![]() |
| Ilustrasi: Piwi/Arkalitera |
Viva
Adverbia!
tanpa Dengan aku separuh
menjauh dari keutuhan
pun lenganku sendiri
jadi kanan yang asimetris
jika Tanpa mengisolir kiri
Bahkan yang menyorot diriku
menemukan partikularitas
semacam preposisi lain
samar dan nirarah dan
Kecuali mengerucutkannya
sebagai bakal-prioritas
lari estafet lempar tangkap
verba yang tak disela Atau
kujalani dan Sekaligus pun
inheren dalam pengaturan ini
tiada Jangan yang menghambat
lajuku dan Tiada pun
menegasikan negasinya sendiri
mengambil alih bilangan 0
sebagai representasi:
sebuah portal yang dijaga Mungkin
melintaslah aku ke kanan
menuju posibilitas paling positif
mengabaikan Mustahil di balik
punggungku dengan sepasukan
-1, -3, -9, -27, … komplotan negatif
yang bermaksud memberantas Segeraku
memberangus Maha dari realisasi
interjeksi Hah! kulantangkan
dengan intonasi tertegas, naik empat
tingkat dari lintasan yang lewat
dan di sinilah Semakin mencegatku
memikirkan ulang apakah tujuan
bagaimanakah konsekuensi
belum sebatas Telah dan
tidak mencapai Pasti
namun Masih bagai sediakala
dan aku khawatir kekinian
berangsur surut menjadi Hanya
logis-tidaknya skema begini
rentan divonis imperatifitas Harus
(bahkan Justru mendekonstruksi
konstituen di luar relasi kontingen)
sebelum Lagi mereproduksi galat
atas Lalu yang kupresedenkan
secara gawat, kupanggil
Kemudian untuk berunding
perihal divergenitas predikat
ia dekat,
tetapi
3,5 cm
dari sentuhan
jari
tak menimbulkan apapun
pada bola
plastisin
di pinggir
meja, maksudku,
sekedar selembar papan
ditempatkan
atas 3 tiang kayu
dengan 1 sudutnya melayang
tanpa
penyangga.
ia rentan
seperti predikat kuat
pada subjek
“laki-laki”
atau “perempuan”, timbul
tenggelam di
mata pengamat
seperti satu
tunggul kayu
tertancap di perairan deras
tersampuli
cangkang tiram
mungkin teritip, mungkin
kerang hijau
hijau! ia
sehijau batu akik
pada cincin seorang kakek
(atau nenek?)
dalam
ingatan seorang pemuda tentang
tangan yang
menjitak
jidatnya saat
ia mengaku kalah oleh
keraguan,
melihat kepingan
dinar-dirham tak ubahnya
irisan pisang
(yang masak diperam?)
tercurahkan
dalam wadah
mangkuk-setengah-nampan di
pangkuan
peminta-minta atau
kanak-kanak pencuri mangga
: kelimpahan
yang
menggulingkan wadahnya sehingga
nyaris kosong bagai
semula, dan
gravitasi, dan
tangan yang mencoba
menahan
kejatuhan,
bahkan
segigit bagiannya, dari papila lidah yang
baru saja
mencecapnya
: ia sepat (mungkin, dalam kadar
yang tak
teramat)
variasi
tak lantas sejalan dengan
koherensi
sejenak
singgirkan konsepsi tentang
toleransi
kemudian
ajukan cetak biru paling radikal soal
diskriminasi
dan publikasi
akan menjadi konduktor, menjadi
kalor
itu sendiri
Sedangkan pun
dianakkandungkan oleh nalar para oposisi yang
kadung terbakar
betapa seimbang
geliat api yang berkobar, dan hitam
pekat arang pada
tiap seberang
di akhir babak
yang tegak tinggal abu; Sedangkan tiada lagi—inilah implikasi
inilah harmoni
kriteria melahirkanku
bukan lagi sebagai kerangka, perancah
lebih dari itu
akulah teritori
hal-ihwal datang dari setiap arah
bermaksud memasuki jantung negara
memperebutkan predikat Paling di sini
bermimpi menjadi alusi yang laris dikutip
lantas transenden melampaui segala kitab
termasuk kau!
tapi tahan dulu dengus liarmu
perkenalkan lah dirimu padaku
ideologi macam apa yang menyusun anatomimu
sehingga bobotmu terus berlipat ganda dalam
“agenda penerobosan nilai-nilai struktural"
atau “ritus penyerahan diri demi penerimaan dunia”?
segala keluhuran—atau tetek-bengek
yang konon terasa manis jika kau mencapainya
kendati mengejek kekinianmu yang naif
Katakan!
wilayah mana yang hendak kaurambah?
seberharga apa keterlibatan yang kaudamba?
siapa pun, termasuk aku, gampang saja mengulurkan tangan
dengan atau tanpa senyum saat menyambutmu
meski sayang sekali
uluran begini
tak melulu soal ketakziman
tak selalu bermakna jabat tangan
sekarang—tunjukkan pedangmu
ayo lawan Aku!
---
Viva
Adjektiva!
Buat adik kami
Bro Affan Kurniawan
ini jelas dan nyata
meski masih melayang
sebagai gumpalan
ngikut air berpusar
kita enggan diendapkan
dasar yang jauh
hitam pekat seluruh
likat dan tajam
didih dalam pengucilan
sesak telak mendepak
goyah menyangkal pijak
tapi kemarikan eratmu
kemarikan merah tak terpadamkan itu
kami deras bagi ladang gerakmu
kosong lapang kentara
pun gemuruh marak adanya
namun seluas pandang nyalamu jadi
menentang mata yang lama buta
apa yang cuma efek samping
kini anteseden tiap peristiwa
apa yang rapuh larut lenyap
kini arus pembiak prahara
pembungkaman berbalik arah
di ruang hampa penderitaan kolektif
dan segala yang ngucur dari robekan
ialah hujan merah muda panas
wabah patina paling subversif
“Hukum Kekekalan Predikat!” Membayangkan
Ahmad Yulden Erwin berseru begitu lantang
tanpa podium di antara lalu-lalang hal-ihwal
menolak sistem tertutup dan, tentu saja: otoritas!
Lempar tangkap kekuasaan telah berakhir dan
kini subjek sekedar tuas menunggu datangnya
gerak: potong bagi gunting, dorong bagi gerobak.
Sirkulasi menemukan rute lain bagi distribusi
gagasan ketika seorang bocah tertawa mendengar
kata kecubung
disebut—miskonsepsi antara batu
dengan tanaman menemu kesatuan motif dalam
“kepuasan”. Apakah lucu jika aku mengindra
gesekan lewat kata sifat, semisal: warna?
Maksudku, Affandi, dalam saturasi kuningnya
yang memancar dan dinamis, semacam bunga
api, benturan logam dengan cakar-cakar gerinda.
Ayam Tarung (1979), tulisnya, tidak menyebut
keberadaan matahari tetapi terik terasa hawa
sangitnya. Bahkan kepeningan, perkara idea ini
turut mendistorsi fisik dua unggas pejantan
menjadi hamburan light
trail, di luar sokongan
sepasang kaki, dan dapat dipahami jika peristiwa
spontan itu diperlambat durasinya lewat
kontemplasi. Diurnal atau nokturnal tak pernah
jadi opsi meski dampaknya selalu politis dalam
urusan domestik. Ini kentara saat kudengar jerit
seorang gadis di tengah sawah selepas magrib,
histeris seember kodok buruannya melompat
bebas tanpa stakato, berkelit dari kejaran yang
jelas bukan estafet dalam satu ikatan kelas di
mana slogan demi slogan ditransmisikan—kau
dapat menolak atau menerimanya dengan
kebebasan sipil. Barangkali ketegangan (efek
dari keterangan yang kontinu) akan membebani
keberpihakanmu. Tapi siapa yang peduli pada
pengalihan isu? Ayolah, gotong saja batang
pisang tanpa tandan itu ke tengah jalan sebab ada
lobang perlu ditambal. Hijau yang tersorot lampu
motor tengah malam lebih melegakan ketimbang
putih karung beras—jelas, tak ada prank pocong
di sini. Warga kampung bilang ada dua pamali
musti diperhatikan: humor, dan hipertensi.
“Utilitas tertinggi tak lain ketika
suatu
entitas dapat menggandakan diri
secara
tak terbatas”, dan, ya!, pernyataan familiar
ini tak menyebut satu perkecualian dalam hal
hak milik. Bukannya lupa, tetapi tentu semua
sudah tahu cara framing bekerja. Tidak heran
para pakar kesehatan kini semakin gencar
menganjurkan pentingnya diet, bahkan puasa,
dan membuang sampah tepat waktu demi
menghindari hoarding
disorder. Lalu sebisa
mungkin merasa cukup dengan apa yang
tersedia kalau tak mampu secakap pohon
dalam mengelola konsumsi. Menjadi “meta”
seperti sebuah kalimat yang hanya tentang
dirinya sendiri, struktur sintaksisnya sendiri,
dan ini bukannya bermaksud mempertinggi
keegoisan tetapi mereduksi ketergantungan
pada referensi. Namun, alangkah tertutup
pengulangan yang dipaksakan begitu. Ritme
kupikir memerlukan variasi seperti halnya
sepatah kata mampu beririsan di banyak
kontex sebagai polisemi. “Anu” jadi terdengar
demokratis, dan partisipasi dalam wacana
dimungkinkan melalui ambiguitas yang perlu
diisi (bukan ditafsir secara tepat, karena itu
sama halnya dengan membatasi!). Meski tahu
bahwa menolak tingkat keanuan di ranah anu
telah memperanu aspek anu tanpa bersandar
pada prinsip peranu-anuan, secara implisit
berarti melegitimasi kontrol atas keterbukaan.
Ini tak berbeda dengan penolakan existensi
“kapitil” melalui pernyataan tegas—tetapi
dalam satu negasi yang sama, tanpa kusadari
telah terjadi pengakuan melalui penyebutan.
“Penulis telah mati! Penulis telah
mati!”
seolah-olah tanah adalah trampolin, mereka
girang melompat-lompat sembari bersorak,
suatu perayaan sedang dilangsungkan
agaknya, tetapi mereka adalah wujud tak
kasat mata, sosok yang nyaris-adalah-entitas
tetapi bukan, entah hanya denging atau
kekosongan malam, tak seorang pun yang
mampu menggambarkannya, terlebih
penulis
yang kini dilanda putus asa tetapi tidak
sedang mati tidak sedang bermimpi, hanya
duduk dengan postur nyaris bersandar,
menatap sebuah buku yang malas terbuka
tetapi tidak sedang membacanya, ia absen
dari setiap wacana, mata terbuka dan mulut
menganga, dengung dari luar kamar
bersambung ke liang telinganya, menjadi
statis bahkan dalam gerak motorik paling
ringan, terapung perlahan, riak demi riak
menyentuh helai-helai rambutnya, mengurai
ketegangan ligamen dan tendon, membuka
ruang-ruang kecil pada setiap ruas tubuhnya,
spasi bagi abjad dan pungtuasi, jeda bagi
jalannya napas, sebelum aliran udara makin
kuat menggelombang, mengempaskan satu
atau dua gagasan yang ia miliki ke wilayah
asing paling terpencil di sana, tempat yang
barangkali adalah hunian mereka,
trampolin
yang memantulkan setiap keberadaan tetapi
tidak dalam corak polkadot, calico, atau
camo—melambung sepenuhnya sebagai
ihwal transparan, di luar definisi,
mengambang dalam kegelapan tak terukur
di mana sentuhan-sentuhan tak mengenali
jemari mereka dan gagasan-gagasan
melayang berjauhan bagai molekul udara,
di mana kesadaran satu-satunya adalah
ingatan tentang mimpi untuk melingkupi
segalanya sehingga tiang demi tiang
dipancang ke bawah sebagai sebuah
landasan, sebagai dasar, meski gelap tetap
konstan sebagai gelap, pun perhitungan atas
potensi berpijak nisbi sepenuhnya, dan
tendensi rentan terpental oleh desakan
adjektival dari
kemajuan-atau-ketertinggalan
yang bergerak menjauh sebagai interval.
Tentang penulis: Karst Mawardi. Bukan siapa-siapa—ia sekadar variabel yang tak pernah bisa menjadi konstanta.
⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar