RUANG WAWANCARA
kau mengontak sajak
di hari ulang tahunmu
bertanya bagaimana cara
menangis dengan puitis
pernah kau bilang, usia seperti
kertas pada kliping koran tua
di arsip-arsip kota
sobek di sana sini, mencoklat sebab
oksidasi, sebagian hilang halaman
untuk membukanya musti hati-hati
di lain hari, kau cetak
bayang-bayangmu yang dungu
lalu bertamu ke dalam diri
mengobrol dengan topik
yang seringnya gak nyambung
[sesekali kutiplah coelho
sekadar membikin yakin
kau nekat hidup
sudah cukup]
di malam yang neurotik
maut bisik-bisik
kau coba tarik garis tipis
dalam ambiguitas tangis
kau jerang airmatamu
jadi lava di perut
gunung berapi
saat bertengkar dengan atasanmu
karena masalah sistem kerja
dan suara-suara yang mampat
sejak lama dan rekanmu
gak membelamu
kau masuki ruang wawancara
dengan HRD-nya dirimu sendiri
bertanya tentang sejarahmu,
darimana asalmu, kapan terakhir
menangis, kapan membongkarpasang
dirimu yang kerap gak sempurna
sebab kau lupa menaruh
keping puzzle terakhir
juga pertanyaan-pertanyaan
yang memegang nomor antrean
di ujung sajak ini, kusiapkan
sekaleng bir dan hariharilalu
untuk kau tanya-tanya
24/07/25
---
EKTASIS BAHASA MALINKUNDANG
memang kau pernah hancur. tapi kau cenderung
malinkundang. membangkang ialah caramu
memukbang seabrek airmata
yang menuntut berkendi-kendi kesedihan
hirup bau riwayat keluargamu
juga takdir yang ditafsir semena-mena
dengan begitu, kau mungkin ingat
hari kau dengan percaya diri
menandatangani kontrak kerja pertamamu
: sebagai manusia
kau melolong sebagai upaya memuaskan
krisis ekstensialmu yang karnivor
tak kau biarkan kalimat bergerigi
mengambil alih puisi ini
cuma karena alasan
tak cukup musikal
padahal katakata bisa
berpura-pura saleh
misal, mengapa semua tuhan musti
diawali kapital?
kau tahu dan tak mau diberitahu
bahwa itu sama sekali tak merubah
keimananmu. apakah setiap kesucian
dan keterasingan ini
perlu dibahasakan?
ingin kubahasakan segala yang teruk
tapi bahasa menggelinding makin cepat
menuju kiamat. penyair bukan
juru selamat
kemarin, aku jual tubuhku
yang dipotong-potong serupa dadu
bersama rasa sakit untuk kutawarkan
di koran akhir pekan
namun tak kunjung laku
kau biarkan kata menginap
dan tidur di ranjangmu
membersihkan lukamu yang
mustahil menanggung luka lain
kau muntahkan katakata
yang masih mentah sehabis
direbus dalam cairan tubuh
sendiri
kau bercinta tanpa merasa
mencintai katakata dan katakata
tak memaksamu mengarantina
gerung tangisanmu
saat kau meniti jembatan
hari-hari yang cenderung persetan
kau tersadar puisi tak bisa
membentukmu ulang
namun, dengan katakata ini
kau pulung dan kemas ulang berkasmu
yang dikubur ke dalam
waktu yang erat digenggam
dan gampang dilepas
tulis kronologi hidup di mesin tik bekas
atau di celana dalam
bekas pipismu
13/10/25
---
AKU SEORANG PEMBENCI
aku benci aroma kantor
aku benci bunyi ketik keyboard,
mesin print out, & parfum
teman sekantor
aku benci menjilat bool atasan
yang doyan menjilat
kontol pemerintah:
saling jilat menjilat
aku benci senyap-sepi
orangorang yang terkubur
deadline kerjaan
& kehilangan ragawi
seakan kantor ialah pemakaman
aku benci mati di depan
komputer yang masih menyala
dengan berkas masih bertumpuk
aku benci begitubegini saja
aku benci menjadi Sisifus
yang tak punya selera humor
tidak tertawa & tidak tersenyum
& kurang membumi. tahunya
ngabisin gaji beli ini-itu
yang cuma mampu
membasuh hampa
sejenak saja
aku benci manusiamanusia kontemporer
yang susahpayah membengkil
keringat untuk membeli
kebahagiaan temporer
ah sialnya, aku juga!
3/12/25
---
BELAJAR NGULI
palu patah di tengah kerjaan
& kau terpaksa memaku
dirimu sendiri
dengan tangan kosong
sayup suara gergaji
menggerogoti telingamu
kau baru sadar
pahatmu juga patah
& meteranmu kusut
& bor listrikmu mogok
& skrupmu dol
& gergajimu bengkok
& engsel pintumu berdecit
& kayumu lapuk
& pakumu menekuk
& baut hilang dari laci
& lem kayu mengering
namun kau tetap
menahan pekik anjing
yang kebelet meledak
di mulutmu
kau tahu betul
tak semua luka bisa diplester
& rindu yang lama membusuk
tak dapat direkat
pakai lem fox murahan
kau tetap harus mengukur,
memotong, memaku
dirimu sendiri
sambil membatin
hidup hanyalah proyek renovasi
yang tak pernah benar-benar
selesai
11/5/25
────à¨à§Ž────
Tentang Penulis: Musa Bastara. Seperti axolotl, pria kelahiran 25 tahun silam ini hidup di dua dunia: sastra dan jurnalistik. Buku mutakhirnya, yang ditulis bersama dua kawannya, berjudul "Kiat-Kiat Menyelesaikan Masalah Asmara". Karyanya dimuat di sejumlah media daring maupun luring. Sehari-harinya, bekerja sebagai creative producer di sebuah media bisnis kreatif. Di samping itu, ia juga kepala suku TBM Nostalgia sekaligus anggota komunitas Arkalitera.
Arkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar