![]() |
| Ilustrasi: Rafii Syihab |
Arkalitera menerbitkan buku digital berjudul Bagaimana Cara Menangis dengan Puitis, yang berisi rampaian arsip tulisan yang terbit di arkalitera.web.id sepanjang Desember 2025. Judul buku ini diambil dari penggalan bait puisi Musa Bastara, yaitu Ruang Wawancara, yang kami rasa menjadi benang merah bagi keseluruhan karya dalam buku ini. Pada bulan tersebut, enam penulis hadir dengan tulisan-tulisan yang, dengan beragam alasan dan sudut pandang, membicarakan tangis secara puitis, termasuk dalam konteks peristiwa banjir yang tengah terjadi.
Buku ini dibuka oleh esai Musa Bastara tentang kesembronoan manusia. Dengan sudut pandang sepasang sendal gunung bersol karet, ia meracik kritik yang tajam sekaligus jenaka terhadap manusia yang semena-mena, termasuk terhadap penulisnya sendiri.
Delapan puisi JH. Tanujaya kemudian menyusul, menghadirkan tema-tema yang beragam namun tetap menyisakan aroma air mata yang serupa: ditujukan kepada seseorang, kehidupan, alam yang dikungkung banjir, hingga negara.
Lapisan emosional buku ini diperdalam melalui esai personal Negara dalam Tangisan karya Kasuarina, yang menulis tentang kehilangan rasa cinta terhadap negara akibat kegagalan melindungi warganya, dipicu oleh peristiwa banjir di Aceh dan Sumatera yang sempat menghilangkan seorang temannya selama beberapa hari.
Muhammad Daffa hadir melalui puisi-puisi yang mengajak pembaca menatap luka dengan kesadaran penuh tangis yang dingin, jujur, dan tanpa ledakan emosi.
Cerita pendek Zulfan Fauzi berjudul Bagaimana Mungkin Seorang Penyair Bisa Membenci Hujan menawarkan kritik halus terhadap romantisasi hujan dalam tradisi puisi. Bagi tokohnya, hujan adalah petaka, dan penyair, barangkali, memang berhak membenci hujan.
Musa Bastara kemudian kembali hadir melalui medium puisi. Empat puisinya menampilkan bentuk tangisan yang segar, ditulis dari kehidupan sehari-hari: ruang kantor yang apak, teman kerja yang menyebalkan, dan kebosanan hidup pekerja. Bahasanya meledak namun jujur, mengingatkan pada puisi-puisi Amerika Latin generasi inferialismo.
Buku ini ditutup dengan esai-ulasan Rezqie M. A. Atmanegara terhadap satu puisi karya Wildanne Barii Fida. Melalui pembacaan yang ketat, ia mendiagnosis pengalaman kehilangan yang dialamiWildanne, sekaligus dampaknya terhadap puisi yang ia tulis.
Melalui berbagai bentuk dan pendekatan, buku ini memperlihatkan bahwa menangis tidak selalu harus menjadi ratapan. Ia bisa hadir sebagai kritik, catatan, ironi, bahkan humor, sejauh mana ia bisa jujur dan bersedia menanggungnya sampai selesai.
Buku digital ini kami terbitkan dan distribusikan secara mandiri. Di luar penulis, buku ini dijual dengan harga Rp10.000 sebagai upaya sederhana untuk menjaga keberlanjutan website Arkelitera yang menjadi ruang tempat tulisan-tulisan ini pertama kali bertemu pembacanya.
Penerbit mengimbau agar ebook ini tidak dibagikan secara gratis ke publik demi menjaga keberlangsungan kerja kolektif kecil ini.
Silakan beli buku digital BAGAIMANA CARA MENANGIS DENGAN PUITIS melalui tautan ini: BELI E-BOOK BAGAIMANA CARA MENANGIS DENGAN PUITIS

0 Komentar