![]() |
| Illustrasi: bingodesigns/Pixabay |
Saya sedang membaca Muqaddimah karya Ibn Khaldun saat kemudian tawaran untuk membedah antologi puisi ini datang. Sekilas keduanya memang terasa jauh sekali. Tapi saya kira Ibnu Khaldun memberikan sedikit petunjuk menyoal kacamata apa yang mesti saya kenakan ketika membaca buku Pesiar Tanpa Berlayar ini: sebuah kacamata yang, sejujurnya, masih terasa buram buat saya pribadi.
Ibnu Khaldun dalam buku seribuan halaman itu mengajarkan satu kecurigaan sederhana pada saya: bahwa tidak ada kebudayaan yang lahir tanpa tanah tempat berpijak. Iklim, lanskap, cara hidup, bahkan jenis pekerjaan dominan dalam suatu masyarakat perlahan membentuk perilaku kolektifnya. Perilaku itu kemudian turut menetes ke bahasa kita—baik lisan maupun tulisan—dan pada akhirnya memengaruhi cara kita memandang dunia.
Jika mengikuti kecurigaan Ibnu Khaldun lebih jauh, tanah bukan hanya perkara geografis yang pasif. Ia adalah ruang hidup yang terus-menerus membentuk ritme keseharian manusia. Di wilayah agraris, misalnya, waktu bergerak mengikuti musim tanam dan panen. Di wilayah pelabuhan, ritme hidup ditentukan oleh arus perdagangan dan kapal-kapal yang datang dan pergi. Sementara di wilayah sungai seperti Kalimantan Selatan, kehidupan sehari-hari sejak lama disusun oleh aliran air. Pasar terapung, jalur transportasi sungai, hingga pola permukiman yang memanjang mengikuti tepian air, semuanya membentuk cara masyarakat berinteraksi dengan ruang. Sungai bukan hanya lanskap, tetapi juga jalur ekonomi, ruang pertemuan sosial, bahkan medan imajinasi kolektif.
Dalam kerangka itu, bahasa yang tumbuh di sebuah wilayah sering kali membawa jejak ritme hidup tersebut. Bahasa tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga cara masyarakat mengorganisasi pengalaman mereka terhadap dunia. Cara seseorang menyebut hujan, sungai, lumpur, atau tanah tidak selalu netral; ia sering memuat pengalaman hidup yang panjang bersama lanskap itu.
Jika dugaan ini kita bawa ke wilayah puisi, maka lanskap bukan sekadar latar yang muncul sebagai dekorasi imaji. Ia dapat menjadi sumber dari kecenderungan estetik itu sendiri. Sebuah masyarakat yang hidup dalam ritme sungai mungkin cenderung menghasilkan bahasa yang mengalir, lebih kontemplatif, lebih pelan dalam artikulasinya. Sebaliknya, masyarakat yang hidup dalam ruang konflik sosial yang lebih keras mungkin melahirkan bahasa yang lebih retak, lebih konfrontatif, bahkan lebih gaduh.
Tentu saja hubungan ini tidak pernah bekerja secara mekanis. Tanah tidak secara otomatis menentukan bentuk puisi seseorang. Banyak contoh dalam sastra dunia yang menunjukkan bahwa dua penyair yang hidup dalam lanskap yang sama dapat menghasilkan suara yang sangat berbeda. Namun setidaknya ia memberi petunjuk awal bahwa estetika puisi sering kali tidak lahir di ruang kosong, melainkan dalam hubungan panjang antara manusia, lingkungan hidupnya, dan sejarah sosial yang mereka jalani.
Dengan kecurigaan itu, ketika saya membaca puisi-puisi dalam buku ini, rasanya sulit jika saya hanya membaca larik, metafora, atau diksi semata. Saya terus dibayangi pertanyaan tentang kondisi tanah seperti apa yang memungkinkan bahasa puisi ini tumbuh, dan dalam arus sosial seperti apa ia mengalir.
Buku puisi terakhir yang saya baca sebelum ini adalah Song of Lawino (1965) karya Okot p'Bitek. Sebuah buku puisi dengan nada oral yang pecah, konfrontatif, dan performatif—yang terang sekali dipengaruhi kondisi sosial Uganda pasca lepasnya kolonialisme Inggris.
Sementara Pesiar Tanpa Berlayar, antologi penyair muda Kalimantan Selatan ini, menyuguhkan suara yang berbeda: lebih tertib, cenderung lirikal, spiritual, dan reflektif. Banyak sekali imaji alam, puisi aku-lirik yang kontemplatif, serta sesekali kritik sosial yang cenderung tereduksi menjadi perenungan batin penyair.
Kesan awal ini saya dapatkan setelah membaca buku ini secara utuh. Saya merasa ada satu suara kolektif yang dimiliki penyair di dalamnya—yang memang tidak sepenuhnya sama dalam tema, tetapi serupa dalam nada. Seolah-olah ada semacam kesepahaman tak tertulis tentang bagaimana puisi mesti berbunyi: mengalir, tertib, tidak berteriak, dan bila pun mengkritik, ia memilih jalur sunyi.
Saya tidak mengatakan itu sebagai kekurangan. Bisa jadi justru di sanalah letak wataknya. Sebuah wilayah yang tumbuh dari peradaban sungai, dari religiusitas yang meresap dalam keseharian, dari kebiasaan hidup yang tidak tergesa, barangkali memang melahirkan bahasa yang demikian.
Memang ada dua-tiga penyair di dalam buku ini yang keluar dari kebiasaan penulis lainnya—yang lebih frontal dalam mengeksplorasi puisi, baik secara bahasa maupun tema—tetapi mereka hanya segelintir dari sekian nama, sehingga menjadi suara minor dalam keseluruhan antologi ini.
Saya kira, jika kita membaca beberapa puisi secara acak dari buku ini dengan menghilangkan nama penyair dan titimangsanya, kita mungkin masih bisa menebak bahwa puisi itu lahir dari wilayah yang sama: Kalimantan Selatan. Tetapi akan cukup sulit menebak siapa penulisnya, karena kemiripan pola antara satu penulis dengan lainnya.
Di sinilah watak kolektif itu menemukan petakanya. Kita tampak kesulitan menemukan ketegasan suara sendiri. Hampir tak ada suara mencolok yang benar-benar membedakan penyair A dari penyair B. Kita seperti disuguhkan satu buku tebal kumpulan kosa kata yang sama, lalu masing-masing penyair mengambil dari buku tersebut dan menyusunnya kembali dalam bentuk-bentuk yang senada.
Saya juga mencoba membaca beberapa penyair lain yang secara generasi tidak terpaut jauh tetapi tumbuh di wilayah berbeda. Dalam karya Faisal Oddang atau Dadang Ari Murtono misalnya, lokalitas hadir bukan sekadar sebagai lanskap atau latar, melainkan sebagai ruang konflik yang terasa bekerja aktif di dalam puisi.
Sebaliknya, dalam puisi-puisi pada antologi ini, lokalitas lebih sering hadir sebagai ruang kontemplasi. Alam menjadi tempat perenungan, bukan arena pertarungan.
Pertanyaannya bukan siapa yang lebih berhasil atau lebih matang, melainkan: mengapa kecenderungan estetiknya terasa saling mendekati?
Pertanyaan ini menjadi semakin menarik ketika kita melihat contoh lain dalam sastra. Mario Lawi banyak menulis puisi yang bersinggungan dengan narasi Perjanjian Lama. Di sisi lain, Avianti Armand juga menginterpretasikan kisah-kisah perempuan dalam Perjanjian Lama, tetapi dengan suara yang sangat berbeda, meski sumber naratifnya beririsan. Artinya, kesamaan sumber atau bahkan kedekatan konteks tidak serta-merta melahirkan suara yang seragam.
Di kesusastraan kita, masalahnya, bahkan jika kita beranjak dari Pesiar Tanpa Berlayar menuju buku-buku lain dalam khazanah perpuisian Kalimantan Selatan, kita akan menemukan banyak sekali nada yang mirip itu—baik dari penyair yang lahir pasca-Orde Baru maupun yang sebelumnya.
Jika dalam satu wilayah kita menemukan kemiripan pola yang cukup kuat, barangkali yang bekerja bukan semata-mata tanah atau tema, melainkan sesuatu yang lebih halus: selera bersama, kecenderungan estetik yang diwariskan, atau ruang pergaulan sastra yang secara tak sadar membentuk bagaimana puisi itu sebaiknya berbunyi.
Di sini saya teringat gagasan Pierre Bourdieu tentang dunia sastra sebagai sebuah ruang dengan aturan-aturannya sendiri. Di dalamnya ada selera yang dianggap wajar, bentuk yang dianggap pantas, dan hal-hal yang sebaliknya. Aturan itu tidak pernah benar-benar ditulis, tetapi hidup dalam forum diskusi, dalam cara kita memuji sebuah puisi, atau dalam cara kita diam terhadap puisi yang lain.
Bisa jadi kemiripan suara yang saya temukan itu bukan semata-mata soal bakat individu, melainkan hasil dari ruang tumbuh yang kurang lebih sama: berbincang dengan guru yang sama, membaca buku yang sama, bahkan membaca puisi di panggung yang sama pula.
Jika asumsi ini benar, maka kemiripan suara yang kita miliki bukanlah kesalahan individu, melainkan gejala kebiasaan yang terbentuk di habitat kesusastraan kita sendiri, di tanah penuh puisi ini, Kalimantan Selatan.
Sekian. Terima kasih.
⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar