![]() |
| Ilustrasi: Musa Bastara |
PERKARA MOKSA
hitam aspal dan hitam malam
sudah tak ada beda. hitam melanin
pun sama. kau berjalan saja
–hilang umpama....
kau berjalan saja
memanggul sakal dari narasi
yang kau selipkan di lipatan ketiak.
sebuah belati atau secarik puisi
telah dikantungi. siapa tahu
kau hendak memangkas
jarak ke angkasa luas.
kau berjalan saja–hendak ke mana?
jalan di depan tidak lurus belaka.
belok kiri kau diburu cecar
hewan penggerutu. belok kanan
kau dicekik pembegal berhati majal.
kau masih lanjut berjalan?
memejam mata sebab tak ada
yang mengalir lagi dari liang hati.
angin hendak berbisik,
tapi awan malam berhujah
kepalamu sudah terlalu berisik.
maka, belati atau puisi
yang kau kantungi menjadi sayap
bagi narasi yang kau bacakan
penuh gagap, memeloti nama
yang tanggal dari kartu identitas
dan huruf-huruf terlepas
dari kitab di mihrab.
kau tak lanjut berjalan,
tapi di tengah kau putuskan
moksa ke antara bintang-bintang.
jujur saja, kau memangnya
hendak ke mana? di sana,
kau akan temui siapa?
sejuta kata yang kau hafal,
yang kau rapal, mengalir
dari tubuh tak bermassa
– atau sejuta kata
yang melayangkan tubuh
dari jiwa cengkarmu?
mana sayap dari belati atau puisi?
mata itu kosong. tak yakin
akan bertemu siapa di antara
lapis-lapis langit nanti.
kau pergi ke sana,
tapi Beliau di sana?
Banjarbaru, Januari 2026
---
PERKARA MEMINDAH MEJA KERJA
di tengah deadline kerja janji akhir Juli,
kau putuskan memindah meja kerja.
usil bayangkan peruntungan ‘kan lejar
bila meja tak halangi lapang ruang
menurut insting bermodal
Feng Shui abal-abal.
sebelumnya,
kau harus berhadapan dengan
tumpukan buku bersampul debu;
piala dan plakat dilumuti waktu;
memento-memento bisu; foto-foto
berjamur; serta ingatan-ingatan
yang gagal menghibur.
lantai rumah kini komplek pemakaman
untuk pertaruhan yang gagal mendatangkan
kemujuran. masa kini menjelma serbuan
mata hantu, yang kerap meradang saat
kau undang tubuh penawar mimpi buruk:
patahan nama dan retakan kepalamu sendiri,
yang selalu hati-hati kau bersihkan
seorang diri.
kau pilah mana yang ’kan kau buang,
mana yang ’kan kau simpan,
mana yang ’kan kau biarkan
tumbuh terabaikan.
sejurus jengah, meja terpindah.
di atasnya, kau tata jarum, gunting,
benang, belati, kikir, dan segulung tambang
guna mengikat jati diri,
memotong gundah,
memahat lelah,
menjahit lekuk,
dan titik doa;
lekuk dan titik
rencana
sekali lagi.
sekali lagi…
2023-2026
---
DUA SEMBILAN
Yusuf berkata pada Ambar,
“Dua sembilan adalah usia ketika
isi perutmu seluruhnya dikeluarkan.
Kau pelototi apa yang ada. Satu per satu.
Kemudian, kau telan lagi. Seluruhnya.
Seutuh-utuhnya!”
saat mantan kekasihku
berusia dua sembilan, enam tahun lalu,
aku adalah belati yang memburai
isi perutnya kemudian berdoa:
“Semoga tak perlu orang lain
untuk memburai isi perutku
dan menjahitnya kembali.
Cukup kumuntahkan
perintilan-perintilan arti
yang kukantungi untuk sekadar
menjadikan diriku berharga.”
amin.
tapi, aku lupa, aku tak menjual apa pun.
siapa pembeli? mereka takkan mengantre
dan tiket dari pementasan yang kumainkan
takkan mempertontonkan hidupku.
dan Tuhan,
kenapa seseorang diingatkan
bertambah usia? dan kenapa
sejak kepergiannya kesendirian
kerap jadi objek analisis yang tak selesai
diperbincangkan oleh kawan lama?
tapi, ketika kuingat Marina berdiri
dalam Rhythm 0, kupahami manusia
berevolusi untuk menyantap hidup-hidup
siapa pun yang bernyawa dan mematung
tanpa pertahanan tanpa perlawanan.
apakah ini saat yang baik
untuk mengeliminasi keinginan
memperbanyak diri?
sebab, di mana-mana
kusaksikan orang-orang
menyusui diri atau keturunannya
dengan menumbalkan nama baik sesiapa
yang mengikatkan tali sepatu mereka
agar kelak tak tersandung saat berlari
membuktikan Tuhan Maha Baik.
atau kusaksikan,
sebab aku mematung di tengah kerumunan,
mereka lucuti pakaianku. mereka mainkan
lubang tubuhku. mereka sumpal dengan
setangkai mawar,
lembaran buku filsafat,
kutipan ayat,
robekan KUHP,
bilah besi,
secarik puisi,
belati,
kontrak kerja,
pistol dan pelatuknya
yang ditarik,
serta peluru
yang ditembakkan
meleset untuk kesekian kali.
sebab itu,
bila aku membisu, tak kuundang
siapa pun untuk banyak bicara.
tak kuundang siapa pun mengutip
banyak ahli, menjadikan tiap petuah
terasa ilmiah. tak kuundang siapa pun
menonton video TED Talks, membujukku
mematikan lampu kamar, membiarkan
cahaya celah pintu melukis gegambar
yang hanya bisa kusaksikan saat kita
patuh pada panggilan berjemaat
dan menyadari di bilik-bilik sunyi
masih ada gelap…
namun, seseorang selalu kukantungi
sebagai nama dalam daftar panggilan
yang segera dihapuskan.
Jokpin kemarin wafat
dan aku tak sempat bertanya apa itu puisi?
bagaimana tak menjadikannya curahan
yang verbositas? apa Hari Puisi Nasional
dirayakan dua hari tahun depan?
yang kutahu, di Hari Puisi Nasional,
malam ini, aku resmi berusia dua sembilan
dan gempa magnitudo 6,5 menggoncang Garut.
aku sengkarut dan kudekap tubuhmu.
air mata tak keluar sebab itu badanku
gemetar. berapa ukuran magnitudo rahasia
yang terdeteksi oleh seismograf kesadaranmu
hari ini, hai pacar kecil?
malam ini aku memelukmu
sebab belakangan kematian kerap
datang tiba-tiba pada para sahabat lama.
malam ini aku memelukmu dan menyadari
begitu banyak jebakan saat cermin
disingkirkan dan lampu kamar
kembali dinyalakan. malam ini
aku memelukmu sebab tak ada
yang menjamin tragedi akan berbuah
katarsis manis, sebab ex-machina
telah kupenggal di tengah
komplikasi cerita.
apakah itu bayanganmu
atau jejak hitam yang memanjang
dari telapak kakiku sendiri?
malam ini aku memelukmu,
sebab kau dan aku resmi
dua sembilan. tak ada yang berani
menjamin di antara kita tak ada
yang duluan menghujamkan belati
untuk kita observasi bersama
isi perut dan tahi-tahinya.
tapi, kujamin, semuanya
akan kembali kita telan
bersama.
Banjar, 27 April 2024
Keterangan:
- Ambar dan Yusuf adalah dua tokoh utama dalam film 3 Hari untuk Selamanya (sutradara Riri Riza) dan diperankan oleh Adinia Wirasti dan Nicholas Saputra.
- Rhythm 0 adalah pertunjukan seni berdurasi sekitar enam jam yang dipentaskan oleh seniman Serbia Marina Abramović di Naples pada tahun 1974. Rhythm 0 melibatkan Abramović yang berdiri diam, sementara penonton dipersilakan melakukan apa pun yang mereka inginkan, menggunakan salah satu dari 72 objek yang telah ia letakkan di atas meja. Objek-objek tersebut meliputi mawar, parfum, madu, roti, anggur, gunting, pisau bedah, paku, batang logam, pistol, dan peluru.
────à¨à§Ž────
Tentang Penulis: MUHAMMAD IRWAN APRIALDY lahir di Banjarmasin pada 28 April 1995. Penulis, aktor teater, dan pengajar yang aktif berkesenian sejak 2010. Ia menyelesaikan studi S-1 Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di FKIP Universitas Lambung Mangkurat. Karya-karyanya berupa puisi, cerpen, serta naskah lakon telah tersebar di berbagai media dan dimuat dalam sejumlah antologi sejak 2011 hingga 2025, seperti di Tempo dan Banjarmasin Post. Saat ini bekerja dan bermukim di Kota Banjarbaru. Dapat dihubungi melalui Instagram @irwan.aprialdy.
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar