![]() |
| Ilustrasi: piwi/arkalitera |
(Disampaikan untuk kegiatan Tadarus Puisi tahun 2026 di Banjarbaru)
Dinamika sastra seringkali terjebak dalam dikotomi "Pusat" dan "Pinggiran". Selama berdekade-dekade, narasi besar kesusastraan seolah-olah hanya ditentukan oleh denyut nadi ibu kota. Namun, sejarah mencatat bahwa pergerakan kebudayaan yang paling autentik justru sering kali lahir jauh dari hiruk-pikuk pusat kekuasaan.
Salah satu manifestasi paling nyata dari fenomena ini adalah lahirnya buku antologi puisi penyair nusantara "142 Penyair Menuju Bulan" yang lahir dari kota kecil bernama Banjarbaru. Buku ini bukan sekadar kumpulan puisi atau proyek literasi, melainkan sebuah strategi diplomasi yang dikurasi oleh sastrawan Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Arsyad Indradi.
Dengan menghimpun 142 penyair dari berbagai negara serumpun, Indonesia, Malaysia, Singapura, dan Brunei Darussalam, Arsyad Indradi tidak hanya sedang membukukan puisi, tetapi sedang menjalankan sebuah misi diplomasi pinggiran.
Poros yang dibangun Arsyad Indradi adalah poros yang cair namun kuat. Melalui judul "Menuju Bulan", beliau menawarkan satu visi (satu poros) yang bisa diterima oleh semua latar belakang ideologi maupun kewarganegaraan. Strategi ini berhasil karena bulan sebagai simbol netral - bulan tidak memihak satu negara pun; ia adalah milik siapa saja yang memandangnya. Ini adalah pilihan diksi diplomasi yang kuat.
Diplomasi Pinggiran
Selama ini, peta sastra sering kali bersifat sentralistik. Pusat memiliki kecenderungan menentukan hidup-mati kreativitas di daerah. Arsyad Indradi, dari titik Banjarbaru melakukan pemberontakan yang elegan. Ia membuktikan bahwa daerah (pinggiran) bukan sekadar konsumen budaya, melainkan mampu menjadi produsen sekaligus pengatur arus sastra internasional.
Diplomasi pinggiran ini menunjukkan bahwa otoritas estetika tidak lagi milik ibu kota, melainkan milik siapa saja yang mampu menggerakkan massa kreatif secara kolosal. Dengan kata lain, Arsyad Indradi melalui buku 142 Penyair Menuju Bulan telah berhasil mendekonstruksi sentralisme, yakni melawan hegemoni kota besar dengan menjadikan daerah sebagai Hub (titik temu) internasional.
Jika mengamati karya-karya pada buku tersebut, nuansa egaliter estetik begitu terasa. Arsyad Indradi membuka ruang lebar menghapus kasta antara penyair senior dengan penyair muda. Semua berdiri setara di bawah naungan tema "Menuju Bulan"
Julukan Penyair Gila
Sebagai seorang sastrawan, Arsyad Indradi, sama halnya sastrawan yang lain, atau para penulis pada umumnya, memahami bahwa buku merupakan pencapaian akhir dari proses panjang kepenulisan. Setidaknya ada tiga kesulitan yang bisa saya pahami di sini, yakni: proses menemukan ide tulisan, proses bagaimana menuliskannya dan terakhir bagaimana menerbitkannya.
Buku 142 Penyair Menuju Bulan juga tidak terlepas hal tersebut. Khususnya dalam proses penerbitan. Takdir saya mungkin menjadi salah satu saksi, sekaligus bagian dari terwujudnya buku tersebut.
Seperti yang pernah disampaikan Arsyad Indradi dalam beberapa kesempatan, jika dulu di SMP Negeri 2, saya adalah murid beliau, tapi dalam bab ilmu percetakan dan penerbitan buku, saya adalah guru bagi beliau. Demikian juga dalam pembuatan website. Meski demikian, bagi saya, beliaulah guru sejati itu, seorang guru yang sudah sejak awal menancapkan pondasi berpikir dan disiplin dalam belajar.
Kenapa hal tersebut harus saya ceritakan? Tujuannya adalah menjelaskan kenapa dan bagaimana sehingga Arsyad Indradi meraih gelar kehormatan sebagai penyair gila.
Kegilaan-kegilaan yang saya ketahui langsung adalah:
- Beliau tidak mahir komputer, tapi demi 142 Penyair Menuju Bulan, beliau mau mengupgrade diri belajar mengoperasikan software desain seperti Corel Draw, Adobe Photosop dan Adobe Pagemaker dalam waktu singkat.
- Beliau rela menjual sebidang tanah untuk modal membeli berbagai peralatan cetak sederhana, seperti printer laser, kertas dan lain-lain. Keputusan itu diambil karena pertimbangan harga cetak buku yang mahal sehingga perlu mencetak sendiri
- Beliau memproses penjilidan sampai finishing sendiri hanya dengan mengunakan pisau cutter, lem dan penggaris. Buku ini sangat tebal dengan jumlah halaman berkisar 700 an halaman
- Belum cukup menerbitkan buku, Arsyad Indradi mempublikasikan ulang karya-karya tersebut melalui website blog yang jumlahnya ratusan blog sesuai dengan nama penulisnya masing-masing. Blog-blog tersebut masih bisa kita baca hingga sekarang.
Setidaknya, dari lima alasan tersebut, ketika buku 142 penyair menuju bulan beredar disertai dengan cerita proses kreatifnya, maka saat itulah decak kagum ‘Gila’ itu pun berkumandang secara massal.
Banjarbaru, Jumat, 26 Maret 2026
⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘
Tentang Penulis: Harie Insani Putra, penulis berasal dari Kalimantan Selatan.
⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar