Sebuah komunitas yang berfokus pada gerakan literasi dan penulis-penulis muda Kalimantan Selatan.

SEMESTA RELEVANSI TANAH HUMA SEPANJANG ZAMAN ULASAN OLEH REZQIE M. A. ATMANEGARA

 

Ilustrasi: Buku Tanah Huma

Di semesta segalanya bergerak dinamis, segalanya mengarah pada kemajuan dan pembaruan. Namun hanya satu yang selalu mengarah ke belakang yaitu kenangan, mengenang sesuatu yang hilang, tak kembali maupun tak tergantikan.

Sastra hadir sebagai tawaran pengenangan, kebertahanan, serta berkesesuaian. Bagaimana sebuah teks sastra bergenre puisi selalu dapat hadir di setiap periode bahkan relevan sepanjang zaman. Dari banyaknya pilihan antologi puisi, maka Tanah Huma, Kumpulan Sajak Tiga Penyair Kalimantan mendapat tempat tersendiri karena menarik untuk ditelisik sejauh mana vitalitas puisi-puisi Darmansyah Zauhidhie, Yustan Aziddin, dan Hijaz Yamani mampu relevan sampai detik ini dan senantiasa berkaitan hingga waktu nanti.

Saya mendapatkan buku Tanah Huma, Kumpulan Sajak Tiga Penyair Kalimantan ini tidak serta merta di tanah Kalimantan Selatan, melainkan di pojok kecil hamparan tumpukan buku di Galeri Buku Bengkel Deklamasi milik Jose Rizal Manua, sebuah toko buku sederhana yang legendaris di Pusat Kesenian Jakarta-Taman Ismail Marzuki (TIM) (sebelum direvitalisasi wujudnya menjadi sekarang) di Jalan Cikini Raya, Jakarta Pusat.  Barangkali lantaran Tanah Huma, Kumpulan Sajak Tiga Penyair Kalimantan diterbitkan oleh Pustaka Jaya di Jakarta Pusat, tahun 1978 hampir meraih 4 dekade (48 tahun) lamanya.

Sangat disayangkan saya tidak sempat berjumpa ketiga tokoh legendaris Tanah Huma, lantaran proses kreatif saya di ranah sastra Indonesia dimulai dari sudut kota kecil di Kalimantan Selatan sangat jauh di bawah periode kesastrawanan mereka bertiga. Sebagaimana jejak riwayat lahir dan wafat mereka yaitu Darmansyah Zauhidhie (Muara Teweh, Barito Kuala, 24 Agustus 1934-Kandangan, Hulu Sungai Selatan, 12 Juni 1984), Yustan Aziddin (Margasari, Hindia Belanda-Kesultanan Banjar [Tapin], 13 Mei 1933-Banjarmasin, 12 Agustus 1995), Hijaz Yamani (Banjarmasin, 23 Maret 1933-Banjarmasin, 17 Desember 2001), mereka bertiga merupakan sastrawan Indonesia terkemuka Angkatan 50’ (setelah era Angkatan 45’). Angkatan 50’ sebagai bentuk angkatan perkembangan sastra Indonesia dari tahun 1950-1960, tercetus saat keadaan Bangsa Indonesia mengalami transisi dari masa penjajahan berdarah menuju masa cemerlang. Kemudian gejolak politik juga ikut memberi pengaruh kelam pada angkatan ini dengan ditandai terbentuknya Lembaga Kebudayaan Rakyat (LEKRA) oleh PKI. Pada Angkatan 50’ di Indonesia dipelopori oleh sejumlah tokoh sastrawan yaitu W.S. Rendra, Ajip Rosidi, Toto Sudarto Bachtiar, Subagio Sastrowardoyo, N.H. Dini, A.A Navis, Trisnojuwono, Darmansyah Zauhidhie, Yustan Azidin, Hijaz Yamani serta lainnya.

Meski tak pernah secara langsung bersisitatap dengan ketiga penyair Tanah Huma, namun cerita tentang mereka bertiga sebagai tokoh terkemuka sastra Indonesia yang berpengaruh di kesastraan Kalimantan Selatan selalu saya serap maupun saya tanyakan langsung dari para sastrawan Kalimantan Selatan yang pernah ditempa tangan dingin mereka sejak dulu hingga tak kalah proses kreatifnya mengiringi jejak mereka hingga nasional dan internasional. Darmansyah Zauhidhie selalu digambarkan sosok motivator ulung bagi generasi, sedangkan Yustan Azidin penuh santai dan humoris namun menghanyutkan, Hijaz Yamani pengayom, bersahaja dan berkarismatik.

