Mayang dan Suryanata yang Terbunuh
Mayang dan Suryanata yang terbunuh
Mati mengenaskan di antara dua pasang kaki
Sekumpulan roh menuntun dirimu
Mencari tempat persembunyian terbaik untuk jasadnya
Pada sepertiga malam,
di sebuah dapur,
Mayang bercinta dengan Suryanata
yang sedang menyesap racun
Harimau mengaum dan buaya merangkak.
Mayang dan Suryanata yang terbunuh
Diam-diam menggerogoti pundak-pundak pengantin
---
Kayutangi & Pramuka
Lalu, tak ada lagi Jalan Kayutangi, hari ini dan (mungkin) seterusnya
Riuh-riuh mahasiswa yang kini silih berganti dengan suaka luka
Debu-debu berterbangan yang tak lagi ramah
Dan jejak persemayaman yang tak kunjung kering
Apa kabar kartu identitasku?
Yang masih dirindukan oleh petugas krematorium
Dan lipat jilbabmu yang kita gunakan untuk menutup diri dari kacamata Tuhan
Dapur yang tak lagi berfungsi
Ruang tamu yang kehilangan penjajah
Cermin berkarat yang tak lagi bisa memantulkan keelokan pesta dansa
Dan sebenarnya, tak ada lagi Jalan Pramuka
Hari ini dan (mungkin) seterusnya
Atas dasar pengorbanan dan atas nama pengkhianatan
Sudah, cukup sudah.
---
Ruang Bersalin
tiara
setiap sore,
aku sengaja melewati tangga-tangga kelahiran kami
aku lihat, dirimu tak pernah berpindah tempat
masih diam-diam merekam jejak-jejak kelahiran lainnya
aku cukup mengerti
bagaimana pasanganmu kebingungan
saat aku bertanya,
bagaimana kabar kartu identitasku?
bagaimana bersembunyi di antara labirin-labirin kacamata sekitar?
tiara
manipulasimu tak berkesudahan
merenggut jiwamu seorang
aku tak tahu
acap kali gigiku berlubang digerogoti berita-berita seorang penguntit
hadirin sekalian,
tuan dan nyonya
tiara akan menikah!
setiap sore
dengan seorang dalang
---
Sekelumit Dosa Seorang Hamba
aysah,
bersamaku, kau bukan istri seorang utusan tuhan
yang pandai mengeja dan berkembang biak dalam ke-esa-an
sepersekian detik deru pertemuan yang terlewatkan
di antara kaburnya seorang napi dan larinya seekor kelinci liar
sedangkan aku,
aku manusia yang tak pernah merasa
dan lupa dengan sekelumit dosa yang kau jarah
aku manusia yang masih belajar membaca
setiap kata dan kalimat yang kau tafsirkan di hari pembalasan
aysah,
aku terperangkap di telaga dosa
ku bilas dengan sungguh-sungguh
seorang diri. tanpa ada perempuan. lainnya.
meraung-raung aku kebingungan. terjebak.
sebuah persembahan
yang batasnya tipis
antara manipulasi dan keputusasaan.
aysah,
bersamamu, aku bukan seorang utusan tuhan
yang pandai memahami perkembangan jiwamu
dan kita: sungguh perihal maaf dan meminta maaf
---
Kabarnya Ini Cerita Pendek Hari Ini
aysah mati tragis di tangan siti
darahnya menggenang di alam bawah sadar
tepat pada bulan ramadhan
penuh sumpah serapah
yang harus terus aku cuci setiap hari
dengan sukarela
namun, seperti mayang yang mati terbunuh atas racunnya sendiri
seperti itu juga engkau disucikan kembali dalam terang
tak ada lagi dosa-dosa riuh yang membunuh engkau
dalam diam maupun diam-diam
pada saat ibumu ‘mati’ di tangan ayahmu
pada saat adik-adikmu ‘diperkosa’ dirimu sendiri
dan dirayakan
kabarnya ini cerita pendek hari ini
aku menulisnya di depan toko roti yang baru saja buka
satu jam sebelum siti melakukan bom bunuh diri
---
Pengadilan Hari Akhir
secara berkala
aku rekam durasinya
secara berurutan
aku susun rumusnya
ujarnya, itu yang harus aku lakukan
sepanjang aku masih bisa memikirkannya
aku didakwa
(seumur hidup)
putusan akhir
remaja-remaja liar yang kesepian
tanpa pengawasan pegawai negeri sipil
dan olehnya
aku mendaur ulang kematianku
lagi
lagi dan lagi
lagi-lagi aku harus dimatikan
dengan sadar dan dengan tanganku sendiri
sebab, tiga tahun yang lalu perempuan pernah mati ditanganku
dan aku mengawetkannya
dengan sadar dan dengan tanganku sendiri
karenanya,
aku didakwa
(seumur hidup)
---
Aku Ingin Sekali Menelanjangi Dirimu
satu pertanyaan yang ingin sekali aku telanjangi muasalnya:
apakah kita sama-sama sedang merekayasa ingatan kita?
tentang:
kosakata saat ‘bercinta’
rencana masa tua
dan konsep perpisahan
semuanya dipaksa hilang.
dihilangkan.
dengan sengaja.
bahkan, baik aku dan kamu
sudah lupa siapa aku
dan siapa kamu
di malam ini
sial.
riuh hujan turut merekayasa semuanya
begini barangkali dialog yang tersisa:
aku: sepertinya aku hanya mengingat informasinya. tidak dengan rasanya.
kamu: sedang aku, tidak ingin mengingat keduanya
satu pertanyaan yang ingin sekali aku telanjangi muasalnya:
apakah kita,
tanpa pernah sepakat,
sudah sama-sama
(berhenti)
saling mengenal?
---
Ziarah Lakon
Ziarah hari minggu, di seputaran provinsi
Mati lampu di arah pintu masuk bioskop
Tiket seharga 20 ribu, diskon hendaknya
Apa kalimat yang pantas diungkapkan?
Kata menjadi merah, bias menjadi abu
Pesugihan warung sate di pinggir sungai
Alot dan bau tanahnya. Curam!
Tidak ada sewa DVD bajakan lagi
Setelah pemiliknya tewas di tangan anaknya sendiri
Makan malam sudah habis, sehabis-habisnya
Hanya aku simpan sedikit
Untuk nanti.
────à¨à§Ž────
Tentang penulis: Dimas Edjaur tumbuh besar dalam keluarga yang konservatif dalam beragama, dengan latar yang mempertemukan logika dan seni dalam keseharian. Ia adalah seorang sutradara film dan penulis. Karya-karya tulisnya kerap berangkat dari pengalaman personal, relasi yang timpang, ingatan, serta pergulatan batin manusia di ruang-ruang intim dan urban. Melalui puisi dan film, ia mengeksplorasi tema kesepian, tubuh, iman, dan patah hati dengan pendekatan yang cenderung liar.
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar