Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

PUISI-PUISI MUHAMMAD RASYID ZAKI

Ilustrasi: Piwi/Arkalitera


HATI YANG TIDAK HATI-HATI 

Pagi di teras berhalaman cempaka
duduk secangkir kopi hitam legam
orang-orang berlalu lalang menyapa
ayam berkokok membaca tanda-tanda 

Aku menulis pesan singkat yang dibalas lama
kau membawa kabar dari percakapan
yang tenggelam di tindih kubangan pesan 

Di depan layar telepon genggam
Isyarat sandi mengintai tangan-tangan
curiga menjadi sebab delusi dan waktu
berpacu dengan hati yang kerap tidak hati-hati 

Kau semringah seperti bunga-bunga
Dan aku murung rerumputan layu
di antara ruas jalanan, benar-benar tak berdaya

--- 

HARAP YANG ENGAP-ENGAP

Di antara kerumunan hujan dan
sepasang kekasih yang berteduh dibawahnya
Rindu berdiam di balik iri,
mengalir deras bagaikan limpasan air
Menyaksikan aku menjerit terluka 

Langit di kepala tampak berbeda
Tak ada panas terik  yang berkobar,
serupa retak dan awan hitam yang jatuh menimpa jemuran,
dibiarkan basah dan ditinggal pergi tanpa perasaan 

Doa-doa juga tak kunjung tiba
Macam usaha tak kunjung hasilnya 

Aku diam-diam menyelinap reruntuhan hujan
dengan gigil dan suara engap-engap
Berharap agar harap-harap tentangmu segera kau dekap.

--- 

AKULAH BUNGA-BUNGA YANG BEREKREASI DI ANTARA GARIS KHAYAL BARITO

Telah terbentang dari Utara pegunungan Lauser,
dan bermekaran bunga-bunga
di sepanjang hilir musim kota seliur selidah
saat aku masih terjaga dari pagi,
setelah embun melayapi rerumputan
yang tak lagi hijau di pinggang kiri kanan jalanan kota Barito. 

Ku ambil secarik larik puisi dengan kopi hitam pekat
di antara komat kamit muntung acil warung di pinggiran sungai,
garitan pena bertemu mesra suara-suara tongkang.
Menuliskan titik tertinggi saat aku beberapa kali tak sanggup
menahan mendung di mataku untuk tidak berujar gimana-gimana. 

Haruskan begitu?
Haruskah sengat matahari diartikan
ketidakberdayaan diriku saat marigold
dan lavender menoleransi keberadaannya,
haruskah aku membenci hujan yang mengguyuri bumi,
melelehkan tanah, menggenangi harapan para pedagang kaki lima
saat bougenville dan tepak dara merindukan kasih dari hujan. 

Apakah aku harus pergi berekreasi,
barangkali puisi-puisi ini akan lebih bisa dimengerti.

--- 

TUBUH DI JAGAT MAYA

Aku  lah sang hamba jagat maya
mataku buta dan kepalaku bising
tubuhku mengulas segala regas
dan keringat jatuh membasahi
tubuh pipih bermata kaca 

Risau angin berhembus
menembus lapisan suara
gaduh di telinga,
tak kepalang
kepalaku gaduh
tak berdaya.

Goresan telah sirna
tak lagi berdansa di atas kertas
berisik suara-suara sobek
tak lagi merdu di telinga 

Tawa, duka, lara dan nestapa
melebur dalam lautan kaca 
di antara raga dan sukma
tubuhku sudah tidak lagi berirama
sebab kata-kata telah mati berupaya

 --- 

NONA

Apa kabar dirimu di ujung malang
Apalah tuan yang telah pulang
Sedang nona bersenang-senang 

Hai-hai nona manis
Masihkah kau gerimis
Semenjak sajak-sajak
telah hilang menyudahi
resah di antara pelipis 

Guyur aku menjadi telaga
menjadi danau
di antara hujan-hujan
yang membasahi mata 

Dan adakah di sana kau yang bening
Mengalir di hati yang jelaga


⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘

Tentang Penulis: Muhammad Rasyid Zaki akrab disapa Zaki, yang menjadikan membaca dan menulis juga nonton drama korea sebagai pelarian dari aktivitas pekerjaan. Lebih sering menulis puisi daripada cerita sebab belum ada cerita yang menarik yang ingin diceritakan. Sejak 2018 sudah aktif nulis di sosial media dan blog. Buku pertamanya antalogi puisi bersama kedua temannya “Rona Merah (2023)”.
⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘

Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com


0 Komentar