Konfirmasi pengiriman Lion Parcel (02-01-2026, 08.45 WIB). Halo Bapak/Ibu Rendy Tisna, saya kurir Lion Parcel. Hari ini paket akan diantar. Mohon konfirmasi titik acuan dan pastikan ada penerima di lokasi. Terima kasih.
Pesan pertama di WhatsApp itu kubuka setelah bangun tidur, sekitar pukul 11.00 Wita. Sedikitnya perlu tiga kali membaca maksudnya sampai aku benar-benar paham.
Bukan karena kalimatnya yang rumit, melainkan memang kepalaku yang belum sepenuhnya menyala. Maklum pandangan masih terhalang tahi mata, sisa begadang semalam.
Aku pikir, rasanya baru kemarin paket itu dikirim Mario Panggabean, seorang kawan yang kini tinggal di Maluku Utara. Tumben, entah kenapa kurir mengantarnya begitu cepat.
Padahal, dari sana ke Kalimantan Selatan, paket itu mesti berpindah-pindah pesawat, melintasi beberapa langit, sebelum akhirnya sampai ke Kota Banjarbaru.
“Itu paketnya aku taruh di atas lemari,” kata istriku, bersuara dari belakang.
Rupanya Ia mengintip pesan itu juga, sementara aku masih berbaring, bingung, menatap layar ponsel.
Kuseduh kopi dengan sedikit garam, kubakar rokok, lalu kubuka paket itu pelan-pelan, takut ada yang robek. Sesuai. Isinya sebuah buku bercover merah marun berjudul Jejak Kata.
![]() |
| Buku Jejak Kata, Kumpulan Feature. Cetakan pertama pada November 2025. |
Ya, buku itu adalah kumpulan feature karya jurnalistik yang ditulis Mario Panggabean bersama tiga rekannya, yang kini bekerja di Lembaga Penyiaran Publik (LPP) Radio Republik Indonesia (RRI) Ternate.
Sempat ku foto barang itu di rak koleksi karya jurnalistik untuk memberitahunya kalau paket sudah sampai. Lalu kujanjikan review secara jujur, yang kemudian menjadi resensi buku yang saat ini kutulis.
***
Disela kesibukan yang aku pura-purakan agar tak tampak menganggur, dua jam cukup untuk menuntaskan semua tulisan di buku ini.
Setelah membaca daftar isi dan sekapur sirih, pembaca akan dibawa masuk ke kumpulan karya jurnalistik. Dari halaman pertama hingga 39, ada tujuh tulisan karya Mario Panggabean itu sendiri.
Membaca berita dari satu tulisan ke tulisan lainnya, aku merasa melihat perkembangan kualitas tulisan yang begitu cepat berubah. Bermutu.
Ia banyak menulis berita bertema lingkungan, yang barangkali berkaitan dengan latar belakang masa mudanya sewaktu menjadi mahasiswa pecinta alam semasa menempuh pendidikan di universitas.
“Dulu aku juga anak Mapala bang,” katanya, memberitahu. Seperti yang kuingat saat kami berbincang di sebuah resto Jakarta pusat, sekitar awal November 2025 lalu.
Penggemar berat olahraga luar ruang itu menulis tentang satwa, mangrove, belantara Halmahera, keanekaragaman hayati, rempah dan sedikit suara kaum terpinggirkan.
![]() |
| Mario Panggabean menuliskan pesan di secarik kertas. |
Selanjutnya, pada halaman 41 hingga 48, terdapat tiga karya Fazlurrahman B. Soleman. Tulisan-tulisannya sarat artikel kebudayaan dan sejarah.
Sebagai perbandingan, gaya tulisannya sedikit mengingatkan pada karya-karya Ryszard Kapuściński dalam buku The Order.
Ada juga Sofyan A. Togubu, penulis dengan kontribusi terbanyak di dalam buku ini. Dari seluruh karya jurnalistiknya, tampak bahwa ia adalah seorang pe-reportase yang baik.
Kemampuan reportase tidak bisa dikuasai dalam semalam. Ia ditempa melalui latihan menulis, membaca, dan turun langsung ke lapangan.
Sedikit dari gaya penulisan pria kelahiran Kota Tidore ini, mengingatkan pada Arif Zulkifli dalam buku Jurnalisme di Luar Algoritma.
Dan pada bagian akhir buku, sebelum pembaca mengenal profil masing-masing penulis, terdapat dua karya jurnalistik Wahyudi Yahya.
Keduanya mengingatkan pada feature klasik ala koran-koran lama, sebelum jurnalisme berkembang ke bentuk yang lebih kontemporer, termasuk jurnalisme sastra/wi.
Baik Fazlurrahman B. Soleman, Sofyan A. Togubu, maupun Wahyudi Yahya, aku belum pernah berkenalan dan bertemu secara ragawi. Maka ku ucapkan: Salam kenal.
Maluku memang banyak melahirkan jurnalis-jurnalis hebat, yang ku kenal ada Jaya Barends jurnalis betahita, anggota SIEJ yang juga sesekali menulis di Mongabay Indonesia.
Ada pula seorang jurnalis perempuan berkulit sawo matang yang namanya sungguh aku lupa. Seperti Mario Panggabean, kedua kawan itu juga kutemui saat mengikuti fellowship yang diselenggarakan berbagai lembaga independen di Pulau Jawa.
***
“Tik tak, tik tuk, tik tak, tik tuk.” Jarum jam di rumahku tepat menunjukkan pukul 14.00 Wita.
Hujan rintik tipis mulai jatuh di atas atap dapur yang tak berplafon. Mata kembali terasa berat. Kasur memanggil, memaksa tidur siang sebagai bekal begadang nanti malam.
Sebagai penutup. Buat kawan-kawan di Maluku, teruslah berkarya. Ingat, loyalitas utama jurnalis adalah kepada warga. Salam Independen dan selamat beristirahat.
Minggu, 4 Januari 2026.
────à¨à§Ž────
Tentang penulis: Rendy Tisna adalah jurnalis yang berfokus pada isu-isu lingkungan, flaura fauna, energi, dan hak masyarakat terpinggirkan. Berasal dari Marabahan dan kini tinggal di Banjarbaru, Kalimantan Selatan, ia dikenal sebagai jurnalis investigatif serta Koordinator di AJI Persiapan Banjarmasin, beberapa tulisannya meraih berbagai penghargaan di tingkat nasional.
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com



0 Komentar