TikTok orang masuk ke rumah-rumah kosong, akhirnya saya merasa premis sederhana seperti itu justru dekat dengan keseharian sekarang,” ujarnya.

Karali juga menyebut proses penulisan novel ini dilakukan dengan membangun permainan ritualnya sendiri. Karena dikerjakan dalam waktu singkat, ia memilih menciptakan konsep permainan baru daripada melakukan riset panjang terhadap permainan yang sudah ada.

“Mulai dari cara main, filosofi, mantra, dan lain-lain saya buat sendiri. Dengan begitu saya bisa lebih bebas mengeksplorasi ide,” katanya.

Nuansa budaya Bugis dalam novel ini juga bukan dipilih tanpa alasan. Karali menyebut Sulawesi memiliki banyak peninggalan sejarah dan kebudayaan penting. Salah satunya adalah Sureq Galigo atau I La Galigo, karya sastra epik dari suku Bugis yang dikenal sebagai salah satu karya sastra terpanjang di dunia.

Selain itu, Sulawesi juga menyimpan peninggalan prasejarah penting berupa lukisan gua kuno di Leang Karampuang yang dikenal sebagai salah satu lukisan gua tertua di dunia.

Karali juga memiliki kedekatan personal dengan budaya Bugis karena berasal dari garis keturunan Bugis dari almarhum ayahnya, meski ia mengaku tidak terlalu fasih berbahasa Bugis.

“Karena alasan-alasan itu, akhirnya permainan Peti Tettong dibuat berasal dari Bugis. Tettong sendiri artinya ‘berdiri’. Saya ingin menciptakan semacam efek Mandela atau rasa ganjil selama pembaca membaca novel ini,” jelasnya.

Karali sendiri merupakan pemuda asal Kotabaru, Kalimantan Selatan. Hingga kini, ia telah menghasilkan tiga karya solo. Karya pertamanya berupa novel, sementara karya keduanya adalah kumpulan cerpen yang berhasil menjadi salah satu karya pemenang dalam event dari penerbit berbeda. Peti Tettong menjadi karya novel ketiganya.

Selain aktif menulis, Karali juga menjalani aktivitas sebagai mahasiswa, wartawan di salah satu media daring, serta anggota Gerakan Ekonomi Kreatif Nasional DPC Kotabaru pada subsektor Penerbitan dan Ginfo.

Novel Peti Tettong akan membuka masa pre-order mulai 14 Mei dan dapat dibeli melalui toko Shopee Faza Citra Production serta Faza Citra Book Store.

Dengan atmosfer mencekam, permainan ritual ciptaan baru, serta nuansa horor lokal yang kuat, Peti Tettong menjadi salah satu karya yang patut dinantikan oleh para pembaca sastra di Kalimantan Selatan bahkan Indonesia secara umum.

0 Komentar