![]() |
| Ilustrasi: Piwi/Arkalitera |
Kupikir selama ini kau pastilah tentram di Lewu Liau, Sibau, setelah karamnya kita ratusan tahun silam di arus ulak sungai itu. Tetapi ketika Jata Balawang Bulau datang membawa pesan yang kau titip kepada Ranying Hatalla–entah bagaimana kalian bicara tanpa kepala yang kau miliki–aku terkejut dan, sejujurnya, tak habis pikir. Sebab kau tahu belaka aku hanyalah jukung kayu, dan karenanya tak kuketahui jalan pulang selain pada kedalaman sungai, di sini, di Lewu Tana ini. Maka selepas kau dikutuk-sumpahi mandau pangayau, dan aku tenggelam di lumpur-ampar, kulupakan semua pesan-pitua terakhir dari kepala yang dipisah-penggal prajurit Kapang dari tubuhmu. Bawa aku ke tanah lahir, hanya itu yang sempat kuingat, benar, bahkan rahang pipimu itu purna kulupakan bentuknya. Lagipula apa guna kembali, terlebih jika tak ada yang bisa kubawa dari tubuhmu selain serpih kecil tulang belulang ini?
Tetapi baiklah, tersebab mereka berdua, dan karena sedikit rasa hormatku untukmu, kulakukan tugas terakhir yang kau inginkan tersebut: Kuarak lagi kayu lapuk tubuhku menuju Muara Bahan, menapaki jejak arus yang dulu kita lewati ketika sungai ini tidak seperti sekarang–jauh, jauh sekali.
Dari atas sungai ini mungkin kau mengerti apa yang ingin kukatakan, barangkali telah terbiasa pula seiring panjangnya waktu yang kau habiskan di alam ini, tetapi bagiku–yang ratusan tahun tenggelam dalam kesunyian di bawah sana–arus yang kulalui begitu lain, sehingga aku merasa telah berada di sungai berbeda dari yang semula kumudiki. Mulanya kupikir akan kutemukan lagi mandau-mandau di tepian sungai, dengan mata yang sedikit banyaknya kukenali semasa dulu. Benar bahwa aku telah mendengar selinting kabar yang dibawa para ikan dan bangkai-bangkai rumah lanting, tetapi tetap saja aku tak bisa mengenali sungai ini sebagaimana seharusnya ia amatlah kukenali sejak dahulu.
Sibau.
Sekumpulan pohon-rapun jingah yang terbang dari tepian sungai itulah yang menggantikan posisimu dalam perjalanan ini. Jika mereka tak ada, barangkali aku akan tenggelam sejak bertemu Onrust–si kapal-jukung besar itu–ketika ia bicara padaku dalam bahasa yang tidak kupahami, beberapa saat setelah aku bangkit dari lumpur-ampar ketika Jata Balawang Bulau memintaku mengarungi Barito sekali lagi. Kau kenal si Onrust ini, Sibau? Pohon-rapun jingah menyebut orang-orang yang tidak kukenal: Surapati, Kendet, Wangkang, Batur, dan nama-nama lain yang entah, dia bilang Onrust adalah kapal perang yang dikaramkan oleh mereka setelah kau dan aku tenggelam di sungai yang sama saat membawa damar dan rotan: Saat Perang Banjar memuncak. Sesungguhnya aku tidak tahu peperangan yang mereka sebut. Dan apa yang dilakukan kapal perang di atas sungai benar-benar tidak bisa kupahami, satu-satunya peperangan yang pernah kuhadapi adalah ketika mandau-mandau itu terbang di antara leher dan kepala kalian. Tentu aku mengingat orang-orang berwajah asing itu, terutama para meneer yang selalu kau sebut menyebalkan dahulu, tetapi konflik kalian seringkali datang dari suku-suku yang berseberangan adat, tentu saja itu kuketahui sebatas apa yang bisa kupahami sebagai sebuah jukung kayu–bahwa bisa jadi kepercayaan yang mereka bawa adalah pemecah kalian, kupikir itu sangat mungkin terjadi, dan, sesungguhnya, hanya sampai di situ aku bisa memahami arti dari sebuah peperangan. Aku tidak tahu bakal ada kapal yang disediakan khusus untuk perang, benar, Si Onrust ini. Sayang kami tak bisa berbagi kisah, sehingga yang kulakukan hanyalah menatapnya dan berlalu begitu saja seperti tak ada apapun yang terjadi. Kemudian, di tikungan ke empat atau ke lima, aku bertemu makhluk panjang-besar yang menjaga sungai ini–beberapa orang menyebutnya Tambun, yang lain menyebutnya Naga, kita tahu makhluk itu bukan keduanya.
“Mau ke mana?” tanyanya, dengan suara besar-berombak, wajahnya muncul di permukaan air, tepat di depanku.
“Bandar Niaga Muara Bahan, Tuan,” aku menjawab terbata, sepanjang yang bisa kulihat ekornya bergerak ritmis dan pohon-pohon di tepian menunduk-mengangguk kepada makhluk tersebut.
Demi mendengar jawabanku, dia lantas tertawa. Pohon-rapun jingah yang melayang terbang di sekitar kami juga tertawa. Dia berkata untuk apa aku melakukannya, dan kujawab hanya dengan memperlihatkan tulang belulangmu. Orang hulu atau orang hilir, tanyanya. Aku yang tidak paham dua istilah tersebut menjawab bahwa kau Orang Sungai, Sibau. Hanya itu yang kuketahui, sebab setahuku kau mengenal tiap lekuk sungai ini, hilir dan hulu. Kau menetap tinggal di Muara Bahan meski doamu tertambat ke Lewu Liau, meski manik di pinggangmu tak tanggal sebagaimana orang-orang yang kau kenal. Kau orang hilir, kupikir, tapi tidak sepenuhnya terikat kepada sesuatu sebagaimana yang terjadi pada sebagian mereka. Jadi, benar, bagiku kau tidak lain adalah Orang Sungai. Tak kurang, tak lebih. Meski begitu, tentu saja, aku tidak tahu apa yang telah terjadi pada semua ini. Selain itu, makhluk panjang-besar penjaga sungai itu juga mengatakan bahwa pelabuhan yang kucari tidak ada lagi. Masa-masa para pelancong Arab dan India menukar dagang telah berakhir sejak tahun yang jauh silam. Bahwa tempat itu bukan sebenarnya tujuanku adalah hal lain, tetapi maksudku, bagaimana mungkin aku bisa menemukan tanah lahirmu kalau semua hal telah berubah, apa beda tanah di sini dan tanah di sana, mengapa begitu penting untuk kau, Sibau, apakah benar semua ini tentang kembali?
Sebab, rasa-rasanya, ini semua bukan hanya tentang kembali. Aku merasa ada dendam yang kau titipkan pada papan-palangku, entah dendam pada suku selainmu, atau dendam lain yang belum dapat kupahami benar sampai sejauh ini. Atau, bisa jadi, kau menaruh dendam padaku, Sibau, kau menyimpan marah berkepanjangan karena aku tak bisa melaju cepat saat orang-orang itu menyusur-mandusur sungai untuk menjadikan kepalamu sebagai tumbal dari perang suku.
Aku tidak tahu, dan selamanya mungkin akan begitu.
Setelah makhluk panjang-besar itu lenyap dalam pusaran air dan meninggalkan riak buih yang hampir saja membuatku turut hanyut ke dalamnya, aku mengikuti aliran dan arus membawaku melewati tepian dengan nama yang tak pernah kudengar-kukenali, di atas tepi rumah-rumah berpaling membelakangi sungai, aneh rasanya, pohon-rapun jingah berkata rumah-rumah kini menghadap jalan raya. Mengapa mereka menghadap jalan raya, Sibau, bisakah kau jelaskan alasan kenapa rumah-rumah ini meninggalkan sungai. Tidak. Tentu kau tidak bisa menjelaskan apa-apa. Kepalamu telah tiada–setidaknya aku tidak tahu di balai mana batok kepala itu berada, kau mungkin masih tubuh berleher buntung hingga sekarang, dan arwah tanpa kepala tentu tak bisa mengatakan apa-apa–kau tidak bisa bicara tentang semua ini, barangkali bahkan kau tak melihatnya sama sekali.
Di mana kepalamu, Sibau?
Aku berusaha mengingat nama tempat dan kerabatmu, tapi yang terus membayang hanyalah bahwa kau cuma sekadar Orang Sungai, tidak kukenali orang suku dan tanah adat yang mengikat-menjeratmu hingga akhir hayat, dan sebagai orang yang hanya menjual-manjaja dagangan, aku merasa kepala itu harusnya tak ada artinya buat suku di luar orang-orangmu. Barangkali aku tidak cukup mengenal siapa sesungguhnya patuananku sendiri, yaitu kau, sebab asang kayau tidak datang dari murka belaka, orang mesti menimbang-merencanakan dengan matang kepala siapa yang harus ditebas-ditebang. Kepalamu berharga, anggap saja begitu, tetapi sebagai apa–kau bukan kepala suku, kau tidak datang dari suku yang melakukan ritual sama, sehingga balas dendam jelas tidak mungkin menjadi alasan di balik semua itu. Sebagai jukung, lagi-lagi, aku tidak cukup mengerti apa yang telah terjadi. Aku membayangkan mungkin setelah putus dari leher, kepalamu diludah oleh mereka, tetapi saat mereka mengenali mukamu, dan tahu kau bukan siapa-siapa, mereka meludah lagi ke tanah sebab rasa bersalah. Setelah itu, bahkan hingga kini, kepalamu barangkali masih berada balai yang entah, ditindih-dilupakan, tidak dipakai sama sekali sebagai bagian dari ritual.
Malang sekali nasibmu.
Di sepanjang sungai aku terus mengenangmu dengan menceritakan segala yang bisa kuingat dari perjalanan-perjalanan kita, juga tahun-tahun yang jauh itu, kepada pohon-rapun jingah yang juga, di kesempatan sama, membagi kisahnya tentang kenapa begitu banyak dari mereka kini beterbangan di langit muara. Mereka bilang kini penebangan tidak datang dari mandau ngayau, batang tubuh kami, katanya, dipenggal dengan mesin. Aku tidak tahu mesin apa. Lalu aku bertemu arakan manusia di suatu teluk, bersama jukung dengan ukiran kepala naga. Kupikir mulanya itu dimaksudkan untuk menghormati Jata Balawang Bulau. Maksudku tentu saja begitu. Tetapi dia mengatakan keberadaannya justru hadir untuk menangkal gangguan naga kepada manusia. Gangguan, Sibau. Apa yang mereka maksud dengan gangguan. Jata Balawang Bulau diutus Ranying Hatalla ke Lewu Tana tidak sebagai gangguan. Aku tertawa sesaat. Kemudian pohon-rapun jingah berkata kami telah sampai di Marabahan. Itu tempat yang sama yang dahulu kita kenal sebagai Muara Bahan. Benar. Waktu mengubah segalanya, Sibau: Nama, tempat, bahkan arus ini pun tidak lagi sama dingin-hangatnya.
Dulu, lagi-lagi aku terjebak di waktu itu, tepian ini riuh suara pasar sungai, kau ingat, bau damar dan getah rotan yang bercampur amis ikan selalu kau baui dengan aroma asap tipis yang bergelayut di atas sungai, dan jukung-jukung kecil itu, tentu saja, yang berebut tambat di dermaga kayu dahulu, Sibau, kini hanya menjadi sisa di diriku.
Aku tiba di tempat yang dulu penuh rumput-kumpai di tepian, setelah itu aku mencari anak sungai untuk masuk ke tempat yang bisa kuingat dari masa lalumu, tetapi tidak bisa, anak-anak sungai telah berubah dan aku gagal menyebut nama tempat yang akan kutuju. Jukung-jukung tidak kukenali. Lanting-lanting tidak menghuni sungai ini lagi. Aku tidak tahu harus ke mana. Aku bertemu manusia, tetapi mereka tidak mengerti bahasaku. Persis seperti Onrust–si kapal besar itu. Dan Onrust, Sibau, tentu saja bukan satu-satunya kapal besar yang kutemui dalam perjalanan kali ini. Setelah bertemu kerumunan manusia, aku berpapasan dengan jukung besar dan ombaknya menggiringku ke tepi. Jukung itu begitu berat, suaranya bergema, sia-sia aku bicara dengannya sebab suaraku tidak mampu didengar dengan baik.
“Itu jukung-tongkang,” kata pohon-rapun jingah.
Ah, jukung-tongkang. Benda apa lagi yang menghuni sungai ini? Mungkinkah sekarang para pangayau membawa jukung besar untuk menyimpan lebih banyak kepala? Apakah suku-suku melakukan ritual lebih sering sekarang? Ataukah kepala-kepala ini dijual-dijaja seperti madu dan damar?
Sibau.
Kau tidak semata ingin kembali pada tanah lahir ini, bukan? Tidak. Tentu saja tidak. Setelah perjalanan singkat yang kulakukan, aku tahu apa yang sebenarnya kau inginkan tetapi urung terucap sebab begitulah sifatmu sejak dahulu–dan kau pun tak punya kepala juga hingga kini. Tetapi maaf, Sibau, mungkin kau akan kecewa. Dan pasti akan kecewa. Bagaimanapun aku hanya kayu lapuk, sebuah jukung dagang tanpa dayung, aku tak punya kuasa memenggal kepala mereka guna mengembalikkan rohmu ke atas sana, kepada Ranying Hatalla, ke Lewu Liau. Kau pasti mengerti, Sibau, jelas kau memahami bahwa kepala-kepala mereka terlalu besar untuk mandau ngayau yang bahkan belum pernah kupegang guna menebas-memenggal.
Aku tidak mampu melakukannya.
Saat jukung-tongkang itu lewat dan sisa ombaknya lenyap di ruas sungai, aku berkata kepada pohon-rapun jingah yang menemaniku bahwa aku tak sanggup, tubuhku kini terlalu kecil untuk menghuni sungai yang didiami jukung-jukung besar. Tetapi kemudian sebuah jukung lewat, menyusur-mandusur di atas riak air menuju hulu, kecil dan hitam jelaga. Tanpa manusia, tanpa siapa-siapa di dalamnya. Aku bertanya kepada pohon-rapun jingah tetapi mereka pun tak tahu banyak selain bahwa itu jukung telah berlalu-lalang dalam tahun-tahun terakhir di sekitar sungai ini, dari hilir ke hulu, terus begitu. Mula-mula dia berwarna-beraroma damar, mereka berkata, lalu debu jukung-tongkang menempel-menyatu pada tubuhnya dan begitulah dia menghitam seiring waktu. Aku berhenti, Sibau, untuk sesaat saja memandangi jukung itu. Dan aku tak tahu sekarang. Kupikir perjalanan ini harusnya telah berakhir sebagaimana ia tak pernah kumulai: Barangkali mestinya aku membawa sisa tulangmu ke dalam riam saja, atau mungkin di satu lubuk sungai berlumpur-balicak, membuatmu menetap selamanya di Lewu Tana sebagai arwah manusia tanpa kepala. Tetapi aku tidak tahu, Sibau, dan aku kembali mengarak tulang serta kayu lapuk yang selama ini kubawa, tubuhmu dan tubuhku, menuju ruas sungai ini entah sampai kapan berakhir. Kelak aku mungkin akan menghitam seperti jukung itu, kau pun sama belaka. Sambil duduk di kursi palangku, kau mengayuh tanpa kepala, tanpa tujuan pula, sementara aku bicara pada leluhurku dalam bahasa yang tidak lagi dipahami manusia.
“Ikau hendak ke mana?” tanya pohon-rapun jingah setelah melihat tubuhku hanyut ke hilir, menuju akhir muara, tapi aku tak punya jawaban sebab aku tak tahu hendak ke mana. Kupikir sekarang yang bisa kulakukan hanyalah mendatangi balai-balai guna mencari sisa tubuhmu, agar kau berkata dengan jelas maksud dan tujuan yang kau titipkan padaku, tetapi celakalah, Sibau, patuananku, aku tak tahu di arus sungai mana yang bisa membawaku pada kepalamu yang lama itu.[]
2025
*Mengarak Tulang Kayu menjadi juara pertama dalam sayembara cerpen Aruh Sastra Kalimantan Selatan XXII tahun 2025, cerpen ini telah dibukukan dalam antologi pemenang.
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar