Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

UPAH SUNYI DI BALIK PELAMINAN KEKUASAAN: JURNALIS SEBAGAI FANTASI PALING INDAH KAUM BORJUIS

Ilustrasi: Piwi/Arkalitera

Di bawah temaram lampu meja redaksi yang mulai kehilangan pijar dan deru pendingin ruangan yang terdengar renta, seorang jurnalis duduk menatap layar. Jemarinya lincah, pikirannya tajam, tetapi perutnya kerap kosong. Ia sedang melakukan pekerjaan yang paling paradoks dalam sejarah modern: melukis wajah malaikat di tubuh iblis, merangkai keindahan bahasa untuk menutupi kebusukan realitas.

Dalam kacamata Marxisme, jurnalis hari ini adalah representasi paling telanjang dari mimpi basah kaum borjuis. Ia adalah buruh dengan keterampilan tinggi, etos kerja nyaris tanpa batas, dan idealisme yang terus diperas hingga tetes terakhir. Ia diminta cerdas, kritis, berani, dan setia pada kebenaran, tetapi juga dituntut tabah hidup dalam kekurangan—bahkan diajari untuk bersyukur atas penderitaan yang disulap menjadi kebajikan moral.

Karl Marx pernah menulis bahwa “buruh semakin miskin, semakin banyak kekayaan yang ia hasilkan.” Kalimat itu kini terasa begitu akrab di ruang-ruang redaksi. Jurnalis menulis tentang ketimpangan, ketidakadilan, dan eksploitasi, sembari menutup mulutnya sendiri ketika berbicara soal upah, kontrak kerja, dan masa depan. Ia dituntut objektif pada dunia, tetapi tidak diberi ruang untuk jujur pada nasibnya sendiri. Kritiknya lantang ke luar, namun tumpul ke dalam—sebab perut tidak pernah bisa diajak berdiskusi soal ideologi.

Estetika di Atas Pusara

Jurnalisme hari ini tak lagi sekadar draf pertama sejarah. Ia menjelma salon kecantikan kekuasaan. Di atas meja redaksi, jurnalis kerap dipaksa menjadi perias bagi dua pengantin abadi demokrasi: legislatif dan eksekutif. Mereka dipoles agar tampak molek di atas pelaminan megah bernama stabilitas dan pembangunan. Padahal, pelaminan itu berdiri di atas tanah yang basah oleh air mata, peluh, dan darah rakyat yang terpinggirkan.

George Orwell pernah mengingatkan, “jurnalisme adalah mencetak sesuatu yang tidak ingin dicetak orang lain; selebihnya adalah hubungan masyarakat.” Tragisnya, jurnalis hari ini sering dipaksa melakukan keduanya sekaligus—tanpa tambahan upah, tanpa perlindungan martabat. Ia menuliskan kebenaran untuk publik, sembari memalsukan penderitaannya sendiri. Inilah alienasi dalam bentuk paling sempurna: ketika seseorang merasa asing dengan hasil kerjanya sendiri, karena tulisan itu bukan lagi milik nurani, melainkan milik pemegang saham.

Mochtar Lubis jauh hari telah memperingatkan, “Pers yang bebas adalah salah satu pilar demokrasi, tetapi pers yang tunduk pada kepentingan kekuasaan dan modal adalah pengkhianat nurani bangsa.” Namun pengkhianatan itu kerap tidak dilakukan dengan suka rela. Ia lahir dari tekanan struktural, dari dapur yang tak lagi mengepul, dari slip gaji yang tak pernah sebanding dengan beban kerja.

Senjakala Cetak dan Tirani Satu Menit

Satu per satu, koran, majalah, radio, dan televisi tumbang. Sebagian mati perlahan dalam sunyi, sebagian lain rontok dihantam zaman. Mereka digilas oleh algoritma video satu menit di media sosial—dangkal, cepat, tetapi rakus perhatian. Dapur redaksi yang dulu sakral berubah menjadi penggorengan berita basi demi mengejar traffic dan engagement.

