Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

PUISI-PUISI ALI SYAMSUDIN ARSI

Ilustrasi: Piwi/Arkalitera


SURAT PUTIH SEBERANG SELAT

bagimu cinta bukan khayalan
bersoal di ujung ranting, cintamu datang sangat tiba-tiba
kita bicara masa dahulu merajut benang-benang asmara
berpantun kita berdua dalam gerimis di tudung senja
senyumlah wahai, kakanda di kanan sebelah adinda

                bagiku kasih satu untuk berdua
semenjak ombak bergulung datang 
menerpa di rongga-rongga dada
semenjak tombak menghalang rintang
bersua kita di tuba-tuba cuaca

pasir bagimu adalah menara
telanjang kaki menyusur pantai di batas laut warna biru muda
bersama buih di pucuk-pucuk ombak gemuruh
terselip mimpi waktu bertemu saling menawarkan makna
namun dekapmu jarak merentang jauh

menara bagiku jemari kita
suramu lenyapkan kata, terbaca jelas ketka tiba
kuhapus segera, datang bertubi berganti rupa
apa yang harus kita ulangi lagi membaca
hampir punah aksara di lembar-lembar sejarah buta

Banjarbaru, Juli 2007

---

KEPADA YANG GUGUR TANPA KECUALI

dalam renungan suci ini
tanah kuberpijak menjadi cermin
tentang semilir angin dan rinai gerimis
mengantarkan jasad
ke maha tenang ia berangkat

dalam renungan suci ini
kuhadirkan kembali pekik-derap
dan gemuruh yang membadai
(bunga gugur
Bunga tumbuh dan mekar)

dalam renungan suci ini
kupahamkan bisik-bisik gambar
yang terpampang di setiap ruang dan waktu
ada tali merah membentang antara kita
dan keteguhan hati itu
telah memanggil nyaliku untuk bergerak
ke depan

1998

*Puisi ini sebagai juara 1 pada lomba cipta puisi kepahlawanan oleh Departemen Sosial Kalsel tahun 1998

--- 

LUKISAN WAJAH BERBINGKAI CAHAYA

adalah harum semerbak bunga
menjadi penawar tubuh penuh luka
dari jasad terbaring di medan laga

adalah anak tangga pelangi
mengantarkan roh-roh suci
ke tempat paling tinggi

adalah bulan sebagai saksi
ketika malaikat mengucapkan salam selamat datang
mereka menyambutnya dengan puji-pujian

(alam redup disaput awan saat hujan turun tipis-tipis
di kanvas cuaca melukis raut-raut wajah berbingkai cahaya
lukisan wajah berbingkai cahaya)

1999

---

HUTAN KACA

daun hutan kami tawarkan bukan untuk disia-siakan
kita semakin berpijak pada jarak yang sulit, sama-sama sulit, kami lebih sulit
ini hutan, hutan nenek moyang kami
kami merawatnya, tapi mengapa bukan kami memetiknya
hutan ini menjelma keping-keping kaca
udara berputar di sekitarnya, bukan udara dari celah-celan daun
matahari bertambah dekat saja, semakin ke ubun-ubun
sungai jauh membentang tapi resapnya sudah bukan
kemurnian rasa cinta, keping-keping kaca itu
sangat meluka
sama dengan duri
yang sedang menusuk cahaya
hutan kaca, bukan yang diharapkan oleh nenek moyang kami semula
pantulnya mengiris pedih
bersayat seluka-luka,
berluka-luka,
di luka-luka

Banjarbaru, Desember 2012

---

KERETA PANJANG KALIMANTAN

Bunyi kereta itu mulai terdengar, datang dari tempat yang jauh, jauh sekali, bahkan senyap di gumpalan embun; kita nikmati lenggoknya gemulai di liuk-liuk bukit dan ngarai

Perjalanan kereta itu, lesap di antara tebing-tebing curam, hutan-hutan lebat pepohonan, sesekali menghilang dan jantung berdebar, kita sambut lambai tangan orang-orang di dalam, orang-orang yang meluncur bersama –membuka mata- pada ketinggian

Dermaga kereta itu telah pula bergelantungan; inilah rumah kami, rumah dari kereta panjang kalimantan

Banjarbaru-Samarinda, 18 Juli 2011

⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘

Tentang Penulis: Ali Syamsudin Arsi, sastrawan Kalimantan Selatan yang lahir di Barabai, Hulu Sungai Tengah. Saat ini, ia adalah Ketua Dewan Sastra Kalimantan Selatan yang tugas dan fungsinya adalah mengawal, menata secara kolektif, dan mengevaluasi pelaksanaan Aruh Sastra Kalimantan Selatan. Ali Syamsudin Arsi juga mendirikan Forum Taman Hati, Sanggar Sastra Satu Satu Banjarbaru, Kindai Seni Kreatif Banjarbaru, dan (TOSI) Taman Olah Sastra Indonesia (menginisiasi lahirnya Forum Diskusi Budaya Banjarbaru). Selain menerbitkan 2 majalah Gumam Asa, 1 buku kumpulan cerpen, 1 buku kumpulan pantun berkait, dan 8 buku kumpulan puisi pribadi, ia juga menerbitkan 8 buku ‘Gumam Asa’ yakni: Negeri Benang Pada Sekeping Papan (2009), Tubuh di Hutan Hutan (2009), Istana Daun Retak (2010), dan Bungkam Mata Gergaji (2011), Desau (2013), Cau Cau Cua Cau (2013), Jejak Batu Sebelum Cahaya (2014), Sendradaradara (2023). Puisi-puisi lain yang ditulisnya juga masuk dalam sekitar 200 antologi puisi. 

Sementara itu, puisinya berjudul Seribu Ranting Satu Daun dipublikasikan di Banjarmasin Post pada 1985-1986. Seperti judulnya, puisi itu adalah 1 puisi dengan 1001 nomor (bait), dan pernah diterbitkan pada tahun 1987. Tahun 2026, puisi-puisi dalam Seribu Ranting Satu Daun akan diterbitkan kembali melalui Penerbit Arkalitera.

⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘⫘

Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com



0 Komentar