![]() |
| Ilustrasi: Piwi/Arkalitera |
Semoga Ya, Semoga
Semoga ya, semoga
Semoga nerakaku mendingin
oleh angin gunung yang terusir
dari ladang yang kehabisan benih
dari padang yang merindukan para gembala
dari tubuh ibu yang tak lagi mahir
membaca cuaca
Semoga siksaku tak terasa
sebab ragaku kelak rekah menyala
bersama bunga api yang mekar
dari kerak jelaga
Semoga dosa-dosa kita terampuni
sebab doa-doa pematang
belum habis berkumandang
parang masih kerap menyayat ilalang
yang terkulai payah di senja menjelang
Semoga matahari tak kikir nutrisi
selagi anak-cucu kami
mencari sesuap nasi
Kala habis tanah tergusur
padi kehilangan masa subur
dan hasil panen yang tak lagi
menjanjikan rasa syukur
Semoga ya, semoga harap segala harap
dapat menetap, meski hati terserungkup
dalam tanggui layu yang menguning.
di sungai yang mencuatkan
jasad-jasad perahu dan bunga kemuning
—yang kering lagi terasing.
Semoga kau, aku, kami, dan kita
bernasib mulia dalam lakon sandiwara
berperan menjadi anak susuan wanita tertata
dan diasuh oleh pria penggembira
Semoga ya, semoga
Semoga suara-suara surga tidak rusuh
dan berisik, semoga ia hanya lembut berbisik.
Semoga janji-janji surga
tidak menjadi lelah yang bikin kita terusik
semoga kita tak sudi jadi munafik.
Alalak, 19 September 2025
Rabb, Rob, Bah
Kita telah alpa di atas tanah ulayat
hingga kita mati di tempat yang jauh
Selendang mamak hanyut di aliran keruh
Parang bapak menjelajahi arus bergemuruh
Izrail berjaga-jaga di tenda darurat bencana
sebelum sempat mengucap belasungkawa
kita sudah dikubur jauh dari akar kamboja
di nisan yang bertumpukan kawat-kawat baja
Berita kematian sekadar menjadi narasi
di koran yang menyingkirkan bait-bait puisi
Bara telah padam tak membakar sekam padi
Hujan menjelma arus yang menetak urat nadi
Suara kematian yang lamat-lamat itu
Mengiris sunyi di penghujung musim
“Ya Rabb, seharusnya hanya rob...”
Lumpur berjejak memenuhi halaman
Sungai tak ubahnya arak-arakan setan
Parade tumpah bangkai kapal dan sampan
Arus muara tak lagi menyeret ikan-ikan
“Mengapa rob menjadi air bah?”
“Ya Rabb, rob semata seketika air bah.”
Entah siapa yang meraup berkah
Jelas siapa yang kebagian musibah
Kita telah alpa di atas tanah ulayat
hingga kita mati di tempat yang jauh
tak ada taburan bunga-bunga kamboja
di tanah yang sedang bermuram durja
Marabahan, 07 Desember 2025
Garis Subtil: Free Memory
entah siapa berlagak hadir
seolah penyair dan puitis
dengan narasi heroisme
menjulurkan tangan
menyalakan api dapur
mengukus beras di periuk
(periuk siapa?)
menyuapi yang lapar
(perut siapa?)
tapi enggan memberitahu
bahwa 1+1 = 2
bahwa 1 x 1 ya sama saja
entah siapa berceloteh bakhil
menuntut dogma segera lahir
dari rancangan perintah
yang mutlak bagi si lemah
namun bisa diubah-ubah
kalau ada yang mulai lengah
Guru di kelas merangkai kata
merumuskan lagi angka-angka
dan anak muridnya duduk rapi
berpangku meja, bersila di kursi
di ruang nyaris semuanya terisi
barang-barang hasil donasi
kemurahan sifat Sang Ilahi
pena dan buku
celana dan sepatu
belum sempat terbeli
mama mengais pundi-pundi
yang berserak serupa kerak nasi
pena dan buku belum terbeli
tinta pena sisa setitik lagi
kertas buku sisa selembar
hanya muat sekelebat sabar
celana dan sepatu belum terbeli
sehabis koyak saat riang berlari
robeknya sudah selebar dahi
ditambal dengan sisa liur basi
mama berbisik mengeja tulisan
dari anaknya yang baru saja
lancar merangkai kalimat magis
bilang ke mama “jangan menangis”
titik-titik tinta di atas kertas
mama belum mengeja tuntas
anaknya terlanjur bergegas
mencari pena dan buku
memakai celana dan sepatu
lekas berjalan dan menjauh
dari hari-hari jerih dan sedih
yang teramat pekat di masa lalu
tinta menembus kertas di ujung pena
di buku yang penuh ucapan duka
berlarian riang sepatunya di surga
belasungkawa yang khilaf terselip
di kantong celana para penguasa
Marabahan, 08 Februari 2026
TENTANG PENULIS: G. SALSABILA, asli Barito Kuala, Kalimantan Selatan. Honorer tenaga kesehatan. Instagram: @hi_ghinas.
⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar