Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

PUISI-PUISI KARST MAWARDI

 

Ilustrasi: Piwi/Arkalitera



Viva Adverbia!

 

tanpa Dengan aku separuh

menjauh dari keutuhan

pun lenganku sendiri

jadi kanan yang asimetris

jika Tanpa mengisolir kiri

 

Bahkan yang menyorot diriku

menemukan partikularitas

semacam preposisi lain

samar dan nirarah dan

Kecuali mengerucutkannya

sebagai bakal-prioritas

 

lari estafet lempar tangkap

verba yang tak disela Atau

kujalani dan Sekaligus pun

inheren dalam pengaturan ini

 

tiada Jangan yang menghambat

lajuku dan Tiada pun

menegasikan negasinya sendiri

mengambil alih bilangan 0

sebagai representasi:

 

sebuah portal yang dijaga Mungkin

 

melintaslah aku ke kanan

menuju posibilitas paling positif

mengabaikan Mustahil di balik

punggungku dengan sepasukan

-1, -3, -9, -27, … komplotan negatif

yang bermaksud memberantas Segeraku

memberangus Maha dari realisasi

 

interjeksi Hah! kulantangkan

dengan intonasi tertegas, naik empat

tingkat dari lintasan yang lewat

dan di sinilah Semakin mencegatku

memikirkan ulang apakah tujuan

bagaimanakah konsekuensi

 

belum sebatas Telah dan

tidak mencapai Pasti

namun Masih bagai sediakala

dan aku khawatir kekinian

berangsur surut menjadi Hanya

 

logis-tidaknya skema begini

rentan divonis imperatifitas Harus

(bahkan Justru mendekonstruksi

konstituen di luar relasi kontingen)

 

sebelum Lagi mereproduksi galat

atas Lalu yang kupresedenkan

secara gawat, kupanggil

Kemudian untuk berunding

perihal divergenitas predikat


 ---

Agak

 

       ia dekat, tetapi

3,5 cm

       dari sentuhan jari

tak menimbulkan apapun

       pada bola plastisin

 

       di pinggir meja, maksudku,

sekedar selembar papan

       ditempatkan atas 3 tiang kayu

dengan 1 sudutnya melayang

       tanpa penyangga.

 

       ia rentan

seperti predikat kuat

       pada subjek “laki-laki”

atau “perempuan”, timbul

       tenggelam di mata pengamat

 

       seperti satu tunggul kayu

tertancap di perairan deras

       tersampuli cangkang tiram

mungkin teritip, mungkin

       kerang hijau

 

       hijau! ia sehijau batu akik

pada cincin seorang kakek

        (atau nenek?) dalam

ingatan seorang pemuda tentang

       tangan yang

 

       menjitak jidatnya saat

ia mengaku kalah oleh 

       keraguan, melihat kepingan

dinar-dirham tak ubahnya 

       irisan pisang (yang masak diperam?)

 

       tercurahkan dalam wadah

mangkuk-setengah-nampan di

       pangkuan peminta-minta atau

kanak-kanak pencuri mangga

       : kelimpahan

 

       yang menggulingkan wadahnya sehingga

nyaris kosong bagai

       semula, dan gravitasi, dan

tangan yang mencoba

       menahan

 

       kejatuhan, bahkan

segigit bagiannya, dari papila lidah yang

       baru saja mencecapnya

:  ia sepat   (mungkin, dalam kadar

       yang tak teramat)

 

---

 

Sedangkan


variasi
tak lantas sejalan dengan
                         koherensi

sejenak
singgirkan  konsepsi   tentang
                                  toleransi

kemudian
ajukan cetak biru paling radikal soal
                                       diskriminasi

dan publikasi
akan menjadi  konduktor,  menjadi  kalor 
                                                  itu sendiri

Sedangkan pun
dianakkandungkan oleh nalar para oposisi yang
                                                  kadung terbakar

betapa seimbang
geliat api yang berkobar,  dan hitam pekat arang pada
                                                                 tiap seberang

di akhir babak
yang tegak tinggal abu; Sedangkan tiada lagi—inilah implikasi
                                                                             inilah harmoni


 ---

Kecuali

 

kriteria melahirkanku

bukan lagi sebagai kerangka, perancah

 

lebih dari itu

akulah teritori

 

hal-ihwal datang dari setiap arah

bermaksud memasuki jantung negara

memperebutkan predikat Paling di sini

bermimpi menjadi alusi yang laris dikutip

lantas transenden melampaui segala kitab

 

termasuk kau!

 

tapi tahan dulu dengus liarmu

perkenalkan lah dirimu padaku

 

ideologi macam apa yang menyusun anatomimu

sehingga bobotmu terus berlipat ganda dalam

“agenda penerobosan nilai-nilai struktural"

atau “ritus penyerahan diri demi penerimaan dunia”?

 

segala keluhuran—atau tetek-bengek

yang konon terasa manis jika kau mencapainya

kendati mengejek kekinianmu yang naif

 

Katakan!

 

wilayah mana yang hendak kaurambah?

seberharga apa keterlibatan yang kaudamba?

siapa pun, termasuk aku, gampang saja mengulurkan tangan

dengan atau tanpa senyum saat menyambutmu

 

meski sayang sekali

uluran begini

tak melulu soal ketakziman

tak selalu bermakna jabat tangan

 

sekarang—tunjukkan pedangmu

 

ayo lawan Aku!


---


Viva Adjektiva!

 

            Buat adik kami

            Bro Affan Kurniawan

 

ini jelas dan nyata

meski masih melayang

sebagai gumpalan

ngikut air berpusar

 

kita enggan diendapkan

 

dasar yang jauh

hitam pekat seluruh

likat dan tajam

didih dalam pengucilan

 

sesak telak mendepak

goyah menyangkal pijak

tapi kemarikan eratmu

kemarikan merah tak terpadamkan itu

 

kami deras bagi ladang gerakmu

 

kosong lapang kentara

pun gemuruh marak adanya

namun seluas pandang nyalamu jadi

menentang mata yang lama buta

 

apa yang cuma efek samping

kini anteseden tiap peristiwa

apa yang rapuh larut lenyap

kini arus pembiak prahara

 

pembungkaman berbalik arah

di ruang hampa penderitaan kolektif

dan segala yang ngucur dari robekan

ialah hujan merah muda panas

 

wabah patina paling subversif


 ---


“Hukum Kekekalan Predikat!” Membayangkan

Ahmad Yulden Erwin berseru begitu lantang

tanpa podium di antara lalu-lalang hal-ihwal

menolak sistem tertutup dan, tentu saja: otoritas!

Lempar tangkap kekuasaan telah berakhir dan

kini subjek sekedar tuas menunggu datangnya

gerak: potong bagi gunting, dorong bagi gerobak.

Sirkulasi menemukan rute lain bagi distribusi

gagasan ketika seorang bocah tertawa mendengar

kata kecubung disebut—miskonsepsi antara batu

dengan tanaman menemu kesatuan motif dalam

“kepuasan”. Apakah lucu jika aku mengindra

gesekan lewat kata sifat, semisal: warna?

Maksudku, Affandi, dalam saturasi kuningnya

yang memancar dan dinamis, semacam bunga

api, benturan logam dengan cakar-cakar gerinda.

Ayam Tarung (1979), tulisnya, tidak menyebut 

keberadaan matahari tetapi terik terasa hawa

sangitnya. Bahkan kepeningan, perkara idea ini

turut mendistorsi fisik dua unggas pejantan

menjadi hamburan light trail, di luar sokongan

sepasang kaki, dan dapat dipahami jika peristiwa

spontan itu diperlambat durasinya lewat

kontemplasi. Diurnal atau nokturnal tak pernah

jadi opsi meski dampaknya selalu politis dalam

urusan domestik. Ini kentara saat kudengar jerit

seorang gadis di tengah sawah selepas magrib,

histeris seember kodok buruannya melompat

bebas tanpa stakato, berkelit dari kejaran yang

jelas bukan estafet dalam satu ikatan kelas di

mana slogan demi slogan ditransmisikan—kau

dapat menolak atau menerimanya dengan

kebebasan sipil. Barangkali ketegangan (efek

dari keterangan yang kontinu) akan membebani

keberpihakanmu. Tapi siapa yang peduli pada

pengalihan isu? Ayolah, gotong saja batang

pisang tanpa tandan itu ke tengah jalan sebab ada

lobang perlu ditambal. Hijau yang tersorot lampu

motor tengah malam lebih melegakan ketimbang

putih karung beras—jelas, tak ada prank pocong

di sini. Warga kampung bilang ada dua pamali

musti diperhatikan: humor, dan hipertensi.


 ---


“Utilitas tertinggi tak lain ketika suatu

entitas dapat menggandakan diri secara

tak terbatas”, dan, ya!, pernyataan familiar

ini tak menyebut satu perkecualian dalam hal

hak milik. Bukannya lupa, tetapi tentu semua

sudah tahu cara framing bekerja. Tidak heran

para pakar kesehatan kini semakin gencar

menganjurkan pentingnya diet, bahkan puasa,

dan membuang sampah tepat waktu demi

menghindari hoarding disorder. Lalu sebisa

mungkin merasa cukup dengan apa yang

tersedia kalau tak mampu secakap pohon

dalam mengelola konsumsi. Menjadi “meta”

seperti sebuah kalimat yang hanya tentang

dirinya sendiri, struktur sintaksisnya sendiri,

dan ini bukannya bermaksud mempertinggi

keegoisan tetapi mereduksi ketergantungan

pada referensi. Namun, alangkah tertutup

pengulangan yang dipaksakan begitu. Ritme

kupikir memerlukan variasi seperti halnya

sepatah kata mampu beririsan di banyak

kontex sebagai polisemi. “Anu” jadi terdengar

demokratis, dan partisipasi dalam wacana

dimungkinkan melalui ambiguitas yang perlu

diisi (bukan ditafsir secara tepat, karena itu

sama halnya dengan membatasi!). Meski tahu

bahwa menolak tingkat keanuan di ranah anu

telah memperanu aspek anu tanpa bersandar

pada prinsip peranu-anuan, secara implisit 

berarti melegitimasi kontrol atas keterbukaan.

Ini tak berbeda dengan penolakan existensi

“kapitil” melalui pernyataan tegas—tetapi

dalam satu negasi yang sama, tanpa kusadari

telah terjadi pengakuan melalui penyebutan.

 

---

 

“Penulis telah mati! Penulis telah mati!”

seolah-olah tanah adalah trampolin, mereka

girang melompat-lompat sembari bersorak,

suatu perayaan sedang dilangsungkan

agaknya, tetapi mereka adalah wujud tak

kasat mata, sosok yang nyaris-adalah-entitas

tetapi bukan, entah hanya denging atau

kekosongan malam, tak seorang pun yang

mampu menggambarkannya, terlebih penulis

yang kini dilanda putus asa tetapi tidak

sedang mati tidak sedang bermimpi, hanya

duduk dengan postur nyaris bersandar,

menatap sebuah buku yang malas terbuka

tetapi tidak sedang membacanya, ia absen

dari setiap wacana, mata terbuka dan mulut 

menganga, dengung dari luar kamar

bersambung ke liang telinganya, menjadi

statis bahkan dalam gerak motorik paling

ringan, terapung perlahan, riak demi riak

menyentuh helai-helai rambutnya, mengurai

ketegangan ligamen dan tendon, membuka

ruang-ruang kecil pada setiap ruas tubuhnya,

spasi bagi abjad dan pungtuasi, jeda bagi

jalannya napas, sebelum aliran udara makin

kuat menggelombang, mengempaskan satu

atau dua gagasan yang ia miliki ke wilayah

asing paling terpencil di sana, tempat yang

barangkali adalah hunian mereka, trampolin 

yang memantulkan setiap keberadaan tetapi

tidak dalam corak polkadot, calico, atau

camo—melambung sepenuhnya sebagai

ihwal transparan, di luar definisi,

mengambang dalam kegelapan tak terukur

di mana sentuhan-sentuhan tak mengenali

jemari mereka dan gagasan-gagasan

melayang berjauhan bagai molekul udara,

di mana kesadaran satu-satunya adalah

ingatan tentang mimpi untuk melingkupi

segalanya sehingga tiang demi tiang

dipancang ke bawah sebagai sebuah

landasan, sebagai dasar, meski gelap tetap

konstan sebagai gelap, pun perhitungan atas

potensi berpijak nisbi sepenuhnya, dan

tendensi rentan terpental oleh desakan

adjektival dari  kemajuan-atau-ketertinggalan

yang bergerak menjauh sebagai interval.


 ⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘

Tentang penulis: Karst Mawardi. Bukan siapa-siapa—ia sekadar variabel yang tak pernah bisa menjadi konstanta.

⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘

Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com


 


0 Komentar