Purnama Semalam
Purnama semalam
diam-diam melambai pulang
teruntuk jiwa di padang ilalang
terantuk raga di bukit penuh bintang
aku rindu menisbikan semua perempuan
sebab bidadari termanis duduk di pangkuan
tapi purnama semalam
terakhir dari segala kenangan
kasih dalam semalam
ketika purnama berkelebat terang
ruang-ruang terkatup teriak riang
Banjarmasin, 1 Maret 2021
Korupsi
Ramai dibincangkan dalam warung-warung kopi
ditemani kue bolong seribuan
orang baik hati bisa main maling-malingan
orang penuh cinta bisa main kucing-kucingan
sudahkah kita melihat air di beningnya cakrawala?
kita lebih pantas dirajam batu; ditimpa kotoran kuda
hanya karena kita bukan gubernur berstempel bersih
kita jadi manusia-manusia bersih
sudahkah kita melihat air di beningnya lautan?
kita lebih pantas dipanah sembilu; dibasuh air comberan
Banjarmasin, 2 Maret 2021
Kapankah Kita Pulang?
Kita akan pulang di masa nanti
Kala malam tak lagi terlihat gelap
Saat siang tak lagi terlihat menyilaukan
Mungkin pagi telah beranjak sepi
Meninggalkan elegi yang menisbikan kenangan
Di masa bahu ini tak lagi kekar
Bisa saja di hari tulang-tulang masih sekuat baja
Siapkah kita pulang?
Siapakah kita ketika pulang?
Cukupkah waktu kita?
Sudah habiskah air mata ini menangisi kehidupan
Sesaat di peluk mentari kita lupa berbuat kebaikan
Tinggal diam ...
Pergi dan pulang ...
Adakah kesempatan datang dan terulang
Banjarmasin, 2 Maret 2021
Rumput di Balik Ilalang
Aku mencintaimu baru seumur jagung
Bahkan kacang tanah belum memekarkan biji
Rembulan juga belum sepenuhnya pulang
Hujan yang turun kemarin pagi
Masih menyisakan basah di tanah belakang
Aku menyayangimu sebiasa dan sederhana senja
Bahkan tak berbunga dan tak serindang akasia
Hanya seperti mentari yang mengintip malu-malu
Dari balik awan dan dedaunan musim semi
Masih sedalam lautan terdangkal, setinggi bukit paling rendah
Aku bukan penyanyi yang memberi cinta seindah pelangi
Aku hanya bisa menyayangi
Seperti rerumputan di balik ilalang
Banjarmasin, 2 Maret 2021
Banjir
Airnya tak lagi mengalir ke hilir
Tidak juga kembali ke hulu
Langkah ke lautan dikangkangi orang gedongan
Sampah-sampah beranak berserakan
Jauh lebih banyak dari semua ikan di kolam penampungan
Tuan-tuan lebih suka naik jembatan
Mereka tidak berani menggendong nyonya dalam perahu
Dahulu kala berkilo-kilo limau Madang diangkut ke segala penjuru
Kini tinggal remah-remah batubara yang cemari batu
Ikan-ikan baung punya cat rumah baru
Banjarmasin, 5 Maret 2021
Karam
Bertarung saling menusuk; memamerkan kilatan pedang
Keris Kiai Setan Kober menantang tombak pembunuh Arya Penangsang
Aku tertawa melihat saling tikam saling berulang
Hujan tadi malam gagal membasuh darah
Lambung kapal tergoncang, terhantar petir dan badai
Dua pelana memainkan drama di panggung berderai
Aku menatap dari balik jeruji di kandang sapi
Banjir bulan lalu tak seromantis kisah para Pandawa dan Drupadi
Bila air dan api beradu pandang
Menjilat setiap tanah, kayu dan ilalang
Dua kekuatan tak peduli lagi pada bumi yang porak poranda
Saat mereka mendirikan kota, ada yang peduli pada sungai yang tiada?
Kapan mereka berhenti main-main di padang?
Lama-lama Atlantis yang subur ini akan karam dua kali
Emas dan perak sudah didapat berpeti-peti
Ribuan jelata masih tak punya baju perang
Oh Mayor ... Oh Jenderal ... Oh kalian dengan seribu gelar
Berhentilah menyuruh kami menonton panggung
Dari kudeta, korupsi, drama bersambung-sambung
Biarkan saja Atlantis kita karam sampai terbakar
Kami lelah ... Geram ...
Pasrah ... Karam ....
Banjarmasin, 9 Maret 2021
Hari Ini Hujan Tak Kunjung Reda
Hari ini hujan tak kunjung reda
gerimisnya deras membasahi daratan
kita sejenak lupa pada liburan musim semi
Matoa di seberang jalan melambai dan basah
kita di langkah yang berjarak
tak juga mengucap enggan berpisah
Hari ini aku melihat burung walet bersiul riang
desahan sayapnya mengibaskan rintik hujan
kita ikut bersenandung pada elegi tadi malam
Ketapang di balik gedung bertingkat
mengirim sulur-sulur mencari mata air
kering kerontang tersisa lumpur pekat
Hari ini kita tidak peduli pada kota penuh bencana
biasanya kita memaki kota yang dibangun semena-mena
apa cinta kita ceritanya jadi nestapa?
Banjarmasin, 10 Maret 2021
Negeri Canda Tawa
Alkisah sebuah cerita
Di negeriku, negeri yang selalu tertawa
Kami sedang sama-sama haha-hihi
Negeri tetangga lagi kisruh sana-sini
Soalnya terlihat sepele, aneh tapi nyata
Pembantai pencuri di sana habis uji pengetahuan dan wawasan
Puluhan tak lulus lantas gagal jadi pegawai negara
Lucu ... berdebat lagi negeri tetangga
Cobalah mereka seperti negeriku
Semua dibawa happy saja
Tertawa sama-sama
Menangis lalu haha-hihi
Kalau tak lulus dan tak terima
Saksinya professor-professor di sana, tinggal uji lagi saja
Tak pernah mereka begitu rupa
Saat hasil tambang emas batubara tak merata
Lebih enak di negeriku saja
Kami menangis saat ibu tak bisa beli wortel, bubur dan susu
Tertawa semenit setelahnya
Menteri langsung ke pasar beli wortel, bubur dan susu
Andai negeri mereka seperti negeriku negeri canda tawa
Kita tertawa sana-sini sama-sama
Para sarjana tak lelah cari kerja
Pengemis, pengamen, tuna wisma pun tak ada
Banjarmasin, 8 Juni 2021
────à¨à§Ž────
Tentang Penulis: JH. Tanujaya, adalah nama pena dari Lorensius. Cerpennya berjudul pulang berhasil masuk dalam 25 Nominasi pada Lomba Cerpen HUT ke-490 HUT Kota Indramayu yang salah satu jurinya adalah Joni Ariadinata. Karya antologi puisinya Gadis di Rembang Petang (2017), Doa Seorang Koruptor (2019), dan Konserto Sudut Pandang (2025). Akhir 2024 entah karena beruntung (karena pertama kali mencoba), puisinya berhasil waktu di kompas.id. Ia juga berhasil masuk Antologi Puisi Aruh Sastra Kalimantan Selatan XXI Tahun 2024 dan 2025. Dapat dihubungi melalui Instagram: @jhtanujayaArkalitera menerima kiriman naskah berupa esai, cerpen, dan puisi dari para penulis dan pembaca yang budiman. Tulisan yang lolos kurasi akan kami terbitkan di website kami. Silakan kirim naskah ke: penerbitarkalitera@gmail.com

0 Komentar