![]() |
| Ilustrasi: Rafii Syihab |
MERAJUT TITIK CAHAYA
aku mencintaimu dengan belati menancap
di jantungku, menghentikan detak nadi yang
mengalirkan bahasa rindu. engkaulah pelita
yang menyinari sudut-sudut gelap dari hati yang berlari.
yang semerbak bersama harum
bunga yang menyegarkan desah nafas pelacur
tua. yang bernyanyi bersama burung pagi dalam
dadaku
kubangun surga dalam batin, yang senantiasa
mendendangkan zikir-zikir kefanaan. ku rajut
titik cahaya jadi sulaman matahari yang akan
membakar seluruh dosa dan nista
aku merindukanmu dengan sujud berkepanjangan,
melarutkan kesedihan pada secawan doa dan
air mata. menancaplah segenap rasa, membelenggu
ruang dan waktu dengan luka yang kau kirimkan
serupa ayat-ayat suci dari cakrawala
aku mencintai dan merindukanmu dengan kesedihan
dan kebahagiaan yang terus mengalir pada sungai
dalam batinku, hingga batu-batu tak lagi membisu.
---
PADA SUATU WAKTU
Pernah suatu ketika aku menawarkan hujan
pada hatimu yang kering kau menampiknya,
"Aku tak butuh hujan aku butuh angin,'"
Pernah suatu waktu aku pinjamkan hatiku
untuk kau rangkai menjadi bunga engkau melipatnya,
"Terima kasih"
Suatu ketika, pernah aku bawakan engkau matahari,
agar gelapmu menjadi terang
"Ini sudah malam, aku butuh bulan," ujarmu
Pernah suatu waktu dan akan selalu bahwa aku menunggumu.
────à¨à§Ž────
Tentang penulis: Andy Arfian, seorang Pekerja media yang mencintai sastra. Suka menulis puisi, esai, cerpen atau novel. Dulu sering, sekarang lebih sering nulis proposal bisnis dan materi mengajar jurnalistik. Dibesarkan oleh karya-karya: Hilman Hariwijaya, Gola Gong, Pramoedya, dan pernah pusing dengan karya-karya Shakespeare, Austen, dan Dickens saat kuliah di sastra Inggris.

0 Komentar