Relevansi dalam konteks universal sepanjang abad atau zaman mengacu pada sejauh mana suatu peristiwa, ide, objek, atau tokoh masih memiliki makna, kegunaan, atau pengaruh di periode waktu tertentu, baik di masa lalu, sekarang, atau masa depan. Relevansi bekerja pada puisi untuk memahami dan mengekpresikan dunia sekitar penyair sehingga dapat nampak segala yang pernah digambarkan pikiran secara nyata maupun tak nyata, terekam dalam penuangan gagasan terhadap puisi yang ditulis, sehingga proses saring diksi sangat membantu puisi dapat memotret segala bentuk kerelevansian di masa lalu maupun akan datang.

Telaah puisi-puisi Tanah Huma, Kumpulan Sajak Tiga Penyair Kalimantan, Darmansyah Zauhidhie, Yustan Aziddin, dan Hijaz Yamani membuktikan karya yang terus relevan terhadap segala fenomena sepanjang zaman. Baik secara tema sosiokultural, ekologi sastra, sampai religiusitas di hadapan dunia sekarang.

Inilah salah satu yang mendasari Tanah Huma, Kumpulan Sajak Tiga Penyair Kalimantan untuk dapat dianalisis relevansi, maka dimulai pada bagian Menjangkau untuk Segenggam terhimpun puisi Darmansyah Zauhidhie, menjadi puisi pertama yang dicermati adalah “Di Bawah Merah Lampu karya Darmansyah Zauhidhie;

 

DI BAWAH MERAH LAMPU

 

di bawah merah lampu dalam kafe kelabu

mawar mengantuk di meja marmer

mengeliat dipeluk caya

bulan yang tama

 

rambutnya coklat dan wangi

melambaikan duka abadi

 

di bawah merah lampu daam kafe kelabu

lapuk sehimpil hati

tersandar di kursi biru

 

merekah dan mengembang

bagai kerupuk udang

di bawah merah lampu dalam kafe kelabu

 

Bila dicermati di lapis pertama puisi “Di Bawah Merah Lampu” ini sebatas pengandalan citraan penglihatan saja, namun masukilah lebih dalam maka makna lapis kedua tersingkap bahwa puisi ini merupakan gambaran suasana di lingkungan dunia malam, di mana judulnya sudah memberikan citraan secara nyata berupa pencahayaan dalam di bawah merah lampu dalam kafe kelabu/ mawar mengantuk di meja marmer. Larik /di bawah merah lampu/ penyair ingin pembaca peka terhadap simbol metafora yang disebar penyair dalam puisinya. Diksi di bawah merah lampu merupakan pemaknaan peringatan sebagai manusia, apakah mematuhi peraturan atau sebaliknya tidak sebagai manusia yang penuh dengan isyarat atau peringatan (rambu-rambu dalam lalu lintas realitas kehidupan). …dalam kafe kelabu/ pada era itu tempat bernama kafe hampir jarang ada terlebih di Kota Kandangan sendiri maupun Banjarmasin di Kalimantan Selatan.  Diksi suasana kelam terseruak yang mengeksplorasi dengan puitis gambaran tempat yang lebih banyak membawa citra negatif secara kacamata masyarakat awam. Diksi mawar merupakan para perempuan penghibur malam (kupu-kupu malam) yang sudah mengantuk menunggu pelanggan hingga mengantuk di meja marmer/ sebuah gambaran ruang mewah namun ironis.

Mengeliat dipeluk caya/ Bulan yang tama// penyair Darmasnyah Zauhidhie menggunakan kata tidak baku caya untuk mengungkapkan kata cahaya, sedangkan kata tama dalam bahasa Indonesia secara kamus tidak menemukan jawaban arti harfiah, tetapi kata tama yang pakai penyair Darmansyah Zauhidhie bisa merujuk pada kata tama (bahasa Jepang) artinya permata atau bola, benda yang berbentuk bundar. Ini sejalan dengan latar belakang Darmansyah Zauhidhie yang mana pengaruh penjajahan Jepang masih erat di sekitar lingkungan penyair sehingga penyerapan bahasa asing termasuk Jepang ikut andil dalam pelisanan masyarakat umum yang berstatus biasa (bawah) termasuk mengucapkan kata tama dalam keseharian. Adapun kata tama yang bermakna permata atau bola sangat relevan dikaitkan dengan bentuk benda langit yang dimaksud penyair yaitu bulan. Penyair mengungkapkan dengan puitis bagaimana perempuan yang bekerja di dunia malam menunggu pelanggan hingga mengantuk di malam hari di bawah sinar bundar bulan.

Rambutnya coklat dan wangi/Melambaikan duka abadi pencitraan penglihatan dituangkan penyair ketika perempuan tersebut dengan rambut pirang coklat begitu wangi agar pelanggan tertarik melihat perempuan dengan melambaikan duka abadi sebagai ungkapan diksi untuk membuat pelanggan berkenan menggunakan jasanya yang merupakan sebuah keperihan dalam menjalani hidup, sehingga selamanya akan terus dalam jurang maksiat yang abadi. Suasana latar pada objek maupun subjek dalam bait satu dan dua puisi “Di Bawah Merah Lampu” sangat menonjol dengan atmosfer realitas kehidupan dari dulu hingga sekarang.

Di bawah merah lampu dalam kafe kelabu/lapuk sehimpil hati/tersandar di kursi biru. Citraan indra penglihatan sangat memperkental suasana kelam di bait ini, namun menarik dan unik penyair memilih kata sehimpil yang merupakan kosa kata lokal Banjar Kuala, kata sehimpil artinya satu potong atau sasayat untuk gambaran pembagian hati, namun hati tersebut telah lapuk artinya begitu miris melihat keadaan dunia malam sejak dulu hingga hari ini, tetap tidak berubah selain tentang nafsu, ekonomi dan tidak ada jalan lain selain melakoni profesi prostitusi.

Merekah dan mengembang/bagai kerupuk udang/ di bawah merah lampu dalam kafe kelabu. Dalam bait terakhir keempat ini penyair Darmansyah Zauhidhie seperti memberi sedikit humor dalam puisinya yang bernaratif dengan sepilihan diksi di bait akhir ini, diumpakan penyair para pajangan pemuas nafsu tersebut yang merekah dan mengembang bagai kerupuk udang di bawah sebuah lampu merah remang-remang di tempat yang kelam.

Salah satu analisis relevansi telah ditemukan dalam puisi “Di Bawah Merah Lampu” karya Darmansyah Zauhidhie seperti kata merah lampu, mawar, marmer, kafe, caya, dan tama. yang belum familiar saat itu secara benta yang hanya dimiliki atau dirasakan oleh kalangan menengah ke atas, lebih lagi diksi-diksi tersebut dimasukkan dalam karya sastra modern berbentuk puisi.

            Di bagian Awan Berkaca menghimpun sejumlah puisi Yustan Aziddin, salah satunya “Senja Kuning berikut ditelaah;

 

SENJA KUNING

 

keengganan matahari pergi

di daerah malam ia menari

melalui lengkungan langit menudungi senja

diemasinya orang lalu

diemasinya pohon kayu

hinggaplah bayangannya pada karau* desir beriak

 

jangan mandi cahaya di senja ini

(demikian pesan ibuku)

karena berkeliaran segala hantu

hantu yang kuning

yang dibebani kejahatan manusia di bulu-bulunya

 

sendi-sendiku pun digigili ketakutan

 

tapi alangkah indah senja begini

di hati menjelma iri

 

sekarang aku tahu

ibu tegah aku pergi

karena aku habis mandi

 

di kepulanganku sekali ini

di riak karau kulihat lagi

pesan bisu matahari

 

*karau= nama sebatang sungai di kalimantan tengah.


Puisi Yustan Aziddin salah satunya “Senja Kuning” ini merupakan salah satu puisi dengan panorama eko-puisi yang kental tapi tidak ketinggalan zaman. Keengganan matahari pergi/ di daerah malam ia menari/ melalui lengkungan langit menudungi senja/ diemasinya orang lalu/ diemasinya pohon kayu/ hinggaplah bayangannya pada karau* desir beriak. Hubungan timbal balik antara manusia dengan alam, betapa alam begitu memberi banyak pencerahan kehidupan bagi segala makhluk bumi dari malam hingga terbit matahari. “Senja Kuning” merupakan metafora judul yang sangat menginterpretasikan lokalitas Kalimantan khususnya Banjar. Cahaya-cahaya kehidupan itu menyentuh orang lalu tanda kesejahteraan masyarakat yang terpenuhi, serta pohon kayu yang menjadi simbolis kerharmonisan alam yang baik. Penyair Yustan Aziddin menggunakan kata karau (nama sebatang sungai di Kalimantan Tengah) tempat penyair lahir di lingkungannya, betapapun hebatnya penyair tak akan bisa melepaskan keterikatannya tentang suatu daerah yang pernah memberi pengaruh terhadap latar belakang penyair.

Pada bait kedua puisi “Senja Kuning” dibangun dengan jangan mandi cahaya di senja ini/ (demikian pesan ibuku)/ karena berkeliaran segala hantu/ hantu yang kuning/ yang dibebani kejahatan manusia di bulu-bulunya// sendi-sendiku pun digigili ketakutan//. Yustan Aziddin melalui bait kedua dan ketiga ini membagikan pesan orang tua khususnya sosok Ibu, sejak dahulu untuk memperingati anak agar tidak mandi maupun berada di luar rumah saat senja datang. Karena pergantian antara siang dan malam tersebut dipercayai oleh kebanyakan masyarakat kita sebagai tebukanya alam makhluk halus. Sehingga saat senja banyak berkeliaran makhluk halus yang dapat mengganggu makhluk hidup. Bait ini secara lapis pemaknaan pertama antara anjuran dan pamali melakukan aktivitas saat senja kuning. Di era Gen Milenial dan Gen Z saat ini segala anjuran, pamali atau nasihat sering kali diabaikan, padahal mengandung nilai istimewa sebagai pengingat berkehidupan. Tetapi hal itu mulai tak lagi dihayati oleh kebanyakan masyarakat sekarang. Tetapi bait puisi ini pada lapis berikutnya menjadi bernilai relevansi oleh karena sebagai komparasi terhadap kultur hari ini dengan masa lalu, sehingga relevansi tak hanya muncul pada pemaknaan pertama dalam membaca sekilas puisi ini tetapi pada tataran lebih dalam menghayati puisinya sehingga terasa relevansi sepanjang zaman.


tapi alangkah indah senja begini

di hati menjelma iri

 

sekarang aku tahu

ibu tegah aku pergi

karena aku habis mandi


Bait keempat dan kelima puisi “Senja Kuning” ini kita cermati tapi alangkah indah senja begini/ di hati menjelma iri// sekarang aku tahu/ ibu tegah aku pergi/ karena aku habis mandi//. Masih berkorelasi dengan bait sebelumnya, di sini aku liris sangat terkesima melihat senja kuning sehingga ingin berlama-lama menatapnya di luar rumah, entah mengapa dulu orang-orang terlebih anak-anak sangat suka bermain pada senja hari. Nasihat ibu dari aku liris kembali dikuatkan Yustan Aziddin sebagai pembenaran atas norma sosial yang tak tertulis agar jangan dilanggar karena di masa lalu (bahari) kepercayaan masyarakat sangat kental terhadap mistisisme.


di kepulanganku sekali ini

di riak karau kulihat lagi

pesan bisu matahari


Pada bait terakhir ini terasa puitis dihayati kembali pada bagian di kepulanganku sekali ini/ di riak karau kulihat lagi/pesan bisu matahari. Yustan Aziddin menerapkan suasana keheningan di bait akhir, hening sebagai percakapan ke arah diri terdalam aku liris sendiri, betapa sebuah Sungai Karau sebagai objek pembentuk terwujudnya puisi ini dengan segala kultur pamali sebagai orang Kalimantan diadaptasi penyair ke dalam puisi “Senja Kuning”. Pada bait akhir inilah seakan aku liris menerima takdir dan mengambil segala kebaikan dan pelajaran dari kehidupan dalam diri.

Melalui “Senja Kuning” dari puisi Yustan Aziddin kita mengetahui bentuk relevansi tak hanya berupa kosa kata yang selalu berkorelasi dengan keadaan zaman seperti puisi Darmansyah Zauhidhie, melainkan juga dari segi kepercayaan atau budaya tabu pamali pada masyarakat Indonesia terlebih norma sosial kultur masyarakat Kalimantan.

            Pada bagian Air dan Tanah menghimpun puisi Hijaz Yamani, salah satu yang dianalisis adalah puisi “Negeri Kita di Sini”;

 

NEGERI KITA DI SINI

 

Negeri kita di sini

Di tapal batas leluhur

 

Negeri kita di sini

Imperium telah berganti

 

Negeri kita

Ketika digarap buminya

Musim dari mana pun tiba

 

1971


Dalam puisi Hijaz Yamani bertajuk “Negeri Kita di Sini” yang juga terangkum dalam Tanah Huma, penyair mengawali dengan bunyi larik Negeri kita di sini/Di tapal batas leluhur dalam bait pertama ini isyarat pernyataan bahwa penyair secara sadar menyatakan negeri yang sedang kita diami berada di tapal batas nenek moyang sebagai orang terdahulu berada dan mengakar segala intitasnya, sekaligus tempat suara-suara perlawanan atas segala pengrusakan atau penghancuran diteriakkan. Relevansi yang dapat diasosiakan Hijaz Yamani sampai era sekarang, bagaimana konflik agraria lahan kepemilikan khususnya masyarakat adat melawan kekuasaan dan saling berebut mengklaim sejumlah tanah, melalui proses birokrasi yang rumit, hingga mengharuskan jalur hukum adat atau hukum formal terus berlangsung sejak dulu hingga saat ini.


 

Negeri kita di sini

Imperium telah berganti

            

        Bait kedua pada puisi pendek ini masing-masing bait terdiri dari distikon berlanjut berbunyi Negeri kita di sini// Imperium telah berganti, terasa adikuasa didiksikan dengan baku oleh Hijaz Yamani, seperti itulah negeri ini dan seluruh di dunia memberlakukan sistem periode jabatan ataupun pergantian secara garis keturunan darah untuk takhta kekuasaan. Politik, sosial budaya, ekonomi, sumber daya alam dan manusia merupakan faktor-faktor kompleks terhadap pengaruh tumbuh kembang sebuah negara (negeri). Hijaz Yamani dengan sedikit kata yang padat dapat penciptakan bait yang terus relevansi dengan keadaan zaman.



Negeri kita

Ketika digarap buminya

Musim dari mana pun tiba


Merupakan bait akhir puisi “Negeri Kita di Sini” tanpa banyak kiasan bahwa Negeri kita/ketika digarap buminya/musim dari mana pun tiba. Mengisyaratkan ekologi dari budaya hidup masyarakat memanfaatkan alam hingga degradasi lingkungan (pencemaran, deforestasi, kerusakan bencana). Apabila semua aktivitas dilakukan terhadap tubuh alam tanpa batas, sehingga Hijaz Yamani mengatakan musim dari mana pun tiba simbolis kepekaan bahwa masa kemakmuran, kesuburan, kesejahteraan bisa saja berganti dengan kesengsaraan, kemelaratan sampai kiamat kecil tiba pada sebuah negeri atau dunia ini. Bait penutup yang selalu relevansi dalam keadaan negeri sepanjang zaman.

Mencermati puisi “Negeri Kita di Sini” karya Hijaz Yamani membuat kita tersadarkan terlahir di tanah yang dimiliki oleh pendahulu dan memegang amanah tanggung jawab mempertahankannya, di samping itu pula sebuah proses kehidupan dunia akan selalu berganti pada tiap fasenya terlebih kekuasaan tak ada yang abadi, serta memanfaatkan alam hendaknya jangan berlebihan. Puisi “Negeri Kita di Sini” karangan Hijaz Yamani ini akan selalu segar dan relevan dibacakan sepanjang zaman.

Tanah Huma, Kumpulan Sajak Tiga Penyair Kalimantan; Darmansyah Zauhidhie, Yustan Aziddin, Hijaz Yamani merupakan refleksi sastra yang akan terus relevansi merekam dan bersinggungan dengan keadaan semesta yang melaju cepat sepanjang zaman. Mereka bertiga membuktikan penulisan yang baik terhadap sastra, di mana yang dikatakan Mochtar Lubis bahwa sastra yang baik selalu merupakan cermin sebuah masyarakat. Masyarakat yang baik akan menciptakan negara (negeri) yang berkembang dan maju.

Puisi-puisi dalam Tanah Huma, Kumpulan Tiga Penyair Kalimantan begitu teduh dengan bergaya lirik dan naratif yang menguatkan unsur epik. Meski puisi bernuansa puitika elegi kematian (dzikrul maut) sangat mendominasi dalam Tanah Huma. Syahdan, kiranya tak dapat dipungkiri bahwa ketiga penyair Darmansyah Zauhidhie, Yustan Aziddin, serta Hijaz Yamani tak hanya menyediakan tanah huma di jagat kesastraan untuk ditanamai dan dilanjutkan oleh kekaryaan generasi setelah mereka, melainkan juga telah jauh menyiapkan tanah huma untuk menanam diri mereka sendiri akhirnya. Tetapi karya dan kenangan tiga tokoh sastra Tanah Huma ini tumbuh subur dan harum hingga kini. Pramoedya Ananta Toer pernah berkata bahwasanya menulis adalah bekerja untuk keabadian. Itulah yang telah dilaksanakan (tak hanya berkarya tetapi juga turun nyata berperan aktif bagi masyarakat sastra dan seni budaya) oleh tiga tokoh penting kesastraan Indonesia dari Darmansyah Zauhidhie, Yustan Aziddin, sampai Hijaz Yamani yang telah abadi.

Kontribusi trio sastra Indonesia, Darmansyah Zauhidhie, Yustan Aziddin, Hijaz Yamani sangat berarti dalam memajukan dan melestarikan kesastraan Indonesia serta budaya di Kalimantan Selatan. Tak terhitung gelar dan anugerah diberikan atas kiprah dan jasa mereka yang besar telah dianggap mengangkat marwah tonggak kesusastraan modern di Kalimantan Selatan. 

Tanah Huma, Kumpulan Sajak Tiga Penyair Kalimantan; Darmansyah Zauhidhie, Yustan Aziddin, Hijaz Yamani bukti dari relevansi sastra modern yang mesti dibaca oleh segala kalangan masyarakat di tanah air, terutama di semesta sastra Indonesia di Kalimantan Selatan.

Takzim!

 2026

 
Sumber Rujukan:

  • Zauhiddie, D, dkk. (1978). Tanah Huma, Kumpulan Sajak Tiga Penyair Kalimantan. Jakarta: Pustaka Jaya.
  • Yamani, Hijaz. (2012). Malam Hujan. Banjarmasin: Rumah Dokumentasi Sastra Hijaz Yamani.
  • Tarsyad, Tarman Effendi. 2020. Telaah Puisi Warna Lokal Banjar. Banjarbaru: Scripta Cendekia.
  • Saefudin, Dahliana, dan Siti Akbari (Ed). 2008. Ensiklopedia Sastra Kalimantan Selatan. Banjarbaru: Balai Bahasa Banjarmasin.
  • Hidayat, Micky (ed). 2020. Leksikon Penyair Kalimantan Selatan (1930-2020). Banjarmasin: Tahura Media.
  • Maman, S. Mahayana (Ed). 2017. Apa dan Siapa Penyair Indonesia. Jakarta: Yayasan Hari Puisi Indonesia.
  • Nikmah, Nailiya. (2012). Mengenang Tanah Huma, Mengenang Masa Lalu. Diakses pada 4 Januari 2026. Di https://www.nailiyanikmah.com/2012/11/mengenang-tanah-huma-mengenang-masa-lalu.html.
  • Siwanto, S. Pd., M.Pd. (2020, 09 April). Makalah Sejarah Angkatan 50. Diakses pada 2 Januari 2026. Di https://www.scribd.com/document/456224503/sejarah-sastra-angkatan-50.


────୨ৎ────

Tentang Penulis: REZQIE M. A. ATMANEGARA lahir dan menetap di Hulu Sungai Tengah. Penghargaan Hadiah Seni (Sastra) dari Walikota Banjarbaru-Kalimantan Selatan (2015), Penghargaan Apresiasi Maestro Pelestari dan Pengembang Bahasa Banjar dari Asosiasi Sastra Lisan (ATL) (2024), dan Anugerah Kebudayaan dari Gubernur Kalimantan Selatan (2025).


Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com


 

 


0 Komentar