HATI
YANG TIDAK HATI-HATI
Pagi di teras berhalaman cempaka
duduk secangkir kopi hitam legam
orang-orang berlalu lalang menyapa
ayam berkokok membaca tanda-tanda
Aku menulis pesan singkat yang dibalas lama
kau membawa kabar dari percakapan
yang tenggelam di tindih kubangan pesan
Di depan layar telepon genggam
Isyarat sandi mengintai tangan-tangan
curiga menjadi sebab delusi dan waktu
berpacu dengan hati yang kerap tidak
hati-hati
Kau semringah seperti bunga-bunga
Dan aku murung rerumputan layu
di antara ruas jalanan, benar-benar tak
berdaya
---
HARAP YANG ENGAP-ENGAP
Di antara kerumunan hujan dan
sepasang kekasih yang berteduh dibawahnya
Rindu berdiam di balik iri,
mengalir deras bagaikan limpasan air
Menyaksikan aku menjerit terluka
Langit di kepala tampak berbeda
Tak ada panas terik yang berkobar,
serupa retak dan awan hitam yang jatuh
menimpa jemuran,
dibiarkan basah dan ditinggal pergi tanpa
perasaan
Doa-doa juga tak kunjung tiba
Macam usaha tak kunjung hasilnya
Aku diam-diam menyelinap reruntuhan hujan
dengan gigil dan suara engap-engap
Berharap agar harap-harap tentangmu segera
kau dekap.
---
AKULAH BUNGA-BUNGA YANG BEREKREASI DI ANTARA GARIS KHAYAL BARITO
Telah terbentang dari Utara pegunungan
Lauser,
dan bermekaran bunga-bunga
di sepanjang hilir musim kota seliur
selidah
saat aku masih terjaga dari pagi,
setelah embun melayapi rerumputan
yang tak lagi hijau di pinggang kiri kanan
jalanan kota Barito.
Ku ambil secarik larik puisi dengan kopi
hitam pekat
di antara komat kamit muntung acil warung
di pinggiran sungai,
garitan pena bertemu mesra suara-suara
tongkang.
Menuliskan titik tertinggi saat aku
beberapa kali tak sanggup
menahan mendung di mataku untuk tidak
berujar gimana-gimana.
Haruskan begitu?
Haruskah sengat matahari diartikan
ketidakberdayaan diriku saat marigold
dan lavender menoleransi keberadaannya,
haruskah aku membenci hujan yang mengguyuri
bumi,
melelehkan tanah, menggenangi harapan para
pedagang kaki lima
saat bougenville dan tepak dara merindukan
kasih dari hujan.
Apakah aku harus pergi berekreasi,
barangkali puisi-puisi ini akan lebih bisa
dimengerti.
---
TUBUH DI JAGAT MAYA
Aku
lah sang hamba jagat maya
mataku buta dan kepalaku bising
tubuhku mengulas segala regas
dan keringat jatuh membasahi
tubuh pipih bermata kaca
Risau angin berhembus
menembus lapisan suara
gaduh di telinga,
tak kepalang
kepalaku gaduh
tak berdaya.
Goresan telah sirna
tak lagi berdansa di atas kertas
berisik suara-suara sobek
tak lagi merdu di telinga
Tawa, duka, lara dan nestapa
melebur dalam lautan kaca
di antara raga dan sukma
tubuhku sudah tidak lagi berirama
sebab kata-kata telah mati berupaya
NONA
Apa kabar dirimu di ujung malang
Apalah tuan yang telah pulang
Sedang nona bersenang-senang
Hai-hai nona manis
Masihkah kau gerimis
Semenjak sajak-sajak
telah hilang menyudahi
resah di antara pelipis
Guyur aku menjadi telaga
menjadi danau
di antara hujan-hujan
yang membasahi mata
Dan adakah di sana kau yang bening
Mengalir di hati yang jelaga

0 Komentar