![]() |
| Ilustrasi: Rafii Syihab |
Dentuman sound karaoke Siaga menggema mengusik malam. Makin tinggi waktu makin menyentak tanah sekitaran. Rutinitas demikian biasa untuk sambut musim panen. Musim yang juga dimanfaatkan sebagai saat yang tepat adakan pengantenan. Dalam udara yang memeluk bersama campuran kabut dan aroma bakaran jerami itu, Kai Unggat berjoget girang di atas panggung.
Usia yang 75 tak menyurutkan gilanya. Mengenakan topi, kaos oblong junkis hitam, celana pendek levis dengan ikat pinggang bergesper besar, Kai Unggat mengimbangi biduan yang mengadukkan pantat.
"Ayak⁽¹⁾ Kai..," seru kerumunan pemuda yang ikut hanyut di bawah panggung.
Dan Kai Unggat dengan segudang pengalaman. akan membalas memajumundurkan bokongnya. Gaungan musik dangdut disko melenakan dirinya yang larut bersama pengap keringan berbau tuak.
Inggit, biduan sintal yang berasal dari Kota Banjarmasin itu tertawa. Gelisah mencuat dari wajah jelitanya. Benar-benar pria tua keladi, pikirnya dengan mata nakal menukik ke area tertentu. Kai Unggat tahu itu. Dengan senyum kulum sebab giginya telah jarang, Kai Unggat menggeser tubuh dari bayang pundak biduannya. Dan sorot lampu berwarna langsung menyemai area ubi jalar itu.
Tepuk tangan campur tawa seketika meledak. Tak heran, kai yang di sana itu memang arjuna yang baru pulang. Penyedia acara pernikahan dan warga kampung sini paham perangainya. Kebiasaan merantau berburu madu dan pulang pada musim panen begini banyak ditunggu. Rerata adalah bujangan. Cerita hidup Kai Unggat merupakan panutan. Dan titahnya berarti kewajiban.
Bosan berjoget dan merayu biduan, Kai Unggat turun pangggung. Diberi jalan layaknya raja, semua pemuda segera menggandeng untuk berkumpul di pinggir. Dan seperti dulu-dulu, di bawah pohon akasia putaran demi putaran gelas akan mengedar. Kai terpingkal girang oleh purnama dan bintang. Semua merupakan kebahagiaan. Semua merupakan lelucon. Dan makin payah laku malam, perkumpulan di sudut itu mulai menumbang satu-satu.
*
Pagi sekitar jam 8, melewati tuan rumah yang sedang sibuk mengatur makanan di acara kawinan anaknya, sekelompok pemuda tampak cekikikan mendorong gerobak. Di dalam gerobak itulah Kai Unggat terbaring.
"Mampir ke sini dulu Kai. Kalian juga," tegur tuan rumah.
Kai Unggat tak sanggup menimpal. Kendati sadar, melayang itu masih menguasai jasmaninya. Hanya tangannya yang mendada dan anggukan para pendorong yang menjadi jawaban. Sampai pada sebuah warung, Kai Unggat dipapah, dibawa duduk bersandar. Kopi kental panas telah disediakan bersama ontuk dan gorengan.
Kai menyeruput kopi hitamnya. Cairan hangat langsung menyelusur ke kerongkongan, Kai Unggat menggeleng puas.
"Tahun ini banyak nggak bawa madu, Kai?" tanya Sulai. Dia ikut mendorong gerobak.
"Iya, Kai. Kasih ke Sulai, biar bininya pulang dari kabur," seloroh Amang Isur, pemilik warung.
"Huss! Amang jangan bongkar dong?"
Kai Unggat menaruh gelas. Matanya memicing untuk telisik.
"Kau hantam uyah lagi?"
"Berani digigit hantu Mariaban, nggak Kai," ucap Sulai.
Amang Isur memajukan gorengan bersama cocolan patis.
"Sulai pernah ketangkap sekali. Enam bulan buruk di sel. Dibebaskan oleh karena bukan pecandu. Pas pulang bininya mulai ogah. Katanya waluh bejarang⁽²⁾ hahaha..."
Semua tergelak termasuk Kai Unggat. Dan yang diejek hanya cengar-cengir antara malu atau ingin tertawa. Memang biasa candaan demikian. Selama terlepas dari pengaruh tuak saja pasti aman.
"Madu Kayan dari Malinau. Aku ada. Itu khasiatnya paten."
Sedikit ragu Sulai menukas:
"Malinau Kal-Teng?"
"Nggak usah berpikir macam-macam. Hingat atau lebah itu mengisap sari bunga. Tak ada hubungan dengan sandung⁽³⁾."
"Bila Sulai nggak mau, saya yang beli, Kai," timpal Amang Isur.
"Saya juga mau, Kai," timbrung Amat, satu tahun lebih muda dari Sulai.
"Untuk apa kau, Mat?" nada Sulai jengkel ada yang mencampur.
Dan Amat hanya senyum-senyum. Sejurus kemudian ia berucap:
"Kalau dari kai itu udah pasti joss! Kau lupa ya malam tadi. Biduan saja sampai gigit bibir lihat.." mata nakal Amat menukik ke arah Kai Unggat.
"Bah! Waluh..," jawab Sulai sambil mendorong bahu Amat. "Tapi memang tak keliru. Kulihat dia minta nomor, Kai..,"
"Ciyee.., sudah gerah kayaknya hahaha..," canda Amang Isur yang spontan meletus tawa kembali.
Kai Unggat menyeruput kopinya lagi. Kemudian ia mulai memberikan saran tentang manfaat madu Kayan yang khusus buat kesehatan dan stamina pria apabila ditumbuk bersama biji pinang, jahe, dan akar saluang belum.
"Perasan air dicampur kuning telur ayam kampung bersama susu beruang," imbuh Kai. Dia lalu masuk ke rasa penasaran mereka.
"Kalau ini, aku pakai minyak Tapa," menunjuk bagian yang jadi impian pria. Amat dan Sulai geleng-geleng takjub. Sementara Amang Isur malah makin melotot.
Kai Unggat lalu menerangkan teknik pijatan dengan piawai. Ke enam pasang mata itu begitu antusias.
"Tapi ada amalan yang cukup susah, yaitu.."
"Jangan dengarkan omongan tak guna macam dia!"
Kai Unggat yang kenal suara itu segera diam. Nini Ijum, begitu yang warga desa kenal. Dia adalah mantan istri Kai Unggat.
"Masih punya muka kau kemari?" imbuhnya dengan bersungut.
Kai Unggat mengambil tas. Berdiri sambil menaruh beberapa botol kecil berisi madu.
"Ini kampungku. Tanah kelahiranku. Terserah aku kapan mau pulang."
Nini Ijum naik pitam. Dalam stelan sasirangan rapi yang ia niatkan untuk pergi ke pengantin, Nini Ijum maju hendak menyerang. Spontan Sulai dan Amat mencegahnya.
"Pria bau kuburan! Harusnya sedari kemarin kau mati. Tak tahu diri!" hardiknya. Dan pagi itupun kacau oleh umpatan-umpatan Nini Ijum.
Dengan tegak tanpa toleh dan menjawab teguran, kai berjalan menjauh.
*
Langkah pria tua itu terhenti pada area pemakaman di tepian huma. Melepas sandal, Kai Unggat susuri kuburan untuk mencari. Dan pada sebuah nisan, ia duduk terpekur. Di nisan tersebut tertulis Syarifah bin Sarkawi. Mata tua Kai Unggat nanar menyaksikan pusara yang berhias gulma.
Telah setahun sejak kematian putrinya. Kematian yang dipercaya warga sebagai musibah. Hanya sang istri yang menyematkan curiga tulah. Sebuah awal petaka yang memang Kai Unggat akuinya.
"Katakan padaku, apa yang ada dalam buntalan kain kuning ini. Sungguh aku tak rela jika kau kambuh seperti dulu."
Di emperan, malam itu Kai Unggat hanya diam mendongak langit. Sebatang rokok ia isap dan asap putih langsung mengukungnya. Nini Ijum dari dalam terus mendesak dan mencerca. Baginya Sarkawi muda yang sering dianggap balian⁽⁴⁾ oleh warga sekitar telah berhenti. Setidaknya semua tersemat pada perjanjian pranikah dulu. Itu juga hal yang menjadi pondasi penerimaan dari Nini Ijum.
Merasa terabai, Nini Ijum langsung membuka buntalan. Sebuah batu kecubung air. Di dalam batu itu ada kilau urat berombak-ombak seolah bergerak dan ingin keluar. Terkejut dan takut, Nini Ijum menyentak lagi.
"Kembalikan ini ke tempatnya!"
"Aku tak bisa. Batu itu akan kembali."
Nini Ijum keheranan. Dan ekspresi itu segera disusul dengan akuan Kai Unggat:
"Tiga tahun lalu batu itu aku temukan di tengah hutan Kal-Teng. Aku bawa ke lampau sebab keindahannya mungkin bernilai mahal. Namun isinya selalu datang dalam mimpiku."
"Isi apa? Siapa?" sergah Nini Ijum.
"Bunsu Rusa! Makhluk manusia berkepala rusa itu bilang perlu tahapan agar batu itu bisa lepas. Katanya jika perempuan yang mendapatkan batu atau cincin, biasanya ia terpilih sebagai pinangan. Jika pria, perlu waktu setidaknya lima tahun. Selama waktu itu persembahan hewan wajib aku sediakan agar keluarga terhindar dari bahaya atau perjodohan. Dan sebagai imbalan atas itu semua, Bunsu Rusa akan memudahkan niatanku untuk mencari apa yang kucari atau membimbing agar tak disesatkan Kariyau hutan."
Tentu saja uraian tersebut membuat Nini Ijum memurka. Tiada nyana selama tiga tahun Kai Unggat menyembunyikan perkaranya. Meskipun tak dapat Nini Ijum pungkiri, setiap kali suaminya pulang dari merantau di Kal-Teng, Kai Unggat pasti membawa hasil yang besar. Macam-macam hasil bumi dan alam pernah Kai Unggat dapatkan, seperti emas, intan, puya, kayu bajakah, dan tahun ini madu.
Hal lain yang menjadi masalah adalah benda tuah itu seolah membuat kepribadian Kai Unggat berubah. Tubuhnya boleh tua, tapi sifat dan kekuatannya muda. Kelebihan Kai Unggat yang membuncahkan birahi perempuan itupun sebenarnya ia dapatkan dari perjanjian bersama Bunsu Rusa. Dan semua itu menyesak dalam diri Nini Ijum.
Akhirnya perpisahan menjadi solusi yang digagas. Nini Ijum meminta Kai Unggat pergi dan jangan kembali. Nini Ijum akan tinggal bersama Syarifah yang kala itu telah bekerja di PT Tanjung Selatan. Nini Ijum berharap dengan lepasnya ikatan keluarga, maka terbebaslah juga putrinya dari perjanjian.
Kai Unggat tersadar dari ngiangan itu. Ia pegang ujung pusara. Merematnya dalam. Sebenarnya masih ada satu lagi kebohongan yang ia simpan. Persembahan yang ia ceritakan nyatanya bukan seperti yang terlihat. Tiga kepala anak perempuan ia berikan agar bala tak datang. Perbuatannya itu begitu memorak-porandakan kalbu hingga menjelma pembangkangan di tahun ke empat. Bermaksud memberikan tawaran kepada Bunsu Rusa dengan menyediakan 27 kepala babi pada ujungnya berbuntut petaka. Kecelakaan kerja itu merenggut Syarifah.
Kai Unggat meraup wajah. Tangannya meraih buntalan kain kuning dalam tasnya. Ia genggam batu itu lalu menggosok dengan ibu jari. Sekejap urat-urat dalam batu kecubung air itu seolah bergerak. Tercenung. Semua telah terjadi. Apakah setahun lagi bisa dibuangnya batu itu? Atau obsesi pengakuan yang dimilikinya kini malah pemenangnya. Kai Unggat menggeleng. Orang-orang di sini menilai dirinya seorang panutan. Sementara Nini Ijum dinilai sebagai perempuan labil dan trauma saat memasuki masa tuanya. Warga kampungnya tiada tahu rahasia kelam itu.
Tiba-tiba pesan seluler berdering. Kai Unggat mengambil hp dalam saku celana, membuka pesan itu. Ajaib, perasaan sesal seketika sirna. Romannya mencerah. Ia kemudian tertawa.
Kai Unggat berjalan meninggalkan makam. Di pinggiran jalan ia berpapasan dengan Sulai. Kai Unggat langsung menyapanya.
"Sulai, malam ini kita ke Banjarmasin," menunjukkan pesan Hp.
Sulai tersenyum.
Sayang, Aku Inggit yang menggoyangmu di panggung malam tadi. Ke sini segera. Selain kerinduanku, ada pekerjaan bagus untukmu.
—SELESAI—
Catatan kaki:
- Ayak: basa Banjar artinya aduk
- Waluh bajarang: ungkapan basa Banjar yang maknanya lembek atau lemah
- Sandung: Rumah kecil tempat menyimpan tulang belulang Suku Dayak
- Balian: bahasa Dayak yang bermakna rohaniawan.
- Bunsu Rusa, hantu hutan Kalimantan bertubuh manusia dengan kepala rusa.
- Hantu Mariaban, hantu hutan Kalimantan mirip gerandong yang suka memakan manusia.
────à¨à§Ž────
Tentang penulis: Heri Haliling merupakan nama pena dari Heri Surahman. Dia seorang guru di SMAN 2 Jorong. Selain mengajar, Heri Haliling juga aktif menulis. Beberapa karyanya meliputi novel, novelet, dan kumpulan cerpen telah terbit baik di media/majalah cetak atau online. Untuk berdiskusi dengan Heri Haliling pembaca dapat berkunjung ke akun Ig heri_haliling, email heri.surahman17@gmail.com
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar