![]() |
| Ilustrasi: Musa Bastara & Rafii Syihab |
LAMBAT, MACET, TERSUMPAL
Hanya kata yang bisa bersuara
Dalam hening hiasan kaca mobil
Aku berpikir, aku kehilangan kesempatan,
datanglah wahyu asa yang merangkak
Pelan … Lambat … Allah
Pelan … Macet … Allah
Pelan … tersumpal … Allah
Namun mati.
Aku akan menghiasi, kindai yang penuh asa,
mereka mengenalnya gumam asa,
tapi dari situ aku melihat bahwa semua
yang mereka karungi berkilo-kilo dan berharga.
Harga mati
Harga cinta
Harga mata
Harga kata
Harga lisan
Sumpah lisan berjungkir
Kawan, gambut, galam!
Siapa penyair firman yang telah membawa wahyu sampai malam ini,
hanya mati dan rasa kehilangan
yang meniti perlahan segalanya
Teater menggambarkan
segala hal yang anomali
puisi-puisi
kodok yang merangsang
indahnya malam
Kindai Seni Kreatif 12 Januari 2026
Tentang penulis: Adnan Arinal Haq, siswa SMKN 1 Binuang. Ia mewakili Kalsel pada ajang Festival Anak Shaleh Indonesia (FASI) ke-12 Tingkat Nasional (2024). Tujuannya menulis puisi untuk merawat batinnya, mulai tertarik dengan puisi saat mengikuti Festival Wabul Sawi Banjarbaru (2025).
Catatan Redaksi:
Puisi ini kuat di suasana dan pengulangan kata. Diksi pelan, lambat, macet, tersumpal terasa konsisten membangun rasa buntu dan gelisah, seperti doa yang terjebak di kepala. Repetisi kata “Allah” juga memberi tekanan batin yang cukup dalam.
Namun, beberapa bagian terasa terlalu meloncat antar gagasan. Ada larik yang menarik secara bunyi, tapi maknanya belum sepenuhnya nyambung, sehingga pembaca bisa kehilangan arah. Beberapa kalimat juga bisa dipadatkan agar lebih tajam dan tidak berputar-putar.
Secara keseluruhan, puisi ini sudah berani dan jujur secara perasaan. Tinggal dirapikan alurnya dan dipertegas hubungan antarimajinya supaya daya pukulnya lebih kuat.
Bagi penulis yang hendak mengirimkan karya, silakan kirim ke email penerbitarkalitera@gmail.com dengan subjek Saka, disertai bionarasi singkat.

0 Komentar