Bill Kovach dan Tom Rosenstiel dalam The Elements of Journalism telah mengingatkan, “Ketika jurnalisme mulai mengabdi pada kepentingan keuntungan finansial di atas segalanya, ia kehilangan haknya untuk disebut sebagai profesi." Namun peringatan itu seolah tenggelam di tengah rapat-rapat manajemen dan laporan keuangan. Ketika pendapatan tak sebanding, solusi tercepat selalu sama: pemecatan. Akar persoalan tak pernah disentuh, sementara korban terus berjatuhan.

Walter Lippmann pernah menyebut pers sebagai jembatan antara realitas dan publik. Kini jembatan itu keropos. Di luar, linimasa dipenuhi keributan, saling caci, dan perkelahian opini—pasar perhatian yang riuh, tetapi miskin makna. Di dalam, jurnalis dipaksa menjadi tenaga pemasaran: mencari iklan, mengejar cuan, dan tetap diminta menjaga idealisme seolah idealisme bisa membayar kontrakan dan biaya sekolah anak.

Melawan Lupa, Menolak Punah

Salah siapa? Pertanyaan itu menggema di lorong-lorong redaksi yang sunyi. Salah siapa jika sejak awal kata-kata diperlakukan sebagai komoditas, dan jurnalis hanya dianggap sekrup kecil dalam mesin akumulasi kapital? Marxisme mengingatkan kita: selama alat produksi media dikuasai oleh segelintir elit, narasi yang lahir tak akan pernah sepenuhnya bebas. Ia akan selalu condong ke atas, dan lupa menengok ke bawah.

AJ Liebling pernah menyindir, “kebebasan pers dijamin hanya bagi mereka yang memilikinya.” Hari ini, bahkan banyak jurnalis tak lagi memiliki kebebasan itu. Mereka terikat pada kontrak rapuh, upah rendah, dan ancaman pemecatan yang datang sewaktu-waktu. Kebebasan berubah menjadi ilusi, dan idealisme menjadi beban moral yang terus dieksploitasi.

Jurnalis investigasi John Pilger menegaskan, “Tugas jurnalis bukan untuk disukai, bukan untuk menjadi bagian dari kemegahan, tetapi untuk melaporkan apa yang tidak ingin didengar oleh mereka yang berkuasa.” Di Indonesia, Ignatius Haryanto mengingatkan bahwa keberanian jurnalisme tak hanya diuji dalam melawan kekuasaan politik, tetapi juga dalam melawan ketidakadilan struktural di dalam industrinya sendiri.

Pada akhirnya, krisis media bukan semata krisis teknologi atau perubahan selera audiens. Ia adalah krisis etika ekonomi-politik. Selama jurnalis diperlakukan sebagai alat produksi murah dengan tuntutan kerja mahal, selama penderitaan mereka disakralkan atas nama idealisme, maka keruntuhan media hanyalah soal waktu.

Dan mungkin, di situlah ironi terbesar jurnalisme hari ini: ia sibuk membela kaum tertindas di luar sana, tetapi gagal membebaskan dirinya sendiri dari penindasan yang paling dekat—di ruang redaksi, di slip gaji, dan di meja makan yang kian sepi. Bangsat! 

Selamat Hari Pers, kawan. Masih kuat, kan?

⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘

Tentang penulis: Andy Arfian, seorang Pekerja media yang mencintai sastra. Suka menulis puisi, esai, cerpen atau novel. Dulu sering, sekarang lebih sering nulis proposal bisnis dan materi mengajar jurnalistik. Dibesarkan oleh karya-karya: Hilman Hariwijaya, Gola Gong, Pramoedya, dan pernah pusing dengan karya-karya Shakespeare, Austen, dan Dickens saat kuliah di sastra Inggris.

⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com



0 Komentar