![]() |
| Ilustrasi: Rafii Syihab/Arkalitera |
KITA TIDAK PERNAH SALING MEMILIKI, HANYA AKU YANG MEMILIKIMU
Kita tidak pernah saling memiliki,
hanya aku yang memilikimu.
Aku menaruhmu di antara langkah yang ragu,
apakah akan berbelok ke kiri atau kanan.
Terus berjalan tanpa memberi makan kucing liar yang kelaparan
atau berhenti sejenak untuk menendang kerikil
di tengah jalan yang membuat kaki gatal.
Suatu kali di trotoar yang terlalu sempit,
aku hampir menabrak seorang wanita
yang membawa kantong plastik berisi seledri
dan botol minyak goreng,
dan entah kenapa aku langsung mengingatmu.
Aku membawamu dalam saku celana,
bersama koin lima ratus yang penyok
dan tiket parkir bertinta luntur.
Aku selalu menyelipkanmu di antara
benda-benda kecil yang tak punya alasan untuk tetap disimpan.
Kau sering hadir ketika aku sendirian di halte.
Bus lewat begitu cepat,
aku tidak naik.
Angin mengangkat debu
ke mataku yang perih,
dan di sela kedipan itu, bayangmu muncul.
Aku tidak pernah menagih apa-apa darimu.
Tidak janji,
tidak pulang,
tidak alasan.
Aku hanya duduk
dan membiarkan tubuhku sendiri menanggungmu
sebagai kepemilikan tak berbentuk.
Aku tidak bisa menunjukkannya kepada siapa pun.
Tapi kau ada di napas,
ada di jari yang gemetar saat menekan nomor ponsel tertentu,
lalu menghapusnya sebelum benar-benar terhubung.
Kau berjalan entah di mana.
Barangkali sedang menyeberang jalan,
barangkali sedang tertawa di warung kecil.
Aku tidak ada di sana,
tapi di sini
aku masih membawamu.
Itulah kepemilikan yang sunyi:
satu orang tahu,
yang lain bahkan tidak merasa.
Kita tidak pernah saling memiliki,
hanya aku yang memilikimu.
Dan aku mengulanginya
untuk menenangkan diriku sendiri.
2025
---
NYANYIAN KESENDIRIAN
Kesendirian berkata:
“Aku bukan musuhmu,
aku hanya kursi kosong
yang tahu namamu lebih baik dari siapa pun.”
Aku menjawab:
“Tapi aku lelah duduk sendiri
menyambut diriku yang pulang terlambat
dari tempat yang tak pernah ada.”
Jam dinding memaku tubuhku seperti foto tua.
Aku hidup, tapi hanya sebagai gambar
yang dipandang oleh debu.
Aku memanggilmu,
tapi suara itu jatuh di lantai,
pecah seperti cermin,
dan aku melihat wajahku terbelah dua:
yang mencintaimu,
dan yang berhenti percaya.
Kesendirian tersenyum getir.
“Rindu adalah jalan yang selalu kembali padamu,
meski kau berjalan menjauh.
Dan cinta adalah rumah
yang roboh bahkan sebelum kau mengetuk pintunya.”
Aku berkata padanya:
“Andai engkau di sini,
aku akan meletakkan kepalaku di dadamu,
dan kesunyian pun akan enggan bernapas.”
Tapi engkau tidak datang.
Hanya bayanganmu yang lewat,
menanyakan arah pulang
kepada dinding.
Dan aku tahu:
aku bernyanyi hanya untuk menipu jantungku
agar tetap berdetak.
2025
---
MENGAPA MASA LALU TERASA DEKAT, PADAHAL IA SANGAT JAUH?
karena ia masih meminjam napasku.
di pagi hari, ketika aku menyalakan lampu,
aku mendengar sesuatu bergerak di balik cahaya,
seperti seseorang yang baru saja berpindah ruangan
dan tak sempat menutup pintu.
masa lalu tidak punya kaki,
tapi ia tahu jalan pulang.
ia datang lewat suara air keran yang menetes,
lewat huruf yang jatuh dari pesan tak terkirim,
lewat bayangan tubuhku sendiri
yang tiba-tiba lebih muda dari wajahku.
kadang ia bicara dari cermin,
menyebut namaku dengan ejaan yang salah.
aku menjawab, tapi suaraku terdengar asing,
seolah ada orang lain yang tinggal di tenggorokanku.
aku tidak membencinya.
aku hanya takut suatu pagi
aku akan memanggilnya dengan nama hari ini
dan ia akan menoleh,
tersenyum.
seakan semuanya belum selesai.
masa lalu tidak hidup di dalam waktu,
ia tinggal di dalam dan permukaan benda:
sendok bengkok di dapur,
pakaian yang menyimpan aroma hujan,
kursi yang patah di mimpi.
aku tahu, karena setiap malam,
ada sesuatu yang duduk di ruang tamu,
mendengarkan napasku seperti lagu
yang liriknya hampir dilupakan semua orang.
kadang-kadang aku mencoba menyingkirkannya.
aku mengganti cat tembok,
mengganti gorden,
bahkan mengganti urutan doa.
tapi setiap kali aku menutup mata,
ia muncul di sela kedipan,
membawa versi diriku yang tidak berhasil dewasa.
kadang kupikir, masa lalu hanyalah kebohongan yang sopan.
ia tidak pergi,
karena ia tahu aku masih menyiapkan tempat duduk untuknya;
di kepala, di meja makan,
di semua kalimat yang tak pernah selesai kuucapkan.
dan di saat paling sunyi,
aku mendengarnya tertawa pelan,
suara yang sama seperti dulu,
tapi sedikit lebih jauh
dan sedikit lebih dingin.
aku ingin berlari,
tapi kaki hanya tahu satu arah:
menuju tempat aku pernah bahagia.
lalu aku berhenti.
kubiarkan masa lalu duduk di sebelahku,
memasukkan tangannya ke sakuku,
mencuri sesuatu yang bahkan tak kuingat kumiliki.
mungkin itu cinta,
atau hanya cara masa lalu memastikan
aku masih hidup di dalamnya.
2025
---
KEMUNGKINAN TERBURUK
Terlalu banyak keinginan, terlalu sedikit waktu.
Aku ingin satu musim semi lagi, untuk bunga-bunga,
untuk mengubur satu nama yang masih tumbuh di dadaku.
Aku berjalan tanpa peta,
dan jalan menutup pintunya dan bertanya:
siapa yang kau cari, jika semua orang sudah pergi?
Aku ingin menunda waktu, namun jarum jam melukai nadiku.
Aku berdarah, dan darah itu menulis: "kau terlambat lagi."
Kemungkinan terburuk bukan mati,
tetapi hidup dengan harapan yang lebih panjang daripada umurmu.
Aku ingin berkata kepadamu: tinggallah!
Tapi aku tahu, jika kau tinggal, aku akan lebih kehilangan diriku sendiri.
Aku ingin memelukmu sampai kesunyian takut mendekat,
hingga tangan ini hanya memeluk udara
yang dinginnya lebih setia daripada ciumanmu.
Terlalu banyak keinginan, terlalu sedikit waktu.
Dan waktu, ia tidak pernah tersenyum kecuali kepada mereka yang berhenti berharap.
Maka aku berhenti, tapi rindu tidak.
2025
---
CATATAN-CATATAN SETELAH PERPISAHAN
aku duduk di meja yang sama.
kursi sebelahku kosong, tapi bayanganmu
masih menempel di sandarannya.
aku menyalakan lampu terlalu pagi,
hanya untuk memastikan ruangan ini
tidak benar-benar meninggalkanku.
catatan pertama:
aku tidak bisa menutup jendela.
angin yang masuk membawa debu
dan sedikit ingatan tentangmu.
catatan kedua:
aku sering lupa bagaimana suaramu,
tapi aku masih ingat jeda di antara kata-katamu.
seperti jalan kampung yang tidak pernah diaspal,
selalu ada lubang yang harus kuhindari.
catatan ketiga:
aku tidak pandai membuang barang.
sikat gigi yang sudah mengembang dan kering itu
selalu kusimpan di sudut wastafel.
catatan keempat:
aku tidak menyesal.
cinta selalu punya umur,
tapi kita tak pernah belajar cara menguburnya.
catatan terakhir:
aku tidak tahu harus menunggu siapa.
tapi setiap malam
aku menulis namamu di halaman kosong
hanya untuk menyampaikan
bahwa perpisahan ini butuh saksi.
2025
---
BESOK AKU AKAN MELUPAKANMU
Besok aku akan melupakanmu jika aku ingat.
Karena melupakan butuh ingatan.
Seperti orang yang berjanji berhenti merokok,
tapi masih membeli korek api,
hanya untuk berjaga-jaga.
Aku akan melupakanmu dengan cara malas:
Tidak menoleh ke telepon,
tidak membaca ulang pesan lama.
Mungkin juga dengan berpura-pura sibuk
mencatat hal-hal remeh:
harga bensin, berita di koran,
nama-nama pemain bola yang sudah pensiun.
Melupakanmu bukan perkara hati.
Karena hati itu keras kepala.
Yang lebih mungkin bekerja adalah tubuh:
mata yang bosan mencari,
tangan yang berhenti mengetik,
langkah yang memilih jalan lain.
Besok, kalau aku ingat,
aku akan melupakanmu di antara dua gelas kopi;
yang pertama terlalu pahit,
yang kedua dingin keburu basi.
Seperti itu, aku kira.
Dan jika ternyata aku lupa
untuk melupakanmu,
tak ada yang perlu dipikirkan.
Orang-orang hidup dengan kebodohan kecil
yang selalu mereka pelihara.
Aku pun begitu.
Barangkali itu satu-satunya kesetiaan yang tersisa.
2025
────à¨à§Ž────
Tentang Penulis: SYAHRUL CHELSKY adalah seorang penggemar klub sepak bola Chelsea FC. Ia berasal dari Kabupaten Banjir Banjar. Kelahiran 30 tahun silam ini pernah menulis dua judul buku, masing-masing satu buku puisi dan satu buku kumpulan cerita. Puisi-puisinya turut termuat dalam beberapa antologi puisi lokal dan nasional. Ia juga ikut tergabung dalam komunitas Arkalitera dan Wikimedia Banjar. Bisa ditemukan di beberapa jejaring sosial media dengan nama pengguna @syahrulchelsky
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar